Selasa, 08 Juli 2014

batik tulis jumputan

BATIK TULIS JUMPUTAN

*        Pengertian
Batik tulis jumputan adalah perpaduan dua macam batik dalam satu kain yakni batik tulis yang dalam proses pembuatanya menggunakan alat bernama canting dan batik jumputan yang proses pembuatanya cukup diikat dan dicelup warna.
*        Prosedur Membatik
a.Bahan Membatik
1) Kain Mori
Kain mori adalah kain yang dipakai untuk membuat batik, umumnya dari katun. Kualitas kain mori bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Mori yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain yang dikehendaki. Jenis kain mori yang dipakai untuk membatik adalah: kain primissima (terbaik), prima (sedang), Belacu (rendah), Belacu Abu-abu (buruk).

2) Lilin atau malam
Lilin atau malam adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam tidak habis (hilang), karena akhirnya diambil kembali pada proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik sampai batikan menjadi kain. Malam yang dipergunakan untuk membatik berbeda dengan malam atau lilin biasa. Malam untuk membatik bersifat cepat menyerap pada kain tetapi dapat dengan mudah lepas ketika proses pelorotan. Kita juga bisa membuat malam sendiri lho, bahan-bahan yang digunakan gondorukem (sejenis resin dari pohon cemara), microwax, lemak binatang, lilin kote (dari sarang tawon), parafin, mata kucing (sejenis tanaman), lilin gladagan (malam hasil daur ulang dari proses nglorod). Malam mudah didapatkan di pasar tradisional. Komposisi malam bisa berbeda dari daerah satu dengan daerah lainnya.


3) Pewarna batik
Pewarna batik adalah zat warna tekstil yang dapat memberi warna pada batik. Biasanya pewarna yang digunakan adalah warna alam dan warna sintetis. Zat warna sintetis biasanya berupa napthol, indigosol, procion,direk dan lain sebagainya.Zat warna alam berupa kulit kayu tingi, kulit kayu tegeran, kayu nangka, daun alpukat dan lain sebagainya.Namun dalam pembuatan batk tulis jumputan ini memakai pewarna indigosol yelow (kuning) 10 gr dan natrium nitrit 20gr dengan pengunci warna HCL.

b.Alat Membatik
1) Wajan
Wajan adalah alat untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja, atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa menggunakan alat lain.


2) Kompor

Kompor adalah alat untuk membuat api yang berbahan bakar minyak. Ada juga lho, kompor listrik dan kompor gas khusus untuk membatik. Kamu bisa memilih yang mana saja.

3) Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan malam panas. Canting terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya. Canting ini dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan lilin. Dunia mengakui canting sebagai alat yang lahir dari kearifan lokal asli Indonesia, bagian dari tradisi seni batik sebagai warisan budaya yang tak berujud. Canting dibuat dengan mempertimbangkan presisi agar malam yang keluar dari mulut canting dapat mengalir lancar sehingga hasil pembatikan dapat sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan kegunaannya ada 3 jenis canting: canting untuk nulis atau nglowong, canting untuk nembok, canting untuk isen-isen atau cecek. Ada juga canting cap dan canting listrik.
4)Benang Jins
 Benang jins ini berfungsi sebagai alat pengikat bentuk-bentuk tertentu pada latar kain yang akan merintangi dan menghambat teresapnya warna pada bagian-bagian tersebut.Selain iu benang jins juga berfungsi sebagai pembentuk corak dengan teknik jahit jelujur.

5)Manik manik
 Manik manik   gunakan sebagai bahan pendukung pembentuk motif pada batik jumputan.Untuk mendapatkan corak tertentu, bagian pada latar kain diisi dengan  Manik manik, yang selanjutnya memudahkan zat warna masuk kedalam pori-pori kain.


c.Proses Membatik
1) Nyorek atau Memola

Nyorek atau memola adalah proses menjiplak atau membuat pola di atas kain mori dengan cara meniru pola motif yang sudah ada, atau biasa disebut dengan ngeblat. Pola biasanya dibuat di atas kertas roti terlebih dahulu, baru dijiplak sesuai pola di atas kain mori. Tahapan ini dapat dilakukan secara langsung di atas kain atau menjiplaknya dengan menggunakan pensil atau canting. Namun agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan baik, tidak pecah, dan sempurna, maka proses batikannya perlu diulang pada sisi kain di baliknya. Proses ini disebut ganggang.

2) Mbathik

Mbathik merupakan tahap berikutnya, dengan cara menorehkan malam batik ke kain mori, dimulai dari nglowong (menggambar garis-garis di luar pola) dan isen-isen (mengisi pola dengan berbagai macam bentuk). Di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek, yaitu membuat isian dalam pola yang sudah dibuat dengan cara memberi titik-titik (nitik). Ada pula istilah nruntum, yang hampir sama dengan isen-isen, tetapi lebih rumit.

