Selasa, 25 November 2014
Kamis, 02 Oktober 2014
Selasa, 08 Juli 2014
batik tulis jumputan
BATIK
TULIS JUMPUTAN
Batik tulis jumputan adalah perpaduan dua
macam batik dalam satu kain yakni batik tulis yang dalam proses pembuatanya
menggunakan alat bernama canting dan batik jumputan yang proses pembuatanya
cukup diikat dan dicelup warna.
a.Bahan Membatik
1) Kain MoriKain mori adalah kain yang dipakai untuk membuat batik, umumnya dari katun. Kualitas kain mori bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Mori yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain yang dikehendaki. Jenis kain mori yang dipakai untuk membatik adalah: kain primissima (terbaik), prima (sedang), Belacu (rendah), Belacu Abu-abu (buruk).
2) Lilin atau malam
Lilin atau malam adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang), karena akhirnya diambil kembali pada proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain. Malam yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam atau lilin biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat menyerap pada kain tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorotan. Kita juga bisa membuat malam sendiri lho, bahan-bahan yang digunakan gondorukem (sejenis resin dari pohon cemara), microwax, lemak binatang, lilin kote (dari sarang tawon), parafin, mata kucing (sejenis tanaman), lilin gladagan (malam hasil daur ulang dari proses nglorod). Malam mudah didapatkan di pasar tradisional. Komposisi malam bisa berbeda dari daerah satu dengan daerah lainnya.
3) Pewarna batik
Pewarna batik adalah zat warna tekstil yang dapat memberi warna pada batik. Biasanya pewarna yang digunakan adalah warna alam dan warna sintetis. Zat warna sintetis biasanya berupa napthol, indigosol, procion,direk dan lain sebagainya.Zat warna alam berupa kulit kayu tingi, kulit kayu tegeran, kayu nangka, daun alpukat dan lain sebagainya.Namun dalam pembuatan batk tulis jumputan ini memakai pewarna indigosol yelow (kuning) 10 gr dan natrium nitrit 20gr dengan pengunci warna HCL.
b.Alat Membatik
1) WajanWajan adalah alat untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja, atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.
2) Kompor
Kompor adalah alat untuk membuat api yang berbahan bakar minyak. Ada juga lho, kompor listrik dan kompor gas khusus untuk membatik. Kamu bisa memilih yang mana saja.
3) Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan malam panas. Canting terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan lilin. Dunia mengakui canting sebagai alat yang lahir dari kearifan lokal asli Indonesia, bagian dari tradisi seni batik sebagai warisan budaya yang tak berujud. Canting dibuat dengan mempertimbangkan presisi agar malam yang keluar dari mulut canting dapat mengalir lancar sehingga hasil pembatikan dapat sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan kegunaannya ada 3 jenis canting: canting untuk nulis atau nglowong, canting untuk nembok, canting untuk isen-isen atau cecek. Ada juga canting cap dan canting listrik.
4)Benang Jins
Benang jins ini berfungsi sebagai alat
pengikat bentuk-bentuk tertentu pada latar kain yang akan merintangi dan
menghambat teresapnya warna pada bagian-bagian tersebut.Selain iu benang jins
juga berfungsi sebagai pembentuk corak dengan teknik jahit jelujur.
5)Manik manik
Manik manik gunakan
sebagai bahan pendukung pembentuk motif pada batik jumputan.Untuk mendapatkan
corak tertentu, bagian pada latar kain diisi dengan Manik manik, yang selanjutnya memudahkan zat
warna masuk kedalam pori-pori kain.
1) Nyorek atau Memola
Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai pola di atas kain mori. Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.
2) Mbathik
Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan isen-isen, tetapi lebih rumit.
3) Nembok
Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.
Dilakukkan dengan
memegang permukaan kain dengan ujung jari. Setelah itu, permukaan kain tersebut
diikat dengan
kuat. Cara mengikatnya dilakukan dengan ikatan datar, miring, dan kombinasi.
6)Pewarnaan
dilakukan dengan cara memasukan
seluruh bagian kain yang telah di batik dan diikat kedalam larutan warna (zat
perwarna indigosol yellow + nitrit). Lalu dikunci dengan larutan HCL agar warna
tidak luntur saat dicuci. . Setelah itu diangin-anginkan sampai kering.
Tujuannya adalah untuk menghentikan proses perembesan zat warna kedalam lekukan
kain.
7) Melepas ikatan
Dalam tahap ini, pembatik melepaskan
seluruh ikatan dengan cara memotong tali pada ikatan ikatan yang cukup tua warnanya.
8) NglorodNglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik menggunakan perintang warna (malam). ke dalam air mendidih. Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering.
9)Mencuci dan menyetrika
Langkah paling akhir adalah menyetrika dan merapikan tepi kain.Namu sebelum kain disetrika sebaikknya kain dicuci terlebih dahulu.Mencuci kain sebaikna tidak menggunakan sabun,gunakanlah buah lerak atau lerakyang sudah dicairkan,dengan demikian batik akan awet.Keringkan dengan cara diangin anginkan di tempat yang teduh.Lagkah yang selanjutnya adalah menyetrika dan merapikan tepi ain.Ada beerapa cara merapikan tpi kain tergantung pada jenis barangnya,Misalnya untuk taplak meja bagian tepinya di walsoom ataupn jika ingin dibuat pakaian (busana) kain ini tidak perlu dirapikan tepinya.
Minggu, 22 Juni 2014
Selasa, 10 Juni 2014
Senin, 07 April 2014
kumpulan cerpen 9b smp n 1 pyg
Pedang
Orion
Karya : Agresti Retno Sumantiyasmi
Kala jarak berkuasa
di antara kita. Saat langit malam enggan bercerita. Tetap berteman dengan waktu
yang setia merajut cinta dan asa. Juga hujan yang membantu menyamarkan air
mata. Hanya angin yang mampu mengirimkan rindu ini. KegeLisahan menjelma
menjadi tanya. Apakah makna semua pertanda yang menelusuk ini benar adanya?
Ataukah hanya fatamorgana?
***
Orion melemparkan diri ke
ranjangnya. Berharap bisa menghilangkan sedikit kepenatannya seusai menjalani
sederet rutinitas di sekolah. Teriknya mentari hari ini membuat kepenatan Orion
berlipat ganda. Pendingin udara yang memfasilitasi kamarnya pun belum cukup
untuk melawan panasnya suhu siang ini.
Selesai mengganti seragam
sekolah dengan baju rumah, Orion beranjak ke meja belajarnya. Tiga pucuk surat
sudah menantinya sedari tadi. Inilah ritual wajib Orion sepulang sekolah.
Berbekal dengan keahliannya dalam bergaul, Orion selalu menyegani setiap orang
yang menawarkan pertemanan lewat surat. Entah siapa pengirimnya, Orion merasa
berdosa jika tidak membalas surat itu. Sebenarnya bisa saja, Orion menggunakan
telepon genggamnya untuk berbalas pesan. Namun Orion terlalu mencintai
kegemaran surat-menyuratnya.
Dari
: Brigitha Laura
Untuk
: Orion Kaisar
Hai ... salam kenal! Aku Gita. Umurku 15 tahun. Aku sedang
butuh teman curhat nih ... Balas suratku, ya!
Surat pertama yang dibaca
Orion. Terselip foto pengirim di belakang kertas surat ungu polkadot itu. Orion
tersenyum saat melihat foto pengirimnya.
Sudah
biasa!, gumam Orion
sembari menyiapkan kertas surat untuk menulis surat balasannya. Kesan yang
biasa, juga balasan yang biasa ditulis Orion.
“Hey ... Udah sIbuk aja, nih!” seseorang
mengagetkan Orion.
“Eh, Kak Rozzy! Udah pulang?” tanggap
Orion.
“Kalo belum, aku nggak bakal di
sini, lah.”
“Bisa aja, kalo bolos!”
“Eh, Dek, punya temen baru lagi,
ya?” Kak Rozzy mengubah topik.
“Iya, nih. Ada tiga yang baru!
Cewek semua lagi.”
“Liat, donk!” pinta Kak Rozzy.
“Ini, nih, cantik fotonya!
Masih SMP lho, Kak!” Orion
memperliharkan foto-foto pengirim surat.
“Cewek-cewek yang model begitu
udah biasa ... cari yang beda, donk!” protes Kak Rozzy setelah melihat salah
satu foto pengirim surat. “Lagian, kenalan lewat surat! Beli hape buat apa coba?”
“Daripada situ, hobi kok
nganggur!” balas Orion tak mau kalah.
Adu mulut pun terjadi di siang
bolong ini. Menambah panas suasana yang sudah panas. Biasanya, adu mulut ini
tidak akan berhenti sebelum ada yang menang.
***
Tuan Cessar tengah bersantai,
bernaung di bawah langit senja. Di temani segelas teh hangat dan koran yang
baru dibelinya. Dimanjakan oleh semilir angin sore, Tuan Cessar menikmati waktu
bersantai disela kesIbukkannya.
Halaman demi halaman pada koran
habis dibacanya. Sampai-sampai, halaman
iklan pun dibacanya. Ada satu yang mencuri pandangan Tuan Cessar. Entah apa
itu, hingga Tuan Cessar bernostalgia sejenak. Sembari membenarkan letak
kacamatanya, Tuan Cessar kembali memastikan penglihatannya.
Apa
itu dia? Ya, kurasa memang dia!,
gumam Tuan Cessar.
***
Nasib baik memang sedang
berpihak pada Orion. Siang ini, seperti biasa, sudah banyak surat yang
mengantri di meja belajarnya. Orion menyapu pandangan pada setiap amplop yang
membungkus surat-surat itu. Entah mengapa, Orion begitu tertarik pada sebuah
amplop bergambar pedang dan dilatar belakangi oleh warna cokelat. Layaknya
amplop yang membungkus, isi suratnya pun beda dari yang lain.
Orion, sang pemburu raksasa. Nama yang tercipta dari sebuah
harapan. Perkenalkan, aku Arsa, seorang pemimpi yang tak pernah menyalahkan
keadaan. Dan seorang perindu yang selalu menantikan senja merah manis untuk
berbagi cerita. Kuanggap ini sebagai pembuka perkenalan kita ...
Tanpa nama lengkap, dan tanpa
foto. Namun isi surat itu begitu membuat Orion tertarik. Kesan yang tidak biasa
bagi Orion. Segera Orion mengambil kertas surat, dan menulis surat balasannya.
Untuk
: Arsa
Senang berkenalan denganmu. Kukira, kita bisa banyak berbagi
cerita. Dan kau tak perlu lagi bercerita pada senja merah manis! Karena tak
akan ada jawaban yang kau dapat. Hey ... aku suka caramu bersurat! Dan aku suka
sebutanmu untukku. Sang pemburu raksasa. Itu keren! Bisakah kau sedikit
bersajak untukku? Aku suka gaya berbahasamu. Kutunggu surat balasanmu, ya! Bye
...
Orion Kaisar
Orion melipat kertas suratnya,
dan menyelipkannya ke amplop. Hai ...
Arsa! Kuharap, kau bisa menjadi inspirasiku, batin Orion. Dan sesimpul
senyum pun mengembang.
***
Malam yang dingin memuarakan
jiwa Tuan Cessar pada ketenangan. Secangkir teh panas masih setia menawarkan
kehangatan untuk Tuan Cessar. Pohon kelapa yang melambai-lambai menaMbah lengkap
waktu bersantai Tuan Cessar. Suasananya lebih indah dari melihat adegan
romantis dalam gerak lambat.
Tuan Cessar memandangi secarik
kertas yang lama ditunggunya. Kata demi kata mulai habis dibacanya. Senyum
penuh kebahagiaan selalu mengiringi setiap aksara yang memenuhi kertas
tersebut. Setiap aksara yang penuh akan makna. Seakan kegelapan yang mendamba
lentera, Tuan Cessar mendekap erat kertas yang tadi dibacanya.
Kau
memang belum berubah. Tunggu aku sampai di hadapanmu. Itu janjiku, batin Tuan Cessar.
***
Cari pedangmu dan perseMbahkan kepada sebuah penantian.
Temukan jawaban pada malam ketiga setelah sebuah pertanda.
Di malam saat dirimu menunggu di singgasana tertinggi.
Arsa.
“Bahasanya terlalu tinggi,” komentar
Kak Rozzy.
“Aku yakin, ini pasti punya
makna,” ujar Orion tanpa mengalihkan pandangan dari kertas surat yang
digenggamnya.
“Apa?”
“Entah. Tapi ini seperti teka-teki.
Aku harus memecahkannya!”
“Sepertinya bakal susah.”
“Tunggu, Kak. Aku tau betul
asal namaku. Orion itu juga nama sebuah rasi bintang. Katanya ... Orion memang
punya pedang. Jadi ... mana pedangku?”
“Bisa jadi ... maksud pedang di
situ bukan apa, tapi siapa. Jadi, kalau kita ubah pertanyaan menjadi siapa
pedangmu, masuk akal, kan?” ujar Kak
Rozzy membenarkan.
“Cerdas! Sepertinya, aku sudah
tau siapa pedangku. Pedang yang setia melindungiku, menguatkanku, dan membuatku
berani menyerang. Pedang yang sangat berarti bagi hidupku,” kata Orion sembari mengembangkan senyum penuh
kemenangan.
“Siapa?”
***
Temukan
jawaban pada malam ketiga setelah sebuah pertanda.
Orion mengernyit, berusaha
mencerna sebaris kalimat tersebut. Mencoba memecahkan makna yang pasti terselip
dari kalimat itu.
“Apa maksud kata pertanda di
situ, ya?” tanya Orion pada dirinya
sendiri, “pertanda apa yang kudapat?” imbuhnya.
Orion terus memutar otak.
“Pertanda ... pertanda ... Sesuatu yang terasa berbeda. Um ... sepertinya tidak
ada, kecuali ... surat ini. Ya! Itu dia! Surat ini! Surat ini adalah pertanda
itu!” gumam Orion, “dan malam ketiga setelah pertanda ini. Berarti, malam
ketiga setelah surat ini dikirim. Hari ini sudah malam kedua. Jadi, malam
ketiga itu besok!” seru Orion girang.
Di
malam saat dirimu menunggu di singgasana tertinggi.
Kalimat terakhir yang karus
dipecahkan Orion. Sekali lagi, kalimat itu mengundang rasa penasarannya.
“Aku menunggu di singgasana
tertinggi? Kapan? Oiya ... aku Orion! Mungkin maksudnya saat rasi bintang Orion
ada di tempatnya. Sekarang pertengahan bulan Januari. Tanggal ketika rasi
bintang Orion ada pada puncaknya. Aku baru saja menyelesaikan teka-teki ini!
Yeah!” seru Orion, puas dengan jawaban
yang didapatnya.
“Berarti, aku harus memberikan
jawaban siapa pedangku, kepada sesuatu yang sedang kunantikan. Sesuatu itu akan
datang besok, saat bintang Orion bersinar terang. Yesss...” sorak Orion kegirangan.
***
Gelap gulita. Itulah
pemandangan yang kini memenuhi pandangan Tuan Cessar. Dari dalam kereta api
yang sedang melaju, pikirannya terus bernostalgia. Berusaha menahan rindu yang
terus membayang. Demi sesuap nasi, Tuan Cessar rela meninggalkan rumah hingga
berbulan-bulan dan mengadu nasib di kota orang. Kini, pikirannya pun terus
tertuju pada keluarga di rumah. Terlebih pada kedua putranya, Rozzy dan Orion.
Sabarlah
Orion, sebentar lagi kau akan dapatkan jawabannya, batin Tuan Cessar.
***
Malam ini Orion menepati apa
yang diminta dari surat balasan Arsa. Sejak cakrawala diambil alih bulan, Orion
sudah termenung di kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya. Detik berganti
menit. Menit berganti jam. Tidak kurang dari tiga jam Orion dengan sabar
menunggu. Tapi penantiannya belum menghasilkan apapun.
“Udah, lah, Dek. Mungkin surat
dari Arsa itu hanya omong kosong! Tahu apa dia tentang hidupmu? Don’t waste your time, Bro!” kata Kak Rozzy yang tak tega melihat adiknya
menyita banyak waktu hanya untuk jawaban misterius dari surat itu.
“Enggak, Kak. Aku yakin, pasti
ada arti dari surat itu. Siapa tahu, Arsa memang bukan orang biasa?” sangkal Orion.
“Oke, kalau itu mau kamu.
Semoga penantianmu nggak sia-sia, ya. Good
luck,” kata Kak Rozzy sebelum
meninggalkan Orion yang masih bertopang dagu menatap langit malam.
Dengan menahan kantuk yang
sudah luar biasa, Orion tetap menunggu “keajaiban” yang dijanjikan Arsa malam
ini. Namun kini Orion ada pada dua diandra yang berbeda. Merasa dilema mulai
menyergapnya. Putus asa mulai menggoda dirinya. Jarum jam sudah menunjukkan
waktu pukul setengah dua belas malam. Belum ada sesuatu yang menjadikan malam
ini istimewa.
Sepertinya
benar apa kata Kak Rozzy. Surat Arsa itu hanya omong kosong. Aku sudah banyak
membuang waktuku demi ini. Dan kuputuskan untuk mengakhirinya, batin Orion yang sudah putus asa.
Baru saja Orion hendak
menyentuh ranjangnya, seseorang mengetuk pintu dari luar. Diurungkannya niat
untuk merebahkan diri di ranjang, dan segera menuju pintu kamar yang
terus-menerus diketuk. Siapa yang mampir
ke kamarku malam-malam begini? Kuharap, yang mengetuk itu manusia, bukan
makhluk lain, ujar Orion dalam hatinya.
Pintu kamar dibuka, mata Orion
membulat seketika. Senyumnya tidak hanya sekedar senyum simpul.
“Ayaaaahh...!” seru Orion tak percaya sembari memeluk Tuan
Cessar.
“Iya, Orion. Ini Ayah,” Tuan Cessar membalas pelukannya.
Di hadapan Ibu dan Kak Rozzy,
Orion meneteskan air mata di pelukan Tuan Cessar. Begitu pelukkan dilepas, Tuan
Cessar seperti ingat sesuatu.
“Oiya, kau ingat ini Orion?” tanya Tuan Cessar seraya mengeluarkan tiga
kertas surat bergambar pedang bewarna cokelat. Tentu, Orion sudah tak asing
dengan itu.
“Itu kan ...” Orion terheran.
“Cari pedangmu dan perseMbahkan
kepada sebuah penantian. Temukan jawaban pada malam ketiga setelah sebuah
pertanda. Di malam saat dirimu menunggu di singgasana tertinggi,” ujar Tuan Cessar, dan diakhiri seutas senyum
penuh makna.
“Jadi ... Arsa itu ...” kata-kata Orion terbata karena tak percaya.
“Iya, Arsa itu Ayah. Kau
memasang iklan sahabat pena di koran, kan? Ayah masih hafal dirimu, Nak,” jelas Tuan Cessar.
“Dan aku berhasil memecahkan
tiga kalimat Ayah tadi. Aku menemukan pedangku, dan akan kukatakan pada
penantianku. Iya, penantianku menunggu Ayah, dan pedangku adalah Ayah. Ayah
adalah senjata yang selalu melindungiku, menguatkanku, dan membuatku berani
menyerang. Itu jawabanku, Yah,” tutur
Orion.
“Ayah bangga padamu. Juga kau,
Rozzy. Amanah yang Ayah titipkan untuk selalu menjaga Orion sudah kau
laksanakan,” Tuan Cessar melempar
pandangan kepada Kak Rozzy. Kak Rozzy pun membalas dengan senyuman dan anggukan
kecil.
“Ayo kita rayakan dengan pesta
tengah malam!” seru Ibu tak mau kalah.
“Yeeeyy ...”
Dalam benaknya, Orion berkata, malam ini, benar-benar malam teristimewa
dalam hidupku. Aku benar-benar menemukan hasil dari sebuah penantian. Tak salah
aku berkiblat pada kalimat, “semua akan indah pada waktunya.” Dan terlalu sulit untuk menjelaskan perasaanku
saat ini. Dari semua rasa yang hadir, kukemas menjadi satu kata: bahagia.
***
Teman Baik Untuk Salma
Karya
: Ainun Marifah
Pagi yang indah. Butiran embun
masih tersisa di hijaunya tanaman yang indah dan tertata rapi di halaman rumah Salma. Kicauan burung
pipit yang berada di samping seakan –akan ingin mengajak orang yang berada di
dalam rumah untuk menikmati indahnya dan sejuknya udara di pagi hari.
Di
dalam rumah terlihat Bunda sedang sIbuk menyiapkan sarapan pagi. Sementara itu
di dalam kamar salma sedang memakai seragam dan sepatu. Setelah itu dia
langsung melihat ke cermin apakah memakainya sudah rapi atau belum.
“Salma, sarapan sudah siap,” panggil Bunda dari ruang makan.
“Bunda, nanti Salma diantar ke
Sekolah sama siapa?” tanya Salma kepada
Bunda. Setelah itu dia duduk di kursi depan Ayahnya. Bunda tersenyum. “Ya sudah
nanti Salma berangkatnya diantar Ayah sekalian berangkat ke Kantor,” kata Ayah.
“Jangan
lupa ya, Salma nanti bersikap dan berucap yang baik kepada teman dan Bapak Ibu
Guru,” nasehat Bunda. Mendengar nasehat
Bunda Salma hanya menggangguk dan
mengacungkan jempolnya. Ayah pun tersenyum melihat tingkahlaku Salma.
* * *
Sesampainya
di Sekolah Salma Masuk ke Kelas. Beberapa saat kemudian bel masuk pun berbunyi
dan Ibu Guru masuk ke Kelas.
“Anak-anak
hari ini adalah hari pertama kalian masuk. Tentu kalian belum kenal satu sama
lain,” kata Bu Guru mengawali pelajaran
pertama hari ini.
“Ibu minta diantara kalian ada
yang mau memperkenalkan diri terlebih dahulu, dan dilanjutkan yang lain dengan
maju satu-persatu. Ayo siapa yang berani maju?” tanya Bu Guru.
Salma
dan teman-teman masih terlihat malu-malu. Kelas pun menjadi sunyi. Ditengah
kesunyian itu terdengar ketukan pintu kelas. Kemudian Bu Guru membukanya.
Dibalik pintu muncul anak perempuan seusia mereka. Dia memakai kerudung, dan
kacamata minus menghiasi wajahnya yang biasa-biasa saja tidak terlalu cantik.
Ternyata dia pincang dikaki kiri.
Salma dan teman-teman termasuk
Bu Guru tercengang melihatnya. Berbagai macam pikiran memenuhi kepala mereka
masing-masing. ada yang melihat kasihan,
kagum, dan ada yang mengejeknya.
“Maaf,
Bu Guru saya terlambat,” ucapnya sambil
menunduk. “Tidak apa-apa. Tetapi lain kali diusahakan jangan terlambat lagi, ya!”
tegur Bu Guru.
“Silahkan
cari bangku yang masih kosong,” kata Bu
Guru mempersilahkannya. Kemudian anak itu duduk di sebelah Salma yang kebetulan
masih kosong. Salma nampak agak sedikit kaku.
“Em,
karena tidak ada yang berani maju, bagaimana kalau Bu Guru manunjuk salah satu
dari kalian untuk memperkenalkan diriterlabih dahulu?” tanya Bu Guru beberapa saat kemudian. Tanpa
menunggu jawaban dari mereka Bu Guru langsung menunjuk anak perempuan yang
terlambat tadi untuk maju kedepan.
Dengan
sedikit senyum yang nampak dibibirnya serta anggukan kecil sebagai isyarat
kesediaanya. Akhirnya dia maju untuk memperkenalkan diri.
“Selamat
pagi, teman-teman,” katanya mengawali
perkenalanya.
“Namaku, Nur Kholimah. Dirumah aku biasa dipanggil
Imah. Rumahku di Kampung sebelah selatan lapangan sekolah ini, aku senang kalau
teman-teman mau main ke Rumahku. Bapakku seorang penjahit dan Ibuku berjualan
di pasar,” tuturnya panjang lebar.
Bu
Guru bertepuk tangan secara spontan dan kemudian disususl tepuk tangan dari
anak-anak yang lain. Dari bangkunya Salma terheran-heran melihatnya. Ada rasa
terharu, kagum dan sekaligus senang terlihat dari raut wajahnya.
* * *
Sesampainya
dirumah, Salma langsung mememui Bunda diruang tengah. Dia sudah tidak sabar
lagi ingin menceritakan pada Bunda tentang perkenalan dengan teman-teman
dikelas terutama dengan Imah.
“Bunda
teman-teman Salma banyak banget. Terus juga macam-macam,” kata Salma nggak
beraturan membuat Bunda tidak mengerti. “Macam-macam bagaimana, Salma?” tanya Bunda dengan raut wajah yang serius.
“Ya,
ada yang usil, yang cerewet, terus ada yang cengeng, dan satu lagi ada yang
pincang,” kata Salma sambil mencopot
sepatunya.
“Oh, ya?” kata bunda sedikit heran. Salma tidak langsung
segera menjawab, malah dengan santai dia mencuci tangannya di westafel yang
terletak disudut ruangan tanppa memperhatikan reaksi Bunda yang sudah mulai
tidak sabar menunggu jawabannya.
“Benar,
Bunda. Namanya Imah,” katanya mengawali
ceritanya.
Salma kemudian meminum es sirup
yang ada dimejas sambil mengunyah kue bolu. Salma melanjutkan ceritanya
mengenai Imah, selanjutnya mengenai keluarganya dan juga sikap Imah yang ramah
dan baik hati.
“Meskipun
begitu, Salma mesti tetap bersikap baik pada Imah dan tidak boleh
membeda-bedakan,” nasehat Bunda.
“Salma malah seneng bisa
sebangku dengan Imah, selain baik hati, dia juga pernah juara pertama mengarang cerita
dan melukis di Sekolahnya, Bunda,” kata Salma. “Pokoknya Imah adalah teman baik
untuk Salma,” lanjutnya secara mantap.
“Ya,
begitulah Salma. Dibalik kekurangaan yang dimiliki Imah tentu ada kelebihan
yang diberikan Allah untuknya agar dia dapat bersyukur,” papar Bunda sesudah minum air putih.
“Sementara kita yang diberi
kelengkapan fisik, seharusnya dapat bersyukur melebihi Imah,” lanjut Bunda sesaat kemudian.
“Bersyukur
bagaimana, Bunda?” tanya Salma.
“Tidak menghina teman yang
memiliki kekurangan dan tidak sombong dengan kelebihan yang kita miliki,” ucap Bunda.
Sesudah bunda menasehati dan
membimbing Salma agar lebih banyak
bersyukur, pada Salma berada secerah harapan dari sudut hatinya bahwa Imah akan
menjadi teman spesial buatnya dan semoga Imah menjadi teman baik untuk Salma
dan semoga Imah pun berharap sedemikian juga.
***
Aku Dan Mereka
Karya :
Aisyah Bunga Sukmawati
Ayahku sudah tiada. Kini lembaran pedih menajam utnuk berIbu kalinya, cemoohan
dari orang tak tahu diri. Harga diri mereka hilang setelah mencemohku! Ini
memang takdirku dan keluarga. Tapi apa mereka tak bias lebih menghargai
sedikitpun perasaan kami yang masih berduka?!
Biarlah mereka menggonggong apa kata mereka!
Aku ya aku! Keluargaku ya keluargaku! bukan mulut mereka yang menganga untuk
menjatuhkan kepedihan ini terlalu dalam. Ku ikhlaskan mereka, cemoohan mereka,
biarlah jadi pahala bagi Ayah! Insyaallah..
Hari berganti bulan, 2 bulan sudah aku
merasakan pedih ini, namun aku tetap bisa menjaga keutuhan dan kerukunan
keluargaku. Aku haya tinggal dirumah kontrakan yang mungkin tak selayaknya aku
tinggali bersama kakak dan Ibuku. Ibuku hanya berjualan kerupuk dan empek-empek
disekitar sekolahnya kakakku. Ridho wagita kakakku, dia kakak yang aku kenal
baik, sopan. Aku indah wagita, yang mungkin nakal dalam kegaulan, tapi aku
ingin meMbahagiakan Ibukku dan Kak Ridho. Wagita adalah nama keluarga besarku,
ya! Aku masih memiliki paman dan kedua bibiku. Tapi Ibuku yang selalu
menasehati kami berdua untuk tidak meminta kepada saudara. “kita harus hidup
mandiri nak! Jangan meminta-minta!!” peringatan
itu sudah terlalu sering untuk kita dengar. Tapi, Ibu memang seorang wanita
yang teguh. Beliau berjuang untuk hidup bertiga. Aku salut terhadapnya,
meskipun sering aku merasa kasihan terhadap perjuangan beliau. Dulu waktu Ayah
masih ada Ibu membantu Ayah berjualan roti bakar setiap malam. Dan aku dan
kakakku dirumah, belajar untuk meraih prestasi.
Suatu hari, aku sedang membantu Ibu berjualan
empek-empek dikantin sekolah kakakku. Ya itung-itung membantu, biasanya kakakku
yang membantu Ibu, kali ini sekalian lIbur aku melakuakan kegiatan yang
berguna.
“Indah tolong ambilkan piring yang disana!
Cepat ya!” perintah Ibu.
“Iya bu.. sebentar ya.”
Rutinitas seperti ini hanya aku lakukan bila
sepulang sekolah, namun kali ini berbeda..batinku ingin mengatakan sesuatu, aku
ingin berhenti sekolah! Ya! Ketimbang
menaMbah keluaran untuk biaya sekolahku. Aku masuk di smp favorit, iuran perbulannya
saja lebih dari 150rIbu, dan kakakku hanya 15rIbu, 10x lipatnya.
“Sudahlah indah.. nanti berunding sama Kak
Ridho!” batinku.
“Indah..!! cepat mana pringnya?! Dari tadi Ibu
tungguin malah melamun disini!” sergapan
Ibu membuyarkan lamunanku.
“Ang.. ang.. Indah lupa Ibu, mafkan indah!” jawabku terbata-bata.
“Ya sudah.. lain kali jangan melamun sendirian
di tempat seperti ini! Kesambet baru tahu rasa kamu! Haha..” guyonan Ibu.
“Idih ... Ibu bisa aja!” senggol tanganku
kebahu Ibu.
“Sudahlah, banyak yang beli tiu, lebih cepat
lebih baik!”
“Siap 86 Ibu! Hahaha..” ucapku sembari berlari kecil ke warung.
Banyak sih yang beli, tapi Kak Ridho kenapa
nggak datang waktu istirahat ini, temannya Mbak hanum pun ke warungku, mengapa Kak
Ridho tidak? Ada apa ya?
“Ibu kok Kak Ridho nggak ke warung sih? Banyak
yang beli ini,” tanyaku pada Ibu.
“Mungkin baru belajar buat ulangan,
sudah..nggak ada kakakmu nggak apa-apa!” nasehatnya.
Ya, aku tahu betul perasaan Ibu seperti apa,
mukanya geLisah, dalam batinnya ingin mengeluarkan sepatah kata. Tapi aku
inginmelihat Ibu ceria. Hanya itu yang aku inginkan!
“Ibu.. andai Ibu tahu, aku ingin berhenti
sekolah demi membantu Ibu! Maafkan indah Ibu, indah yang dulu memaksa Ibu dan Ayah,
biar indah sekolah di sekolah favorit itu!!” batinku mengadu.
Tiba tiba Kak Sarah, anak pemilik sekolah
datang dengan tak diundang, dengan memaksa anak yang beli untuk menjauh.
“Hey.. hey.. minggir ada sarah cantik mau
lewat! Beri jalannya dong eh!” ketusnya.
Semua anak disitu menyingkir. Kecuali Mas Arwin,
Mas Arwin kapten basket disekolah ini. Banyak yang naksir sama dia.
“Hey miss lebay! Super senggak, lu tau gak
sih?! Ini tempat umum, bukan hak lu buat mengusir mereka. Dasar cewek lebay!
Gue tau lu jago nyanyi, lu lebih. Banyak yang suka sama muka lu! Tapi sifat lu?
NGGAK ADA!! Puas lu?!! Makan tuh senggak lu!” marah Kak Arwin.
“Lu juga! Ngapain sih lu ngurusin gue? Gue juga
tau kalo lu banyak yang naksir! Trus semena-mena gini lu merlakuin cewek? Dasar
PLAY ...”
Belum sempat melanjutkan perkataannya Kak Ridho
datang.
“Wooyy.. udah belom elu pada bertengkar? Puas
belom lu bertengkar di warung Ibu gue?! Dasar anak kecil! bisanya cuma
bertengkar, selesain masalahnya tuh baek-baek! Bukan gini caranya! Udah SEMUANYA
BUBAR!” lerai Kak Ridho.
Sarah sama anak lainnya bubar, tapi masih
tersisa Kak Ridho sama Mas Arwin.
“Lu nggak apa-apa kan bro?! Biarin tuh miss lebay ngapain. Ngapain juga lu ngurusin dia?
Nggak penting banget tau! Hahaha..” tanya
Kak Ridho.
“Lu apa-apaan sih? Gue nggak apa-apa! Biar
setan itu sadar! Haha..”
“Bentar ya!” pergi ninggalin Mas Arwin.
Di
warung..
“Eh Ridho, ada apa nak? Kok kesini? Perlu Ibu
buatin empek-empek berdua sama nak Arwin?”
tanya Ibu.
“Hehe iya bu.. maksud aku sih gitu, dua ya bu!
Oh ya indah, nanti malam ikut kakak ya ke rumahnya Arwin! Temenin aku, haha..”
“Idihh.. ngapain eh? Males deh.. haha iya,
sekalian mau cerita eh?!”
“Waa.. aku jadi gudang curhatanmu sekarang
Ndah?! Haha..” goda Kak Ridho.
“Ih apa-apaan sih kak.. udah sana! Tuh temenmu
udah nunggu!” senggolku.
“Iya ini loh mau kesana. Ilfeel banget deh anak manis! Haha...” sembari lari menyenggol pinggang adeknya itu.
“Aaa Kak Ridho.. benci deh aku!!” keluh Indah.
“Sudah.. bantu Ibu sini. Buatkan mereka empek-empek
dua! jangan terlalu pedas sambalnya!” pinta Ibu.
“Iya deh.. iya!” dengan muka cemberut. Setelah indah dan Ibunya
selesai membuat empek-empek yang menjadi
tulang punggung dari kehidupan mereka.
Malam hari dirumah Mas Arwin
“Assalamu’alaikum.. Arwin.”
“Woy.. udah gue tungguin disini dari tadi tau
dho !” lucon Mas Arwin.
“Haha gue kira lo udah ngebo!”
“Sialan lo! Sini! ngapain bengong di depan
pintu kayak gitu? Indah sini.. ada novel baru nih!”
“Ya ampun Win.. baru juga mau kesitu. Giliran cewek
aja lembutnya minta ampun!” omel Kak Ridho.
“Haha just
for laugh Dho.. kalo sama cewek itu harus lembut, sopan! ya nggak Ndah?” lirik
matanya kearahku.
“Apa-apaan? Kok Indah yang ditanyain?! Week!” timpalku.
“Yee dikasih tau malah kayak gitu! Awas besok
kalo kakakmu udah ke luar negri. Siapa yang nemenin kamu cobak?!”
“Hah ?!! Kak Ridho mau ke luar negri ?! Ngapain?!” sontak aku kaget dan shock. Kak Ridho yang biasanya blak-blakan sama aku, sekarang
nutupi semua rahasianya.
“Iya Ndah.. justru itu aku ngajak kamu ke
rumahnya Arwin mau ngasih tau kamu ! maaf kalo secepet ini kakak bilang ke
kamu.. tapi, ini semua buat kita ! Arwin sahabat kakak yang paling akrab sama
kamu. Dan.. besok pagi kakak harus ke luar negri! Ini malam terakhir kakak sama
kalian! Kamu boleh marah sama kakak.. tapi kakak mohon, jangan pernah membenci
kakak! Pliss ya Ndah.. kakak mohon, jangan pernah sedih lagi! Inget omongan
kakak ini!”
“Ta.. ta.. tapi kak! nanti Ibu siapa yang
nemenin waktu jualan? Indah kan sekolah!” ucapku sambil menangis.
“Sudahlah Ndah.. Ibumu biar aku yang nemenin! Kamu
nggak perlu lagi khawatir. Oke! Sekarang kalian boleh nginep disini! Ini malam
terakhir buat lo Dho! Lo nggak mungkin mau nyia-nyiain malam ini! Btw mau makan minum apa? Haha..”
“halah.. Mau pulang aja kita! Yuk kak pulang
aja, kasian Ibu!” ajakkku.
“Eeiittss..
siapa suruh ?! NGGAK BOLEH!!” larang
Mas Arwin.
“Haha Indah.. Indah! Nggak usah mikir Ibu kayak
gimana ada Mbak Rin kok! lagian tadi aku udah bilang sama Ibu kok!” nasehat Kak Ridho.
“Who Mbak
Rin ?!”
“Mbak Rin itu, pacarnya kakakmu! kamu belum
tahu ya Ndah?! Kasian! Haha.”
“Suerr nggak ngrepotin ini?!”
“Ya enggaklah! Beneran dehh!”
“Ya udah dehh!” mukaku kusut tapi gimana lagi,
Ini kenangan terakhirku sama Kak Ridho!
“Katanya.. tadi ada yang mau cerita nih? Mana
sih ceritanya? Hehehe.. Ndah, cerita dong?!”
pinta kak Arwin.
“Emb.. sebenernya, Indah malu Kak, Mas.. Indah
malu mau cerita ini!” tundukku yang
mulai perasaan kalang kabut yang buatku malu.
“Malu kenapa?! this not your secret Indah!”
nasehat Mas Arwin.
“Hhee’emb…”nafasku mulai tak karuan,
jantungngku berdegup keras seolah depanku ada penjahat yang ingin meneMbakku.
“Oke! Aku ingin berhenti sekolah!” lontarku.
“What?!
Why!” sontak Mas Arwin kaget dengan
perkataanku.
“Kamu gila ya Ndah?! Cuma ini yang pengin kamu
ceritakan? Nggak mutu tau nggak ?!!” marah Kak Arwin. “Ini aku ke luar negri
mau ngrubah nasib kita! Tapi kenapa kamu mau nyinyiaiin kesempatan yang udah
Allah berikan buat kita?! Mau ngehancurin semangat Kakak ya? Udahlah.. hapus
itu angan-angan nggak mutu!”
“Bu.. bu.. bukan gitu Kak, Mas! Justru aku mau
ngebantuin Ibu aja di warung! Bayangkan, setiap bulan 150ribu dikeluarkan Ibu
buat aku. Sedangkan kakak hanya 15rIbu ! Sepuluh kali lipat sendiri Kak! Dan
aku tahu ini ada resiko! Biar aku yang nanggung semua resiko itu!” jelasku.
“Indah.. kamu benar, selama ini Ibumu
mengeluarkan uang sebanyak itu untuk biaya sekolahmu. Tapi kamu dewasa nanti
baru tahu sebab dan akibat yang kamu dapat setelah kamu berhenti sekolah! Percaya
Mas Arwin Ndah!”
“Tapi gimana lagi Kak?!” senggolku di betis kakakku.
“Mending hapus keinginanmu itu sajalah Ndah!
Kakak cuma minta kamu sukses melebihi Kakak! Udah itu aja! Kamu tetep sekolah!
TITIK!” nasehat Kak Ridho.
“Iya Ndah.. bener apa kata Kakakmu! Kamu masih
perlu! Soal biaya biar nanti aku carikan beasiswa. Kamu nggak usah mikir yang
engak-enggak!” taMbah Mas Arwin.
“Iyadeh! Tapi janji ya cariin beasiswa?! Haha...” guyonanku.
“Iya janji! Kamu juga janji ya sekolah yang
bener?!” balas Kak Ridho.
“Insyaallah ! Doa dan usaha saja! J”
“Nah gitu dong! baru adek kakak yang baik! Sip
dah! Kaka sayang sama kamu Ndah!” cubit Kak Ridho.
“Hoho.. iya sayang tapi nggak make nyubit ya?!” timpalku.
“Hahahaha..!” sahut Kak Ridho sama Mas Arwin
bareng.
Malam ini aku, Kak Ridho, Mas Arwin nggak
berenti-berentinya cerita. Sampai-sampai Mbak luthfi, adeknya Mas Arwin
mengebrak pintu kamar Mas Arwin gara-gara kita berisik ! haha.. kenangan indah
saat terakhir inilah yang aku rasakan ketika orang yang aku sayangi akan pergi
meninggalkanku, kenangan terindah yang pernah kumiliki dan tak akan pernah
kulupakan !! J
Gemerlap bintang dan sorotan bulan yang
menemani kami bertiga. Menghabiskan malam-malam yang terindah untuk tak akan
kami lupakan, membuat kedamaian didalam kekacauan yang kumiliki.. ya Allah jika
memang engkau menghendaki semua yang ingin kau perintahkan ! kami sanggup ya
Allah ! kami yang akan menanggung resiko yang juga telah engkau berikan. Dan
jika aku harus berpisah dengan kakakku, ikhlaskan hatiku.. kuatkan batinku ya
Allah ! dia pergi untuk kebaikannya dan keluarga kami. Memang berat untukku
berpisah dengannya, tapi takdir-MU yang menghendaki. Lindungilah dia yang akan
pergi, dan kuatkan kami yang menunggunya pergi.. kami yakin, dia akan baik-baik
saja ! sukseskan dia, dunia dan akhirat. Jagalah dia semasa dia tak berpaling
dari-MU. Hanya do’a kalbuku ini yang bisa kuberikan !! J
***
SEBERKAS
HARAPAN UNTUKMU IBU
Karya
: Alfi Nurrahma Widiastuti
Terlahir
dari keluarga sederhana, membuat gadis belia yang bernama Nur Latifah, dan
akrab disapa Ifa ini mengetahui apa arti hidup yang sebenaranya, setiap pagi ia
membantu Ibunya mengantarkan gorengan ke warung dekat rumahnya dan kantin sekolahnya.Semua itu ia lakukan untuk
membantu Ibunya memenuhi kebutuhan keluarganya. Ayahnya sudah lama meninggal
karena sakit. Semua ia jalani dengan penuh suka cita. Walaupun terlahir dari
keluarga yang sederhana Ifa tidak pernah bersedih. Justru it merupakan
penyemangat baginya untuk dapat memperbaiki masa depannya. Namun di setiap
kehidupan tidak selalu indah, seperti yang terjadi pada pagi ini Ifa tiba-tiba
di panggil guru untuk pergi ke ruang BK (Bimbingan Konseling), lagi-lagi karena
ia sudah menunggak pembayaran SPP selama beberapa bulan.
Di
jalan menuju rumah ia melamun memikirkan kembali perkataan gurunya jika ia
tidak segera melunasi administrasi sekolah ia tidak dapat mengikuti Ujian
Nasional, memang Ifa mendapat beasiswa namun beasiswa yang ia dapat hanya cukup
untuk membayar buku-buku sekolah, selanjutnya untuk biaya administrasi sekolah
ia dan Ibunya harus berusaha mati-matian agar bisa melunasinya. Sesampainya di
rumah Ibunya merasa ada hal yang aneh dengan Ifa karena tidak biasanya ia
langsung menuju kamar seusai pulang sekolah. Lalu diam-diam Ibu mengikuti Ifa
ke kamar Ibunya terkejut melihat Ifa tiba-tiba menangis, dan menghampirinya.
“Nak
ada apa mengapa kamu menangis?” tanya Ibunya sambil menghapus sisa air mata di
pipi Ifa.
“Ifa
harus melunasi administrasi sekolah Bu, jika Ifa ingin mengikuti Ujian Nasional,”
jawab Ifa tersendat-sendat. Ibunya termenung sejenak lalu menghela nafas.
Sudahlah nak, untuk itu tidak usah kamu fikirkan, Ibu akan berusaha untuk
melunasi biaya sekolah kamu”jawab Ibu berusaha tegar.
“Terima
kasih ya Bu, maaf jika Ifa selalu merepotkan Ibu,” jawab Ifa.
“Tidak
nak, ini sudah menjadi kewajiban Ibu, kamu harus belajar dengan rajin itu sudah
cukup membuat Ibu bahagia nak,” pinta Ibunya.
Sejak
kejadian itu ia selalu belajar dengan giat agar dapat meraih cita-citanya
menjadi seorang guru. Soal prestasi, dia tidak pernah luput dari ranking satu
di sekolahnya. Memang Ibunya selalu berharap agar Ifa bisa hidup lebih baik
dari beliau.
“Ifa
ayo sarapan dulu lalu antarkan gorengan ke warung sebelah ya, jangan lupa bawa
juga untuk dititipkan di kantin sekolahmu,” pinta Ibunya. Iya Bu sebentar,”
jawab Ifa.
“Kak
aku boleh tidak membonceng kakak, sepedaku bocor kak, ujar adiknya Afi yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Tentu!”
jawab Ifa singkat.
Setelah
selesai sarapan ifa mengAyuh sepedanya, dengan memboncengkan adiknya, tidak
lupa ia membawa gorengan untuk dititipkan di warung dekat rumahnya dan kantin
sekolahnya. Ifa tidak pernah mengeluh sedikitpun. Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, Ujian
Nasional untuk Sekolah Menengah Pertama sudah di depan mata, hati Ifa bimbang,
selain harus belajar lebih giat lagi, ia juga harus kembali memikirkan apakah
ia akan melanjutikan sekolahnya atau tidak. Ia tidak ingin menaMbah beban Ibunya.
Namun dalam hati kecilnya hanya itu harapan satu-satunya agar ia bisa merubah
nasib keluarganya.
“Ibu,”
Ifa memulai pembicaraan dan mendekati Ibu yang duduk di teras rumahnya.
“Iya
nak ada apa, sepertinya kamu dari tadi geLisah sekali?” tanya Ibunya.
“Bu
Ifa ingin bicara pada Ibu,” ujar Ifa dengan nada lirih.
”Bicara
tentang apa Ifa?” jawab Ibunya penasaran
“Begini
Bu, Ifa ingin melanjutkan sekolah Ifa, tapi apa Ibu mempunyai cukup uang untuk
membiayai Ifa, melanjutkan pendidikan Ifa?” jawab Ifa berterus terang.
“Rejeki
itu urusan Tuhan nak, kita hanya bisa berusaha dan meminta, bagaimanapun kamu
harus tetap melanjutkan sekolahmu, Ibu tidak ingin melihatmu menjadi orang
susah seperti ini, cukup Ibu yang tidak bisa membaca dan menulis kamu dan
adikmu harus bisa agar dapat mengubah kehidupan kita agar tidak seperti ini.”
“Untuk
biayanya, kamu tidak usah memikirkannya yang penting kamu dan adikmu bisa
menjadi orang yang sukses agar dapat mengubah kehidupan kita nak,” jawab Ibunya
penuh harap.
“Terima
kasih ya bu,” jawab Ifa sambil memeluk Ibunya.
“Iya
nak,” jawab Ibunya.
Ifa
memang tinggal di desa terpencil yang
jauh dari hingar-bingar kota besar. Di desa yang sebagian besar penduduknya
hanya lulus SD dan SMP jika ada yang
lulus SMA sampai perguruan tinggi, itu bisa dihitung dengan jari, itu pun
biasanya mereka harus rela bolak-balik ke kota untuk melanjutkan pendidikannya.
Namun Ibunya tidak menginginkan ifa hanya lulus sekolah dasar atau SMP saja.
Masih
membekas dalam ingatan Ifa di mana Ibunya rela bekerja keras, agar dapat
memenuhi kebutuhannya dan adiknya, Ibu rala bekerja membanting tulang,
berpanas-panasan untuk memperoleh sepeser uang untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari dan biaya untuk membayar sekolahnya dan adiknya. Ibu rela melakukan
apapun untuk meMbahagiakan Ifa dan adiknya. Beliau hanya menginginkan Ifa dan
adiknya menjadi anak yang berbakti dan bisa hidup lebih layak darinya. Itu pula
yang membuat Ifa tidak ingin hanya sekedar berpangku tangan tanpa melakukan
apapun.
Pengumuman
hasil ujian nasonal telah tiba alangkah bahagianya Ibu ketika mengetahui putrinya mendapat nilai
tertinggi, dan mendapat penghargaan berupa piagam dan sejumlah uang. Uang itu
digunakan untuk biaya Ifa melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah atas. Ifa
pun sangat bahagia bisa melanjutkan sekolahnya. Karena ifa memang anak yang
pintar selama duduk di bangku sekolah menengah atas ia selalu mendapat beasiswa
karena prestasinya.
Setelah
lulus sekolah menengah atas, Ifa mengikuti program beasiswa untuk anak
berprestasi dan kurang mampu siapa yang lolos seleksi akan mendapat kesempatan
untuk melanjutkan kuliah di Universitas yang cukup terkenal yaitu Universitas
Al-Azhar Mesir.
“Ibu,
jika Ibu mengijinkan, Ifa akan mengikuti program beasiswa untuk melanjutkan
kuliah di Universitas impian Ifa Bu,” pinta Ifa.
“Beasiswa,untuk
melanjutkan kuliah di universitas Impian kamu, kalau Ibu boleh tau dimana nak?”
tanya Ibunya.
“Di
mesir Bu, tepatnya di Universitas Al- Azhar, Mesir, dan besok akan diadakan
seleksi,” jawab Ifa.
“Tentu
saja boleh nak, hanya satu pesan Ibu, jika kamu berhasil lulus menjadi sarjana
jangan lupakan orang-orang yang mendukungmu dan
jangan lupakan ibadahmu ya nak.”
Dengan
berlinang air mata bahagia Ifa menjawab, “Tentu bu, terimakasih atas izin yang Ibu
berikan, doakan Ifa ya bu, semoga ifa bisa menjadi orang yang sukses dan dapat
meMbahagiakan Ibu dan adik ya Bu,” pinta Ifa.
“Doa
Ibu menyertaimu nak,” jawab Ibunya.
Benar
saja Ifa berhasil lolos dalam seleksi, dan satu minggu lagi ia akan berangkat
ke Mesir.Segalanya telah Ifa persiapkan, dan hari yang dinanti pun tiba.
“Hati-
hati di jalan ya nak, Ibu hanya bisa mengantarmu sampai sini”ujar Ibu melepas
kepergian putrinya.
“Terima
kasih bu doakan Ifa ya bu, agar Ifa dapat selamat sampai tujuan dan bisa
menempuh pendidikan dengan lancar,” jawab Ifa.
“Doa
dan harapan Ibu menyertaimu nak, jaga dirimu baik-baik ya nak,” harap Ibunya
melepas kepergian Ifa. Dengan berlinang air mata Ibu dan adiknya mengantarkan
kepergian Ifa.
Dalam
hati Ifa bergumam, “Ibu Ifa akan kembali dengan seberkas harapan untuk meMbahagiakn
Ibu, dan adik doakan Ifa, Bu.”
Setelah
sekian lama berada di Mesir untuk melanjutkan pendidikan selama 5 tahun, Ifa
akhirnya mendapat gelar sarjana pendidikan sekaligus lulus sebagai lulusan
dengan nilai terbaik. Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam fikiran Ifa, bisa
lulus dengan nilai tertinggi dan
mendapat gelar sarjana pendidikan dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Dengan berlinang air mata Ifa
mengungkapkan orang yang paling berjasa dalam hidupnya yaitu Ibunya.
“Ibu
adalah segalanya bagiku, tanpa beliau aku tidak akan bisa berdiri di tempat
semegah ini, tanpa beliau pula aku tidak akan pernah mengerti arti hidup yang
sebenarnya”.
Hadirin
yang datang dan menyaksikan pun ikut hanyut dalam suasana haru. Sesekali ia
menyeka air mata yang terlanjur membasahi pipinya, lalu melanjutkan kembali
sambutannya. “Bahwa betapa besar dan tidak terkiranya jasa seorang Ibu bagi
kita.”
Ini
semua untuk Ibuku, “Mom, you are my everything.”
Hadirin yang datang dan menyaksikan bertepuk
tangan mendengar sambutan Ifa. Setelah lulus Ifa berniat kambali ke negaranya
untuk memajukan pendidikan bagi anak bangsa yang kurang mampu. Dan menepati
janjinya pada Ibunya bahwa ia akan pulang dengan seberkas harapan, harapan yang
akan membuat mimpinya menjadi kenyataan dan dapat memperbaiki kehidupannya.
***
Cinta Sejati
Karya : Alveno Prakoso Nugroho
Hujan turun dengan derasnya di
ikuti dengan suasana yang mencekam pada malam itu, mengoyak gubuk doyong di rerumbunan
bambu-bambu yang bersuara. Gubuk itu
hampir tidak terlihat pada malam itu. Di gubuk itu tinggalah seorang Janda Tua
dan seorang gadis yang cantik jelita. Di gubuk itu tak ada satupun ada barang
berharga kecuali gadis itu. Maka Janda Tua itu menjaga gadis itu untuk
melindungi kesuciannya. Dan gubuk itu
hanya terbuat dari anyaman bambu yang sudah rusak, genting terbuat dari alang-alang. Di rumah itu
tak ada sekat antara ruang tamu dengan lainnya. Pada ruang tamu gubuk itu tak ada meja dan
kursi untuk menyambut tamu yang datang.
Janda
Tua itu bernama Nenek Minah dan gadis itu bernama Mizah. Nek Minah hanya bekerja menjadi pembantu di
rumah Pak Kades, Mizahpun hanya dapat
membantu Ibunya. Karena mizah tak
mengayomi pendidikan yang cukup. Ternyata di rumah Pak Kades ada seorang lelaki
yang ternyata adalah keponakannya. Pemuda itu ke rumah Pamannya ( Pak Kades )
bertujuan untuk membuat rangkuman ilmiahnya di desa. Pemuda itu bernama Joni.
Ketika Joni jalan – jalan di
desa itu. Tak menyangka dia menemui
gadis baru mandi di sungai. Joni
berusaha mendekati gadis itu. Ketika
waktu Joni mau mendekati, gadis itu tau
kalau ada orang yang mengintipnya mandi. Gadis itu langsung bersembunyi dan lari untuk menghindari Pemuda ( Joni ) itu. Ketika Joni mau sadar bila gadis itu lari, dan Joni berusaha mengejarnya. Ternyata Gadis itu sudah jauh dan Joni pun
bila terus mengejarnya takut bila tersesat. Karena Joni belum tau jalan di desa itu. Lalu Joni memutuskan untuk pulang ke rumah
pamannya. Pada perjalanan pulang Joni
tak menyangka bila ada seorang gadis yang cantik jelita dan putih dia temui di
desa itu. Padahal Joni waktu di kota
tidak pernah menemui gadis seperti yang baru saja dia temui waktu di sungai. Ketika Joni mau tidur, dia tak bisa menghilangkan pikirannya dari
gadis yang dia temui tadi.
Keesokan
harinya dia berniat mau menemui gadis itu. Ternyata Gadis itu tak ada di sungai itu. Dan Joni pun kembali pulang. Joni terus bertanya pada pamannya “Paman, apakah anda pernah tau gadis putih, cantik jelita, dan gadis itu pemalu, tinggal di desa ini ?” kata Joni.
Paman menjawab, “Sepertinya di
desa ini tak ada gadis seperti itu yang tinggal di desa ini”.
Ketika pembantu rumah pamannya
mau pulang, Joni di tawari untuk main ke
rumah pembantu tadi. Joni pun menyetujui
ajakan pembantu ( Nek Minah ) tadi. Joni
di suruh mengikuti Nek Minah. Ketika
Joni sampai di rumah Nek Minah, Joni pun
sangat kaget melihat keadaan rumah Nek Minah yang serba kekurangan. Dan Jonipun di kenalkan dengan anaknya Nek
Minah. Joni pun sangat kaget melihat
anak gadis itu, ternyata gadis anak dari
Nek Minah adalah gadis yang dia cari-cari selama ini. Yang membuat selalu terbayang di pikirannya. Ketika Joni kenalan dengan Mizah (anak Nek
Minah) Joni pun sangat tak menyangka bila Nek Minah mempunyai anak yang dia
idamkan. Mizah pun langsung membuatkan
minum untuk Joni. Malam telah larut dan
Joni pun pamit pulang kepada Nek Minah.
Keesokan harinya Joni berniat
main ke rumah Nek Minah lagi. Sesampainya di rumah Nek Minah ternyata Mizah
pun tak ada. Ternyata Mizah baru mencuci
pakaian di sungai. Joni pun tak mau
mengganggu kegiatan Mizah, dan Joni
memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Joni pun bertanya kepada
pamannya.
“Apakah Paman merestui bila saya
menikah dengan anak Nek Minah?” tanya Joni.
“Merestui, asalkan kau bisa
bahagia bersamanya,” jawab Paman.
“Makasihh Paman,” kata Joni.
Beberapa
hari kemudian Ibu Joni yang ada di Jakarta pun mengetahui bila Joni telah
mencintai gadis desa. Tentu saja Ibu
Joni tak merestuinya. Karena Joni telah di jodohkan oleh gadis pilihan mama,
yang tanpa persetujuan dari Joni dan Joni tak mencintai gadis pilihan Ibunya.
Keesokan
harinya Ibu Joni pun pulang kedesa membawa gadis pilihan Ibunya.
Ketika Ibu Joni mengetahui sosok gadis itu, dan
rumahnya. Ibu Joni pun berniat membunuh Nek Minah dan Mizah dengan mengirimkan
preman untuk membunuhnya.
Ketika
malam telah larut, preman suruhan Ibu Joni pun beraksi. Dia masuk melalui pintu
belakang. Ketika Preman mau mendekati Mizah, Mizah pun langsung melarikan diri.
Dan Mizah tak menduga bila dia meninggalkan Nek Minah. Ternyata preman itu
berhasil membunuh Nek Minah. Setelah membunuh Nek Minah, preman itu mengejar Mizah
dan berniat memperkosanya. Karena harta yang paling berharga baginya adalah
kesuciannya. Setelah preman itu berusaha
mengejar Mizah dengan susah payah, ternyata ada hasilnya. Mizah pun tertangkap
dan di kurung di sebuah rumah tua yang tempat itu belum pernah di ketahui oleh
Mizah.
Keesokan
harinya Joni pun berniat main ke rumah Nek Minah. Ketika Joni telah sampai di depan
rumah dan pintu keadaan terbuka. Ketika Joni mau masuk, dia sangat kaget
melihat darah yang bercucuran yang di sebabkan oleh pembunuhan Nek Minah. Joni
pun langsung berteriak, dan warga desa pun langsung datang ke suara yang
tertuju. Joni telah berusaha mencari Mizah di dalam rumah, ternyata Mizah pun tak dia temui. Warga desa
pun menyemayangkan jenazah Nek Minah ke tempat pesemayangan terakhir.
Waktu
itu juga, preman suruhan Ibu Joni berusaha memperkosa Mizah. Preman itu untuk memojokan Mizah. Dan preman itu
berhasil merengkut pakaian atas Mizah. Dan ketika Mizah terpojok, di dekatnya ternyata ada gunting. Lalu Mizah berpikir “Bila aku membunuh Preman itu
untuk melindungi kesucianku, apakah aku dosa?”
Lalu Mizah pun menancapkan
gunting itu ke punggung preman itu. Dan
preman itu meninggal dunia.
Ketika
di dalam rumah itu ada suara yang mencurigakan, warga desa sekitar rumah tua
itu mendatanginya. Dan warga mendobrak
pintu rumah tua itu. Ketika warga berhasil membuka, lalu warga menangkap Mizah karena tersangka
pembunuhan. Warga pun tak mendengarkan penjelasan dari Mizah. Dan Warga pun
memanggil polisi untuk memproses kejadian ini. Dan Mizah pun menjadi tersangka
dan di penjara.
Kejadian ini membuat Joni tak
mempunyai semangat hidup lagi. Karena
wanita yang dia bisa cintai dengan tulus tak tau entah pergi kemana. Dengan
begini gadis pilihan Ibunya Joni pun sadar bila “Cinta Tak Perlu Di Paksakan.” Dan
gadis pilihan Ibunya pun meminta maaf kepada Joni karena telah memaksa Joni
untuk menikah dengannya. Kejadian ini pula membuat Joni malas mandi dan hanya
bisa merenung di kamar dan nafsu makannya pun hilang. Dengan begini membuat Ayah
Joni dan Ibu Joni pun berusaha mencari Mizah. Dengan menggunakan media foto
yang dia pertanyakan setiap penduduk.
Ketika Mizah hidup di penjara,
dia di kenal dengan adalah gadis yang baik hati dan sopan. Karena dia sering menyapu,
mengepel lantai, dan sebagainya yang Mizah dapat kerjakan.
Ketika masa tahanan Mizah
tinggal 30 hari. Mizah pun mulai bingung bila telah keluar penjara nanti Mizah mau hidup dimana.
Karena dia tak mempunyai rumah dan saudara di daerah sana.
Waktu terus bergilir.
Ketika masa tahanan Mizah habis
pun dia di tawari untuk menjadi pembantu dan tinggal di rumah salah satu
pegawai penjara itu. Mizah tanpa pikir panjang pun langsung menyetujuinya.
Mizah pun di boyongnya ke rumah pegawai penjara itu untuk menjadi pembantu.
Ternyata pegawai yang
menjadikan Mizah pembantu itu adalah teman dari Ayah Joni.
Ketika Ayah Joni berniat
bertamu untuk silahturahmi ke pegawai itu. Ayah Joni pun sangat kaget ketika
melihat pembantu yang bekerja di rumah temannya itu. Ayah Joni pun langsung
bertanya kepada pembantu itu.