3) Nembok

Nembok adalah proses menutupi bagian-bagian yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini warna biru, dengan menggunakan malam. Bagian tersebut ditutup dengan lapisan malam yang tebal seolah-olah merupakan tembok penahan.


4) Membuat corak dengan jumputan,
 Dilakukkan dengan memegang permukaan kain dengan ujung jari. Setelah itu, permukaan kain tersebut diikat dengan kuat. Cara mengikatnya dilakukan dengan ikatan datar, miring, dan kombinasi.

6)Pewarnaan
dilakukan dengan cara memasukan seluruh bagian kain yang telah di batik dan diikat kedalam larutan warna (zat perwarna indigosol yellow + nitrit). Lalu dikunci dengan larutan HCL agar warna tidak luntur saat dicuci. . Setelah itu diangin-anginkan sampai kering. Tujuannya adalah untuk menghentikan proses perembesan zat warna kedalam lekukan kain.
7)  Melepas ikatan
Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh ikatan dengan cara memotong tali pada ikatan ikatan  yang cukup tua warnanya.
8) Nglorod
Nglorod merupakan tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik menggunakan perintang warna (malam). ke dalam air mendidih. Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering.
9)Mencuci dan menyetrika
Langkah paling akhir adalah menyetrika dan merapikan tepi kain.Namu sebelum kain disetrika sebaikknya kain dicuci terlebih dahulu.Mencuci kain sebaikna tidak menggunakan sabun,gunakanlah buah lerak atau lerakyang sudah dicairkan,dengan demikian batik akan awet.Keringkan dengan cara diangin anginkan di tempat yang teduh.Lagkah yang selanjutnya adalah menyetrika dan merapikan tepi ain.Ada beerapa cara merapikan tpi kain tergantung pada jenis barangnya,Misalnya untuk taplak meja bagian tepinya di walsoom ataupn jika ingin dibuat pakaian (busana) kain ini tidak perlu dirapikan tepinya.


Senin, 07 April 2014

kumpulan cerpen 9b smp n 1 pyg

Pedang Orion
Karya : Agresti Retno Sumantiyasmi
Kala jarak berkuasa di antara kita. Saat langit malam enggan bercerita. Tetap berteman dengan waktu yang setia merajut cinta dan asa. Juga hujan yang membantu menyamarkan air mata. Hanya angin yang mampu mengirimkan rindu ini. KegeLisahan menjelma menjadi tanya. Apakah makna semua pertanda yang menelusuk ini benar adanya? Ataukah hanya fatamorgana?
***
Orion melemparkan diri ke ranjangnya. Berharap bisa menghilangkan sedikit kepenatannya seusai menjalani sederet rutinitas di sekolah. Teriknya mentari hari ini membuat kepenatan Orion berlipat ganda. Pendingin udara yang memfasilitasi kamarnya pun belum cukup untuk melawan panasnya suhu siang ini.
Selesai mengganti seragam sekolah dengan baju rumah, Orion beranjak ke meja belajarnya. Tiga pucuk surat sudah menantinya sedari tadi. Inilah ritual wajib Orion sepulang sekolah. Berbekal dengan keahliannya dalam bergaul, Orion selalu menyegani setiap orang yang menawarkan pertemanan lewat surat. Entah siapa pengirimnya, Orion merasa berdosa jika tidak membalas surat itu. Sebenarnya bisa saja, Orion menggunakan telepon genggamnya untuk berbalas pesan. Namun Orion terlalu mencintai kegemaran surat-menyuratnya.
Dari : Brigitha Laura
Untuk : Orion Kaisar
Hai ... salam kenal! Aku Gita. Umurku 15 tahun. Aku sedang butuh teman curhat nih ... Balas suratku, ya!
Surat pertama yang dibaca Orion. Terselip foto pengirim di belakang kertas surat ungu polkadot itu. Orion tersenyum saat melihat foto pengirimnya.
Sudah biasa!, gumam Orion sembari menyiapkan kertas surat untuk menulis surat balasannya. Kesan yang biasa, juga balasan yang biasa ditulis Orion.
“Hey ... Udah sIbuk aja, nih!” seseorang mengagetkan Orion.
“Eh, Kak Rozzy! Udah pulang?” tanggap Orion.
“Kalo belum, aku nggak bakal di sini, lah.”
“Bisa aja, kalo bolos!”
“Eh, Dek, punya temen baru lagi, ya?”  Kak Rozzy mengubah topik.
“Iya, nih. Ada tiga yang baru! Cewek semua lagi.”
“Liat, donk!”  pinta Kak Rozzy.
“Ini, nih, cantik fotonya! Masih SMP lho, Kak!”  Orion memperliharkan foto-foto pengirim surat.
“Cewek-cewek yang model begitu udah biasa ... cari yang beda, donk!” protes Kak Rozzy setelah melihat salah satu foto pengirim surat. “Lagian, kenalan lewat surat! Beli hape buat apa coba?”
“Daripada situ, hobi kok nganggur!”  balas Orion tak mau kalah.
Adu mulut pun terjadi di siang bolong ini. Menambah panas suasana yang sudah panas. Biasanya, adu mulut ini tidak akan berhenti sebelum ada yang menang.
***
Tuan Cessar tengah bersantai, bernaung di bawah langit senja. Di temani segelas teh hangat dan koran yang baru dibelinya. Dimanjakan oleh semilir angin sore, Tuan Cessar menikmati waktu bersantai disela kesIbukkannya.
Halaman demi halaman pada koran habis dibacanya.  Sampai-sampai, halaman iklan pun dibacanya. Ada satu yang mencuri pandangan Tuan Cessar. Entah apa itu, hingga Tuan Cessar bernostalgia sejenak. Sembari membenarkan letak kacamatanya, Tuan Cessar kembali memastikan penglihatannya.
Apa itu dia? Ya, kurasa memang dia!, gumam Tuan Cessar.
***
Nasib baik memang sedang berpihak pada Orion. Siang ini, seperti biasa, sudah banyak surat yang mengantri di meja belajarnya. Orion menyapu pandangan pada setiap amplop yang membungkus surat-surat itu. Entah mengapa, Orion begitu tertarik pada sebuah amplop bergambar pedang dan dilatar belakangi oleh warna cokelat. Layaknya amplop yang membungkus, isi suratnya pun beda dari yang lain.
Orion, sang pemburu raksasa. Nama yang tercipta dari sebuah harapan. Perkenalkan, aku Arsa, seorang pemimpi yang tak pernah menyalahkan keadaan. Dan seorang perindu yang selalu menantikan senja merah manis untuk berbagi cerita. Kuanggap ini sebagai pembuka perkenalan kita ...
Tanpa nama lengkap, dan tanpa foto. Namun isi surat itu begitu membuat Orion tertarik. Kesan yang tidak biasa bagi Orion. Segera Orion mengambil kertas surat, dan menulis surat balasannya.