“Kamu Mizah kan?” kata Ayah
Joni.
“Iya om,” jawab Mizah.
“Kamu kenal dengan Mizah?” tanya
temen Ayah Joni kepada Ayah Joni.
Ayah Joni pun mulai menjelaskan
bahwa Mizah adalah gadis pilihan anaknya. Dan Mizah mencintai anakku.
Begitu pula Ayah Joni pun
membawa pulang Mizah ke rumahnya untuk tinggal di rumahnya.
Ketika Joni di panggilnya oleh Ayah
untuk melihat gadis yang di bawa Ayahnya. Joni pun sangat kaget bila yang di
bawa Ayahnya adalah Mizah.
Joni dan Mizah pun di nikahkan
dan hidup bahagia.
***
P D Aja Man !
Karya
: Arizal Nur Dwinawan
Maman, itulah namanya.
Anak yang hidup dalam kesederhanaan. Ia harus merasakan kerasnya hidup di dunia
pada saat ia yang seharusnya menikmati masa kecilnya untuk bermain. Ya, benar,
Maman adalah seorang anak yang hidup dalam kesederhanaan. Ibunya saat ini sedang
sakit, sedangkan Ayahnya hanya perprofei sebagai nelayan yang tidak tentu
pendapatannya. Maman juga mempunyai adik perempuan yang bernama Rahmi. Rahmi
saat ini masih duduk di bangku kelas 3 SD.
Maman mau tidak mau harus membantu Ayahnya
mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Maman adalah orang yang biasa
saja, pendiam, pemalu, dan lebih sering menyendiri. Tetapi, dibalik semua itu,
ia adalah anak yang rajin dan cukup pandai. Ia selalu mendapatkan rangking saat
ujian sekolah.
Matahari sudah berada tepat di atas
kepala. Maman bergegas pulang dan mengganti pakaiannya. “Bu, aku pergi melaut
sama Ayah dulu ya?” . Hanya sepenggal kata itu yang selalu Maman ucapkan saat
pulang dari sekolah. Rahmi, adiknya,
selalu mengantarkan maman dan Ayahnya ke pantai. Tapi, Maman tidak hanya
membawa jaring dan kail untuk bekal kelaut. Tidak lupa Maman selalu membawa
buku pelajaran untuk di pelajarinya di perahu.
“Pak, aku sambil belajar ya?” kata Maman. “ya nak, belajar
yang rajin, jangan sampai seperti Ayah. Jadilah orang yang sukses di kemudian
hari”sahut Ayahnya.
Bulan menggantikan sang matahari. Itu artinya Maman dan Ayahnya
harus pulang untuk menyerahkan hasil yang tidak seberapa ke Ibu. Sepulang
melaut, Maman tidak langsung istirahat, melainkan belajar. Hanya di temani
lampu minyak dan segelas air putih, terlihat Maman sangat giat belajar.
Matahari kembali memancarkan sinarnya. Teng... teng...
teng... suara bel tanda dimulainya kegiatan pada hari ini. Di papan tertulis
sebuah soal yang menurut semua siswa di kelas itu susah. “Ayo anak-anak siapa
yang bisa mengerjakan soal di depan?”
Tak ada suara sedikitpun.
“Man, ayo maju dan kerjakan soal di depan!” suara bu guru
memecah keheningan. “ya bu,” hanya itu kata yang Maman ucapkan. Tanpa Maman
sadari, tepuk tangan dari teman-temannya dan bu guru telah terdengar. “hebat
kamu Man”kata bu guru.
Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai. Maman keluar kelas
dengan wajah yang lemas. Melihat itu, bu guru menghampiri Maman dan bertanya
“Man kamu kenapa sepertinya leman banget?”
“Eng.. enggak bu,
saya hanya malu pada teman-teman, saya merasa tidak pantas berada di dekat
mereka, saya hanyalah anak dari keluarga nelayan”“kenapa, P D aja kali Man,
tidak semua orang yang punya itu selalu menang, buktikan bahwa kamu juga bisa”kata
bu guru sembari mengelus-elus kepala Maman.
“Iya bu.”
“Oh.. iya, besok Minggu ada lomba matematika, Ibu akan
mengikutsertakan kamu”“tapi bu...” “Maman harus mau ya”
“Ya bu.
Sepulang sekolah Maman tidak ikut Ayahnya melauk seperti
biasanya. “Hlo Man, tidak melaut?” tanya Ibu
“Tidak bu.”
Maman menceritakan bahwa ia akan mengikuti lomba matematika
pada hari minggu.
”Bagus itu Man”
“Tapi bu, aku malu dan takut”
“P D aja Man, buktikan bahwa kita juga bisa berbrestasi!”
Maman merenung sejenak memikirkan ternyata kata-kata yang
diucapkan Ibunya sama dengan bu guru. Semenjak hari itu Maman menjadi lebih
rajin dan bersemangat dalam belajarnya.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa hari sudah memasuki
hari Minggu, hari yang telah di tunggu Maman untuk membuktikan bahwa dia bisa.
Memasuki ruang lomba Maman terkagum-kagum, belum pernah ia memasuki ruangan
yang besar nan mewah. Maman sedikit rag karena banyak sekali peserta yang ikut.
Tetapi Maman teringat kata bu guru dan Ibu “P D aja”. Maman pun dengan jiwa
yang penuh semangat, percaya diri akan menang.
Waktu lomba telah usai.
Dan benar saja, ternyata tidak rugi Maman belajar tiap hari.
Dan benar kata bu guru bahwa kita pun bisa menang. Ia keluar menjadi juara
pertama. Dia pulang dengan wajah gembira, dengan sebuah piala dan amplop yang
ada di tangannya. Dan kini Maman telah menjadi anak yang percaya diri, tidak
pemalu seperti dulu.
Setelah Maman lulus sekolah, ia mendapatkan nilai yang
sangat memuaskan, dan ia mendapatkan beasiswa ke jenjang yang lebih tinggi.
Pada akhirnya Maman yang dulu adalah anak yang biasa, sekarang menjadi anak
yang sukses. Maman telah membuktikan bahwa orang sepertinya pun bisa menang
apabila mau berusaha. Ia akan menularkan pesan yang di berikan bu guru dan Ibu
untuk anaknya kelak.
Dan satu kalimat kecil yang selalu Maman ingat hingga
sekarang yaitu “P D aja”
***
Walaupun
Sebentar Saja
Karya : Asih Setiyowati
Hai sobat perkenalkan namaku
Resa Ardiana Putri.Aku biasa dipanggil Resa.Aku murid kelas IX di SMPN 1
Cenderawasih. Aku anak kedua dari tiga bersaudara.Aku mempunyai kakak, ia
bernama Rendi Ardian putra. Ia kakak yang cerdas dan baik menurutku.Walaupun ia
selalu judes dan kelihatanya nggak perduli sama keluarga, tapi sebenarnya ia
sayang banget sama aku dan keluargaku.Rendi kelas XI di SMAN Budi pekerti yang
katanya sih SMA Favorit. Sedangkan adikku. Ia bernama Riska Ardiana Putri.mirip
namaku kan. Dan aku juga mempunyai Ibu yang baik.beliau bernama Sandra ardiana
putri.
Pasti
kalian berfikir kalau hidupku sempurna.padahal tidak. Dan kalian pasti
berfikir kalau keluargaku hidup
bahagia.padahal tidak.sebenarnya sejak aku keci.aku tak mengetahui dimana Ayahku
berada, bagaimana keadaanya dan seperti apa wajahnya.Karena Ayah tak pernah
menemuiku. Entah kenapa…?
Ya
inilah keluargaku.Tanpa Ayah. Dari kecil aku nggak tau dimana Ayahku dimana.aku
selalu bertanya kepada Ibuku tapi tidak pernah dijawabnya dan sampai sekarang
jawaban itu masih sama.
Suatu
hari aku tak sengaja terjatuh dari tangga rumah. Hidungku berdarah.tapi aku tak
pernah memberi tau hal ini kepada Ibu, kakak dan adikku. Karena aku takut
mereka akan menghawatirkan ku.Karena kejadian itu hidungku selalu berdarah
entah kenapa. Sampai akhirnya aku tak tahan karena setiap malam hidungku mimisan.
Disertai kepalaku yang pusing. Sebelumnya aku tak pernah mengalami hal seperti
itu.Tapi mengapa tiba-tiba aku mengalaminya.
Sampai
akhirnya aku pergi kerumah sakit sendirian tanpa memberi tahu keluargaku. Aku
takut mereka menghawatirkanku. Sesampainya dirumah sakit. Aku menceritakan
semuanya kepada pak dokter. Sampai waktunya aku berbicara dengan dokter itu.
“Pak sebenarnya saya sakit apa,
kok periksanya sampai lama?” tanyaku
“Orang tua adik dimana?” jawab
beliau yang malah menanyakan orang tuaku
“Orang tua saya semuanya sIbuk
pak,” jawabku.
“Ya sudah. Adik siap
mendengarkan semua ini sendirian karena sebagai dokter saya harus memberitahu
keadaan adik sekarang,” kata dokter.
“Iya saya siap dokter. Katakan
saja,” jawabku.
“Sebenarnya adik telah didiagnosa
menderita sakit kanker darah atau LEOKIMIA,” kata dokter.
“Kanker darah? Apakah
penyakitku separah itu? Padahal aku kan hanya mimisan?” tanyaku.
“Iya memang salah satu tanda
penyakit kanker darah adalah mimisan dan kepala pusing,” jawab beliau.
“Apakah penyakit ini bisa di
sembuhkan, Dok?” tanyaku.
“Kemungkinan hanya 50 %” jawab beliau.
“Oh ya?”
Lama
aku memikirkan untuk memberitahu keluargaku.namun sesampainya dirumah aku
melihat adikku sedang bermain dengan gembira.Kakakku pun berpamitan akan pergi
bersama temanya dan Ibu sedang dikantor.Aku pun menuju kamar untuk memikirkan
hal itu.
Sampai
di pagi hari aku dan keluargaku sarapan bersama untuk memulai beraktivitas. nmun
aku mengurungkan niatku untuk memberitahu mereka.Karena aku takut mereka akan
sedih dan mereka akan menganggapku lemah.Hari ini hari sabtu. karena ini hari
weekend jadi hari ini libur.
Aku
bersama adikku berniat untuk
membersihkan rumah dan gudang. Waktu aku membersihkan gudang taksengaja aku
menemukan sebuah benda kotak mirip buku yang sudah kusam dan jelek. Aku
bersihkan perlahan-lahan setelah itu aku buka. Ternyata itu sebuah album foto. Di
album itu terlihat sebuah foto yang bergambarkan Ibu bersama seorang pria. Aku
berfikir apakah itu foto Ibu bersama Ayah. jika itu Ayah dimanakah Ayahku
sekarang?
Setelah
semuanya selesai, aku berniat menanyakan hal itu kepada Ibu.
“Ibu, dulu Ayah kaya gimana sih?”
tanyaku.
“Dulu Ayah baik dan penyayang,”
jawab Ibu.
Apakah Ayah seperti ini bu?” aku
bertanya sambil memperlihatkan foto yang temukan digudang tadi.
“Darimana kamu temukan foto itu?”
tanya Ibu dengan suara yang agak membentak.
“Darimana itu nggak penting, yang
penting itu Ayah atau bukan?” aku bertanya.
“Bukan, itu bukan Ayahmu,” jawab
beliau.
“Lalu dimana Ayah sekarang?” aku
menangis.
“Ayahmu pergi meninggalkanmu
dan keluarga kita,” jawab Ibu yang ikut menangis.
“Tapi kenapa Ayah meninggalkan
kita?” tanyaku yang manangis semakin keras.
“Mulai sekarang jangan pernah
tanyakan itu lagi!” Ibu membentak.
Sejak
itu aku mulai merenungkan diri. Aku tidak berselera makan dan minum, hingga
pada akhirnya aku sakit demam, tentu saja itu membuat Ibuku panik. Ibuku pun
langsung membawaku kerumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit
badanku semakin panas hidungku yang mimisan. Keadaan itu membuat Ibuku semakin
kawatir. Sesampainya dirumah sakit, aku diperiksa. Ibu bertanya kepada dokter.
“Bagaimana keadaan anak saya
dok?” tanya Ibu.
“Anak Ibu apakah sering mimisan?”
dokter berbalik bertanya.
“Saya barau tadi melihat anak
saya Resa mimisan sebanyak itu. Sebenarnya anak saya kenapa dok?” tanya Ibu
sambil menangis.
“Sebenarnya anak Ibu sudah lama
menderita penyakit kanker darah. Memang Ibu tidak tau?” jawab dokter.
“Saya harus bagaimana, Dok? Saya
benar benar tidak mengetahui bahwa anak saya sakit,” tanya Ibu yang
menghawatirkan keadaanku.
Dokter pun hanya terdiam dan
tak berkata apa apa.
Setelah
menemui dokter Ibu lalu pergi ke kamar periksaku.Dengan keadaan setengah sadar.
Aku mendengar Ibu berkata, “Ibu sayang sama Resa, Ibu nggak mau Resa sakit. Jika
kamu sadar nanti, Ibu akan ku telfonkan Ayahmu.”
Waktu tidur aku sering mengigau
memanggil manggil Ayah.
Kata
dokter aku tidak boleh pulang karena keadaanku menghawatirkan sampai sampai 1
hari bisa habis infuse 3 coba bayangkan semua badanku sakit.aku heran mengapa
keadaanku semakin parah. Kakakkku yang dulunya suka main sekarang sering
menungguiku dan ia kelihatan khawatir
dengan keadaanku.
Ketika
aku selesai diobati aku pernah berfikir.akankah aku bertemu Ayah.apakah hidupku
masih lama ataukah aku akan pergi.
Sebelum
aku menemui hal seperti itu,aku berniat menanyakan Ayah kepada Ibuku.
“Ibu!” panggilku dengan nada
suara yang agak malemas.
“Iya sayang?” jawab Ibu dengan
nada yang lembut yang menandakan sayang.
“Bolehkah Resa meminta sesuatu?” tanyaku.
“Boleh,” jawab Ibu.
“Resa ingin bertemu Ayah sekali
saja,” pintaku.
“iya sayang besok Ibu telfonkan
Ayahmu untuk datang kemari,” jawab Ibu.
“Terimakasih bu,” jawabku.
Seminggu
berlalu. Ayah pun belum datang juga. Dengan keadaanku yang memburuk. Beberapa
hari kemudian tak disangka Ayah pun datang. Aku bertanya kepada Ibuku.
“Ibu apakah itu Ayah?” tanyaku.
“Iya itu Ayahmu,” jawab Ibu.
Tanpa
memperhatikan keadaan ku yang semakin memburuk.Aku langsung berlari menuju
kepelukan Ayah.saking kangenya aku memeluk Ayah dengan erat.Rasanya tak ingin
dilepas.tanpa aku sadari dan semuanya pun gelap seketika.ternyata aku tak
sadarkan diri.
Setelah
aku sadar aku langsung mencari Ayah. Dengan keadaanku yang semakin memburuk.
“Ibu bolehkah aku minta sesuatu
lagi untuk yang terakhir kalinya,” pintaku.
“Apa sayang silahkanm,” jawab Ibu.
“Ibu aku ingin lIburan bersama Ayah,”
aku meminta.
“Tapi keadaanmu?” Ibu
menghawatirkanku.
“Tidak apa apa bu. Asalkan
tetap bisa bersama Ayah,” aku menenangkan Ibu.
“Ya boleh terserah kamu,” Ibu
mengiyakan.
Setelah
mendapatkan izin. aku pun pergi berlIbur bersama Ayah.
“Ayah...” kataku.
“Iya?” jawab Ayah.
“Ayah sayang sama Resa nggak?” aku
bertanya.
“Ya sayanglah,” jawab Ayah.
“Kalau sayang, peluk aku dan
nyanyikan 1 lagu nina bobo!” pintaku.
“Boleh ...” Ayah mengiyakan.
Ayah
pun melakukanya Ayahpun bernyanyi sambil menangis.Tak terasa mataku mulai
terpejam. Terpejam bukan untuk tidur, tapi terpejam untuk tidur yang lelap. Selamat
tinggal dunia. Selamat tinggal Ayah, Ibu, Rendi, dan Riska. Aku menyayangi
kalian semua, semoga dengan kepergianku Ibu dan Ayah bias bersatu kembali.
Aku senang karena bertemu Ayah
walau pun hanya sebentar saja.
***
Bukan Dia Tapi Aku
Karya
: Bagus Cahyo Bagaskoro
Hazard adalah seorang mahasiswa yang sangat
terkenal di kampusnya,bahkan pra dosen dan
pun mengenalnya, maklum dia adalah anak rector kampus itu. Tapi dia
tidak sombong kepada teman-temanya dia pun senang membantu temanya yang
kesusahan. Dia mempunyai sahabat bernama Oscar, mereka berdua saling kenal
sejak kecil dan mereka selalu bersekolah bersama.Hazard mempunyai kekasih yang
sangat cantik, dia bernama Jane.Hazard sangat mencintainya karena menurutnya
dia adalah wanita yang paling sempurna.suatu hari Hazard ingin mengajak Jane ke
sebuah restoran dan Jane pun menurutinya.
Hari pun tiba Hazard menjemput Jane
kerumahnya tepat pukul 5 sore, Hazard sangat senang bila dia kencan dengan Jane
karena dia seperti pangeran yang pergi
dengan putrid yang cantik jelita.
Setibanya di kafe mereka lalu memesan
makanan, ”Mau makan apa sayang?” kata Hazard.
Jane pun menjawab “Steak aja say,” Hazard
pun lalu memesan makanan ke pelayan dan sasaat kemudian makan pun tiba.
Hazard berbicang dengan Jane, ”Say kamu tu sayang
ma aku karena tulus atau cuma karena aku anak rector di kapus kita?”
Jane pun menjawab, “Enggak kok say aku cinta
ma kamu tu tulus dari hati.”
”Bener?”
“Iya ya!”
Setelah beberapa menit berbincang tak
terasa makanan yang mereka santap sudah habis mereka pun pulang.Keesokan
harinya sahabat Hazard, yaitu Oscar memberitahu kepada Hazard bahwa dia
mempunyai pacar baru.Hazard pun ikut senang karena sahabatnya mempunyai kekaih
baru,Hazard pun bertanya kepada Oscar siapa pacar barunya tersebut, tetapi
Oscar hanya diam serIbu bahasa. Hazard pun tidak curiga kepada Oscar mengapa
dia tidak memberitahukannya kepadanya dia berpikir bahwa Oscar mungkin malu
kepadanya.
Malam minggu Hazard mengjak jane pergi
noton ke bioskop tetapi Jane tidak mau karena beralasan menjenguk temannya yang
sakit. Hazard pun pulang saat tiba dirumah dia berencana main ke rumah Oscar
daripada dia hanya diam di rumah, ternyata Oscar pun tidak ada Hazard jadi
binggung dengan tingkah kedua orang yang paling dekatnya itu.
Kesokan harinya dia bertanya Kepada Oscar
kemana dia semalam, Oscar terlihat gugup menjawab pertanyaan Hazard. Hazard pun
mulai curiga tentang tingkah Oscar dan Jane yang aneh belakangan ini. Hazard
pun mulai melakukan tindakan untuk mencari tau apa yang menyebabkan Jane dan
Oscar sulit di hubungi akhir-akhir ini. Hazard pun menyuruh anak buahnya untuk
menyelidiki tingkah polah Jane dan Oscar. Pak Terry bertugas mengawasi Jane dan
pak Torres bertugas mengawasi Oscar.
Suatu Hari Oscar di ajak Hazard untuk pergi
bersama ke pantai membawa kekasihnya dan Hzard pun juga, tapi Oscar tidak
meiyakannya karena alasan sakit lalu
Hazard mengajak Jane untuk pergi tetapi Jane juga tidak mau karena beralasan
pergi dengan Ibunya.
Lalu Hazard menugaskan Pak Terry dan Pak
Torres untuk mengawasi keduanya apa yg mereka lakukan sehingga mereka tidak mau
dia ajak jalan oleh Hazard. Mula mula pak torres Dan pak Terry Diberi Walkitoky
oleh Hazard agar mempermudah percakapan mereka saat sedang mengawasi Jane Dan
Oscar. Pak Terry pun mendatangi rumah Jane untuk me mata-matai apa yang sedang
di lakukan Jane apakah dia benar-benar pergi dengan Ibunya atau dia berbohong
agar bisa pergi dengan orang lain, Pak Torres pun demikian dia dating ke rumah
Oscar untuk mengawasi gerak-geriknya.
Pak Terry lalu melihat Jane ternyata tidak
pergi dengan Ibunya melainkan dia pergi sendiri dan ternyata dia membeli gaun
biru yang cantik, Pak Torres pun demikian dia melihat Oscar mengambil jas yang
ia Londry ke tempat pencucian lalu keduanya lapor kepada Hazard.
’’Bos ternyata Jane tidak pergi dengan Ibunya
tetapi ternyata dia malah pergi membeli gaun berwarna biru,” kata Pak Terry.
Lalu Pak Torres pun menyusul melapor, “Bos
Oscar tidak sakit tapi melainkan dia mengambil cucian di tempat laundry untuk
mengambil jas.”
Lalu Hazard bertanya kepada hati kecilnya,
“Mengapa jadi aneh ya, apakah mereka sengaja menjaui ku atau jangan-jangan
mereka selingkuh dan mereka tetap ada di sekeliling ku? Oh aku harus mencari
tahu apa yang mereka perbuat jika di luar sana.
Hazard pun mengambil langkah ekstream
Hazard menyuruh Pak Terry dan pak Torres untuk Memasang penyadap telepon ke
rumah Jane dan rumah Oscar, Hazard memerintah kan keduanya pada malam hari agar
tidak di ketahui oleh Jane dan Oscar.
Jam 12 malam Pak Terry dan pak Torres pun
dating ke rumah Oscar dan Jane mereka lalu menyelinap masuk ke dalam rumah tanpa
sepengetahuan Jane dan Oscar. Lalu mereka berdua mulai memasang alat penyadap telefon itu, tugas pun selesai
Pak Terry dan Pak Torres lalu melapor kepada Hazard Bahwa tugas meeka sudah
selesai.
Kesokan harinya ternyata Oscar menelepon Jane
untuk beretemu di sebuah kafe jam 7 malam, Hazard pun lalu terkejut bukan main
ternyata dugaan nya ternyata benar lalu dia pun bergegas untuk menyelidiki apa
yang di lakukan keduanya jam 6 sore
Hazard bergegas untuk tiba dahulu agar Jane dan Oscar ridak mengetahui kalu dia
juga ada di kafe itu saat,di tunngu pun tiba Jane dan Oscar bergandengan tangan
layaknya sepasang kekasih yang sedang baru di mabuk asmara hati Hazard pun
rasanya seperti di cabik-cabik pisau bermata dua dia melihat sendiri Kekasihnya
dan sahabatnya sedang berduaan.
Hazard pun mulai mendekati tempat duduk
Oscar dan Jane namun keduanya tidak curiga bahwa orang yang di dejat mereka
adalah Hazard karena Hazard memakai jumper hitam dan memakai pelindung mulut, Hazard
pun merekam apa yang Jane dan Oscar lakukan di kafe itu agar menjadi bukti
perselingkuhan mereka berdua, Hazard memutuskan
menunggu keduanya pulang dan dia berniat mencegat mereka berdua bersama
pak terry jam 8 malam. Ternyata mereka berdua tidak langsung pulang melainkan
mereka berdua pergi ke bioskop untuk menonoton film, Hazard pun menugaskan Pak
Torres untuk mengawasi mereka berdua di bioskop sementara dia dan Pakt Terry
mencegat jalan yang akan di lalui Oscar dan Jane pulang nanti.
Jam 10 malam Oscar dan Jane ternyata sudah
meninggalkan bioskop lalu pak torres melapor kepada Hazard dan Pak Terry nbahwa
Oscar dan Jane akan segera pulang. Mobil yang di kendarai Jane dan Oscar sudah
tiba di depan jalan yang sudah di cegat oleh Hazard, Hazard pun lalu mencegat
mobil itu, Jane dan Oscar terkejut dan marah karena ada orang yang mencegat
mobil nya secara tiba-tiba.
Betapa terkejutnya Oscar dan Jane saat
mereka berdua keluar dari mobil mereka ternyata orang yang mencegat mereka itu
adalah Hazard, Hazard langsung menepuk tangannya dan berkata, ”Bagus, ternyata
2 orang yang aku anggap orang yang paling baik dalam hidup ku ternyata hanyalah
orang yang tidak mempunyai perasaan yang tega selingkuh di belakang ku!”
Lalu Jane dan Oscar member tahu Hazard
bahwa apa yang terjadi bukan sepaerti apa yang di pikirkan oleh Hazard, tapi
Hazard tidak sebodoh yang mereka kira Hazard lalu mengeluarkan rekaman Video
saat mereka sedang berdua di kafe dan rekaman sadapan telefon yang telah di
ambil oleh Pak Terry dan Pak Torres. Namun Oscar dan Jane tidak juga mengaku, lalu
Hazard pun mengambil barang bukti terahir berupa kado yang di berikan Oscar
kepada Jane yang ternyata jatuh dan di temukan oleh Pak Terry.
Oscar dan Jane pun lalu mendekati Hazard
dan memohon meminta maaf atas segala kesalahan yang telah mereka perbuat kepada
Hazard, namun Hazard hanya diam dan tak peduli apa yang di ucapkan.Hazard pun
lalu pergi dan terlihat mengeluarkan air mata yang berlinang di bajunya,dia
lalu menulis sebuah catatan yang berisi, “Terima kasih atas segala yang kalian
lakukan untuk ku selama ini mingkin aku yang salah karena aku terlalu memaksa
kalian untuk selalu berada di sisi ku tapi kenapa harus dengan car begini
kalian memberitahu ku,knapa kalian tidak terus terang saja apa yang ingin
kalian ungkapkan toh jika kalian katakana kepadaku sejak awal aku tidak akan
marah karena aku bisa melihat kalian bahagia.”
Oscar pun mengambil catatan itu dan dia
berkata, “Bro mafkan aku dan Jane aku
berjanji akan menjaga Jane sebisa ku.”
Keseokan harinya Oscar dan Jane mendatangi
rumah Hazard untuk meminta maaf tapi ternyata Hazard sudah pergi ke Amerika
serikat untuk berkuliah di sana.Oscar dan Jane pun hanya bisa menyesal karena
telah melakukan hal yang buruk terhadap Hazard.
***
Dia
Telah Pergi
Karya : Delya Intan Ramadhanty
Anak
itu dipanggil Gani. Dia baru di kelas 2, SMPN Mekarsari 2. Sejak sebulan yang
lalu Gani masuk di kelasku. Dia pindahan
dari SMPN di kota, aku tidak tahu dari SMPN mana. Dengan melihat tampangnya,
kita akan berkesimpulan bahwa dia anak nakal, atau mungkin anak berandalan.
Gani
anak pendiam, tidak mau bergaul, tatapan matanya dingin, seprti menyembunyikan
kebencian. Di wajahnya terdapat bekas luka-luka, sepertinya bekas luka karena
sering berkelahi. Setiap hari dia selalu terlambat. Gani paling sering mendapat
peringatan dari wali kelas kami, Bu Mira. Dulu aku mengira, tidak ada anak yang
lebih sering terlambat dan tidak mengerjakan PR, selain Ronaldo. Ternyata,
masih ada yang lebih buruk darri itu. Gani menjadi buah bibir dikelas kami, tapi
untuk hal-hal yang bersifat negatif.
Sejak
Gani masuk,dikelassku sering terjadi kejadian-kejadian buruk. Marisha
kehilangan cincin emas 2 gram hadiah pemberian Ibunya. Ratna kehilangan hape
Blackberry Bold pemberian dari kakaknya. Rudi yang tadinya pendiam tiba-tiba
sering berbuat ona. Kejadian-kejadian lain seperti buku hilang atau alat-alat
tulis hilang, sudah tidak terhitung lagi.
“Menurutku,
ini semua pasti perbuatan Gani,” kata Aji, seorang teman sekelasku, ketika kami
dalam perjalanan pulang.
“Sejak
dia datang, kelas kita jadi kacau. Rudi yang tadinya pendiam, sekarang bandel
sekali. dia pasti sudah dipengaruhi oleh Gani,” lanjut Aji.
“Aku
juga berpikir begitu,” kataku pendek.
“Aku
pernah melihat Gani menguntit Ratna, sebelum dia kehilangan hp Blackberry Bold
pemberian dari kakaknya,” kata Shandi.
“Tapi,
kita belum menemukan bukti yang kuat. Kita hanya menduga-duga,” kataku
menyadarkan teman-teman.
“Reza,
masalahnya sudah jelas. Kita tidak butuh bukti lagi.semua anak sudah tahu.
Sejak Gani datang, kelas kita langsung kacau. Siapa lagi kalau bukan dia?” sergah
Aji dengan kata-kata meluncur seperti air dari water canon. Aku hanya diam, mau
membantah sulit, mau menuduh juga tidak punya bukti.
Akhirnya
kami bertiga sepakat untuk menyelidiki Gani. Kami ingin tahu kesIbukan dia
sehari-hari. Kalau nanti kami menemukan bukti-bukti kuat, kami akan melapor Bu
Mira, agar Gani ditindak tegas. Kami bertiga sepakat untuk tutup mulut sampai
penyelidikan selesai.
Kami
bertiga mengawasi Gani dikelas. Kami juga mengawasi dia ketika waktu istirahat.
Setelah pulang sekolah, kami mengikuti dia sampai ke rumahnya. Ternyata,
rumahnya jauh dekat tempat penampungan sampah. Disana kami mengawasi dia dari
kejauhan, takut ketahuan. Kami terus mengikutinya, termasuk ketika Gani pergi
ke tempat penampungan sampah.
Sudah
seminggu kami mengawasi gerak-gerik Gani, tapi belum mendapatkan bukti yang
dicari. Malah kami dipergoki Gani ketika sedang menguntit dibelakangnya. Lebih
buruk lagi, beberapa kali kami ditegur Bu guru karena tidak memperhatikan
pelajaran dikelas. Ternyata menyelidiki itu meletihkan juga.
“Gimana
Reza? Kita sudah seminggu, tapi belum dapat apa-apa,” tanya Shandi ketika kami
duduk-duduk dibawah pohon kersen dihalaman sekolah.
“Gak
tahu lah, Shan. Bukannya dapat bukti, kita malah kepergok,” jawabku.
“Ji,
gimana menurutmu?” tanyaku Aji yang sejak tadi hanya diam. Dia hanya
menggelengkan kepala. Untuk beberapa
lama kami terdiam.
“Persoalan
ini sangat aneh,” kataku memecahkan keheningan.
***
“Kamu
ingat tidak, kejadian Kamis kemarin, Shan? Waktu itu Gani mau pergi ke tempat
penampungan sampah. Sebelum pergi dia mencium tangan Ibunya. Selama di tempat
penampungan dia memulung sampah seperti pemulung-pemulung lain. Dia memulung
sampah setelah pulang sekolah. kasihan sekali! Aku tidak menyangka. Dia
semiskin itu.
“Benar,
Rez. Aku jadi agak menyesal. Mengapa kita mencurigai dia? Sepertinya dia anak
baik.” Kata Aji yang sejak tadi diam saja.
20
Januari 2011, aku mencatat tanggal ini di student diary pemberian Ayah. Hari
itu terjadi kejadian istimewa. Gani didampingi Ayahnya berdiri didepan kelas.
Bu Mira menjelaskan bahwa Gani akan pindah sekolah, sebab keluarganya akan
pindah ke Sumatera Barat. Ayah Gani berbuat kesalahn. Sesudah itu Gani
menyalami kami satu per satu sambil mengatakan “Maafkan aku!”
Setelah
Gani pindah. Kejadian-kejadian buruk masih tetap terjadi. Rudi berkelahi dengan
Irfan. Ketika itu pak guru datang dan langsung mereka disidang.
Perkelahian
Rudi dan Irfan membawa hikmah besar. Ternyata yang mengadu domba Rudi dan Irfan
adalah ronaldo dan kejadian-kejadian burul selama ini adalah perbuatan Ronaldo.
Kami jadi menyesal telah menuduh Gani.
Aku
masih ingat ketika Gani menyalamiku dikelas, dia sempat berkata lirih “bukan
aku pelakunya, percayalah!” aku hanya diam terpana. Apalagi ketika melihat
matanya berkaca-kaca.
Oh,
Tuhan, aku telah salah menuduh, tapi kini dia telah pergi....
***
Berkat Mimpiku
Karya
: Dewi Puspitasari
Hidup
berawal dari mimpi. Tetapi mimpi juga harus kita imbangi degan beribadah dan
berdoa. Tanpa itu, kita akan sangat sulit untuk mencapai mimpi. Salah satu cara
untuk mewujudkannya, dengan berusaha semaksimal mungkin.
Hal ini juga telah dialami oleh
seorang anak yang duduk dibangku X(Sepuluh) SMA, dialah Key. Masa kecilnya
tidak sebaik anak-anak lain yang hidupnya serba kecukupan. Keluarganya tak
sanggup lagi membiayai kelanjutan
sekolahnya. Karena pamannya tahu hal itu, beliau segera mencari solusinya.
Berpikir…berpikir…dan berpikir…
“Nhaa..
paman tahu, gimana kalo paman carikan panti asuhan??” kata paman dengan
semangat.
“Haaa..?”
teriak Key kaget.
Setiap
pagi paman selalu berusaha mencarikan panti asuhan yang mungkin nyaman untuk
Key. Hingga 3 jam roda sepeda motor paman terus berputar. Dan akhirnya terhenti
di Panti Asuhan yang berpapan nama Soman Shawol. Paman pun masuk ke kantor
panti asuhan itu, dan mengungkapkan semua yang paman maksud datang ke panti itu
pada pengasuh yang mendampingi paman.
Satu demi satu baris pada lembaran kertas yang sedikit usang itu, paman
isi dengan pena bertinta Parceslent Sky Blue. Yang dimaksud adalah formulir
pendaftaran.
“Dua
hari lagi tanggal 18 Juli, silahkan bapak datang lagi, untuk melihat pengumuman
diterima atau tidaknya keponakan bapak,” perintah pengasuh Panti Asuhan Soman
Shawol.
“Baiklah,
besok saya akan datang lagi,” jawab paman.
Setelah
itu, paman ingin melihat keadaan dalam panti asuhan yang berplakat Soman
Shawol. Bisa dikatakan, keadaan panti asuhan itu cukup nyaman untuk Key. Roda
sepeda motor paman
kembali melakukannya lagi, yaitu berputar…
Sampailah di gubuk tempat Key tinggal, paman menyampaikan semua yang telah ia
lakukan selama beliau di Panti Asuhan Soman Shawol.
Satu minggu.. dua minggu.. berlalu,
Key masih saja merasa geLisah. Ternyata Key belum mampu beradaptasi dengan
lingkungan barunya. Dengan keputusannya yang kilat, ia memaksakan diri untuk
pulang selama 3 hari, untuk menenangkan kegeLisahannya. Paman berusaha membujuk
untuk selalu sabar dan tabah. Dan ajaibnya, ketika Key melamun sendirian
diruang kamar, ia mengamati wajah Ibundanya yang umurnya separuh baya, dan lebih parahnya lagi, dia sakit-sakitan.
Maaf, Ayah Key juga telah meninggal dunia 4 tahun lalu. Dengan ratapan yang
sangat dalam, Key meneteskan air matanya dengan penuh penyesalan, yang ada
dipikirannya yaitu
“Mengapa
aku musti gak bisa bantu Ibu, mengapa…?”
“Aku
harus kembali ke panti asuhan itu lagi, Ayoo.. Key Bisa”gumam Key sambil
menepuk-nepuk dadanya.
Akhirnya
Key memutuskan untuk tidur, ditengah perjalanan tidurnya, Key bermimpi
mengHajikan Ibunda dan pamannya, setelah ia menjadi orang sukses.
“Alhamdulillah,” ucap Key usai
bangun, ia sangat mengingat sekali mimpinya tadi, dan tak tahu mengapa ia ingin
sekali mencapai mimpi itu, maka Key segera beranjak mempersiapkan untuk kembali
ke Panti Asuhan Soman Shawol lagi. Hal yang membuat Key kaget, peraturan Panti
Asuhan Soman Shawol yaitu, HARUS TINGGAL DIPANTI MINIMAL 3 TAHUN. Tapi justru
hal itu yang membuat hatinya bangga, dengan hal itu pula Key bisa memanfaatkan
masa depannya di kemudian hari. Cara Key gini, selama Key tinggal dipanti, dia akan
mengumpulkan uang yang diterimanya dari para tamu yang menyumbang ke Panti
Asuhan Soman Shawol. Biasanya, setiap kali bulan Ramadhan tiba, banyak para
donator yang ingin ngabuburit bersama anak-anak panti asuhan.
Ada banyak pertanyaan yang ada pada
diri Key, salah satunya yaitu,
“Apakah
aku dapat menyelesaikan tugasku dipanti ini, jika aku harus bertahan tiga
tahun, dan belum tentu juga, siapakah yang dipilih untuk mengabdi?
Selama tiga tahun, Key belajar dan
mendalami ilmu-ilmu agama, seperti Bahasa Arab, Fiqih, Tajwid, dan Akhlak.
Ilmu-ilmu itu yang telah membantu Key menjadi anak yang sadar bahwa kelakuannya
dahulu sebelum masuk panti asuhan itu sungguh berbeda dengan sekarang. Setelah
mendalami ilmu yang dituangkan dari ustadz dan ustadzah disana, ia bertekad
untuk menjadi pedagang Ala Rasulullah, yaitu dengan kunci JUJUR.
Inilah
waktu penentuan bagi siapa yang ditanggung jawabkan untuk mengabdi. Mengabdi
bertujuan untuk membantu menjalankan kegiatan Panti Asuhan Soman Shawol, selain
itu, juga mendidik santri. Dag.. dig.. dug.. telah membuat Key terspontan
dengan kalimat yang disampaikan oleh Ustadz, bahwa:
“Bagi
yang mengabdi pada Tahun Ajaran 2011-2012 adalah Joney, Tommy, Henry, Arly, dan
David.”
Benak
Key berputar, ternyata ia teringat bahwa Joney, Tommy, Henry, Arly, dan David
adalah kelompok geng yang terkenal nakal, dan sering membantah nasihat
pengasuh, mungkin mereka ditugaskan mengabdi untuk menggantikan perasaan pengasuh
pada saat mereka membantah dari nasihat. Dan Key sangat berterimakasih sekali,
karena ia bukan termasuk santri yang bandel. Malah, ia semakin rajin ibadah untuk menghadap Tuhan.
Tinggal 2 minggu lagi, ujian sekolah
Key berakhir, dan pikiran Key telah berada dirumah, sehinnga Key tidak merasa
bahwa dirinya itu masih berada di panti asuhan.
“Sebentar
lagi, aku akan bertemu dengan Ibunda kesayanganku. Dan aku tidak habis pikir,
jika nantinya aku pulang kerumah, aku akan segera berangkat Haji bersama paman
dan juga Ibu.” gumam Key sambil melonjak-lonjak.
Kurang
lebih 2 tahun, Key telah menjadi orang yang sukses, sebentar lagi ia juga akan
menghajikan Ibunda dan pamannya. Dan itu sebuah mimpi yang ditunggu-tunggunya.
Namun
mimpi itu hanya ada dibenaknya, kejadian saat Key pulang kerumah, ia tak
menyadari bahwa didepan rumahnya telah banyak warga yang berkumpul, Key
mendatangi rumahnya dengan bantuan lari, dan Key seperti tak bernyawa lagi
ketika ia melihat wajah Ibundanya yang telah dIbungkus dengan kain mori. Key
mendekati mayat Ibundanya dengan langkah tak bersemangat, lalu ia
menggeleng-gelengkan wajah Ibundanya yang dipikirnya bisa hidup kembali. Semua
yang dilakukan Key hanya sia-sia, ia tetap menangis disamping Ibundanya.
“Apa
yang telah terjadi?” bisik Key pada pamannya sambil melotot dan
menggoyang-goyangkan tubuh pamannya.
“Ketika
Ibumu hendak bangun dari tempat tidur, beliau terjatuh. Dan saat diperiksa,
beliau telah menghembuskan nafas terakhirnya”jawab paman singkat.
“Lalu
mengapa paman tidak memberitahu Key, apa yang paman sembunyikan dari Key,
bahkan dia adalah Ibu Key?” tanya Key dengan suara makin keras.
“Paman
bermaksud baik, hanya saja paman tidak tega melihatmu sedih ketika belajar
dipanti asuhan,” sahut paman.
“Terimakasih
paman, hanya saja Key yang berpikirnya terlalu kekanak-kanakan,” kata Key
dengan muka menunduk.
Key hampir saja putus asa, karena
keluarga yang dicintainya telah pergi mendahului Key. Dan Key hanya seorang
diri. Dalam keadaan seperti itu, paman tidak tega melihat Key hidup sebatang kara, paman pun menawarkan Key
tinggal bersamanya. Karena Key sadar dengan ilmu yang diberikan oleh Ustadz
dari panti asuhan, bahwa “Semuanya adalah milik yang Maha Kuasa, maka mereka akan
diminta kembali oleh-Nya,” maka ia harus tetap berangkat Haji bersama pamannya.
Memang mimpi itu juga harus butuh
pengorbanan tiada tara. Selain itu, jika kita sangat bertekad baik untuk
mewujudkan suatu mimpi, dan dengan sepenuh hati, mimpi itu benar-benar ada
didepan mata dan nyata.
***
Maafkan
Aku, Bunda
Karya
: Dwi Oktaviani
Terdengar suara kokok ayam saling
sahut menyahut menyambut datangnya sang mentari pagi. Kicauan burung burung
kecil menghiasi suasana pagi yang sangat cerah ini.Berbeda dengan suasana damai
di alam luas ini,suara gaduh dan rIbut terdengar jelas di sebuah rumah yang
telihat mewah.
Ya, disinilah aku, Mutiara
Putri Angelita. Atau sering dipanggil Ara tinggal. Aku tinggal bersama kedua orang
tuaku berserta pembantuku Bi Tini juga Pak Joko supir pribadiku.
***
Seperti
halnya orang orang yang lainya,sebagai anak orang kaya aku selalu ingin
dimanja,disayang dan tentunya semua keinginanku harus terturuti.
“Bi… Bibi… Akukan mau sepatu yang hitam kok di ambilin yang putih sih!
Bibi dengar ngak sih!” suruh ku dengan suara kasar.
“Baik non,sebentar tanggung!”
“Bi cepetan keburu terlambat nih!” panggilku semakin kasar.
Namun Bi Tini tak lagi
menjawab, yang terdengar hanyalah suara lembut yang membelai telingaku.
“Sabar dong Ra bibikan sedang sIbuk mempersiapkan
sarapan,” sapa mama dengan lembut.
“Tapi Ma ...” jawabku memotong
pembicaraannya.
“Ara kamu kan punya tangan dan
kaki sendiri! Kenapa kamu tak menggambilnya sendiri dan kenapa harus bibi yang
menggambilkanya untukmu…” jawab mama menasehati
“Tapi ma Bi Tini disini kan cuma
pembantu dan memang sepantasya ia melayaniku..” bantahku
“Iya mama mengerti tapi kan
bukan seharusya kamu tergantung sama bibi! Lha kalau kamu terbiasa begitu kapan
kamu mandirinya,” nasehat Ibu.
Mendengar nasehat Ibu aku pun
tak lagi berani menjawabnya.Aku pun segera bergegas mengambil sepatu dan segera
menuju garasi tempat mobil kesaynganku tersimpan
“Pak cepetan sudah terlambat nih!” seruku
memanggil pak Joko.
“Baik non…”jawab pak joko sambil mengeluarkan
mobil Xenia, mobil pribadiku.
“Cepetan pak!”
“Baik non.”
***
Sesampainya
digerbang depan sekolah bel pertanda sudah masuk berbunyi.Tanpa pamit pada pak
Joko aku pun segera menuju kelasku.Namun saat tiba di depan pintu kelasku KBM
sudah berlangsung dan tiba tiba Pak Tono mengagetkanku,
“Ara kamu terlambat lagi!”
Aku hanya diam saja sambil
menahan takut.
“Ayo segera kamu masuk!” ajak pak Tono.
“Ba… baik pak!”
“Kenapa kamu terlambat?” tanya
pak Tono sambil perkacak pinggang
“Emb ... Anu pak… Emb… anu…!” jawabku
nggak karuan.
“Anu… anu! Sudah sekarang taruh tas mu
dan cepat kembali kedepan kelas!”
“Baik pak…”
“Dah ebagai hukuman karena kamu
terlambat lagi, sekarang berdiri di sini sampai pelajaran ini selesai ! Mengerti!”
Tanpa berpikir panjang lagi aku
pun segera mengangkat kaki kananku dan memeganggi kedua telingaku di ikuti
ejekan ejekan dari temanku.
***
“Teng…teng…teng..”
Bel istirahat berbunyi dan
akhirnya berakhirlah hukuman dari pak Tono.
“Nah Ara bel sudah berbunyi silahkan kamu
kembali ke tempat dudukmu ! dan untuk anak anak semuanya kalian jangan keluar
dulu !” pinta pak Tono pada kami.
“Memangya ada apa pak “Tanya salah
satu temanku.
“Emb… ini ada pengumuman yang sangat
penting ! “
“Baik pak..!” jawab kami serempak
“Ya dengarkan baik baik! Besok pagi
kalian belajar di rumah karena para guru akan mengadakan rapat untuk menjelang
datangnya UTS !” jelas pak Tono panjang lebar.
“Jelas anak anak?”
“Jelas pak.”
“Ya baiklah, segeralah kalian
berkemas kemas ! karena hari semua guru akan mempersiapkan segala sesuatunya
untuk rapat besok !” twterang pak Tono kembali.
“Baik pak.”
Setelah mendapat instruksi dari
pak Tono kami pun segera pulang kerumah masing masing.
***
Disaatku
berjalan menyusuri lorong lorong tiba tiba ada seseorang memanggilku.
“Ara… tunggu!”
“Eh, kamu La! Kirain siapa,“ jawabku
“He..he kaget ya … sorry!”
“Uhf untung aku nggak punya
penyakit jantuna kalau punya pasti mati aku “
“Sorry habis kamu sih! Jalan
kok sambil ngelamun!”
“Eh, Ra, kenapa tadi kamu terlambat?” tanya
Latifah padaku.
“Emb… enggak tadi tu nyariin sepatu.”
“Sepatu? Memangnya sepatumu jalan jalan apa!” ledeknya.
“Ya enggak lah !”
“Terus kalau enggak dimana dong hilang?
Dicuri orang atau jangan jangan kamu makan ya!” tanyanya sambil terus meledekku.
“Ya
bisa jadi !”
“Bisa jadi? Mangsudnya ?” tanyanya lagi
sambil mengerutkan dahinya.
“Dah nggak usah di pikirin ! tu supirku
udah datang, pulang bareng yuk!” ajaku.
“Enggak ah aku tadi kan udah janjian sama
seseorang mangsudku mamaku !” jelasnya.
“Ow ya udah brarti aku duluan ya! Bye…
byeee!”
“Bye!” jawabnya sambil melambaikan tangan.
***
Sesampainya
dirumah aku pun segera masuk kamar aku pun mulai membaringkan tubuhku.
“Bi, bibi cepetan sini!”
“Baik non sebentar.”
“Dari tadi sebentar sebentar
terus cepetan b!” suara ku makin kasar.
“Ba..baik non ada apa?”
“Nah sekarang pijitin aku!” suruh
ku bagaikan putri raja.
“Baik non.”
Bibi pun mulai memijitiku dengan sangat lembut.
“Aw… aw.. sakit bik aw!”
“Maaf non.”
“Maaf… maaf! Bibik tu bisa
mijitin nggak sih?”
Tiba tiba terdengar suara mama
menghampiri ku.
“Ini ada apa sih kok teriak
teriak?” sapa mama.
“Ini lho ma masak mijitin aja
bibi nggak bisa!”
“Memangnya itu kenapa kok
tumben nyuruh bibi mijitin segala?”
“Habis capek banget disuruh pak
Tono berdiri di kelas selama 2 jam.”
“Di hukum ?”
“Iya.. tadi kan Ara terlambat
ma.”
“Terlambat? Kok bisa?”
“Iya ini kan salah bibi!”
“Lho kok nyalahin bibi?”
“Iya ini semua gara gara bibi
ma! Coba kalau tadi bibi cepetan ngambilin sepatuku pasti aku nggak bakalan
terlambat!”
“Oalah Ra masalah kayak gitu
kok dibesar besarin!”
“Biarin! Lho kok bi jangan
berhenti mijitinya!”
“Ba…baik non.”
Sembari Bibi memijitiku kembali
mama ku pun meninggalkanku.
“Bibi pelan pelan dong sakit
nih “bentak ku semakin keras.
Bibi tak lagi menjwabnya
“Dasar pembantu nggak berguna disuruh
mijitin aja nggak bisa!” caci dan
makiku.
Mendengar
cacian dan makiku papa ku pun menghampiriku.
“Ara stop!” bentak mama dari
belakang.
“Apa-apaan ini?” sambung papa
sedikit membentakku.
“Keterlaluan kamu!” taMbah mama.
“Dasar anak durhaka, sama Ibunya
kok berani!” wajah papa semakin marah.
“Ara ketahuilah bahwa orang
yang kau caci dank au maki itu Ibumu Ibu kandung mu!” jelas Ayah.
“Mangsudnya ?” tanyaku
kebingungan
“Dulu waktu bibi mengandung non
Ara Ayah kamu meninggal dunia, dan saat saya melahirkan non Ara saya tak mampu
membayar biaya rumah sakit namun kemudian nyonya dan tuan menolongku lalu menggangkat
non Ara sebagai anaknya dan untuk membalasnya bibi bekerja disini menjadi
pembantu non Ara,” cerita bi Tini dengan penuh bersalah.
“Ja…jadi bi… bi Tini adalah
bundaku? Ibu kandungku bukan kalian papa dan mama ku…”jawabku sambil
memandanggi papa,mama dan bibi ku yang ternyata Ibu kandungku. Tak ada satu
jawaban dari mereka melainkan anggukan yang meyakinkanku.
***
Melihat
anggukan dari mereka semua aku pun segera berjalan dan memeluk bunda ku.Sejuta
permintaan maaf aku pinta.
“Bu…bunda maafkan Ara bunda !”
“Sebelum non Ara meminta maaf bibi sudah memaafkanmu !”
“Bun Ara minta jangan panggil lagi aku non aku itu anak bunda bukan
majikan bunda lagi!” pinta ku pada bunda.
“Terima kasih saying kamu sudah mau mengkui bunda sebagai bundamu
walaupun bunda adalah mantan pembantumu!”
“Ara… Ibu… meskipun kalian telah tau akan kebenaran namun ijinkan kami
untuk tetap merawat Ara dan Ibu sampai Ara sukses! Mau ya!” pinta Ayah dan
bunda.
“Tentu!” jawabku sambil tersenyum.
Mulai hari ini kebohongan
selama 15 tahun yang terpendamtelah terungkap. ”Ya,” inilah kebenaran yang
membuktikan bahwa orang yang setiap hari kucaci dan ku maki adalah Ibu
kandungku.
***
Kamar
Rahasia Oma
Karya : Hasna Purwinda Maghfira
Sudah
sejak tadi matahari kembali ke peraduannya.
Tidak terasa malam telah kian larut. Terdengar suara jangkrik memecah
keheningan malam. Ternyata malam ini bulan purnama. Sang Dewi malam itu
terlihat bulat penuh. Sinarnya menyapu kegelapan malam. Di perkampungan kumuh
itu terlihat seorang gadis sedang duduk di teras rumahnya. Ia sedang menunggu
kedatangan temannya yang tadi sudah berjanji datang kerumahnya untuk
belajar bersama – sama.
Pikiran
gadis itu melayang ke masa lalu, ia mengingat ingat masa – masa terakhir
bersama Ayahnya. Ayahnya memang sudah lama meninggal terkena kanker, kanker itu
menyerang bagian otaknya. Ayahnya tidak pernah mau berterus terang kepada
siapapun termasuk ia dan Ibunya. Karena Ayahnya tau jikalau ia berterus
terangpun keluarganya pasti tidak kuat membiayai pengobatannya karena istrinya
hanyalah penjual gorengan dan kue camilan. Ia membiarkan kanker itu terus
menggerogotinya. Akhirnya kanker itu memasuki stadium akhir, karena terlambat mendapatkan
pertolongan ia pun meninggal dunia.
Ia
baru tersadar dari lamunannya ketika suara seorang perempuan memanggilnya.
“Tasya
Putri Dharmaatmadja.” teriaknya di telinga gadis yang ternyata bernama tasya
itu.
Sontak
gadis itu terkejut bukan kepalang ketika mendengar teriakan itu. Tapi tak lama
kemudian gadis yang dipanggil Tasya itu membalas teriakan temannya lebih keras.
“Ada
apa Amelia Saputri?” balasnya.
Temannya
yang kaget dan tidak siap mendapat balasan sperti itu hanya terdiam kaget.
Tasya yang merasa menang tertawa terbahak – bahak, “Ha… ha… ha… liat deh
ekspresimu lucu kalau kaget haha…”
Namun tawanya tidak bertahan lama ketika sebuah suara
menegurnya dengan tegas, “Aduh tasya anak perempuan kok teriak – teriak seperti
itu. Ini kan sudah malam, kasihan tetangga sebelah yang terganggu karena
teriakanmu itu,” ujar Bu Indah, Ibu Tasya.
“Ya maaf Bu. Tasya gak akan mengulanginya lagi,” ujarnya
penuh penyesalan.
Amel tersenyum penuh kemenangan, “Yasudah kalian lanjutkan
belajarnya.
Ibu mau kedalam membuat adonan untuk bakwan dan onde – onde
yang akan dijual besok. Hayo Tasya belajar yang benar agar kamu dapat sepintar
Amel.”
Setelah mengatakan itu Ibunya masuk kerumah. Jam menunjukkan
pukul 9 malam ketika mereka selesai belajar bersama. Amelpun pamit pulang
karena udara semakin dingin. Udara
dingin berhembus mencari celah melewati dinding – dinding rumah yang berasal
dari bambu itu. Malam semakin larut. Satu persatu penduduk desa itu mulai
terbuai alunan musik dari mimpi mereka sendiri.
“Tasya ayo bangun jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih 10
menit. Kau mau telat masuk sekolah?” kata Ibu tasya berusaha membangunkannya.
“Iya bu, 5 menit lagi.” elak
Tasya.
Byurrr tiba – tiba
badan Tasya menjadi basah semua oleh air yang diguyurkan Ibunya ke badannya.
“Iya iya bu tasya bangun!”
Tasya kemudian bangun dan melihat jam yang berada di tas
meja belajarnya.” Hah sudah jam 6.15 aku harus cepat – cepat. Kenapa Ibu tidak
membangunkanku jam 6?” ucap Tasya kepada Ibunya.
“Ibu saja sudah membangunkanmu dari tadi. Kamu saja yang
malas. Ayo sana cepat mandi!” perintah Bu Indah kepada anaknya.
Setelah selesai mandi dan menyisir rambutnya Tasya siap berangkat
sekolah, “Tasya nggak sarapan dulu nak?” tanya Ibunya.
“Nggak usah bu, ini udah sing takut nanti telat.”
”Yasudah nanti kamu antar ini bakwan sama onde – onde ke
warung Mbok Minah sekalian minta hasil penjualan kemarin. Hasil penjualan kemarin kamu ambil saja sebagai uang saku.
Ini adea onde – onde yang sudah Ibu bungkuskan buat kamu, buat sarapan.” kata Ibunya”Baik
bu. Tasya berangkat dulu, Assalamualaikum bu,” ucapnya sembari mencium punggung tangan Ibunya.
“Mbok ini bakwan dan onde – ondenya. Sekalian minta hasil
penjualan yang kemarin mbok.” ujarnya kepada Mbok Minah.
“Ini hasil penjualan kemarin Tasya. Makasih udah diantar
bakwan sama onde – ondenya,” ucap Mbok Minah.
“Iya Mbok sama – sama. Mbok Minah lihat Amel tidak?
Biasanyakan Amel nunggu Tasya disini,” tanya tasya kepada Mbok Minah.
“Tasya ayo cepat nanti kita ketinggalan angkot!” teriak Amel
yang kesal karena menunggu tasya yang tidak kunjung datang.
“Itu Amel,” jawab Mbok Minah.
“Iya Mbok. Mari Mbok.” ucap Tasya sambil berlari menghampiri
Amel. Mereka lalu berlari karena melihat sebuah angkot melintas didepannya.
Setelah turun dari angkot mereka melihat sekelilingnya yang
penuh dengan mobil mewah. SMP Bina Bangsa, memang termasuk salah satu sekolah
swasta favorit di Jakarta. Ia lalu berjalan menuju kelas. Ketika berjalan masuk
ke kelas ia sempat mendengar sindiran Meli dan teman – temannya “Eh ada anak
beasiswa kurang mampu”sindirnya dengan tatapan sinis. Tasya dan Amel memang
anak yang mendapatkan beasiswa tetapi perbedaannya Amel mendapat beasiswa siswa
berprestasi dan Tasya mendapat beasiswa anak kurang mampu. Tasya dan Amel tidak
menghiraukan sindiran itu. Tidak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi. Para
siswa berhamburan keluar menuju kelas ingin segera pulang.
Sesampainya Tasya dirumah betapa kagetnya ia mendapati
rumahnya yang penuh dengan orang – orang. Ada apa batinnya.
“Tasya sudah pulang?” Tanya seorang Ibu dengan kaget.
“Ia bu. Ibu Tasya ada dimana kok tasya tidak melihatnya?” tanya
Tasya kepada Ibu itu.
“Bu Tina tolong bawa Tasya ke dalam rumah,” kata Ibu itu.
Ibu yang dipanggil Bu Tina itupun mengantar Tasya sampai
kedalam rumah. Betapa kagetnya Tasya melihat Ibunya tergeletak di sofa tua
sekujur tubuh Ibunya penuh dengan luka.
“Ibu kenapa, ada apa bu?” tanya Tasya.
“Tasya Ibumu menjadi korban tabrak lari orang yang tidak
bertanggung jawab untung tadi Pak Tarno
melihatnya lalu meminta warga menolongnya,” ucap seorang Ibu kepada Tasya.
Tasya menangis sejadi – jadinya.
“Tasya jangan menangis sayang. Ibu tidak apa –apa. Tasya
tolong ambil buku kecil di almari,” ucap Ibunya dengan nada lirih tetapi dapat
didengar olehnya. Tasya pun segera mengambil buku itu. “Tasya di..si..tu ada
ala..mat ne..nek mu. Ji..ka Ibu tak ada nan…ti cari..lah al..a..mat itu. Ne..
nekmu pas..ti mau me..ne…ri…mamu nak,” ucap Ibunya dengan nafas yang tersengal
– sengal, kemudian ia melanjutkan “Ibu sa….yang Ta…Sya.”
Itulah kata terakhir yang diucapkan Ibunya. Air matanya
tidak terbendung lagi. Bagai tanggul yang jebol air mata it uterus mengalir
tiada henti. Akhirnya ia bisa menerima kenyataan bahwa ia sekarang sudah
menjadi yatim piatu. Ketika sedang melamun ia ingat sebuah buku kecil yang
diberikan Ibunya kepadanya. Ia membuka buku itu, ternyata itu adalah sebuah
buku catatan milik orang tuanya. Ia melihat tuLisan Ayahnya.
Indah,
jika anak kita sudah besar bawalah ia ke rumah orangtuaku agar ia hidup
berkecukupan disana. Bawalah ia ke perumahan Mawar Merah. Cari rumah yang banyak terdapat segala macam
jenis bunga terutama bunga melati.
Berbekal buku itu Tasya bertekad mencari rumah neneknya.
Dengan modal uang dari hasil berjualan bakwan dan onde – ondenya ia mulai
mencari rumah neneknya.
Tasya mencari taksi yang akan melewati Perumahan Mawar
Merah. Setelah sekian lama ia menunggu akhirnya ada taksi yan akan melewati
Perumahan Mawar Merah. Tasya pun masuk.
“Mau kemana Mbak?” Tanya sopir taksi itu.
“Ke Perumahan Mawar Merah Pak”jawab Tasya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat yang dituju
setelah membayar ongkos taksi ia lalu mencari rumah yang dikatakan Ayahnya
dalam buku itu. Tidak sulit menemukan rumah itu karena rumah itu adalah rumah
yang terbesar di perumahan itu.Setelah berhasil masuk ke perumahan itu. Ia
dengan ragu – ragu memencet bel rumah yang penuh dengan bunga itu. Berkali –
kali ia memencet bel tetapi tidak segera dIbuka oleh si empunya rumah. Karena
saking seriusnya ia melihat ruamh itu ia tidak mendengar ada sebuah mobil BMW
yang menyalakan klakson sedari tadi, mengisyaratkan ia untuk minggir dari situ.
Karena kesal orang itu turun dari mobilnya dan menghampiri Tasya.
“Siapa kamu nak? Kenapa ada disini?” Tanya wanita tua itu.
“Saya Tasya Putra Dharmaatmadja. Saya disini sedang mencari
nenek dari Ayah saya yang bernama Riyani”jawab Tasya.
Bukan main kagetnya wanita itu. “Apakah kamu anak dari
Dharmaatmadja?” Tanya wanita tua itu lagi.
“Iya”jawab Tasya singkat. “Kalau begitu kaulah cucuku.