Untuk : Arsa
Senang berkenalan denganmu. Kukira, kita bisa banyak berbagi cerita. Dan kau tak perlu lagi bercerita pada senja merah manis! Karena tak akan ada jawaban yang kau dapat. Hey ... aku suka caramu bersurat! Dan aku suka sebutanmu untukku. Sang pemburu raksasa. Itu keren! Bisakah kau sedikit bersajak untukku? Aku suka gaya berbahasamu. Kutunggu surat balasanmu, ya! Bye ...
Orion Kaisar
Orion melipat kertas suratnya, dan menyelipkannya ke amplop. Hai ... Arsa! Kuharap, kau bisa menjadi inspirasiku, batin Orion. Dan sesimpul senyum pun mengembang.
***
Malam yang dingin memuarakan jiwa Tuan Cessar pada ketenangan. Secangkir teh panas masih setia menawarkan kehangatan untuk Tuan Cessar. Pohon kelapa yang melambai-lambai menaMbah lengkap waktu bersantai Tuan Cessar. Suasananya lebih indah dari melihat adegan romantis dalam gerak lambat.
Tuan Cessar memandangi secarik kertas yang lama ditunggunya. Kata demi kata mulai habis dibacanya. Senyum penuh kebahagiaan selalu mengiringi setiap aksara yang memenuhi kertas tersebut. Setiap aksara yang penuh akan makna. Seakan kegelapan yang mendamba lentera, Tuan Cessar mendekap erat kertas yang tadi dibacanya.
Kau memang belum berubah. Tunggu aku sampai di hadapanmu. Itu janjiku, batin Tuan Cessar.
***
Cari pedangmu dan perseMbahkan kepada sebuah penantian.
Temukan jawaban pada malam ketiga setelah sebuah pertanda.
Di malam saat dirimu menunggu di singgasana tertinggi.
Arsa.
“Bahasanya terlalu tinggi,” komentar Kak Rozzy.
“Aku yakin, ini pasti punya makna,” ujar Orion tanpa mengalihkan pandangan dari kertas surat yang digenggamnya.
“Apa?”
“Entah. Tapi ini seperti teka-teki. Aku harus memecahkannya!”
“Sepertinya bakal susah.”
“Tunggu, Kak. Aku tau betul asal namaku. Orion itu juga nama sebuah rasi bintang. Katanya ... Orion memang punya pedang. Jadi ... mana pedangku?”
“Bisa jadi ... maksud pedang di situ bukan apa, tapi siapa. Jadi, kalau kita ubah pertanyaan menjadi siapa pedangmu, masuk akal, kan?”  ujar Kak Rozzy membenarkan.
“Cerdas! Sepertinya, aku sudah tau siapa pedangku. Pedang yang setia melindungiku, menguatkanku, dan membuatku berani menyerang. Pedang yang sangat berarti bagi hidupku,”  kata Orion sembari mengembangkan senyum penuh kemenangan.
“Siapa?”
***
Temukan jawaban pada malam ketiga setelah sebuah pertanda.
Orion mengernyit, berusaha mencerna sebaris kalimat tersebut. Mencoba memecahkan makna yang pasti terselip dari kalimat itu.
“Apa maksud kata pertanda di situ, ya?”  tanya Orion pada dirinya sendiri, “pertanda apa yang kudapat?”  imbuhnya.
Orion terus memutar otak. “Pertanda ... pertanda ... Sesuatu yang terasa berbeda. Um ... sepertinya tidak ada, kecuali ... surat ini. Ya! Itu dia! Surat ini! Surat ini adalah pertanda itu!” gumam Orion, “dan malam ketiga setelah pertanda ini. Berarti, malam ketiga setelah surat ini dikirim. Hari ini sudah malam kedua. Jadi, malam ketiga itu besok!”  seru Orion girang.
Di malam saat dirimu menunggu di singgasana tertinggi.
Kalimat terakhir yang karus dipecahkan Orion. Sekali lagi, kalimat itu mengundang rasa penasarannya.
“Aku menunggu di singgasana tertinggi? Kapan? Oiya ... aku Orion! Mungkin maksudnya saat rasi bintang Orion ada di tempatnya. Sekarang pertengahan bulan Januari. Tanggal ketika rasi bintang Orion ada pada puncaknya. Aku baru saja menyelesaikan teka-teki ini! Yeah!”  seru Orion, puas dengan jawaban yang didapatnya.
“Berarti, aku harus memberikan jawaban siapa pedangku, kepada sesuatu yang sedang kunantikan. Sesuatu itu akan datang besok, saat bintang Orion bersinar terang. Yesss...”  sorak Orion kegirangan.
***
Gelap gulita. Itulah pemandangan yang kini memenuhi pandangan Tuan Cessar. Dari dalam kereta api yang sedang melaju, pikirannya terus bernostalgia. Berusaha menahan rindu yang terus membayang. Demi sesuap nasi, Tuan Cessar rela meninggalkan rumah hingga berbulan-bulan dan mengadu nasib di kota orang. Kini, pikirannya pun terus tertuju pada keluarga di rumah. Terlebih pada kedua putranya, Rozzy dan Orion.
Sabarlah Orion, sebentar lagi kau akan dapatkan jawabannya, batin Tuan Cessar.
***
Malam ini Orion menepati apa yang diminta dari surat balasan Arsa. Sejak cakrawala diambil alih bulan, Orion sudah termenung di kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Tidak kurang dari tiga jam Orion dengan sabar menunggu. Tapi penantiannya belum menghasilkan apapun.
“Udah, lah, Dek. Mungkin surat dari Arsa itu hanya omong kosong! Tahu apa dia tentang hidupmu? Don’t waste your time, Bro!”  kata Kak Rozzy yang tak tega melihat adiknya menyita banyak waktu hanya untuk jawaban misterius dari surat itu.
“Enggak, Kak. Aku yakin, pasti ada arti dari surat itu. Siapa tahu, Arsa memang bukan orang biasa?”  sangkal Orion.
“Oke, kalau itu mau kamu. Semoga penantianmu nggak sia-sia, ya. Good luck,”  kata Kak Rozzy sebelum meninggalkan Orion yang masih bertopang dagu menatap langit malam.
Dengan menahan kantuk yang sudah luar biasa, Orion tetap menunggu “keajaiban” yang dijanjikan Arsa malam ini. Namun kini Orion ada pada dua diandra yang berbeda. Merasa dilema mulai menyergapnya. Putus asa mulai menggoda dirinya. Jarum jam sudah ­menunjukkan waktu pukul setengah dua belas malam. Belum ada sesuatu yang menjadikan malam ini istimewa.
Sepertinya benar apa kata Kak Rozzy. Surat Arsa itu hanya omong kosong. Aku sudah banyak membuang waktuku demi ini. Dan kuputuskan untuk mengakhirinya, batin Orion yang sudah putus asa.
Baru saja Orion hendak menyentuh ranjangnya, seseorang mengetuk pintu dari luar. Diurungkannya niat untuk merebahkan diri di ranjang, dan segera menuju pintu kamar yang terus-menerus diketuk. Siapa yang mampir ke kamarku malam-malam begini? Kuharap, yang mengetuk itu manusia, bukan makhluk lain, ujar Orion dalam hatinya.
Pintu kamar dibuka, mata Orion membulat seketika. Senyumnya tidak hanya sekedar senyum simpul.
“Ayaaaahh...!”  seru Orion tak percaya sembari memeluk Tuan Cessar.
“Iya, Orion. Ini Ayah,”  Tuan Cessar membalas pelukannya.
Di hadapan Ibu dan Kak Rozzy, Orion meneteskan air mata di pelukan Tuan Cessar. Begitu pelukkan dilepas, Tuan Cessar seperti ingat sesuatu.
“Oiya, kau ingat ini Orion?”  tanya Tuan Cessar seraya mengeluarkan tiga kertas surat bergambar pedang bewarna cokelat. Tentu, Orion sudah tak asing dengan itu.
“Itu kan ...”  Orion terheran.
“Cari pedangmu dan perseMbahkan kepada sebuah penantian. Temukan jawaban pada malam ketiga setelah sebuah pertanda. Di malam saat dirimu menunggu di singgasana tertinggi,”  ujar Tuan Cessar, dan diakhiri seutas senyum penuh makna.
“Jadi ... Arsa itu ...”  kata-kata Orion terbata karena tak percaya.
“Iya, Arsa itu Ayah. Kau memasang iklan sahabat pena di koran, kan? Ayah masih hafal dirimu, Nak,”  jelas Tuan Cessar.
“Dan aku berhasil memecahkan tiga kalimat Ayah tadi. Aku menemukan pedangku, dan akan kukatakan pada penantianku. Iya, penantianku menunggu Ayah, dan pedangku adalah Ayah. Ayah adalah senjata yang selalu melindungiku, menguatkanku, dan membuatku berani menyerang. Itu jawabanku, Yah,”  tutur Orion.
“Ayah bangga padamu. Juga kau, Rozzy. Amanah yang Ayah titipkan untuk selalu menjaga Orion sudah kau laksanakan,”  Tuan Cessar melempar pandangan kepada Kak Rozzy. Kak Rozzy pun membalas dengan senyuman dan anggukan kecil.
“Ayo kita rayakan dengan pesta tengah malam!”  seru Ibu tak mau kalah.
“Yeeeyy ...”
Dalam benaknya, Orion berkata, malam ini, benar-benar malam teristimewa dalam hidupku. Aku benar-benar menemukan hasil dari sebuah penantian. Tak salah aku berkiblat pada kalimat, “semua akan indah pada waktunya.”  Dan terlalu sulit untuk menjelaskan perasaanku saat ini. Dari semua rasa yang hadir, kukemas menjadi satu kata: bahagia.
***