Dimana Ayah dan Ibumu Tasya?” tanya nenek itu.
“Mereka… mereka sudah meninggal,” terlihat raut sedih pada
wajah Tasya.
“Apa? Benarkah itu. Ya Tuhan anakku!” jerit wanita tua itu
dalam hati. “Yasudah kita masuk dulu. Panggil aku Oma Riyani”kata wanita tua
yang ternyata bernama Riyani itu ramah.” Bagyo, bawa masuk mobilnya.” Perintah
Oma Riyani kepada Pak Bagyo, supir pribadinya.Oma Riyani bertanya kepada Tasya
kapan dan mengapa orang tuanya meninggal. Tasya menjawab semua pertanyaan Oma
Riyani, setelah itu ia disuruh berganti baju dan nanti malam akan dikenalkan
dengan saudara – saudara adik Ayahnya, karena Ayah Tasya adalah anak sulung.
Malam pun tiba adik – adik
Ayahnya mulai berdatangan kerumah Oma Riyani. Tetapi ada salah seorang
adik Ayahnya yang tidak datang. Ia bernama Tio, Tasya segan untuk bertanya
kepada Oma. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Meli dan Anton hadir disitu
begitu juga mereka. Pertemuaan itu diadakan diruang makan Oma yang
memperkenalkan Tasya kepada mereka “Mala
mini kita sangat berbahagia karena kedatangan anggota keluarga baru ia bernama
Tasya”“Kenapa Oma begitu yakin kalu dia saudara kita”potong Meli yang kemudian
diikuti tatapan tidak suka mamanya. “Aku punya bukti aku membawa buku Ayah”ucap
Tasya. “Diam Meli! Sudah Tasya tidak usah hiraukan dia”ucap Oma. Oma mulai
memperkenalkan satu persatu mereka kepada Tasya “Ini Tante Sabrina dan suaminya
Om Andre dan anaknya Meli. Ini Tante Tian dan Om Rizky ini anaknya Anton”.
“Mereka satu sekolahan denganku Oma”jawab Tasya. “Oh benarkah? Bagus itu.
Berarti kalian sudah saling mengenal.tasya ini adalah anak paman kalian. Kalian
tahu!” ucap Oma diiring senyum yang mengembang. Meli dan Anton tersenyum masam,
Tasya membalasnya dengan senyum penuh kemenangan.
Tak tersa sudah hampir setahun ia tinggal di rumah ini.
Tasya sangat penasaran dengan kamar paling ujung itu. Kamar milik Om Tio. Aku
harus bisa masuk kamar itu tekadnya dalam hati. Suatu malam ketika memastikan
Oma sudah tertidur Tasya mengendap – endap berjalan memasuki kamar itu. Tidak
ada yang pernah berani memasuki kamar itu. Anton dan Meli pun tidak berani
karena larangan Oma itu. Tasya berhasil
mengambil kunci yang ada di dapur. Ia memasukkan kuncinya dan dengan pelan - pelan ia membuka kamar. Kamar itu terlihat
rapi karena hampir setiap hari Oma menyuruh Bi Inah membersihkannya, walaupun
tidak ditempati. Menurut keterangan Tante Sabrina perabotan dikamar itu tidak
hanya perabotan milik Om Tio, milik Ayahnya juga ada disitu.
Kemudian ia menutup pintu ia berjalan mengamati ruangan itu,
sepertinya barang – barang disini tidak ada yang dipindah ke gudang padahal kan
disini tidak asa gunanya pikir Tasya dalam hati. Ia mulai membuka almari
pakaian disana ia menemukan berbagai macam buku tentang teknologi informasi dan
komunikasi, ada juga buku tutorial untuk hacker pemula. Kata Oma Om Tio itu
suka sekali hal yang berbau komputer. Ia mulai mencari barang yang mungkin bisa
ia bawa dan baca. Tiba –tiba matanya tertuju pada sebuah buku bersampul
cokelat. Itu adalah buku diary milik Ayahnya ia mengambilnya dan menyimpannya
disaku bajunya.
Tiba –tiba saja pintu kamar terbuka dan terlihat wajah Oma
disana.
“Tasya apa yang kamu lakukan disini? Ayo pergi tidur!” seru
Oma Riyani.
“Baik Oma,” jawabnya.
Di dalam kamar ia tidak bisa tidur karena masih memikirkan
kamar paling ujung itu. Kenapa sampai bisa tidak ada yang boleh masuk ke
dalamnya kecuali Oma dan Bi inah. Tasya teringat buku diary milik Ayahnya. Ia
mulai membacanya satu persatu. Disana Ayahnya menceritakan bahwa Omanya adalah
sesorang yang suka memaksakan kehendak kepada anaknya. Adiknya, Tio sangat suka
bermain computer dia sudah merasa bahwa komputer itu adalah hidupnya dia tidak
bisa hidup tanpa kompuer tetapi Oma mengenginkan ia menjadi ahli botani iapun
melarangnya dan mengancamnya jika masih ingin bermain computer ia akan menjual
komputernya. Om Tio melakukan aksi mogok makan dan membuat badannya lemah dan
semakin lemah sampai ia harus di infus, Om Tio akhirnya memutuskan bunuh diri
dengan meloncat dari jendela kamarnya.
Ternyata sebelum bunuh diri Om Tio sudah mempunyai rencana
yaitu akan mengirim e-mail kepada Oma dan ia menyetting agar e-mail itu
terkirim ke e-mail Oma setelah seminggu ia meninggal. Om tio memang ahli TI
yang hebat, puji Tasya dalam hati. Omapun kaget ketika mendapat e-mail dari Om
Tio yang berisi ia menginginkan saudara – saudaranya dibebaskan dengan apa yang
meraka inginkan tidak harus melulu mematuhi apa yang Oma inginkan.
Tetapi Oma tetap tidak peduli dengan e-mail Om Tio. Bahkan
ia merencanakan untuk menjodohkan Ayahnya denagn wanita pilihan Oma sendiri. Ayahnya
yang mempunyai pilihan sendiri tidak direstui oleh Oma, akhirnya ia lari dari
rumah. Ah kasihan sekali mereka pikir Tasya, karena capai iapun tertidur. Pagi
harinya Oma dan Tasya berjalan – jalan di taman.
“Tasya, apa yang kamu lakukan tadi malam di kamar Tio?” tanya
Oma mengawali pembicaraan.
“A aku hanya ingintau apa isi kamar itu Oma,” jawab Tasya
terbata - bata.
“Kenapa kamar itu tidak diubah saja Oma mungkin menjadi
ruang makan yang baru atau ruang keluarga?” tanya Tasya hati – hati.
“Kamar itu menyimpan sejuta kenangan Tasya,” ucap Oma dengan
nada datar.
”Kadang kenangan itu membuat Oma sedih,” sambung beliau.
“Jadi agar Oma tidak mengingat kenagan sedih itu kenapa Oma
tidak merubahnya jadi ruangan yang bermanfaat bagi semuanya?” tanya Tasya lagi.
Oma melihat Tasya dengan tatapan tidak suka.
Malam ini adalah malam minggu, waktunya untuk bersantai
setelah dicekoki pelajaran – pelajaran yang memusingkan. California Girlnya
Katy Perry mengalun dengan merdu dari iPodnya. Baru saja ia membaringkan
tubuhnya terdengar pintu diketuk.
“Non Tasya Dipanggil Nyonya di kamarnya Den Tio,” terdengar
suara Bi Inah. Ada apa ini kok dikamarnya Om Tio, pikir Tasya dalam hati.
Ia pun berjalan menuju kamar Om Tio. Ternyata Oma
menyulapnya menjadi ruang keluarga. Disana sudah ada Tante Sabrina,Om
Andre,Meli,Tante Tian,Om Rizky, Anton dan Oma sendiri.
“Tasya sini!” seru oma membuyarkan lamunannya.
“Mungkin kamu benar Oma harus melupakan kisah masa lalu yang
menyedihkan. Dan menyongsong hari esok dengan semangat yang baru. Trimakasih
nak!” Tasya hanya tersenyum kecil menanggapinya.
***
Ulang
Tahun Itu
Karya : Iyan Setiyani
Pak Karto duduk di depan
rumahnya yang kumuh, penuh barang rongsokan dan pecahan beling. Dimana-mana
sampah. Lalat beterbangan mencari makan di sekitar tumpukan sampah yang
menggunung itu.
Pagi itu Pak Karto sedang
memikirkan anaknya yang bernama Tono. Sewaktu bayi dulu Tono hampir meninggal,
tubuhnya panas tinggi. Orang banyak bilang ia kena tifus, sementara Pak Karto
belum bisa memeriksakannya. Uang untuk makan saja masih kurang, apalagi untuk
memeriksakan Tono ke rumah sakit.
Yang jelas Tono akhirnya sembuh
dengan pertolongan orang pintar, Pak Marto namanya. Pak Marto hanya menengadah
sambil meletakkan tangannya di kening Tono. Aneh, beberapa hari kemudian
panasnya turun dan Tono pun sembuh, tidak pernah sakit lagi hingga usianya
hampir lima tahun. Sejak saat itu Pak Karto, Bu Karto, Serta Mbah Karyo,
bapaknya, berjanji akan merayakan syukuran kecil-kecilan kalau Tono genap lima
tahun.
“Pak, Tono ulang tahunnya
kapan, sih ?,” Tanya Tono kemarin pada
Bapaknya. Matanya berkilat tampak cerdas. Hati Pak Karto sedih. Tahu dari mana
Tono ulang tahun itu. Di daerah itu jarang ada pesta, apalagi ulang tahun. Pak
Karto merasa mungkin janji mereka sudah saatnya ditepati.
“Sekarang tanggal berapa, Ton ?”
tanya Pak Karto.
“Tidak tahu, Pak, Tono kan
belum sekolah,” jawab Tono.
“Dengar Ton, sebentar lagi Tono
ulang tahun. Lima hari lagi, Tono senang?”
“Senang dong Pak. Ulang
tahunnya bagaimana, Pak?”
“Ya, pesta,” jawab Pak Karto
singkat.
“Tono dibelikan baju baru?”
“Iya”
“Nanti makan-makan sama
teman-teman Tono ?”
“Iya”
“Nanti ada Karno, Bona, Tuti.
Ada Yudha, terus Tini, ada Warti, Toto, terus ada ... banyak ya, Pak ?”
“Iya dong”
Aneh, setiap Tono tanya selalu
dijawab “Iya,” padahal kemarin mereka
baru saja membayar hutang yang menumpuk. Itu pun tidak lunas semuanya.
Dan sebentar lagi Tono ulang
tahun. Pak Karto dan Bu Karto pun tahu, tapi tidak punya apa-apa untuk itu.
Sementara Tono tampak selalu riang, kemana-mana selalu bercerita kepada
teman-temannya bahwa ia akan berulang tahun. Berulang kali Tono bertanya pada
Bapak, Ibu, dan siMbahnya, tetapi pertanyaan Tono malah membuat mereka semakin
sedih.
Seminggu pun berlalu. Tidak ada
makan-makan dan teman-teman yang berkumpul, tidak ada ulang tahun. Sebabnya
pasti, mereka tidak punya uang, tidak bisa berutang karena takut tidak bisa
membayar.
Sejak itu Tono jadi pendiam,
jarang main keluar. Matanya tidak lagi terlihat riang. Yang paling membuat Bu
Karto sedih, ia tak mau makan. Tubuhnya menjadi panas. Kulit tubuhnya timbul
bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk, banyak sekali. Tono
seringkali mengigau menyebut kata ulang tahun berulang-ulang. Bu Karto
mengganti kain kompres Tono.
“Panas Tono belum turun juga,
Pak. Sudah berkali-kali ia muntah, sepertinya perutnya selalu mual”
“Sudah kau bawa ke dokter, Bu ?,”
Tanya Pak Karto.
“Uang dari mana, Pak. Yang lima
rIbu sudah habis, tinggal serIbu rupiah”
Malam itu hujan turun dengan
derasnya, menembus atap rumah mereka. Yang terdengar hanya bunyi air yang
menetes di ember yang digunakan Bu Karto untuk menadahinya.
Pak Karto dan Mbah Karyo hanya
tidur beralaskan Koran dan kardus. Sementara Bu Karto dan Tono tidur di atas
amben yang sudah lapuk. Sudah empat hari Tono sakit. Tetapi tetap saja mereka
tidak bisa membawa Tono ke dokter atau ke rumah sakit.
Hampir
pukul sebelas, mereka tak lagi tidur, menunggui Tono yang sedang sakit.
Bagaimanapun juga Pak Karto harus narik becak lagi mala mini, mencari uang
untuk memeriksakan Tono.
Bu
Karto merasa khawatir dengan keputusan Pak Karto. Dia takut terjadi sesuatu dengan
Pak Karto. Tetapi Pak Karto tetap memutuskan untuk mencari uang malam ini juga.
Bu Karto tidak bisa menolak. Akhirnya dia mengijinkan Pak Karto pergi.
Meskipun
masih hujan deras, Pak Karto tetap terus mengAyuh becaknya. Dia terus menyusuri
gang-gang sempit, becek, dan gelap sebelum sampai di jalan raya. Dinginnya
udara tak lagi dirasakannya. Kadang becaknya terperosok dalam tanah bersampah.
Sesampainya di jalan, suasana berubah sama sekali. Begitu terang benderang,
tidak seperti di kampung Pak Karto. Begitu hujan mulai reda, kendaraan yang
lewat lebih banyak lagi. Pak Karto pun berharap malam itu ia dapat uang banyak.
Hampir
pukul tiga dini hari, Pak Karto pulang ke tempatnya mangkal. Ia baru saja
mengantar orang baik hati yang mau memberinya selembar lima rIbuan. Dengan hati
riang, Pak Karto bersiul-siul di atas becaknya yang terus melaju. Tiba-tiba
sebuah sedan putih melaju kencang ke arah Pak Karto. Benturan keras terdengar
saat mobil sedan itu bertabrakan dengan becak Pak Karto.
Tubuh
Pak Karto terpental, sementara becaknya rusak berat. Kepalanya pecah terbentur
batu di pinggir jalan raya itu. Pak Karto ingat istrinya, Tono, dan bapaknya.
Ia ingat ulang tahun itu. Dilihatnya banyak anak-anak dan Tono ditengah-tengah,
meniup lilin di atas kue yang besar. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap gulita.
Pak
Karto pun meninggal dunia malam itu juga. Saat hujan mulai reda jasad Pak Karto
dibawa pulang. Bu Karto, Tono, dan Mbah Karyo pun menangis tanpa henti. Bu
Karto menyesal telah mengijinkan Pak Karto pergi malam itu. Jika malam itu Pak
Karto tidak pergi, mungkin peristiwa ini tidaka akan pernah terjadi.
***
Cinta Ibu
Tak Pernah Luntur
Karya : Krisvan Patra Delasano
Alkisah disebuah desa kecil di
pinggir sungai. Hiduplah seorang pemuda berusia 17 tahun. Dia adalah anak
tunggal, dia ditinggal Ayahnya saat dia berusia 5 tahun. Sebut saya dia Paijo.
Sejak dia ditinggal Ayahnya dia hidup bersama Ibunya dirumah yang sudah tidak
layak lagi untuk dipakai. Waktu Paijo berusia 5 tahun Setiap hari Ibu Paijo
selalu mencari nafkah sendiri. Dia berusaha keras untuk bisa menghidupi
keluarganya. Paijo sejak kecil sudah
diajarkan cara menghargai orang lain, membantu orang lain, dan membalas budi
kepada orang lain.
Desa Paijo sangat dekat dengan
sungai jadi rata-rata pencaharian mereka adalah sebagai nelayan. Tidak juga
Paijo. Dia adalah seorang keturunan nelayan, tak heran jika kini dia menjadi
nelayan juga. Setelah Ibu Paijo menginjak usia ke-60’an paijo berusaha
menggantikan Ibunya untuk mencari ikan. Setiap sore paijo berangkat dari rumah,
dan selalu pulang pagi. Paijo tidak pernah merasa bosan. Uang yang selalu dia
dapat langsung diberika kepada Ibunya. Tetapi, suatu hari paijo pernah berkata
kepada Ibunya . Dia ingin pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dia tidak
mau selamanya menjadi nelayan. Paijo juga berkata pada Ibunya jika kita terus
seperti ini keluarga kita tak akan berubah bu. Ibu paijo langsung kaget mendengar perkataan
paijo. Ibu paijo tidak mau jauh dari paijo. Tetapi paijo tetap menolak , dia
tetap ingin bekerja di Jakarta.
Ibunya sudah melarang paijo , di Jakarta banyak kejahatan jo. Paijo tidak takut itu bu.
Akhirnya paginya paijo
berangkat dengan kawanya. Dia dalah teman dekat paijo. Nama dia Paimin. Paijo
berpamitan dengan sang Ibunya. Ibunya mengatakan bahwa jangan pernah kau
melupakan Ibu ya nak! Walaupun begitu Ibunya langsung pergi dan menangis melihat sang anak pergi meninggalkanya
sendirian. Pada jam 8 tepat akhirnya
paijo dan paimin berangkat ke Jakarta.
Dia berangkat menggunakan bis. Waktu di bis, disamping paijo ada seorang yang
misterius . Tingkahnya
mencurigakan. Sepertinya dia pencuri. Tak lama kemudian srekkk , tas paijo yang
berisi uang untuk bekal ke jakarta lenyap. Paijo berusaha untuk mengejar
pencuri tersebut. Namun, sang pencuri
berhasil meloloskan diri dari paijo. Paimin kemudian menghampiri paijo, dan
mengatakan bahwa itu biasa di Jakarta.
Karena paimin dulu juga pernah dicopet seperti
itu. Sekarang kembali duduklah.
Kita lanjutkan perjalanan ini. Sesampainya di Jakarta
paijo sangat senang , tetapi dibalik kesenganya itu masih ada rasa penyesalan
karena tidak berhat-hati waktu menaruh tas . Paimin mengajak paijo untuk pergi kerumahnya. Paijo
hanya nurut dengan paimin. Paijo diperbolehkan istirahat dulu, setelah itu besok
pagi mereka akan melamar pekerjaan di Jakarta.
Pagi harinya Paijo sudah siap dengan beberapa surat-surat penting waktu dia
sekolah. Walaupun dia hanya lulusan SMP. Dia tetap berusaha mencari pekerjaan.
Ketika dia ingin melamar pekerjaan
disuatu tempat dia bertemu dengan kawan lamanya didesa. Dan juga teman dari
paimin. Paidi yang teman dekat paijo. Akhirnya menerima paijo sebagai
sekretarisnya. Karena paijo telah terpercaya oleh Paidi. Paijo sangatlah senang
karena dia bisa diterima kerja di sebuah pabrik ternama. Dia sangat betah kerja
disana. Dia juga selalu
mengirimkan surat untuk Ibunya di makasar. Dia amat menyayangi Ibunya. Di suatu bulan pabrik itu mengalami
kebangkrutan. Sebagian besar para pekerjanya di PHK.
Tetapi tidak untuk paijo, Paidi
yang sangat kasihan sama Paijo tidak mempecat Paijo. Malah paijo dijadikan
pimpinan direksi. Tetapi, karena paijo sangat senang dan sIbuk dia lupa akan Ibunya.
Dia sekarang tidak pernah mengirimkan kabar untuk Ibunya yang diMakasar. Dia
hanya memikirkan pekerjaanya. Sudah sebulan Ibunya tidak menerima kabar dari
Paijo. Ibunya bertekad untuk mencari anaknya yang telah sukses di Jakarta. Tetapi Ibunya bingung bagaimana dia bisa ke Jakarta. Makan untuk hari-hari saja sudah pas.
Tetapi dia mengumpulkan uang untuk bisa ke Jakarta dan bertemu anaknya.
Pagi hari setelah seminggu Ibu
Paijo pergi ke Jakarta.
Tetapi nasib Ibu tidak mudah. Dia bertanya-tanya kepada orang-orang, tetapi
setiap orang tidak ada yang mengenal orang yang dimaksud Ibu. Ketika Ibu
berjalan untuk menyebrang jalan tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang. Gubrak!!
Mobil tesebut menabrak Ibu Paijo. Tetapi apa yang tejadi? Yang didalam mobil
tersebut adalah Paijo. Anak Ibu sendiri. Tetapi Ibu tidak menyadari itu. Ibu
langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Dirumah sakit Ibu dirawat oleh suster
yang cantik dan baik hati. Suster
tersebuat sangat sabar dalam membantu Ibu saat terkena masalah. Dan ketika itu
suster dan Ibu saling bertanya
“Ibu darimana?” tanya suster.
“Saya dari Makasar,” jawab Ibu.
“Kenapa Ibu pergi ke Jakarta?”
“Untuk mencari anakku.”
“Adakah alamatnya bu?”
“Ada,” jawab Ibu sambil memberikan alamatnya Paijo di Jakarta.
“Ini dekat dari sini bu.”
“Benarkah?”
“Benar bu, besok saya bantu
untuk mencari alamat ini bu.”
“Makasih nak, kamu emang baik,”
kata Ibu.
Sang suster yang baik hati
ingin membantu Ibu untuk mencari alamat itu. Sesampainya dia disebuah rumah. Dia bertanya apakah
ini rumah Paijo ?. benar. Seseorang menjawab dari dalam. Ternyata suara dari dalam itu adalah suara paijo.
Betapa senangnya hati Ibu mendengar suara itu. Sampai luar Paijo juga mengetahui jika yang
datang Ibunya. Seketika mereka saling berpelukan. Cinta Ibu kepada anaknya
tidak akan pernah luntur.
***
Salah Paham
Karya : Lilik
Andriyanto
Pagi
mulai menyongsong, mata hari mulai terbit, burung burung mulai bernyanyi. Bulan
Ramadhan pun semakin dekat, bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan, dan
hanya datang sekaliselama setahun. Pada waktu itu Kefin, Marto, Ayu, dan Diyah
berangkat ke masjid bersama sama. Mereka memang sahabat yang akrab sejak dulu.
Ini bulan puasa yang pertama jadi teman teman yang berangkat ke masjid sangat
benyak, kebanyakan dari mereka berangkat hanya untuk mencari makan bukan untuk
mencari ilmu.
Dijalan
mereka bercanda tawa sambil ber bincang bincang tentang acara jalan jalan yang
tak kunjung terwujud kan tak menyangka waktu ber jalan begitu cepat akhirnya
kami pun sampai di masjid. Sesampai di
masjid ternyata TPA nya sudah di mulai guru kami yang bernama pak sholeh biasa
di pangil ustad sholeh. Pada waktu itu ustad sholeh menjelaskan tentang contoh
perilaku. Pak Ustad bilang
“Kita
harus bisa meniru perilaku yang baik baik dan dapat meninggalkan perilaku yang
buruk buruk jadi kesimpulannya adalah tinggalkan yang buruk buruk ambillah yang
baik baik.”
Lalu
Kefin bertanya, “Pak jadi kita harus mengambil yang baik dan meninggalkan yang
buruk ya pak?”
Pak
Ustad pun menjawab, “Kan tadi saya sudah bilang.”
“Makanya
kalau TPA itu jangan main sendiri!” sahut Marto. Hari sudah mulai petang dan
waktu berbuka puasa pun mulai tiba.
Para santri pun bersiap siap untuk ber doa.
Setelah
semuanya selesai
berbuka puasa,
kamipun mengambil air wudhu lalu sholat
maghrib berjamah di masjid, walaupun jamahnya sholat maghrip nya tidak
terlalu banyak tapi kita harus
bersyukur karena masih ada yang ingin sholat di masjid. Sehabis sholat maghrib
mereka ber empat berkumpul untuk musyawarah tentang jalan jalan besok pagi apakah jadi atau tidak, kalau jadi nanti kemana, jam
berapa.
Ayu
pun mengajukan usul, “Bagaimana kalau kita berkelilingkampung sambil menikmati
udara yang segar?”
“Kami
setuju dengan usulmu!” sahut Marto dan Diyah.
“Kalau
cuma di desa sih ngak keren guakan anak kota masak mau keliling kampung gak
level lah bro,” kata Kefin.
lalu
Ayu bilang “Kalau kamu enggak ikut juga nggak papa kan kami masih bias ber tiga.”
”Tapi kalau cuma didesa sajakan aku bosan mending ke kota saja kita
bias belanja sepuas nya.” kata Kefin.
“Kalau
itu yang suka cuma kamu aku tidak setuju kalau ke kota lagi pula jarak dari
desa ke kota itu sangat lah jauh lalu kita mau naik apa kalau kesana”jawab Marno.
Lalu mereka bun berdebat satu sama
lain. Kefin tetap pada pendiriannya
sedang kan mereka ber tiga setuju berjalan jalan di desa. setelah beberapa lama mereka ber debat
akhirnya Kefin setuju untuk ber jalan jalan keliling kampong.
“Jadi kita nanti akan jalan jalan keliling kampun pagi
pagi sekali,” kata Diyah.
”Saya punya usul bagaimana kalau kita sholat subuh
sekalian di masjid bagaimana?” kata Ayu sambil mengangkal tangan.
”Saya belum bangun saya masih tidur,” sahut Kefin.
”Bilang saja kamu nggak mau ikut!” jawab Marto.
“Ya deh gak papa,” sahut Kefin sambil memegang kepala.
Lalu merekapun meng akhiri
musyawarah pada hari itu dan mereka selesai musyawarak tepat pada saat adzan
isak ber kumandang.
Setelah
selesai musyawarah tentang jalan jalan besok pagi merekapun lalu sholat isak
dan tarawih di masjid. kalau sholat
tarawih jamaah nya memang banyak tidak seperti sholat maghrib dan sholat sholat
lain lain nya. Pada awal Ramadhan yang ikut sholat tarawih di masjid sangat banyak dahkan samapi tidak muat akan tetapi
pada saat mencapai penghujung puasa yang sholat tarawih di masjin semakin ber
kurabng bahkan bias sanpai dua atau tiga shof saja. Pada saat sholat tarawih belum selesai Kefin pun keluar dari
masjid.
“Kefin
mau kemana? Sholatnyakan belum selesai,” kata Marto.
“Mau
ke kamar kecil,” jawab Kefin.
Lalu
Kefinpun mengambil sandal dan langsung pergi. Marto pun ber fikir, “Kenapa
pergi ke kamar kecil kok lama sekali apa sakit perut ya?”
Sampai
selesai sholat tarawih Kefinpun belum kunjung datang. Setelah selesai sholat
tarawih merekapun tadarusan bersama di masjid walaupun tanpa Kefin mereka tetap
tadarusan. Setelah selesai
tadarusan lalu mereka pulang bersama kedua teman ku yaitu Ayu dan Diyah.
“Yah
kamu tadi melihat Kefin keluar?” kata Marto.
“’Tidak
emangnya kenapa?” sahut diah.
“Paling
hanya pulang ke rumah,” sahut Ayu.
Dijalan
mereka bertemu dengan Pak Danu.
“Anak
anak kalian melihat sandal bapak?” kata Pak Danu.
“Kami
tidak melihat sandal bapak,” sahut mereka.
“Yasudah
sama-sama, yang tersisa hanya ini kok, Dek,” jawab Pak Danu.
“Lho...
itukan kayak sandalnya Kefin?” kata Diyah.
“Apa
kau yakin?” sahut Marto.
Sesampainya
di perempatan merekapun mengingatkan
agar jangan lupa bangun pagi dan jangan lupa sholat di masjid setelah saling
mengingatkan merekapun lalu mereka pulang menuju ke tempatnya masing masing. Di antara mereka rumah yang paling jauh adalah rumah
nya Ayu, walau jauh dia selalu datang palig awal dari semuanya, tidak seperti Kefin
dia selalu datang paling akhir dan selalu terlambat.
Waktu
matahari belum bersinar mereka berempat pun berkumpul di perempatan, saat Ayu, Diyah, Marto sudah sampai di situ mereka
masih menunggu Marto yang belum muncul juga sampai akhirnya Marto pun tiba. Dan
merekapun berkumpul, sambil menahan dinginya pagi, merekapun menuju ke masjid
untuk melakukan sholat subuh dan dilanjutkan jalan jalan.
Di
jalan Marto bertanya kepada Kefin, “Fin, kenapa kamu kemarin kok pulang duluan?”
Kefin
menjawab “Gak ada apa-apa kok. Cuma ingin pulang aja, habis males dimasjid
melulu.”
Diyah
bertanya, “Males kenapa Fin?”
“Imamnya
kalau baca surah itu lama sekali dan surahnya panjang –panjang, jadi aku males
lalu aku pulang, deh!” sahut Kefin.
Sesampainya
di masjid mereka pun lalu mengambil air wudhu lalu mereka sholat berjamaah. Dan pada waktu itupak takmirnya seddang tidak sholat
di masjid lalu semuanya menunjuk Marno untuk menjadi imam di masjid, walau pun jamaah nya Cuma kami ber empat dan
para Ibu Ibu yang rumah nya dekat dengan masjid. Akhirnya merekapun sholat
dengan khusyuk tanpa ada ganguan sedikit pun.
Setelah
selesai sholat berjamaah merekapunber siap siap untuk jalan jalan, setelah dirasa siap merekapun lalu jalan jalan sambil menikmati indahnya
pemandangan di desa mereka dan sejuknya udara di pagi hari. Pada saat matahari
belum muncul para petani sudah berada di sawa mereka untuk mengolah sawah.
Sewaktu di jalan yau melihat sandal Kefin yang baru lalu dia berkata, “Fin kamu
punya sandal baru ya?”
Lalu
Kefin menjawab “Tidak kok.”
“Lalu
itu sandal siapa?” kata Ayu.
“O....
kan kata Pak Ustad kemarinkan ambillah yang baru dan tinggalkan yang lamakan. Lalu
kemarin saat tarawih aku ambil sandal yang baru lalu sandalku yang lama
kutinggal di masjid,” sahut Kefin.
“Kefin
kau tidak tahu apa yang di maksut Pak Ustad ya?” kata Marto sambil memegang
kepala Kefin.
”Emangnya
ada apa?” tanya Kefin.
“Yang
dimaksud Pak Ustad itu kamu harus meninggalkan perilakumu yang jelek dan meningkatkan perilaku yang baik, bikan
menggambil sandal milik orang lain kau tahu tidak?” jawab Marto.
“Eh...
ngomong-ngomong kau tahu tidak itu sandalnya siapa?” tanya Ayu.
Kefinpun
mengelengkan kepalanya pertanda bahwa Kefin tidak tahu itu sandal siapa yang ia
bawa.
”Itu
sandalnya Pak Danu, kemarin Pak Danu tanya sama kita kita, dan dia membawa
sandalmu,” kata Marto.
Kefin
pun terkejut mendengar omongan Marto, lalu Kefin berkata, “Lalu gimana ni, aku
jadi takut.”
“Makanya
kalau ngaji itu didengari yang baik jangan sambil ramai sendiri, gurunya
nerangin tapi muridnya malah rame sendiri kayak kamu, lalu jadi salah
pengertian deh!” kata Diyah.