Teman Baik Untuk Salma
Karya : Ainun Marifah
Pagi yang indah. Butiran embun masih tersisa di hijaunya tanaman yang indah dan tertata  rapi di halaman rumah Salma. Kicauan burung pipit yang berada di samping seakan –akan ingin mengajak orang yang berada di dalam rumah untuk menikmati indahnya dan sejuknya udara di pagi hari.
            Di dalam rumah terlihat Bunda sedang sIbuk menyiapkan sarapan pagi. Sementara itu di dalam kamar salma sedang memakai seragam dan sepatu. Setelah itu dia langsung melihat ke cermin apakah memakainya sudah rapi atau belum.
“Salma, sarapan sudah siap,”  panggil Bunda dari ruang makan.
“Bunda, nanti Salma diantar ke Sekolah sama siapa?”  tanya Salma kepada Bunda. Setelah itu dia duduk di kursi depan Ayahnya. Bunda tersenyum. “Ya sudah nanti Salma berangkatnya diantar Ayah sekalian berangkat ke Kantor,”  kata Ayah.
            “Jangan lupa ya, Salma nanti bersikap dan berucap yang baik kepada teman dan Bapak Ibu Guru,”  nasehat Bunda. Mendengar nasehat Bunda Salma hanya menggangguk  dan mengacungkan jempolnya. Ayah pun tersenyum melihat tingkahlaku Salma.
* * *
            Sesampainya di Sekolah Salma Masuk ke Kelas. Beberapa saat kemudian bel masuk pun berbunyi dan Ibu Guru masuk ke Kelas.
            “Anak-anak hari ini adalah hari pertama kalian masuk. Tentu kalian belum kenal satu sama lain,”  kata Bu Guru mengawali pelajaran pertama hari ini.
“Ibu minta diantara kalian ada yang mau memperkenalkan diri terlebih dahulu, dan dilanjutkan yang lain dengan maju satu-persatu. Ayo siapa yang berani maju?”  tanya Bu Guru.
            Salma dan teman-teman masih terlihat malu-malu. Kelas pun menjadi sunyi. Ditengah kesunyian itu terdengar ketukan pintu kelas. Kemudian Bu Guru membukanya. Dibalik pintu muncul anak perempuan seusia mereka. Dia memakai kerudung, dan kacamata minus menghiasi wajahnya yang biasa-biasa saja tidak terlalu cantik. Ternyata dia pincang dikaki kiri.
Salma dan teman-teman termasuk Bu Guru tercengang melihatnya. Berbagai macam pikiran memenuhi kepala mereka masing-masing.  ada yang melihat kasihan, kagum, dan ada yang mengejeknya.
            “Maaf, Bu Guru saya terlambat,”  ucapnya sambil menunduk. “Tidak apa-apa. Tetapi lain kali diusahakan jangan terlambat lagi, ya!” tegur Bu Guru.
            “Silahkan cari bangku yang masih kosong,”  kata Bu Guru mempersilahkannya. Kemudian anak itu duduk di sebelah Salma yang kebetulan masih kosong. Salma nampak agak sedikit kaku.
            “Em, karena tidak ada yang berani maju, bagaimana kalau Bu Guru manunjuk salah satu dari kalian untuk memperkenalkan diriterlabih dahulu?”  tanya Bu Guru beberapa saat kemudian. Tanpa menunggu jawaban dari mereka Bu Guru langsung menunjuk anak perempuan yang terlambat tadi untuk maju kedepan.
            Dengan sedikit senyum yang nampak dibibirnya serta anggukan kecil sebagai isyarat kesediaanya. Akhirnya dia maju untuk memperkenalkan diri.
            “Selamat pagi, teman-teman,”  katanya mengawali perkenalanya.
“Namaku,  Nur Kholimah. Dirumah aku biasa dipanggil Imah. Rumahku di Kampung sebelah selatan lapangan sekolah ini, aku senang kalau teman-teman mau main ke Rumahku. Bapakku seorang penjahit dan Ibuku berjualan di pasar,”  tuturnya panjang lebar.
            Bu Guru bertepuk tangan secara spontan dan kemudian disususl tepuk tangan dari anak-anak yang lain. Dari bangkunya Salma terheran-heran melihatnya. Ada rasa terharu, kagum dan sekaligus senang terlihat dari raut wajahnya.
* * *
            Sesampainya dirumah, Salma langsung mememui Bunda diruang tengah. Dia sudah tidak sabar lagi ingin menceritakan pada Bunda tentang perkenalan dengan teman-teman dikelas terutama dengan Imah.
            “Bunda teman-teman Salma banyak banget. Terus juga macam-macam,” kata Salma nggak beraturan membuat Bunda tidak mengerti. “Macam-macam bagaimana, Salma?”  tanya Bunda dengan raut wajah yang serius.
            “Ya, ada yang usil, yang cerewet, terus ada yang cengeng, dan satu lagi ada yang pincang,”  kata Salma sambil mencopot sepatunya.
“Oh, ya?”  kata bunda sedikit heran. Salma tidak langsung segera menjawab, malah dengan santai dia mencuci tangannya di westafel yang terletak disudut ruangan tanppa memperhatikan reaksi Bunda yang sudah mulai tidak sabar menunggu jawabannya.
            “Benar, Bunda. Namanya Imah,”  katanya mengawali ceritanya.
Salma kemudian meminum es sirup yang ada dimejas sambil mengunyah kue bolu. Salma melanjutkan ceritanya mengenai Imah, selanjutnya mengenai keluarganya dan juga sikap Imah yang ramah dan baik hati.
            “Meskipun begitu, Salma mesti tetap bersikap baik pada Imah dan tidak boleh membeda-bedakan,”  nasehat Bunda.
“Salma malah seneng bisa sebangku dengan Imah, selain baik hati,  dia juga pernah juara pertama mengarang cerita dan melukis di Sekolahnya, Bunda,” kata Salma. “Pokoknya Imah adalah teman baik untuk Salma,”  lanjutnya secara mantap.
            “Ya, begitulah Salma. Dibalik kekurangaan yang dimiliki Imah tentu ada kelebihan yang diberikan Allah untuknya agar dia dapat bersyukur,”  papar Bunda sesudah minum air putih.
“Sementara kita yang diberi kelengkapan fisik, seharusnya dapat bersyukur melebihi Imah,”  lanjut Bunda sesaat kemudian.
            “Bersyukur bagaimana, Bunda?”  tanya Salma.
“Tidak menghina teman yang memiliki kekurangan dan tidak sombong dengan kelebihan yang kita miliki,”  ucap Bunda.
Sesudah bunda menasehati dan membimbing Salma agar  lebih banyak bersyukur, pada Salma berada secerah harapan dari sudut hatinya bahwa Imah akan menjadi teman spesial buatnya dan semoga Imah menjadi teman baik untuk Salma dan semoga Imah pun berharap sedemikian juga.
***














Aku Dan Mereka
Karya : Aisyah Bunga Sukmawati
Ayahku sudah tiada. Kini lembaran  pedih menajam utnuk berIbu kalinya, cemoohan dari orang tak tahu diri. Harga diri mereka hilang setelah mencemohku! Ini memang takdirku dan keluarga. Tapi apa mereka tak bias lebih menghargai sedikitpun perasaan kami yang masih berduka?!
Biarlah mereka menggonggong apa kata mereka! Aku ya aku! Keluargaku ya keluargaku! bukan mulut mereka yang menganga untuk menjatuhkan kepedihan ini terlalu dalam. Ku ikhlaskan mereka, cemoohan mereka, biarlah jadi pahala bagi Ayah! Insyaallah..
Hari berganti bulan, 2 bulan sudah aku merasakan pedih ini, namun aku tetap bisa menjaga keutuhan dan kerukunan keluargaku. Aku haya tinggal dirumah kontrakan yang mungkin tak selayaknya aku tinggali bersama kakak dan Ibuku. Ibuku hanya berjualan kerupuk dan empek-empek disekitar sekolahnya kakakku. Ridho wagita kakakku, dia kakak yang aku kenal baik, sopan. Aku indah wagita, yang mungkin nakal dalam kegaulan, tapi aku ingin meMbahagiakan Ibukku dan Kak Ridho. Wagita adalah nama keluarga besarku, ya! Aku masih memiliki paman dan kedua bibiku. Tapi Ibuku yang selalu menasehati kami berdua untuk tidak meminta kepada saudara. “kita harus hidup mandiri nak! Jangan meminta-minta!!”  peringatan itu sudah terlalu sering untuk kita dengar. Tapi, Ibu memang seorang wanita yang teguh. Beliau berjuang untuk hidup bertiga. Aku salut terhadapnya, meskipun sering aku merasa kasihan terhadap perjuangan beliau. Dulu waktu Ayah masih ada Ibu membantu Ayah berjualan roti bakar setiap malam. Dan aku dan kakakku dirumah, belajar untuk meraih prestasi.
Suatu hari, aku sedang membantu Ibu berjualan empek-empek dikantin sekolah kakakku. Ya itung-itung membantu, biasanya kakakku yang membantu Ibu, kali ini sekalian lIbur aku melakuakan kegiatan yang berguna.
“Indah tolong ambilkan piring yang disana! Cepat ya!”  perintah Ibu.
“Iya bu.. sebentar ya.”
Rutinitas seperti ini hanya aku lakukan bila sepulang sekolah, namun kali ini berbeda..batinku ingin mengatakan sesuatu, aku ingin berhenti sekolah!  Ya! Ketimbang menaMbah keluaran untuk biaya sekolahku. Aku masuk di smp favorit, iuran perbulannya saja lebih dari 150rIbu, dan kakakku hanya 15rIbu, 10x lipatnya.
“Sudahlah indah.. nanti berunding sama Kak Ridho!” batinku.
“Indah..!! cepat mana pringnya?! Dari tadi Ibu tungguin malah melamun disini!”  sergapan Ibu membuyarkan lamunanku.
“Ang.. ang.. Indah lupa Ibu, mafkan indah!”  jawabku terbata-bata.
“Ya sudah.. lain kali jangan melamun sendirian di tempat seperti ini! Kesambet baru tahu rasa kamu! Haha..”  guyonan Ibu.
“Idih ... Ibu bisa aja!” senggol tanganku kebahu Ibu.
“Sudahlah, banyak yang beli tiu, lebih cepat lebih baik!”
“Siap 86 Ibu! Hahaha..”  ucapku sembari berlari kecil ke warung.
Banyak sih yang beli, tapi Kak Ridho kenapa nggak datang waktu istirahat ini, temannya Mbak hanum pun ke warungku, mengapa Kak Ridho tidak? Ada apa ya?
“Ibu kok Kak Ridho nggak ke warung sih? Banyak yang beli ini,”  tanyaku pada Ibu.
“Mungkin baru belajar buat ulangan, sudah..nggak ada kakakmu nggak apa-apa!” nasehatnya.
Ya, aku tahu betul perasaan Ibu seperti apa, mukanya geLisah, dalam batinnya ingin mengeluarkan sepatah kata. Tapi aku inginmelihat Ibu ceria. Hanya itu yang aku inginkan!