Setelah
jalan-jalan mereka pun pulang kerumah masing-masing sebelum pulang Kefin minta
tolong kepada teman-temannya, “Teman-teman tolong nanti bantu aku mengembalikan
sandal ya!”
“Kenapa
tidak nanti saja kalau terawih?” jawab Ayu.
“Aku
malu dilihat banyak orang,” sahut Kefin.
“Ya
nanti kami akan membantumu,” kata mereka semua.
Lalu
merekapun pulang ke rumah mereka masing masing.
Kefin merasa bersalah kepada Pak Danu karena dia telah mencuri sandalnya
Pak Danu, dia kira apa yang di katakan Pak Ustad itu adalah menukarkan barang
yang lama dengan yang baru.
Saat
hari menjelang sore merekapun berkumpul di
tempat biasa mereka menunggu satu sama lain, setelah mereka berkumpul merekapun lalu
berangkat mengaji. Sebelum sampai di masjid
Kefin dan teman teman mampir ke rumahnya Pak Danu, untuk mengembalikan
sandalnya yang diambil oleh Kefin kemarin saat sholat tarawih. Rumah Pak Danu
dengan masjid memang tak terlalu jauh.
”Assalamuallaikum,”
kata mereka semua.
“Waalaikumsallam,
ada apa ya anak anak datang kemari?” tanya Pak Danu sambil menatap mereka.
”E....
saya mau mengembalikan sandal bapak yang saya ambil kemarin saat saholat
tarawih di masjid,” jawab Kefin.
“O...
ya nggak papa kok, semua orang itu pernah salah kok, tapi lain kali jangan di
ulangi lagi ya!” sahut Pak Danu sambil mengelus kepala Kefin.
”Ya,
pak,” jawab Danu sambil berjabat tangan dan meminta maaf kepada Pak Danu. Mulai
saat itu Kefin berjanji akan berusaha mendengarkan apa yang di jelaskan oleh
pak guru maupun Pak Ustad. Dari situlah Kefin
berubah dari dulu yang sikapnya egois, sombong dan mementingkan diti sendiri kini dia
jadi orang yang dermawan dan baik hati dan tidak sombong.
Saat mereka beranjak dewasa
merekapun mulai membantu mengajar TPA, mulai saat itulah mereka mengabdikan dirinya
untuk mengajarkan ilmu kepada para santri
di masjid itu. Meskipun mereka sudah mempunyai kehidupan masing masing
tetapi mereka tetap mengajar TPA apalagi
Kefin sekarang dia paling sering berangkat ke masjid untuk mengajar TPA bahkan bisa dibilang dialah yang paling sering ke masjid dari pada
mereka bertiga. Sampai tua pun mereka masih tetap sering pergi ke masjid walau
jaraknya agak jauh dari rumah mereka.
***
Membeli
Keajaiban
Karya
: Masita Hayunikusuma Alfian
Sebuah angkutan umum beroda
tiga, menggulirkan roda – rodanya menuju sebuah tempat kumuh yang memiliki gerbang
yang terbuat dari seng-seng bekas yang sebagiannya telah berlubang ataupun
patah, bahkan roboh. Sekelompok anak berlari riang mengikuti bajaj itu ke salah
satu rumah kumuh yang ada di daerah itu, daerah yang dibangun untuk menempatkan
beberapa keluarga kurang mampu macam mereka.
Bajaj itu pun berhenti tepat di depan sebuah rumah kumuh yang terbuat dari susunan kardus-kardus bekas dan beratapkan dedaunan semacam daun pada pohon kelapa.
Bajaj itu pun berhenti tepat di depan sebuah rumah kumuh yang terbuat dari susunan kardus-kardus bekas dan beratapkan dedaunan semacam daun pada pohon kelapa.
“Ayah, Ibu! Akhirnya kalian pulang!”
ucap seorang bocah laki-laki berumur 9 tahun.
“Hahahaha, kamu sudah rindu
dengan kami, ya, nak?” ujar Ibu, dengan suara yang lemah dan rapuh.
Bocah itu segera membantu Ibunya
berjalan masuk, sementara Sang Ayah masih berbicara dengan Supir Bajaj.
“Duh, Yo, aku minta maaf. Aku
hanya punya dua rIbu rupiah saja,” kata Ayah seraya menyodorkan dua buah uang
serIbu rupiah yang tampak begitu lecak dan tak layak lagi.
Tapi, Sang Supir Bajaj yang
bernama Yono itu hanya tersenyum dan menolak uang itu. “Simpan saja untukmu,
Min. Aku ikhlas membawa mu dan Istri mu yang sedang terkena penyakit itu. Jadi,
lebih baik kau simpan saja. Siapa tahu, sewaktu – waktu, keluargamu membutuhkan
uang itu.”
Ayah pun merasa terharu akan
kebaikan sahabatnya itu. Ia merasa bergetar di dadanya ketika mendnegar kata –
kata peduli dari Sang Sahabat barusan. Hingga bukan salahnya jika ia pun
meneteskan air mata haru dan memeluk sahabatnya itu.
Dan, setelah Yono, Sang supir Bajaj mengendarai bajaj jingganya keluar wilAyah kumuh itu, Ayah segera menghapus air matanya dan berjalan masuk, menuju kedalam rumahnya yang sangat sederhana itu.
Dan, setelah Yono, Sang supir Bajaj mengendarai bajaj jingganya keluar wilAyah kumuh itu, Ayah segera menghapus air matanya dan berjalan masuk, menuju kedalam rumahnya yang sangat sederhana itu.
Ayah segera menghampiri Ibu
yang sedang terbaring lemas di atas sebuah tembikar sederhana yang menjadi
lantai di rumah mereka itu, dengan seorang bocah kecil berumur 9 tahun yang
duduk di sisi lemah dan rapuh wanita itu seraya menggenggam tangan Sang Ibu
yang tersenyum menatapnya dan beralih kepada sosok Ayah yang kini duduk bersama
di sebelah anak semata wayangnya, Kiki.
“Ayah, sudah membayar Yono?” kata
Ibu dengan lemas. Sebuah selendang lama dan berwarna pudar melingkarkan diri di
leher wanita itu, berusaha tuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil. Dan,
sebuah baju tebal bekas yang Ayah beli di pasar, dekat daerah perumahan kumuh
mereka itu pun membantu Sang selendang untuk menghangatkan tubuh wanita itu.
“Sudah, bu,” kata Ayah seraya
mengelus lembut rambut setengah putih dari Sang pendamping hidupnya itu. Hati Ayah
begitu rapuh ketika melihat senyum manis Sang Pendamping hidupnya yang sudah
menemaninya selama lebih dari 17 tahun berumah tangga. Dadanya terasa sesak,
melihat kondisi Istrinya yang semakin hari semakin lemah saja. Padahal, sudah
banyak obat alami yang di suapkan ke tubuh Sang Istri, untuk membantunya dalam
sembuh melawan penyakitnya itu. Tapi, tak ada reaksi. Dan, kini, mereka baru
saja pulang dari Jakarta, untuk mengobati Sang Istri.
Dan tak sengaja, air matanya
yang begitu bening dan tulus pun menetes, mengenai pakaian tebal yang tampak bekas,
yang dipakai sang Istri.
“Kiki, kamu bisa bermain di
luar dulu, nak?” kata Ayah, mengganti belaian lembutnya dari rambut Sang Istri
ke anaknya, Kiki.
“Mungkin, ada sesuatu yang
ingin kamu mainkan?” Ayah memberikan senyuman hangat yang terasa menerpa wajah
Kiki dengan lembut.
Kiki hanya mengangguk. Dan
untuk yang kesekian kalianya, ia mengecup pipi Ibunya dengan penuh sayang dan
cinta. Ya, walau pun ia tahu kalau hal itu tak membantu penyakit yang di derita
Ibunya mereda. Kiki pun berjalan keluar. Dan, ia pun berhenti di ambang pintu
yang berupa kain, dan menoleh kepada Ibunya yang memucat, seraya menyunggingkan
senyum manisnya, dan berjalan keluar. Tapi, baru beberapa langkah dari pintu
kain itu. Sebagian dari diri Kiki enggan untuk keluar, dan memilih untuk
mendengar kan
sesuatu yang kedua orang tuanya hendak bicarakan. Tapi, sebagian lagi ingin
meneruskan langkah kaki kecilnya menuju rumah salah satu teman seperjuangannya.
Tapi, ia menetapkan untuk
kembali ke dalam rumah untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Dan, ketika
hendak menyibakkan kain yang menjadi pintu rumahnya itu, tiba – tiba saja Kiki
berdiri bergeming ketika ia mendnegar Ayahnya menyebut – nyebut namanya.
“Aku merasa prihatin kepada
Kiki, bu. Aku tidak ingin anak semata wayang kita itu benar – benar terpukul
bila ia tahu kalau umurmu sudah tak lama lagi!” kata – kata Ayah membuat Kiki
makin peansaran hingga ia pun mencoba untuk mendengarkan lebih seksama lagi.
“Jangan berbicara seperti itu, Ayah.
Ibu tahu kalau umur Ibu sudah tak lama lagi. Tapi, jika kita mau dan terus
berusaha, mungkin Ibu akan dapat tertolongkan.” Kata Ibu. Suaranya begitu lemah
dan rapuh, hingga sesekali ia terbatuk – batuk kering.
“Ya, mungkin saja itu terjadi!
Tapi, kita benar – benar membutuhkan keajaiban untuk kesembuhan mu itu.” Kata Ayah.
Berbicara agak keras.
“Hmm, keajaiban?” gumam Kiki.
Ia menganggukkan kepalanya, entah apa yang ia pikirkan. Tapi, ia segera masuk
kedalam rumah, membuat kedua orang tuanya terkejut. Tapi, Kiki tak menyadari
itu karena ia berjalan lurus, melewati kain yang menutupi kamarnya. Ia mencari
– cari sesuatu di dalam kamar super kecilnya itu. Hingga, beberapa saat
kemudian, ia mendapati apa yang ia cari. Di sudut kamarnya, sebuah keramik
berbentuk buah jeruk berdiri, tampak memperlihatkan dirinya.
“Aah! Itu dia!” Kiki segera
mengambilnya, dan berlari keluar rumah secepat kilat. Ia tak menggubris
perkataan Ayahnya yang bingung dengan tingkah laku anaknya itu.
Kiki terus berlari, melewati pintu gerbang yang terbuat dari seng – seng bekas, dan berbelok ke arah kiri dan menaMbah kecepatan larinya. Nafasnya terus menderu – deru, bersamaan dengan setiap langkah cepat yang ia ambil. Celengan yang ia bawa itu terpeluk erat di tangannya, sementara isinya bergemerincing ria, sesuai dengan langkah kaki Kiki.
Kiki terus berlari, melewati pintu gerbang yang terbuat dari seng – seng bekas, dan berbelok ke arah kiri dan menaMbah kecepatan larinya. Nafasnya terus menderu – deru, bersamaan dengan setiap langkah cepat yang ia ambil. Celengan yang ia bawa itu terpeluk erat di tangannya, sementara isinya bergemerincing ria, sesuai dengan langkah kaki Kiki.
Sinar mentari yang mencubit tak
ia hiraukan demi mencari sebuah tempat yang menurutnya bisa menolong Ibunya.
Hiruk pikuk kendaraan yang bising, mencadi teman seperjalanannya. Dalam
benaknya, ia tahu bahwa masih ada keajaiban yang barusan, kedua orang tuanga
bicarakan.
Dan, ia pun sampai di sebuah
apotik yang tampak sepi itu. Ia segera berlari masuk, dan berhenti di depan
sebuah meja kayu yang melebihi tinggi badannya itu. Seorang perempuan cantik
berkrudung merah muda memberi ucapan selamat datang kepada Kiki dengan
senyumannya yang manis. “Halo, adek. Ada
yang bisa kakak bantu?” kata perempuan itu. Suaranya seakan menutupi suara
bising dari hiruk pikuk kendaraan yang ada di jalan raya di belakang tubuh
Kiki.
“Sebentar, kak!” Kiki segera
membanting celengannya itu dan merauk isinya dengan tak sabar. Sebagian isi
dari celengan itu adalah uang – uang logam dan beberapa lembar uang serIbu
rupiah, dua rIbu rupiah dan lima
rIbu rupiah. Ia kumpulkan uang – uang itu dalam dekapannya dan segera ia taruh
di atas meja, membuat kakak cantik itu bingung. “Saya mau membeli keajaiban,
kak. Ada?
Berapa? Ini uangnya.”
Kakak itu tertawa lembut dan
memasukkan uang uang itu kedalam kantong plastic dan menyodorkannya
kembali kepada Kiki. “Adek, keajaiban nggak ada disini. Jadi, ambil saja
uangnya.”
Kiki merasa bingung atas sikap
kakak itu. Ia berfikir, mengapa kakak ini tertawa? Tapi, di balik rasa
bingungnya itu, tersisip sebuah rasa kekecewaan yang mendalam. Ia sempat
berfikir, apakah ia bisa menemukan keajaiban itu, dan membawanya pulang untuk menolong
Ibunya yang terkulai lemas di rumahnya.
Ah, mungkin di tempat lain,
keajaiban itu ada!” ujar Kiki dengan antusias dan bersemangat hingga rasa
kecewa yang semula menyelimutinya pun lenyap tertiup angin semangat dari diri
Kiki.
Kiki kembali melangkahkan kaki
– kakinya yang tak beralaskan itu di sepanjang trotoar yang sesekali
mempertemukan dirinya dengan sebuah tiang rambu lalu lintas. Terik matahri di
tengah hari itu sangat menyengat kulitnya itu. “Huft, panas! Kenapa cuacanya
bisa sepanas ini? Dimana pepohonan yang hijau nan rindak menyejukkan? Aku butuh
mereka!” Kiki menendang sebuah kaleng bekas minuman bersoda yang langsung
terlempar ke dalam saluran air yang kering. Ia merasa kesal dengan tidak adanya
satu pohon pun. Dan itu disebabkan oleh orang – orang egois, yang tak
menggunakan otak mereka untuk berfikir! Berfikir untuk tidak merusak alam atau
menghancurkannya demi kebutuhan sesaat yang mereka miliki itu!
Dan, langkahnya terhenti di
depan sebuah apotik kedua yang ia incar. Dalam hati,ia berharap dapat menemukan
keajaiban dan dapat membawanya pulang. Begitu semangatnya ia melagkah, hingga
membuatnya jatuh terpleset di lantai yang baru di bersihkan.
“Astaga, adek tidak apa – apa?”
kata seorang pria muda yang mengenakan jas putih bersih, dengan sebuah kaca
mata yang ia selipkan di dalam kantong di dadanya. Tapi, Kiki hanya
menggelengkan kepalanya dan kembali berdiri, seraya di bantu oleh pria muda
itu.
“Adek mau beli apa?” katanya
dengan lembut, walau sedikit tegas.
“Saya mau membeli keajaiban,
kak!” ujar Kiki seraya melemparkan senyum lugu-nya kepada pria itu.
Dan, pria itu pun membalas
senyumnya seraya mengelus – elus rambut Kiki, dan berkata, “Adek, keajaiban itu
bukan untuk di beli. Keajaiban itu seharusnya di cari atau di ciptakan dengan
suatu usaha yang sangat besar. Keajaiban itu hanya datang kepada orang – orang
yang keras berusaha dan tekun dalam berdo’a.”
“Jadi begitu?” ujar Kiki seraya
menunduk lemas. Perutnya terasa melilit nyeri. Jantungnya berpacu, seiring
dengan rasa takut dan rasa kekhawatirannya terhadap Ibunya tersayang.
“Berarti, Kiki nggak bisa
menolong Ibu, dong?” matanya mulai berkaca – kaca, hingga setetes, dua tetes
air mata jatuh di pipinya. Rasa geLisah, takut dan khawatir menyerang dirinya
hingga membuat dadanya terasa sesak.
Tapi, semua perasaan itu agak
berkurang ketika suara Pria itu terasa lembut membelai rambutnya. “Mungkin
kakak dapat menolong Ibu adek. Tapi, Ibunya adek sakit apa?”
“Kiki juga tidak tahu, kak.
Yang pasti, Ayah dan Ibu benar – benar membutuhkan keajaiban. Untuk itulah Kiki
pergi membeli keajaiban yang susah di temukan di toko manapun.”
“Kalau begitu, kakak boleh
datang kerumahnya Kiki, nggak?” kata Pria itu.
Kiki mendongak, menatap mata
Pria itu dan tersenyum kecut. “Boleh, tapi, kakak mau ngapain?” kakak itu hanya
tersenyum dan berjalan masuk kesebuah ruangan yang ada di apotik itu. Dan
beberapa saat kemudian, ia keluar seraya membawa tasnya yang ia gandengkan pada
salah satu tangannya.
“Kakak akan membantu untuk
menemukan keajaiban itu. Untuk sesungguhnya, Kiki harus minta kepada Yang Maha
Kuasa. Karena di tangan-Nya lah, keajaiban itu datang. Dan kakak hanya sebagai
perantaranya saja. Kiki mengerti?” kata Pria itu, berjalan bersisian bersama
dengan Kiki yang tampak lega. Mereka pun berjalan menuju sebuah mobil yang
langsung membawa mereka menuju tempat Sang Ibu terkulai lemas, yang benar –
benar membutuhkan keajaiban itu, sesegera mungkin.
Beberapa pasang mata tampak
mengikuti arah yang di ambil mobil itu. Mereka juga tidak segan – segan mengikuti
mobil yang berhenti tepat di rumah Kiki.
“Ayah, Ibu! Kiki pulang!
Lihatlah, siapa yang Kiki ajak!” Kiki berlari keluar dari mobil dan berteriak –
teriak riang. Membuat Ayahnya segera beranjak keluar dengan cepat dan terpukau
melihat pria itu dan sebuah benda mewah yang memiliki roda empat sebagai alat
penggeraknya itu.
“Waw! Itu mobil anda, Tuan?” kata
Ayah, tampak menunduk sopan ke arah Pria itu.
“Ah, pak, tolong jangan panggil
saya Tuan. Saya Reza, saya dokter yang akan mencoba untuk menolong istri bapak.”
Kata Dokter Reza seraya mengulurkan tangannya kepada Ayah.
“Ah, syukurlah. Tapi, maaf,
Dokter. Kami tidak punya cukup uang untuk membayar ...” kata-kata Ayah terputus
oleh Dokter.
“Bapak, bapak tidak perlu
membayar saya. Saya ikhlas menolong Istri bapak. Jadi, bagaimana keadaannya?” ujar
Dokter Reza.
“Ah, ya, saya lupa! Ayo,
silahkan masuk.” Ayah dan Dokter Reza meninggalkan kerumunan orang – orang
setempat yang masih memerhatikan mobil mewah itu dengan mata membelalak, untuk
segera memeriksa keadaan Ibu, dan mungkin masih bisa menolongnya
***
***
Beberapa menit berlalu, Dokter Reza dan Ayah keluar bersama dan berjalan
menuju mobil. “Bapak, Istri bapak terkena penyakit kanker otak setaium 1. Dan
itu masih bisa diselamatkan dengan beberapa terapi yang sangat di butuhkan
untuk menghilangkannya. Dan ini, kartu nama saya. Datang saja ke Rumah Sakit
yang tertera di dalam sini, dan tunjukan kartu ini kepada petugasnya. Saya akan
menunggu dan membantu menyembuhkan Istri bapak. Tapi, itu semua masih berada di
tangan Yang Maha Kuasa. Jadi, jangan pernah berhenti untuk terus berdo’a akan
kesembuhan Ibu, ya, Pak.” Ujar Dokter dengan ramah dan penuh sopan santun.
“Syukur Alhamdulillah! Terima kasih pak
Dokter! Terima kasih!,” ujar Ayah seraya
memeluk Dokter Reza sesaat dan bersujud syukur akan karunia yang Tuhan berikan
kepadanya.
Setelah berpamitan, Dokter Reza
pun mengendarai kembali mobilnya dan berjalan pulang, meninggalkan rasa syukur
dan kelegaan di hati Ayah, Kiki dan Ibu, serta seluruh tetangga mereka. Dan
keesokannya, mereka pun datang dan menjalankan semua yang di beritahukan oleh
Dokter Reza kemarin untuk menunjukkan kartu itu kepada petugas Rumah Sakit itu.
Dan, ketika bertemu dengan Dokter Reza, Ibu pun segera di tolong dengan
beberapa terapi seperti kemoterapi dan lain sebagainya, yang hasilnya.
Alhamdulillah, kanker itu lenyap dan tak mungkin kembali! Dokter Reza juga
tetap memberikan obat – obatan kepada Ibu agar mengkonsumsinya setiap saat,
sesuai waktu yang telah tertulis di obatnya.
Dari sini, kita mendapatkan
pelajaran yang sangat berharga. Teruslah berdoa dan berusaha untuk menemukan
keajaiban itu. Jangan pernah menyerah dalam mendapatkan sebuah keajaoban,
karena sesungguhnya, keajaiban itu telah ada di depan mata bila kita terus
bordoa dan berusaha
***
Bersakit-sakit Dahulu Bersenang-senang
Kemudian
Karya
: Miftah Awalurrizqi
Dingin malam yang menusuk tulang, itulah
suasana dan rasa tidur keluarga Pak Broto setiap malam. Angin yang bertiup
kencang semakin menaMbah dingin suhu rumahnya. Rumah yang tak layak yang sudah
lama ditinggali Pak Broto. Rumahnya hanya dari kulit bambu yang dianyam yang
biasa disebut Gedheg. Mirisnya rumah itu hanya bersekat dengan kandang kambing.
Setiap pagi tidak pasti ada hidangan
makanan diatas meja makan yang rapuh itu. Kadang jika Pak Broto ada rezeki
mereka bisa makan nasi. Itupun hanya dengan garam. Namun keluarga Pak Broto
selalu bersyukur kepada Allah masih diberi jatah hidup untuk ibadah dan
bekerja.
Pak Broto memiliki istri bernama Ibu
Karinah. Mereka dikaruniai satu orang putra bernama Saiful. Beruntung Pak Broto
memiliki istri dan anak yang mengerti keadaan. Walaupun keadaan mereka sangat
miris.
Kerja serabutan yang dilakukan Pak Broto
hanya bisa mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Apa boleh buat, tawaran kerja
tak pasti datang. Mungkin pendidikan salah satu factor masalah financial Pak
Broto. Maklum hanya lulus SD Pak Broto
sekolah. Juga karena faktor ekonomi.
Si Saiful anak semata wayangnya masih duduk
di kelas tiga SD. Tak pernah dia merasakan sepatu bru. Itulah keinginannya
selama ini. Sepatu yang sudah bolong dan talinya yang sudah using selalu
dipakai nya. Banyak temannya yang mengerti keadaannya, namun tak sedikit juga
yang mengolok-oloknya.
Itulah nasib yang diterima Pak Broto dan
keluarganya. Namun nasib itu masih bisa birubahnya. Tak putus ibadah keluarga
Pak Broto. Sholat lima waktu selalu dikerjakan Pak Broto dan keluarganya. Namu
ibadah yang tak disertai usaha tak akan
jadi apa apa. Inilah takdir yang telah ditulis yang maha kuasa. Saat disuatu
hari kebutuhan Pak Broto akan uang sangat dIbutuhkannya.
Tak sedikit jumlah uang yang dibtuhkannya.
Tunututan pembayaran sekolah Saiful yang mengharuskan membayar buku dan seragam
milik Saiful. Dan beras yang ada mulai terkuras habis. Tak menyadari semua itu
Pak Broto kaget.
Menangis ia tersedu-sedu sambil memeluk
istri dan anaknya. Tak lama tetes air mata Bu Karinah dan Saiful mulai keluar.
Pak Broto tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Belitan hutangnya sudah
mengikat keluarganya.
Malamnya Pak Broto sholat tahajud,
berdoa dia kepada sang pencipta. Tak
bisa ditampungnya kesedihan dan derita yang dipikulnya. Menangislah dia.
Tetesan air matanya membuat rembesan air mata di bajunya.
Selesai sholat dan berdoa, ia kembali ke
kasurnya. Tak lama kemudian, giliran Bu
Karinah sholat. Doa yang panjang dipanjatkannya. Tak kuat membendung air
matanya, ia menangis juga.
Saiful pun juga menyusul sholat tahajud.
Sambil mengantuk ia sholat tahajud. Beberapa kali ia menguap sampai rakaat
terakhir.
Mereka pun kembali tidur menyusul Pak
Broto. Waktu subuh tiba. Pak Broto yang sudah bangun, lalu membangunkan anak
dan istrinya. Lalu mereka sholat subuh Berjamaah.
Pagi datang mengganti malam yang dingin.
Syukur masih bisa menanak nasi meskipun sedikit. Makan pagi Bersama sudah jadi
adat keluarga Pak Broto. Makan dengan Nasi dengan sambal membuat perut mereka
sedikit perih. Namun mau makan apa lagi. Si Saiful berkata”kenapa sih nasib
kita kayak gini?” . Pak broto dan Bu Karinah hanya diam dan menatap kosong.
“Sudahlah nak, syukuri saja. Masih bersyukur
kita bisa makan hari ini,” Pak Broto menjelaskan.
Setelah makan Pak Broto duduk di depan
rumah melamuni nasibnya. Tak lama kemudian, dia diajak tetangganya untuk
bekerja jadi kuli bangunan. Dikenalkanlah Pak Broto ke mandor itu. Di terimalah
Pak Broto bekrja disana.
“Terimakasih pak mandor,terimakasih,” dikatakannya
berulang ulang sambil menciumi tangan mandor itu.
“Iya pak, sama sama kita harus saling
membantu,” Mandor itu menengangkan Pak Broto.
Pak Broto orang yang bekerja keras. Dia
selalu mengingatkan teman kerjanya agar tidak malas malasan. “Bijaksana sekali
dia, patut aku jadikan wakilku “. Kata mandor sambil berbisik. Mandor itu
mendekat dan menawari Pak Broto untuk jadi wakilnya. Bersujud Pak Broto
mendengar itu.
Hanya kata terimaksih dan syukur yang dapat
ia lontarkan. BerIbu puja puji kepada mandor dan yang maha pencipta. Di sanalah
kesejahteraan hidup mulai didapatkan Pak Broto dan keluarganya.
Si Saiful dapat sekolah hingga masuk SMP.
Dan Bu Karinah dipanggil jadi buruh tukang cuci oleh saudagar kaya. Inilah
hasil kerja keras dan ibadah serta doa mereka selama ini dalam tindasan derita
yang dialami.
Jadilah hamba yang pandai bersyukur, bekerja
keras dan kuat dalam iman. Niscaya Allah akan mensejahterakan hidup kita. Dan
kita harus tahu tak ada yang tidak mungkin bagi sang pencipta.
***
Bakso
Karya : Muhammad Hasbi Ash-shidiqi
Sebuah gerobak bakso berjalan
melewati pinggiran trotoar yang kasar. Sebuah gerobak kAyu tua berwarna biru
kusam kehitam-hitaman, banyak kAyunya yang keropos karena dimakan usia. Gerobak
bakso itu berbelok dan bergerak memasuki perkampungan, menjauh dari kebisingan
jalan raya.
“Bakso –bakso,” teriaknya
sambil berjalan menyusuri perkampungan yang sepi. Ia tidak berjualan di dekat
jalan raya yang ramai. Ia lebih suka berjualan di perkampungan, karena penjual
bakso keliling seperti ia akan kalah dengan warung bakso di pinggir jalan. Ia
sering membayangkan betapa tiidak adilnya dunia ini, pemilik warung bakso
tinggal diam diwarung nanti pelanggan akan datang sendiri, tidak seperti
penjual keliling harus berjualan keliling apalagi jika bannya kempes, hujan, atau
ia sakit.
Hari
ini sedikit sekali pelanggannya karena hari ini sangat sepi. Biasanya jika
sedang ramai, atau sedang ada pasar malam, pengajian, dan wayangan,ia akan
laris pelanggan danbaksonya sudah habis, tetapi hari ini baksonya belum juga
habis. Di seberang jalan terlihat ada ramai-ramai orang berronda, ia segera
mendorong gerobaknya kesana.
“Bakso pak?” tanyanya.
“Tidak-tidak pak terimakasih,” jawabnya.
Ia pun segera pergi dari tempat
itu. Tidak terlalu jauh dari ia melangkah, tiba –tiba langit menggelegar
terlihat kilatan kilatan gahaya di langit dan hujanpun turun. Ia segera mencari
tempat untuk berteduh. Sesampainya di emperan rumah yang cukup luas ia
berhenti. Dipandangiya bakso-baksonya yang masih banyak. Setelah beberapa saat
hujanpun reda, tinggal gerimis kecil. Ia mendorong kembali gerobaknya.
Hujan
menaMbah sepi keadaan dan membuat hawa dingin yang menusuk tulang.Ia menjadi
putus asa. Ia tidak yakin bakso baksonya akan terjual habis. Ia lalu memutar balik
gerobaknya, ia ingin pulang. Ia ingin segera sampai di rumah dan meluruskan
tubuhnya di tempat tidur.
Sangking tergesa –gesanya ia
tidak memperhatikan keselamatannya ia tidak ingat kalau ia sedang berada di
jalan. Ketika ia melewati sebuah perempatan, tiba –tiba dari arah Timur melaju
sebuah mobil dengan cepat,ia tidak sempat menghindar dan mobil itupun segera
mengerem mendadak tetapi usahanya itu juga tidak berhasil, akhirnya terjadilah
sebuah tabrakan.
Si penjual bakso itu terpental
bersama gerobaknya, lalu kepalanya terbentur aspal yang keras dantidak sadarkan
diri. Si pengemudi mobil itupun segera membawa si penjual bakso itu ke rumah
sakit terdekat.
”Di.. di.. mana aku? Mana
gerobak baksoku?” tanya si tukang bakso ketika ia sadar.
”Syukurlah pak anda sadar, anda
sedang di rumah sakit pak,” jawab seseorang yang tidak ia kenal.
”Siapa anda, dan dimana gerobak
bakso saya?” tanyanya lagi.
“Mobil saya menabrak anda tadi
saya pikir anda sudah mati tadi, saya sangat bersalah saya ingin minta maaf kepada
anda,” jawab si pengemudi mobil.
”Tidak apa-apa saya, juga
bersalah saya tidak berhati hati tadi tapi bagaimana gerobakku,” si penjual
bakso menannyakan gerobaknya lagi.
“Maaf, gerobak anda saya lihat
sudah rusak berat tidak dapat dipakai lagi,” penjual bakso itupun terdiam ia
memikirkan akan jadi apa ia nanti tanpa gerobak baksonya, yang dapat ia lakukan
hanya membuat bakso untuk dijual keliling setiap harinya.
”Pak anda tidak apa–apa?” tanya
si pengemudi mobil memecah lamunan si penjual bakso.
”Tidak apa–apa,” jawabnya.
”O iya, siapa nama anda?” tanya
si pengemudi kepada si tukang bakso.
”Nama saya Ponimin,” jawabnya. Merekapun
saling berkenalan, dan saling memaafkan.
Adzan Subuh pun berkumandang, semalam
tadi mereka tidak tidur.Si pengemudi mobil yang bernama pak Dedipun berpamitan
kepada si tukang bakso memberikan sebuah amplop coklat dan meminta maaf untuk
sekali lagi sebelum akhirnya ia menghiilang dari ruangan itu. Setelah kepergian
orang itu si tukang bakso melihat kea rah amplop itu, lalu membukanya.
”Masyaallah,” kata sipenjual
bakso, ia melihat lembaran –lembaran uang seratus rIbuan didalam amplop itu dan
segera menghitungya.
”Sebelas juta!” katanya.
Uang itu cukup untuk mengganti
modal baksonya, untuk membeli gerobak baru, dan masih sisa banyak.” Terima
kasih ya Allah,” katanya, ia pun teringat kepada orang yang menabraknya, kepada
pak Dedi, ia belum mengucapkan terimakasih kepadanya.
***
Keluarga Yang Sejahtera
Karya : Novita Sari Eka
Haryati
Di sebuah desa yang sangat sejuk
udaranya. Berselimutkan kabut di pagi hari. Di tengah-tengah sejuk nya udara di
pagi hari, ada sebuah rumah yang sederhana. Rumah yang terbagi atas beberapa
ruangan, menjadikan rumah itu semakin meriah. Di sudut depan rumah itu
berhiaskan tanaman bunga yang sangat indah di pandang mata, di belakang rumah
di jadikan untuk menanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Di samping rumah itu
juga di penuhi oleh tanaman obat-obatan.
Di dalam rumah yang sederhana terdapat ruang
tamu, 2 kamar tidur, dapur. Keluarga itu terdiri atas 4 orang anggota keluarga.
Mereka itu Bapak Trismo, Ibu Trismo, Bayu, dan Rengganis. Bayu anak nya yang
pertama sudah kuliah di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, dan Reni anak nya
yang kedua masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Piyungan Yogyakarta.
Kehidupan
di keluarga Pak Trismo sangatlah rukun dan ekonominya berkecukupan. Walaupun ekonomi nya sangat terbatas,
keluarga Pak Trismo tetap mementingkan kerukunan dan kepercayaan dalam keluarganya.
Walaupun
Pak Trismo dan Bu Trismo hanya bekerja sebagai petani. Tetapi mereka di kenal
oleh warga sekitar sebagai petani yang sangat rajin dan bekerja keras. Pak
Trismo dan Bu Trismo mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan para petani
yang ada di desa Pak Trismo, sifat yang di miliki Pak Trismo adalah tidak mudah
menyerah dan tak kenal lelah.
***
Suatu
pagi ada beberapa warga yang menghampiri Pak Trismo yang sedang mencangkul di
sawah, mereka bertanya kepada Pak Trismo
“Pak, apakah bapak tidak lelah, bekerja keras tiap hari?” kata
pak Tedjo mengawali pembicaraannya.
“Tidak Pak, kan Allah SWT sudah
menjelaskan dalam Al-Qur’an, bahwa Allah tidak akan merubah nasib setiap umat
nya, jika mereka tidak mau merubah nya sendiri dengan giat dan keras,” ujar pak
Trismo.
“Berarti nasib setiap umat manusia
tidak akan di rubah oleh Allah, kalau manusia itu tidak berusaha merubah nya
sendiri, ya pak?” kata pak Tedjo sambil menggaruk-garuk kepala nya sajak
bingung.
“Inggih, leres pak ,” ujar pak Trismo
Hari
sudah siang, tandanya pak Trismo dan warga lain pulang ke rumah untuk
menunaikan shalat Dhuzur dan makan siang bersama keluarga nya masing-masing.
Pak Trismo berpamitan kepada warga lainnya. Setelah sampai di rumah pak trismo
segera menuju ke belakang rumah, untuk mencuci kaki dan tangannya yang setengah
hari bergelut dengan sawah nya. Pak Trismo sudah di tunggu istri dan
anak-anaknya yang dari tadi sIbuk menyiapkan makan siang untuk Ayah tercinta
nya. Setelah mereka selesai makan siang, kemudian mereka solat dhuzur
bersama-sama. Itu semua di lakukan setiap hari oleh keluarga pak Trismo.
Jam
dinding telah menujukkan pukul 13.00 p.m. Waktu nya pak Trismo dan warga lain
untuk melanjutkan tugas mulia nya yaitu untuk mencari nafkah, untuk menghidupi
istri dan anak-anak nya.
***
Di
suatu siang, di tengah sawah terjadi suatu pertengkaran antara petani lain
dengan pak Trismo. Mereka salah paham. Cuma gara-gara batas tanah mereka tidak
seimbang dengan yang dulu.
“Pak, kenapa tanah bapak lebih
luas daripada tanah saya, padahal dulu tanah saya luas dan tanah bapak enggak
selebar sekarang?” ucap pak Mustafa.
“Lha saya tidak tahu Pak, lha
wong saya enggak mindah-mindah garis pembatas tanah kita kok?” kata pak Trismo.
“Tapi kok garis itu bisa
bergeser toh pak? Kalau bukan bapak yang menggeser siapa lagi … hayo ?” ucap
pak Mustafa
“Pak, tolong jangan menuduh
sembarangan seperti itu dulu. Belum ada bukti nya toh!” ucap pak Tedjo memberi
solusi.
“Bukan nya saya menuduh pak
Trismo pak, tetapi itu kenyataanya kok pak?” ujar pak Mustafa pada pak Tedjo.
“Kalau nyata mana buktinya pak?”
desak pak Tedjo meminta bukti.
“Sudah-sudah pak Mustafa dan
pak Tedjo, kalau itu memeng benar saya yang melakukan biar Allah SWT yang
memberi pelajaran bagi saya. Dan kalau itu bukan saya yang melakukanya, biar
orang yang melakukan itu mendapatkan hidAyah dari-Nya,” ucap pak Trismo dengan
santun dan sabar.
“Mana mungkin orang lain yang
melakukan pak, wong jelas-jelas saya tahu sendiri, kalau bapak yang melakukan
kok!” tentang pak Mustafa dengan nada emosi.
“Pak Mustafa sudah jangan
terbawa emosi seperti itu, kita bisa selesaikan dengan cara kekeluargaan toh
pak, berhubung hari sudah sore sebaiknya kita pulang saja!” jelas pak Tedjo
Akhirnya mereka pulang kerumah
masing-masing.
***
Pagi
harinya mereka pak Trismo datang kerumah pak Tedjo untuk menyelesaikan masalah
yang kemarin sore belum terselesaikan.
“Assalamualaikum,” ucap pak
Trismo.
“Wassalamualaikum salam,” jawab
pak Tedjo dan pak Mustafa.
“Gimana perkara yang kemarin
mau di selesaikan apa enggak pak,” ucap pak Mustafa mulai emosi.
“Sabar pak, tenang dahulu.
Bukan saya yang melakukannya!” ujar pak Trismo.
“Terus siapa kalau bukan kamu ?”
ucap pak Mustafa
“Kata istri saya kemarin. Bapak
sendiri yang memindahkan batas tanah itu. Bukan nya saya balik nuduh Bapak,
tapi kalau bener itu bapak yang melakukan tolong jujur saja Pak. Saya juga
enggak akan marah dan dendam kepada bapak kok ?”
“Saya kemarin juga lihat bapak
sedang jongkok sambil memengangi tali rafia, terus saya sapa Bapak tidak
menghiraukan saya?” taMbah pak Tedjo.
Pak Mustafa hanya diam serIbu
bahasa. Dia hanya menundukkan kepala.
“Iya, memeng bener pak, saya
yang memindahkan pembatas tanah kita. Tapi, saya menyalahkan pak Trismo yang
enggak tahu apa-apa ?” terang pak Mustafa
“Kenapa bapak tega melakukan
itu pada pak Trismo, pak?” tanya pak
Tedjo.
“Karena, saya iri hati pada pak
Trismo, yang dalam usahanya selalu berhasil, pak?” lanjut pak Mustafa.
“Ya, seharusnya pak Mustafa
enggak boleh begitu pada pak Trismo. Kalau bapak ingin berhasil dalam segala
bidangnya bapak harus selalu usaha dan berdo’a, pak?” jelas pak Tedjo.
“Sudah, sudah pak enggak
apa-apa kok. Syukur kalau pak Mustafa sudah mau mengakui kesalahannya. Saya
juga sudah memaaafkan pak Mustafa kok!” kata
pak Trismo mulai bicara.
“Saya merasa bersalah sama
bapak, saya dengan tulus hati minta maaf ya pak,” pinta pak Mustafa.
“Sudah, tidak apa-apa kok pak,
saya sudah memaafkan kesalahan bapak. Tapi, besok tidak di ulangi kembali!” jelas pak Trismo.
***
Akhirnya
sekarang mereka bertiga menjadi sahabat akrab dan bersaudara pula. Maka jadilah
orang yang “Gemi, Setiti, lan Ngati-ati.” Jangan mudah terbawa emosi dan selalu
intropeksi diri. J
***
Salah
Sangka
Karya
: Prawala Adi Wara
Semilir angin yang sejuk selalu
menemani langkah kecil Reva setiap pagi, saat berangkat ke sekolah dengan
teman-temannya dan juga sahabat karibnya Aldo.
Tapi
pada pagi yang dingin itu tidak nampak sesosok Aldo yang selalu berangkat
bersamanya. Lalu Reva melangkahkan kakinya lebih cepat mengejar temannya yang
lain dan mendekati Iqbal.
“Bal,
Iqbal,” kata Reva berulang-ulang, sambil
mendekati Iqbal yang saat itu agak jauh didepan.
“Bal,
Aldo mana?” tanya Reva disamping Iqbal.
“Hai
Reva, kamu nyari Aldo? Kan biasanya dia berangkat sama kamu? Kok
kamu nanya aku sih?” jawab Iqbal.
Kemudian mereka bertanya ke teman-temannya yang lain, tapi mereka juga tidak tahu Aldo kemana.
Setelah
berjalan sambil mengobrol sampailah mereka disekolah, merekapun memasuki pintu gerbang sekolah
SMPN Sukamaju tempat mereka menimba
ilmu. Sekolah yang cukup besar dengan pemandangan yang indah dan guru yang ramah,
yang selalu menyapa mereka dengan ramah,
sopan dan santun saat muridnya datang. Saat itu masih pagi jadi masih banyak
siswa yang belum berangkat. Kemudian Reva dan Iqbal bergegas memasuki kelas IX
B, mereka berdua teman sekelas.
Saat
sampai dikelas, Reva mendekati Vera yang
saat itu merenung sendiri dibelakang.
“Ver, kamu tahu dimana Aldo, kok jam segini belum berangkat?” tanya Reva.
Vera diam tidak menjawab
pertanyaan Reva. Reva lalu mengulangi
pertanyannya, akhirnya Vera pun menjawab
dengan wajah yang sedih, “Va, Aldo kecelakaan kemarin sore” lalu diapun
menunduk lesu. Reva pun kaget mendengar berita
itu. Berbarengan dengan bunyi bel tanda masuk.
Jam
pelajaranpun dimulai, Bu Rani wali kelas
mereka memasuki ruangan kelas mereka yang nampak hening dan tenang. “Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu Rani.
Merekapun menjawab serentak, “Selamat pagi, Bu ...”
Bu Rani agak heran, kok tidak
seperti biasanya, anak-anak yang biasanya gaduh kok hari ini sepi. “Ada apa,kok
sepi?” tanya Bu Rani, tidak ada
satupun murid di kelas yang menjawab.
Bu Rani pun melihat sekeliling
kelas, pandangan matanya tertuju kemeja Aldo,
“Kok Aldo tidak ada, Aldo kemana?”
tanya Bu Rani lagi, tidak ada yang
menjawab.
Pertanyaan bu Rani seperti
angin yang lewat ditelinga mereka saja. Akhirnya Reva pun berdiri lalu dia
berkata, “Bu, Aldo kecelakaan kemarin sore,” Bu Rani terdiam mendengar berita itu.
Kemudian Bu Rani menyuruh Reva,
Iqbal dan Vera menjenguk Aldo di Rumah Sakit, untuk
mengetahui keadaan Aldo. Lalu Bu Rani
pun menyuruh murid-murid mengumpulkan uang untuk diberikan ke Aldo saat Reva, Iqbal dan Vera
menjenguknya. Uang yang sudah
terkumpul ditaruh Bu Rani didepan meja
guru yang akan diambil Reva nanti saat
pulang sekolah.
Jam
pelajaran pun berlalu begitu cepat, tak
terasa sudah saatnya pulang sekolah. Bel sekolah pun berbunyi murid-murid bergegas keluar dan pulang
kerumah masing-masing. Reva,Iqbal,dan
Vera bergegas keluar sekolah untuk menuju rumah sakit, karena terburu-buru merekapun lupa untuk
mengambil uang tadi.
Siang
itu cuaca sangat panas mereka sempat berhenti sejenak dibawah pohon yang lebat.
Mereka melihat ada warung mie ayam,
seketika perut mereka terasa lapar.
Iqbal pun mengajak temannya makan disana.
“Yuk kita makan disana dulu aku
sudah lapar nih,” kata Iqbal.
Reva dan Vera yang memang juga
sudah lapar mengiyakan ajakan Iqbal, lalu mampirlah mereka diwarung itu.
Setelah mereka selesai makan, Iqba lpun
membayar makanan yang telah mereka makan tadi. Merekapun pergi meninggalkan
warung dan bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit Reva merasakan firasat yang tidak enak. Revapun berhenti didepan pintu masuk rumah
sakit itu. “Reva, kenapa kamu berhenti?”
tanya Vera dan Iqbal.
“Aku mempunyai firasat yang
tidak enak, nih,” jawab Reva.
Mereka
berhenti di depan pintu masuk rumah sakit
agak lama. Reva lalu melihat
kesakunya sendiri, “Loh, uang untuk Aldo
tadi kemana ya kok tidak ada?” tanya
Reva kepada temannya.
Iqbal dan Vera hanya diam saat Reva menanyakan soal uangnya
itu. Lalu Verapun berkata “Lho, kan kamu tadi yang disuruh membawanya. Reva lalu mengajak temannya pulang
“Ayo kita pulang dulu, uangnya kayaknya ketinggalan nih, besok saja kita kemari lagi,” ajak Reva. Akhirnya mereka tidak jadi menjenguk Aldo, lalu
pulang kerumah mereka masing masing.
Keesokan
harinya Reva berangkat kesekolah dengan wajah yang murung. Sesampai di sekolah
dia langsung berlari kekelasnya lalu kemeja guru, ternyata uang itu tidak sudah
tidak ada. Lalu dia keluar kelas kebetulan Iqbal juga baru datang, Reva menampakkan wajah marahnya didepan
Iqbal.
“Bal, mana uang yang diberikan
Bu Rani untuk diberikan kepada Aldo, kau yang mengambilnya kan, ngaku aja?” tanya Reva dengan wajah yang marah. Iqbal bingung dengan pertanyaan Reva. “Kok
kamu nyalahin aku sih, kan kamu yang disuruh Bu Rani mengambil uangnya, kenapa
menuduh aku aku?” jawab Iqbal.
Lalu Reva masuk kekelas diikuti
Iqbal dibelakangnya. Mereka duduk dibangku masing-masing. Tak lama kemudian
Verapun datang. Setelah meletakkan tasnya
Vera mendekati Reva. “Va, kenapa kok kamu kelihatanya marah?” tanya Vera.
“Temanmu itu mengambil uang
yang diberikan Bu Rani untuk Aldo,” jawab
Reva. Vera terkejut dengan jawaban Reva.
“Va, kamu jangan nyalahin Iqbal
dulu dong, kan belum tentu uang itu diambil Iqbal,” jawab Vera.
Iqbal datang mendekati Reva dan
Vera. Reva langsung berdiri dari
kursinya dan mengajak Vera pergi dari
tempatnya. “Ver, pergi yuk, ada pencuri disini, nanti uang kita juga
dicuri lho sama dia!” tuduh Reva.
“Loh kok kamu nyalahin aku lagi
sih, kan aku sudah bilang ke kamu yang mengambil uangnya bukan aku, kalau aku
yang mengambil apa buktinya?” jawab
Iqbal.
“Buktinya kamu kemarin yang
mentraktir kami beli mie ayam,” kata
Reva.
Iqbal menjawab “Kan aku
mentraktir kalian dengan uang ku sendiri.”
Reva tetap tidak percaya “Jangan bohong deh, kamu kan yang mengambil uangnya duluan dari meja guru!” tuduh Reva.
Iqbal memotong kata-kata Reva
dengan memukul meja dengan keras “Rev, kamu jangan menuduh aku yang menggambil
uang itu, kamu ngajak berantem ya, Rev?”
kata Iqbal.
“Ayo!” jawab Reva. Kemudian Reva berdiri mendorong
Iqbal sampai jatuh ke lantai, Iqbal pun berdiri meninju wajah Reva sampai lebam.
Vera dan teman-temannya mendekati dan
melerai Reva dan Iqbal.
“Sudah-sudah kok kalian malah bertengkar?” lerai Vera. Bel tanda masuk berbunyi.
Bu Rani
memasuki kelas mereka, “Assalamualaikum,” Bu Rani memberi salam.
“Walaikum salam, Bu,” jawab murid-murid.
Bu Rani melihat sekeliling
kelas, matanya tertuju ke Reva. “Reva kok wajah kamu lebam begitu kamuhabis
berantem ya?” tanya Bu Rani. Reva hanya
diam tidak menanggapi pertanyaan Bu Rani.
“Iya bu, tadi Reva dan Iqbal
berantem, karena uang kemarin yang dimeja
tidak ada, lalu Reva menuduh Iqbal yang mengambilnya bu,” jawab Vera.
Reva yang mendengar kata-kata
Vera kembali emosi. “Apa Ver? Memang
yang ambil uangnya Iqbal kok!” jawab
Reva sambil memegang pipinya yang babak belur itu.
“Tuh kan kamu, menyalahkan aku lagi,” Iqbal memotong kata-kata Reva.
“Sudah-sudah,
Reva, kamu kok menuduh orang tanpa dicari dulu?” kata Bu Rani.
Belum selesai Bu Rani bicara
sudah dipotong sama Reva, ”Benar kok bu, buktinya sebelum ke rumah sakit, Iqbal
ngajak jajan Mie Ayam dulu, dia yang bayarin!”
Iqbal jadi emosi lagi “Ndak
benar itu bu, kemarin memang saya yang
mengajak Reva dan Vera jajan dulu karena
perut kita sudah lapar sebelum pergi kerumah sakit, dan saya bayar dengan uang
sendiri!” jawab Iqbal.
“Bohong itu, Bu!” kata Reva memotong perkataan Iqbal.
“Sudah, Reva, dengar dulu
penjelasan Ibu,” kata Bu Rani.
“Kemarin,
waktu kalian terburu-buru pergi, Ibu masuk kekelas kembali, ternyata dimeja guru
uangnya masih ada, kalian lupa membawanya,
Ibu kelua kelas, kalian sudah tidak ada, jadi Ibu simpan dulu uangnya,
jadi uang kemarin ada pada Ibu,” Bu Rani
memberi penjelasan.
“Jadi Reva, kamu jangan asal
menuduh orang, tidak baik itu”kata Bu Rani.
Reva
yang duduk diam tiba-tiba berdiri mendekati Iqbal dan mengulurkan tangannya
untuk meminta maaf. “Bal, aku minta maaf ya, aku sudah menuduh kamu sebagai
yang mencuri uang kemarin,” pinta Reva.
“Iya aku maaf kan, besok-besok
kamu jangan asal menyalah kan orang dulu donk, tapi aku juga minta maaf aku
telah memukul kamu tadi”jawab Iqbal. “Iya Bal, gak papa kok, ini biar untuk
pelajaran buatku, biar ndak terlalu terburu-buru dalam segala hal,” jawab Reva.
Kemudian
Reva maju kemeja guru, dan mengambil uang
ke bu Rani.
“Gitu
donk Reva,kamu jangan asal menuduh orang lain, kan belum tentu orang itu
bersalah atau tidak, nah, setelah pulang sekolah nanti kalian jangan
lupa menjenguk Aldo dirumah sakit ya!” kata
Bu Rani menasehati Reva.
“Iya, bu”sahut Reva.
Setelah
jam sekolah usai Reva, Iqbal dan Vera
bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Aldo.
***
Lebaran Sepi Tanpa Kamu
Karya
: Rema Juaini
Di suatu siang yang panas
dengan udara yang sepoi-sepoi, ada dua orang sahabat yang mempunyai janji untuk
membeli novel terbaru. Mereka bernama Mona dan Lisa. Setelah menunggu selama kurang
lebih 15 menit akhirnya mobilnya Mona sampai dirumah Lisa.
”Hai Lis, udah lama nunggu?” tanya Lisa.
“Hhmmm, ya lumayan lah, ya udah
yuk berangkat, nanti keburu sore,” jawab
Lisa sambil berjalan menuju mobil Mona.
Di perjalanan wajah Mona
terlihat agak pucat, Lisa bertanya, ”Kamu kenapa, kamu belum makan kalau belum kita
berhenti dulu terus makan?”
Namun Mona tak menjawab
pertanyaan dari Lisa, sekali lagi Lisa mengulanggi pertanyaan itu “Mona kamu
kenapa, belum makan?”
Juga tak dijawabnya, sampai
akhirnya Lisa berteriak memanggil nama Mona. ”Monaaa!!” Mona kaget dan memberhentikan mobilnya di kiri
jalan.
“Heh kamu kenapa, kalau mau
manggil pelan saja aku juga bisa dengar!!!” dengan muka ketus dibentaknya Lisa.
“Seharusnya aku yang marah,
dari tadi aku manggil kamu, kamu nggak jawab sama sekali, terus sekarang kamu marah?”
Mona keluar dari mobil langsung menarik Lisa
keluar dari mobilnya.
”Sana beli saja sendiri aku
lagi nggak mood!!”
Mobil Mona pun menjauhi Lisa
yang ditinggalkannya di perempatan jalan dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Tanpa dilihat oleh Mona ada lampu merah, kejadian tragis pun terjadi.
”Aaaaa!!” ternyata mobil Mona mengalami kecelakaan di tengah
jalan. Kejadian itu terjadi hanya 10 meter jauhnya dari tempat diturunkannya Lisa,
karena melihat itu Lisa bergegas mendekati kecelakaan yang menimpa sahabatnya. Namun
naas karena kejadian itu membuat Mona meninggal dunia.
Keesokan harinya Mona
dimakamkan, di rumah Mona, Lisa berbincang-bincang dengan Ibunya Mona. “Lisa,
ini surat dari Mona, waktu kemarin sebelum Mona mau ke rumah kamu Mona
memberikan surat ini ke tante untuk diberikan ke kamu, katanya untuk baca
dirumah.”
Apa, surat dari Mona, hanya
bingung yang ada dipikiran Lisa “Tante ini benar surat dari Mona?”
Ibunya Mona menganggukan kepala
kemudian cepat-cepat Lisa berpamitan dengan Ibunya Mona. Sesampainya di rumah, Lisa
menuju ke kamarnya dan langsung membaca surat pemberian dari Mona.
Buat:
Lisa sahabatku
Hai,
Lisaaaa
Mungkin
saat kamu membaca surat dari aku, aku sudah menghilang dari kehidupan kamu
untuk selamanya. Sebenarnya aku juga bingung Lisa, kenapa aku nulis surat buat
kamu? Tapi ada seseorang yang mempengaruhi aku Lisa, suruh nulis surat buat
kamu, yah aku beranggapan bahwa orang itu bener juga, karna kalau aku hanya nulis
sms aja, mungkin sms dari aku bisa dihapus orang lain dan belum kamu baca percuma
kan? Makanya aku turutin orang yang nyuruh aku nulis surat buat kamu, agar kamu
bisa baca dan simpan surat ini.
Lisa,
kamu marah ya? Kejadian kemarin aku minta maaf, aku dibisikin oleh seseorang, nyuruh
kamu keluar dari mobil aku, Aku langsung pucat Lisa, bingung, ya udah waktu
kamu teriak aku langsung turunin kamu.Terus aku mau berhenti waktu ada lampu
merah, tapi ngak tahu kenapa mobilnya ngak bisa direm, ya kejadian. Selama
tinggal Lisa.
Lisa
aku mau titip pesan buat Ibu aku, bilangin kalau sila baik-baik aja disini, jangan
lupa ya.Untuk kamu jaga kesehatan,taMbah pintar. Itu aja surat dari aku kamu
simpan ya.
Dari:Mona
“Aneh, kenapa Mona bisa nulis
surat seperti ini, apa yang ditulis Mona persis dengan kejadian itu,” tanggapan Lisa setelah membaca surat dari Mona,
Namun seaneh apapun surat dari Mona
membuat air mata Lisa terjatuh dan membasahi pipinya. Sambil menangis Lisa
mengambil foto dirinya dengan Mona.dipandangginya foto itu. ”Kenapa Mona,kenapa,kamu
tega banget, kamu ninggalin aku, aku kesepian tanpa kamu Mona!” Pelampiasan melalui tangisan membuat Lisa
tertidur dengan tangan memeluk foto dirinya dan Mona.
Hari telah berganti,sudah
sebulan Mona telah tiada,sudah sebulan Lisa menjalankan puasa Ramadhan,dan
malam ini adalah malam takbiran.Malam takbiran kali ini berbeda dengan malam
takbiran tahun lalu,karna malam takbiran hari ini tanpa Mona.Tahun lalu Lisa
dan Mona bermain kembang api dimasjid yang letaknya dekat dengan rumah Lisa.Namun
depan masjid itu sekarang tidak ada sesosok Mona lagi.Tidak ada.Tidak ada Mona.Dimalam
takbiran ini Lisa menangis dikamarnya.
”Lisa kamu nggak ikut takbiran?”
kata Ibu Lisa yang berada di depan kamar
Lisa.
“Enggak Ibu, Lisa ingin dikamar
aja,” jawab Lisa dengan singkat.
”Ibu mau bikin kue lebaran, kamu
mau bantuin Ibu nggak?” Ibunya Lisa menawari Lisa untuk membantu membuat kue, namun
Lisa tidak menjawab pertanyaan dari Ibunya. Ibu Lisa tahu bahwa Lisa sekarang
kurang bersemangat karena tidak adanya Mona dikehidupannya.
Malam yang dilalui Lisa
berjalan dengan cepat, Lisa dan keluarganya melakukan sholat ied didekat
rumahnya. Kali ini Lisa sholatnya disamping Ibunya berbeda dengan tahun
sebelumnya yang selalu disamping Mona. Hari Kemenangan telah tiba, Lisa
bermaaf-maafan dengan keluarganya, saudara dan para tetangga. Setelah melakukan
itu Lisa pergi ke makam Mona sahabatnya.
”Mona, Selamat Hari Raya Idul
Fitri, mohon maaf lahir dan batin, maaf Mona udah teriakin kamu waktu itu dan
ngebuat kamu kaget, kalau kamu salah sama Lisa, udah Lisa maafin,” Lisa menaburi bunga kemakamnya Mona.
‘’Ya udah ya, Mona, Lisa mau
pergi ketempat saudara Lisa yang jauh,” Lisa
berjalan menjauhi tempat pemakaman dan sudah ditunggu keluarganya dirumah.
Lebaran tahun ini dirasakan Lisa sepi tanpa kehadiran Mona,namun biarkanlah
Mona pergi karena itu sudah ditakdirkan dan tak bisa kembali lagi. Dua
tahun berlalu dengan cepat,kini Lisa sudah mempunyai sahabat baru yang bernama
jingga. Hari-harinya kini tak akan lagi sepi. Jingga menemaninya disaat Lisa
sedih maupun senang dan Jingga juga sudah tahu bahwa dulu Lisa pernah
kehilangan sahabat terbaiknya.
***
Sepenggal Kisah Hidup Mbah Marno
Karya
: Rian Tri Utomo
Ayam jantan berkokok, adzan
berkumandang. Terlihat lampu teplok dinyalakan di dalam suatu gubuk, seseorang
keluar dari gubuk itu tak lain adalah Mbah Marno, gubuk yang tak layak di pakai
itu dinamakannya rumah, rumah yang senantiasa melindungi Mbah Marno dan mbok Marno
dari guyuran hujan maupun sengatan matahari. Tak beberapa lama kemudian, mbok Marno
mengikutinya keluar untuk berwudhu. Tempat wudhunya pun hanyalah aliran air
sungai yang diberi bambu. Setelah selesai wudhu, keduanya pun langsung shalat
subuh berjamaah.
Jam
07.00 segala aktifitas Mbah Marno maupun
mbok Marno segera dimulai, keduanya sudah biasa tak sarapan, maka dari
itu meja makan di rumah pada pagi hari tak ada isinya. Aktifitas yang pertama
kali dilakukan Mbah Marno ialah memperbaiki dan membuat jaring/jala ikan,
maklum Mbah Marno tinggal di daerah pesisir pantai sehingga Mbah Marno
berprofesi sebagai nelayan, tetapi Mbah Marno tidak melaut seperti nelayan
biasanya, dikarenakan Mbah Marno sudah tua sehingga beliau sudah tidak kuat
lagi untuk melaut.
Biasanya Mbah Marno mencari
ikan di sungai besar menggunakan jalanya. Tepat jam 09.00 Mbah Marno berangkat
ke sungai dengan jalanya, di jalan menuju sungai Mbah Marno berhenti di sebuah
bangunan sederhana dengan anyaman bambu sebagai dindingnya yaitu sebuah warung
makanan kecil yang digunakan mbok Marno menjual rempeyek yang dIbuatnya, disana
Mbah Marno memminta nasi dan lauk untuk bekal mencari ikan di sungai, setelah
selesai barulah Mbah Marno berangkat ke sungai, sampai di sungai, Mbah Marno melakukan hal
yang harus ia lakukan.
Sudah
tiga jam Mbah Marno mencari ikan, akan tetapi hasil yang ia dapatkan tak
seperti biasanya. Rasa lapar menyerangnya, ia pun langsung mengambil bekal yang
ia bawa, sambil makan ia memikirkan sesuatu yang menjadikan tangkapan ikan hari
ini berkurang. Sudah 20 menit Mbah Marno beristirahat, diambillah jalanya dan
meneruskan pekerjaan mencari ikannya, sudah dua lemparan ia lakukan tetapi
hanyalah satu atau dua ikan yang ia dapatkan, pada lemparan ketiga Mbah Marno
berhenti sejenak untuk mengambil nafas, terlihatlah asap hitam mengepul ke
udara, Mbah Marno pun berkata, “Astagfiruwllah, ada bangunan kebakaran!”
Langsung sajalah Mbah Marno
mengangkat mengangkat jala dan membersihkannya lalu mendatangi lokasi
kebakaran. Di dalam perjalanan ke lokasi kebakaran Mbah Marno geLisah ia
memikirkan bangunan apakah yang terbakar, apakah warung mbok Marno kebakaran
dan jika warungnya terbakar apakah mbok Marno baik-baik saja? Sejuta pertanyaan
berkecamuk di pikirannya.
Setelah sampai Mbah Marno
disambut mbok Marno dengan air mata bercucuran, terlihat para petugas
kedisiplinan meMbakar warungnya, maklum warung mbok Marno dibakar karena
warungnya tidak enak dipandang sehingga membuat mata tidak betah memmandang ke
pantai. Setelah sadar barulah Mbah Marno melihat kearah timur, ternyata
rumahnya pun juga dibakar para petugas, dalam sekejap Mbah Marno pun
menghampiri rumahnya lalu disusul oleh mbok Marno, kini tak tahan lagi air mata
Mbah Marno dibendung, air matanya leleh
banyak sekali, salah satu tetangganya mencoba menghIburnya.
Malam
itu Mbah Marno dan mbok Marno tidur di rumah tetangganya, barang-barang yang
ada di rumahnya pun sebagian dapat diselamatkan dari kobaran api, malam itu
juga Mbah Marno tidak mencari jingking untuk di buat rempeyek, begitu juga mbok
Marno, ia juga tidak membuat rempeyek, semua larut dalam kesedihannya
masing-masing dan akhirnya semua tertidur. Pagi pun tiba, Mbah Marno tidak
mencari ikan melainkan membangun rumah dengan warga lain, jam 08.00 ada petugas
datang, petugas itu mencari Mbah Marno, setelah didapatkannya Mbah Marno ia pun
langsung menerangkan perihal ia datang menemui Mbah Marno.
Syukur alhamdulilah kata yang
terlontar dari mulut Mbah Marno, ternyata petugas itu membawa kabar baik, ia
memberitahukan bahwa rumah Mbah Marno akan di bangun oleh pemerintah, dengan
bangunan berdinding tembok bata dan lantai keramik, ia juga memberitahukan
warung mbok Marno akan dIbuat dengan bangunan yang kokoh dan enak di pandang
mata. Proyek pembangunan rumah dan warung pun dilakukan. Satu bulan pembangunan
itu dilakukan ternyata bangunan yang diinginkan sudah jadi, Mbah Marno pun
langsung singgah ke rumah barunya tak lupa mengucapkan terimakasih kepada
tetanggannya karena telah diizinkan tidur dirumahnya. Sudah satu minggu Mbah Marno
dan mbok Marno tinggal di rumah barunya, kejutan besar menghampirinya hari itu,
langsung saja Mbah Marno sujud syukur diikuti dengan mbok Marno, setelah
beberapa menit memberi penjelasan, mbok Marno pun pingsan karena mendengar
kabar baik itu. Ternyata ada sekelompok orang mau bekerja sama dengan Mbah Marno
yaitu berbisnis agar-agar, dengan Mbah Marno sebagai petani tanaman rumput
laut.
Sudah
tiga bulan Mbah Marno mulai membudidayakan rumput laut, juga sudah tiga bulan Mbah
Marno dapat penghasilan tetap, kini Mbah Marno berniat menyewa karyawan. Sukses
itulah yang dirasakan Mbah Marno saat ini, Dua tahun Mbah Marno memulai bisnisnya
sekarang ia menjadi orang yang kaya raya di desanya, ia tak sombong, ia juga
sering menyantuni fakir miskin, tak kaget juga bila rejeki yang diterima Mbah Marno
dan mbok Marno semakin besar dan banyak.
***
Kebijaksanaan Sang Guru
Karya: Rizal
Alfiandy Pangestu
Di suatu daerah di sumatra terdapat sebuah rumah kecil
yang di huni oleh 2 orang saja dia lah sang guru bapak mustahid dah muridnya Bayu. Suatu ketika sang murid sedang merenung tak tau kenapa
sang guru pun mendekatinya dan bertanya.
“Hai nak nampanya belakangan ini bapak sering melihatmu murung kenapa nak
ada masalah apa? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini?”
Lalu Bayu menjawab pertanyaan gurunya, “Guru,
belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Sejak
orang tua saya meninggal karena kecelakaan waktu itu seperti masalah tak ada habis-habisnya
menimpa saya guru.
Sang guru tersenyum dengan penuh kasih. Sang guru pun
berkata pada muridnya, “Nak, ambilkanlah aku
segelas air dan dua genggam garam!” lalu bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana
hatimu .
”Bayu pun beranjak
pelan tanpa semangat seakan tak ada semangat hidup lagi. Ia laksanakan
permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta sang guru.
“Cobalah ambil
segenggam garam dan masukan ke dalam
segelas air,” kata sang guru. “Setelah
itu minumlah airnya sedikit demi sedikit. “Si muridpun melakukanya. Wajahnya
kini meringis karena meminum air asin. ”Bagaimana rasanya?” tanya sang guru.
“Asin dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah masih meringis.
Sang Guru tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
Tanpa basa basi sang guru mengajak muridnya ke sebuah
danau “Sekarang kamu ikut aku.” Sang guru membawanya ke danau di dekat mereka. ”Ambil
garam yang tersisa dan tebarkanlah ke danau.
”Si murid menebarkan segenggam garam sisa ke danau
tanpa bicara apapun. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan
rasa asin dimulutnya, tapi tak dilakukanya. Tak sopan rasanya meludah di hadapan
sang Guru
Lalu sang guru menyuruh Bayu meminum air danau itu
kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat
dipinggir danau. Si Bayu menangkupkan kedua tanganya, mengambil air danau dan meminumnya. Ketika air
dingin segar mengalir di tenggorokannya, sang guru
pun bertanya kepada Bayu, gimana rasanya
Bayu.
“Segar, segar sekali,” kata Bayu sambil mengelap bibirnya. Tentu
saja air danau ini berasal dari sumber mata air diatas sana. Dan airnya mengalir
menjadi sungai kecil dibawah.
“Terasakah rasa garam yang kau taburkan?” tanya sang Guru.
“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air minumnya
lagi. Sang Guru hanya tersenyum dan membiarkan muridnya mengambil minum sampai
puas.
“Nak Bayu,” kata sang Guru setelah muridnya selesai minum
segala masalah di dunia ini tak lebih dari segengam garam.
“Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam.
Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau hadapi dalam hidupmu itu sudah
dikadar oleh Allah,sesuai dengan kemampuan mu, nak. Jumlahnya tetapi
segitu-gitu aja tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir
ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi
yang terbebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam mendengarkan. ”Nak, Rasa ‘asin’ dari
penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu (hati) yang
menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas.
Jadikan qalbu dalam dadamu itu sebesar danau.”
“Dan lupakan masalah yang selama ini mengganggumu! Hadapilah
dengan punuh semangat. Toh, kamu yang akan mendapatkan hasilnya,” kata sang Guru.
Lalu si murid pun menyadari bahwa selama ini dia hanya bisa mengeluh dan mengeluh tak ada yang bisa di perbuatnya selain
mengeluh. Akhirnya dia sadar bahwa semua cobaan yang diterimanya adalah
pemberian Allah dan Allah tak akan mungkin memberikan cobaan kepada umatnya
melebihi kemampuan yang dimiliki seorang umatnya.
Akhirnya lambat laun, Bayu sadar apa yang telah ia
perbuat selama ini Bayu yang tadinya hanya murung saja kini sudah kembali ceria
dan mulai menjalankan aktivitasnya kembali.
***
Indahnya
Bulan Ramadhan
Karya: Siti Rahma Wati
Bulan
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah. Bulan yang selalu
ditunggu-tunggu umat manusia, khususnya yang beragama Islam. Begitu juga dengan
Aii. Walaupun Aii seorang anak yang usil dan nakal, tetapi dia senang pada saat
bulan Ramadhan tiba. Keluarga Aii pun termasuk keluarga yang kaya. Sehingga
apapun diminta Aii selalu dibelikan oleh kedua orang tua Aii. Aii pun
bersekolah di SMP favorit yang siswanya termasuk kaya semua.
Tetapi
ada satu anak di kelasnya kurang mampu. Dia masuk di SMP itu karena dia pandai,
santun, dan jujur. Maka dari itu, dia mendapat beasiswa. Dia adalah Fariz,
seorang laki-laki yang mungkin kurang sempurna tangannya karena beberapa tahun
yang lalu dia tertabrak sepeda motor saat berangkat ke sekolah.
Walaupun
begitu dia tetap bersyukur karena hanya tangan kirinya yang kurang sempurna,
bukan tangan kanannya. Fariz pun sering diejek oleh Aii. “Kamu tidak pantas
sekolah di sini karena kamu anak miskin!,” begitulah ejekan yang sering dilontarkan Aii
kepada Fariz. Walaupun diejek begitu, Fariz tetap bersabar. Sebenarnya Aii
merasa iri kepada Fariz karena Fariz pintar, tidak sombong, santun, jujur., dan
pemaaf. Tetapi, Aii merasa gengsi untuk mengakui itu semua.
Saat makan sahur, Aii baru teringat
kalau nanti pagi ada ulangan IPA. Padahal malam harinya Aii tidak belajar
karena sIbuk bermain PS. Maka cepat-cepat Aii menyelesaikan makan sahurnya dan
membuat contekan. Hari itu, puasa hari pertama dimulai. Dan tepat di hari itu,
ada ulangan IPA. Lain lagi dengan Aii. Setelah makan sahur dan shalat subuh,
Fariz lalu belajar IPA. Setelah belajar IPA, Fariz pun segera mandi dan
berangkat ke sekolah. Tepat pukul 07.00 bel tanda masuk berbunyi. Dan Bu Soman,
Ibu Guru yang mengampu mata pelajaran IPA datang. Ulangan IPA pun dimulai.
“Siapapun
yang ketahuan mencontek, akan Ibu beri hukuman. Hukumannya adalah membuat surat
pernyataan yang ditanda tangani oleh orang tua masing-masing!” Bu Soman menjelaskan.
Saat
melihat bentuk soal yang telah diedarkan oleh ketua kelas, Fariz pun segera
mengerjakan soal itu karena yang dipelajari oleh Fariz keluar semua. Sedangkan
Aii sIbuk mengawasi Bu Soman dan mencari contekan. Setelah menemukannya, Aii
segera menulis jawabannya. Setelah mengerjakan semua soal yang diberikan, Aii
segera mengumpulkan soal dan jawaban ke depan kelas tanpa mengeceknya dahulu
dan segera keluar. Beda dengan Aii. Setelah selesai mengerjakan soal yang
diberikan oleh Bu Soman, Fariz mengecek jawabannya satu per satu.
Setelah
yakin dengan jawabannya, Fariz segera mengumpulkan soal dan jawaban ke depan
kelas dan keluar. “Pasti aku dapat nilai 100,” kata Aii dengan yakin dan sombong.
“Kita lihat saja nanti Ai,” jawab Fariz. Saat semuanya selesai
mengerjakan, Aii, Fariz dan beberapa teman yang lain masuk ke kelas.
Saat
Bu Soman membagikan hasil ulangan IPA, Aii kaget. Ternyata ia mendapat nilai
50. Sementara Fariz mendapat nilai 100. Aii menuduh kalau Fariz telah
mencontek. Ternyata tuduhan itu tidak benar. Setelah diteliti, Aii hanya
mengerjakan soal 10 nomer di lembaran depan dan 10 nomer di belakang tidak
dikerjakannya.
Tak
terasa puasa Ramadhan telah dilaksanakan dan tinggal lima hari lagi menuju hari
kemenangan. Aii lalu minta dibelikan sepeda motor. Orang tua Aii pun membelikan
Aii sepeda motor. Dan saat itulah Fariz sedang berjalan sepulang dari membantu Ayahnya
di ladang. Aii dengan sombongnya lewat di samping Fariz dan mengejek Fariz.
“Awas
motor baru mau lewat,” kata Aii dengan
penuh kesombongan.
Fariz
pun menjawab, “Hati-hati kalo mau naik motor Ai!”
“Diam
saja kamu!” balas Aii.
Aii
pun melajukan motornya dengan kencang tanpa memedulikan nasehat Fariz. Saat
sampai di perempatan, tiba-tiba ada motor yang melaju dengan kencang dari arah
yang berlawanan dengan Aii. Tanpa bisa menghindari motor itu, akhirnya terjadi
kecelakaan.
Aii
pun segera dibawa ke rumah sakit oleh warga di sekitar tempat kejadian itu.
Setelah Aii siuman, di samping ranjang ada Fariz dan orang tua Aii. Aii
berterima kasih kepada Fariz karena sudah mau menjenguknya. Aii telah sadar
akan perbuatannya dulu. Selama dirawat di rumah sakit, Farizlah yang
sering-sering menjenguk dan menunggui Aii. Setelah sembuh, Aii meminta maaf
kepada Fariz karena sudah jahat kepadanya. Dan tepat pada akhir Ramadhan Fariz
dan Aii menjadi sahabat.
“Ramadhan
kali ini memang indah karena aku sudah sadar dan mendapat sahabat terbaikku,” batin Aii.
***
Semangat Ayah Membangkitkanku
Karya
: Syifa Salsabila Wahyudi
Minggu pagi yang cerah ini, aku
duduk di sebuah bangku taman yang sangat indah. Hanya ada aku dan sahabatku,
Ont. Ont adalah sebuah sepeda onthel yang bapak berikan padaku. Karena sudah
sembilan tahun hidup bersama keluargaku, aku menganggap Ont sebagai sahabat ku.
Ont adalah kado karena aku bisa masuk di SMP 111 yang tergolong SMP favorit. Jarak rumah
sampai sekolah hampir enam kilometer. Walaupun lumayan jauh aku tetap harus
bersemangat. Agar cita-cita ku esok tercapai. Ayahku bekerja di sebuah rumah
makan. Dan Ibuku, meninggal saat aku umur delapan tahun. Sebagai anak tunggal,
aku harus patuh kepada Ayah.
Aku ingat, dulu waktu masih
kecil aku diajari Ibu melukis. Karya-karyanya Ibu sangatlah bagus. Saat aku
mencoba melukis seperti Ibu, tiba-tiba ia terpeleset saat ia mau mengambilkan
cat air untukku. Ternyata kejadian itu membuat Ibu meninggal. Saat itu Ayah
sangat marah padaku. Karena aku, Ibu meninggal. Semua peralatan ku melukis
dibakar oleh Ayah. Dan aku tak boleh melukis lagi. Itu akan mengingatkan Ayah
pada Ibu.
Jam ditanganku menunjukkan
pukul 5 sore. Ini adalah waktunya pulang.
“Sudah sore Ont, kita pulang yuk!” ajakku kepada Ont.
Aku takut pulang terlambat
karena Ayah sering memarahiku. Aku ingat kalau aku punya PR matematika. Sampai
dirumah segera aku masukkan Ont ke garasi dan segera mandi. Setelah itu aku
belajar dan mengerjakan tugas matematika dari Bu Guru. Buatku, matematika
adalah pelajaran yang sangat rumit. Pakai hitung-hitungan lah, rumus lah,
sampai-sampai aku dIbuat bingung. Walaupun aku sudah kelas 8 memang, dari SD
aku memang lemah dalam matematika. Karena aku senang melukis dari pada
hitung-hitungan. Karena tugas ini sangat susah, aku bertanya pada Ayah. Karena
dulu Ayah pintar matematika. Lalu, aku menghampiri Ayah yang
“Ayah, bolehkah aku bertanya?” tanyaku
pada Ayah. “Tanya apa? Matematika pasti?” tebak Ayah. “Benar yah. Maafkan aku
kalau setiap hari aku bertanya pada Ayah.” jawabku lirih. “Bagaimana sih kamu
ini? Sudah di sekolahkan di sekolah favorit tetap saja kamu bodoh dimatematika.
Apa saat pelajaran kamu tidak pernah memperhatikan guru? Kalau tidak jelas
tanya dong sama gurunya. Apa sih susahnya? Setiap ada tugas selalu tanya Ayah! Ingat, kalau besok ada tugas lagi dan kamu
tanya sama Ayah. Berhenti saja kamu sekolah!” bentak Ayah. Karena kata-kata Ayah,
air mataku tak kuasa menetes. Langsung aku lari ke kamar.
Ku kunci pintu kamar dan aku
menangis kencang. Kata-kata Ayah sungguh menyayat hatiku. Andai saja Ibu masih hidup. Pasti Ibu lebih
mengerti aku. Pasti Ibu juga akan mendukungku menjadi seorang pelukis hebat.
Tidak seperti Ayah yang terus menyuruhku menjadi seorang sarjana. Dan entah tau
sarjana itu mau dibawa kemana. Malam ini aku sangat marah dan sebal pada Ayah.
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Ku coba keluar dari pintu dan melihat
ke kamar Ayah. Ku buka pintu kamar Ayah, ku lihat Ayah sudah tidur. Aku berniat
untuk kabur dari rumah. Segera aku keluar menuju garasi dan mengambil Ont untuk
kabur. Entah kemana aku ingin kabur. Pikiranku sangat kacau. Di perjalanan air
mataku terus mengalir deras. Karena teringat kata-kata Ayah yang menyakitkan.
“Kenapa sih, aku harus nggak
bisa matematika? Kenapa? Kenapa?” teriakku sambil mengAyuh sepeda. “bukankah
semua orang memiliki kemampuan yang berbeda? Tapi kenapa Ayah selalu memarahiku
karena aku tak bisa matematika? Ayah sungguh kejam!!” itulah kata-kata yang
terucap dari mulutku. Tiba-tiba di depan ada sebuah truk yang melaju kencang
dari arah yang berlawanan dariku. Supir truk itu menginjak remnya saat aku
berada 30 cm darinya. Aku tak bisa menghindar dan ...
Gubrakkkk...
Terbukalah mata ini secara
perlahan. Melihat suasana yang sungguh berbeda. Ku lihat Ayah duduk disebelah
ranjangku.
“Ayah?” rintihku.
“Syukurlah, Nak, kamu sudah
sadar. Kamu koma selama dua hari kemudian Ayah membawa pulang kamu dari rumah
sakit. Kenapa malam itu kamu kabur dari rumah?” tanya Ayah.
“Maafkan aku, Yah. Aku tak
kuasa meredam amarahku. Ayah, kenapa rasanya sakit sekali jika aku menggerakkan
kakiku. Kenapa yah?” tanyaku pada Ayah.
Tiba-tiba raut muka Ayah
berubah. “Sebenarnya Ayah tak tega memberitahumu.”
“Kenapa yah?”
“Kaki kamu diamputasi nak,” kata Ayah sambil meneteskan air mata.
“Maafkan Ayah nak, Ayah salah
karena telah memarahimu. Ayah janji tidak akan memarahimu karena kau tidak bisa
Matematika. Ayah sadar, setiap anak itu berbeda-beda kemampuannya.”
Aku kaget mendengar ucapan Ayah
kalau aku ini sekarang cacat. Aku tak punya kaki lagi karena kecelakaan itu?
Kata-kata Ayah membuatku terharu.
“Apakah Ayah mengizinkanku
untuk menjadi seorang seniman?” tanyaku.
“Hmm.. bagaimana ya? Boleh deh
kalau gitu. Tapi kamu janji sama Ayah. Jadilah pelukis yang hebat. Yang bisa
membuat Ayah bangga padamu,” jawaban
dari Ayah membuat ku bangkit dari kekurangan ku ini.
“Yang benar saja, Yah? Tapi kan,
aku tidak punya alat lukis seperti dulu yang pernah Ayah buang?”
“Tenang saja, Ayah sudah
menyiapkannya di ruang tengah. Mungkin ini memang sudah jalannya Ayah melupakan
Ibumu yang sudah meninggal.”
Keluar kamar aku tak sabar ingin
mencoba melukis lagi seperti lima tahun yang lalu. Walaupun susah aku tetap
mencoba. Hasil pertama sungguh jelek. Namun aku tak putus asa. Sudah tiga bulan
ini aku menyesuaikan diri dengan keadaanku. Hasilnya aku sudah bisa
menghasilkan 50 lukisan. Sebagian ada yang Ayah pajang di rumah makan. Karena Ayah
memamerkan hasil karyaku kepada pemilik rumah makan itu. Dan tak
disangka-sangka, lukisan ku dibeli orang asing. Karena orang itu sangat suka
lukisanku, dia membeli semua lukisanku.
Beberapa tahun kemudian aku
menjadi seniman yang dikenal di dalam negeri dan diluar negeri. Ayah sangat
bangga sekali padaku. Dan akhirnya, harapan Ayah terwujud. Walaupun aku cacat,
aku masih bisa berkreasi. Terimakasih Ayah, engkaulah penyemangatku. Aku juga
berpesan kepada orang yang sama seperti aku, kita memang cacat. Tapi janganlah
kalian berkecil hati dengan kondisi yang tidak sempurna. Kita bisa berkarya
melebihi orang-orang yang sempurna. Terus semangat kawanku.
***
Mengembalikan Kepercayaan Mama
Karya:
Wakhid Rohmat Nur
Rifai
Minggu pagi, Anton dan Rudi
pergi bersama keliling kota. Mereka menaiki bus kota. Mereka memang sudah lama
tidak keliling kota dengan menaiki bus. Bus yang mereka tumpangi hapir sampai
di dekat rumah mereka.
“Hampir sampai, nih!” Rudi
menepuk bahu Anton yang dari tadi bengong.
“Astaga!” Anton menepuk dahinya.
“Kenapa, Ton?” Rudi heran.
“Aku lupa minta ongkos pada Mama,” Anton kebingungan.
“Ya sudah, pakai uangku saja,” Rudi
memutuskan
Begini jadinya kalau terlambat
bangun, batin Anton. Pergi terburu-buru, tanpa sarapan, dan yang paling parah,
ya itu, lupa minta uang pada Mama. Mama sepertinya juga lupa.
Tadi malam Anton memang susah
tidur. Dia terus memikirkan sikap Mamanya yang menilai kalau Anton itu
pemboros, tidak pandai mengatur uang dan masih banyak yang lainnya.
“Mama payah Di! Tidak mau
memberiku saku bulanan, padahal kan
repot kalau urusan seperti ini, kalau kejadian seperti ini terjadi. Untung ada
kamu Di.” Anton mengucapkan kekesalannya saat mereka turun dari bus kota.
“Kamu masih untung dapat uang
saku harian. Coba kalau tidak sama sekali, kan lebih parah!” kata Rudi.
“Mungkin Mama kamu punya
pertimbangan lain tentang kamu,” sambung
Rudi.
“Pertimbangan apa? Pertimbangan
pelit?” kata Anton.
“Ya, mungkin kamu melakukan
kesalahan sehingga Mamamu menganggap kamu pemboros. Coba ingat-ingat,” kata Rudi.
“Mmm, aku memang pernah
melakukan kesalahan. Dulu aku selalu diberi uang saku mingguan. Tetapi pada
hari keempat uang sakuku sudah habis. Makanya dari peristiwa itu Mamaku kemudian
memberi aku uang saku harian,” Anton
menceritakan peristiwanya.
“Nah, itu kamu tahu
penyebabnya. Jadi memang ada alasannya, kan, Mamamu tidak memberi kamu uang
saku bulanan,” sambung Rudi.
“Tapi, itukan dulu Di! Masa
sekarang Mama masih belum bisa mempercayai aku?” kata Anton ragu.
Rudi tersenyum, ”Anton, kamu harus mengembalikan kepercayaan Mamamu
dengan melakukan sesuatu.”
“Melakukan apa?” tanya Anton.
“Coba kamu sisihkan sebagian
uang sakumu setiap hari. Tunjukkan ke Mamamu kalau kamu bisa mengatur uang.
Mudah-mudahan Mama kamu akan berubah pikiran tentang kamu,” saran Rudi.
Anton pun menurut sama saran
Rudi. Ia kemudian menyisihkan sebagian uang sakunya setiap hari. Tanpa terasa
sudah tiga minggu ia menabung.
“Ah....” Anton merasa lega. Ia memandangi lembaran uang
yang ada di kotak celengannya. “Coba dari dulu aku menabung,” Anton bergumam.
“Tak perlu menyesal. Tak ada
kata terlambat untuk melakukan kebaikanmu,” suara mamanya terdengar merdu. Anton menoleh.
“Mama...”
Mama tersenyum sambil mengusap
rambut Anton. “Mama tahu kalau kamu sedang berusaha berubah. Diam-diam Mama
selalu mengikuti apa yang kamu lakukan.”
“Terima kasih, Mama.” Anton
menggaruk-garuk kepalanya.
“Mulai besok kamu akan mendapat
uang saku bulanan. Jadi kalau kamu lupa bawa uang ongkos, bukan tanggung jawab
Mama lagi,” Mama menjentik hidung Anton.
Anton kemudian memeluk Mamanya.
Ia sangat bahagia. Bukan hanya karena ia mendapat uang saku bulanan, tetapi
karena ia telah mendapat kepercayaan Mamanya lagi. Walaupun kepercayaan
tersebut sempat hilang sesaat.
***
Untuk Yang Terindah
Karya:
Wiwit Yuni Astuti
Teman-temanku pun mendekapku
yang sedari tadi menangis. Dan ketika itu, aku melihat sahabatku tak bernyawa
lagi.
Kring
… kring … kring …
“Waaa … !!” alaramku tiba-tiba berbunyi sontak aku
menjerit. Ibu pun menghampiriku.
“Ada apa Nak? Kok pakai menjerit
segala, keringatan lagi?” tanya Ibu.
“Tak apa kok Bu, hanya mimpi …
huft!!” jawabku.
“Ya sudah. Mandi dulu sana biar
Ibu yang bereskan kamarmu!” suruh Ibu.
“Kakak sudah mandi?” tanyaku pada Ibu.
“Sudah! Baru saja selesai.”
Aku pun dengan lemas menuju
kamar mandi.
Ku
cepatkan langkahku, ketika ku melihat sebuah gerbang Sekolah bertuliskan SMP N
BINA BANGSA. Yah, itulah sekolahku. Aku pun tak henti-hentinya memikirkan
mimpiku tadi. Dan berharap itu hanya bunga tidur saja.
Di
pintu kelas, aku menyapu pandangan ke dalam. Yang aku cari hanyalah sahabatku
Dhea. Namun, jam kelas sudah menunjukkan pukul 06.55, yang artinya 5 menit lagi
bel berbunyi. Namun, Dhea tetap belum terlihat juga. Biasanya, ia selalu
berangkat pagi sebelum aku masuk, ia pasti sudah ada.
Bel
pun berbunyi dan kulihat di gerbang, tidak ada siswa yang terlambat. Sekretaris
pun menyatakan Dhea alfa. Ku berharap Dhea baik-baik saja.
Keesokan
harinya, ku lihat Dhea sedang membaca buku di halaman kelas. Karena, dia
sendiri, aku pun menghampirinya.
“Hai Dhea! Kamu baik-baik saja,
kan? “Sapaku. Dhea pun menatapku tajam dan segera menutup buku karena, bel pun
berbunyi. Aku mengikuti Dhea masuk ke kelas. Namun, Dhea menuju bangku belakang
dan duduk bersama Ina, serta melewati bangku tempat dudukku dan Dhea. Ia telah
berubah ! sadarku. Aku pun mencoba mengerti.
Tiap
harinya Dhea begitu acuh padaku. Aku pun menaruh curiga padanya. Hingga ketika
suatu sore, aku mengajak kakakku jalan-jalan, kebetulan aku bertemu dengan Ibunya
Dhea yang pulang dari Kantor. Ia membawa tas kantor disebelah kanan dan tas-tas
belanja disebelah kiri. Kurasa ia juga habis berbelanja. Tanpa pikir panjang
aku mendekatinya dan membantu.
“Selamat sore, Bu! Bisa saya
bantu?” tawarku.
“Oh iya, Nia. Boleh saja!
kebetulan ya bisa bertemu. Makasih loh, Nak !” ucap Ibu Dhea.
“Ya tak apa-apa kok Bu. Sekalian
olahraga biar sehat. Hehe ...”
“Iya sih, Nak! nggak enak Ibu
sudah ngrepotin kamu.”
“Tidak kok Bu.”
“Dik, Tante, saya pulang dulu
ya! Masih banyak tugas yang harus ku selesaikan!” kata kakak.
“Ya Kak hati-hati!”
“Ya, tak apa!” kata Ibu Dhea.
“Bu saya boleh tanya tentang
Dhea enggak, Bu?”
“Boleh saja, Nak! memang mau
tanya apa?”
“Ini Bu, kok akhir-akhir ini
Dhea berubah, ya, Bu sama aku? Dhea menghindar terus dari aku! Apa Dhea sedang
punya masalah Bu?”
“Loh? Gitu ya Nak? Namun,
hubungan keluarga Dhea baik-baik saja nih, Nak! Ibu pun tak merasa Dhea
berubah. Ya, bila anak saya Dhea punya salah sama kamu dimaafkan ya!” jelas Ibu Dhea.
Aku
pun hanya mengangguk. Sesampainya, di rumah Dhea. Aku tak melihat sosok Dhea.
Mungkin ia sedang pergi, pikirku. Aku pun menaruh tas belanjaan Ibu Dhea dan
segera berpamitan.
“Oh ya Bu! Karena sudah sore.
Saya pamit pulang dulu ya Bu, salam buat
Dhea!” kata ku.
“Iya Nak. Terimakasih banget,
loh nak sudah mau di repotkan Ibu. Ya nanti saya sampaikan!”
“Ya saya permisi dulu ya Bu!”
“Ya Nak, Hati-hati!” kata Ibu Dhea.
***
Aku bergegas menuju kelas pagi ini
karena, hari ini adalah jadwal piket ku. Namun, halaman kelas ku sepi. Pintunya
juga tertutup. Tanpa ragu ku buka pintu itu.
“Selamat ulang tahun Nia!” ucap Dhea dan diikuti seluruh teman-temanku.
Aku pun hampir lupa bahwa hari ini, hari
ulang tahun ku. Aku pun mengerti sikap Dhea yang kemarin berubah sekarang sudah
kembali. Senang rasanya! Dhea pun memelukku juga teman-teman ku. Aku tak kuasa
membendung tangisku. Aku terharu dengan apa yang Dhea dan teman-temanku buat.
“Terimakasih Dhea! Terimakasih teman-teman!
Kalianlah semangatku … “ ucap ku.
“Nia, aku minta maaf ya soal kemarin! Aku
menghindar terus dengan mu!”
“Tak apa! Aku mengerti kok!”
“Untuk yang terindah! Dan untuk selamanya!”
ucapku dan Dhea.
Teman-temanku pun bersorak-sorai, “Yyyeeee
... !!!”
***
terima kasih untuk my friend 9b,maaf sebelumya belum izin untuk mempublikasikan karya temen temen semua.semoga bermanfaat bagi semua
Langganan:
Postingan (Atom)









.jpg)
.jpg)