Ibu.. andai Ibu tahu, aku ingin berhenti sekolah demi membantu Ibu! Maafkan indah Ibu, indah yang dulu memaksa Ibu dan Ayah, biar indah sekolah di sekolah favorit itu!!” batinku mengadu.
Tiba tiba Kak Sarah, anak pemilik sekolah datang dengan tak diundang, dengan memaksa anak yang beli untuk menjauh.
“Hey.. hey.. minggir ada sarah cantik mau lewat! Beri jalannya dong eh!”  ketusnya.
Semua anak disitu menyingkir. Kecuali Mas Arwin, Mas Arwin kapten basket disekolah ini. Banyak yang naksir sama dia.
“Hey miss lebay! Super senggak, lu tau gak sih?! Ini tempat umum, bukan hak lu buat mengusir mereka. Dasar cewek lebay! Gue tau lu jago nyanyi, lu lebih. Banyak yang suka sama muka lu! Tapi sifat lu? NGGAK ADA!! Puas lu?!! Makan tuh senggak lu!” marah Kak Arwin.
“Lu juga! Ngapain sih lu ngurusin gue? Gue juga tau kalo lu banyak yang naksir! Trus semena-mena gini lu merlakuin cewek? Dasar PLAY ...”
Belum sempat melanjutkan perkataannya Kak Ridho datang.
“Wooyy.. udah belom elu pada bertengkar? Puas belom lu bertengkar di warung Ibu gue?! Dasar anak kecil! bisanya cuma bertengkar, selesain masalahnya tuh baek-baek! Bukan gini caranya! Udah SEMUANYA BUBAR!”  lerai Kak Ridho.
Sarah sama anak lainnya bubar, tapi masih tersisa Kak Ridho sama Mas Arwin.
“Lu nggak apa-apa kan bro?! Biarin tuh miss lebay ngapain. Ngapain juga lu ngurusin dia? Nggak penting banget tau! Hahaha..”  tanya Kak Ridho.
“Lu apa-apaan sih? Gue nggak apa-apa! Biar setan itu sadar! Haha..”
“Bentar ya!” pergi ninggalin Mas Arwin.
Di warung..
“Eh Ridho, ada apa nak? Kok kesini? Perlu Ibu buatin empek-empek berdua sama nak Arwin?”  tanya Ibu.
“Hehe iya bu.. maksud aku sih gitu, dua ya bu! Oh ya indah, nanti malam ikut kakak ya ke rumahnya Arwin! Temenin aku, haha..”
“Idihh.. ngapain eh? Males deh.. haha iya, sekalian mau cerita eh?!”
“Waa.. aku jadi gudang curhatanmu sekarang Ndah?! Haha..”  goda Kak Ridho.
“Ih apa-apaan sih kak.. udah sana! Tuh temenmu udah nunggu!”  senggolku.
“Iya ini loh mau kesana. Ilfeel banget deh anak manis! Haha...”  sembari lari menyenggol pinggang adeknya itu.
“Aaa Kak Ridho.. benci deh aku!!” keluh Indah.
“Sudah.. bantu Ibu sini. Buatkan mereka empek-empek dua! jangan terlalu pedas sambalnya!” pinta Ibu.
“Iya deh.. iya!”  dengan muka cemberut. Setelah indah dan Ibunya selesai membuat empek-empek  yang menjadi tulang punggung dari kehidupan mereka.
Malam hari dirumah Mas Arwin
“Assalamu’alaikum.. Arwin.”
“Woy.. udah gue tungguin disini dari tadi tau dho !”  lucon Mas Arwin.
“Haha gue kira lo udah ngebo!”
“Sialan lo! Sini! ngapain bengong di depan pintu kayak gitu? Indah sini.. ada novel baru nih!”
“Ya ampun Win.. baru juga mau kesitu. Giliran cewek aja lembutnya minta ampun!” omel Kak Ridho.
“Haha just for laugh Dho.. kalo sama cewek itu harus lembut, sopan! ya nggak Ndah?” lirik matanya kearahku.
“Apa-apaan? Kok Indah yang ditanyain?! Week!”  timpalku.
“Yee dikasih tau malah kayak gitu! Awas besok kalo kakakmu udah ke luar negri. Siapa yang nemenin kamu cobak?!”
“Hah ?!! Kak Ridho mau ke luar negri ?! Ngapain?!”  sontak aku kaget dan shock. Kak Ridho yang biasanya blak-blakan sama aku, sekarang nutupi semua rahasianya.
“Iya Ndah.. justru itu aku ngajak kamu ke rumahnya Arwin mau ngasih tau kamu ! maaf kalo secepet ini kakak bilang ke kamu.. tapi, ini semua buat kita ! Arwin sahabat kakak yang paling akrab sama kamu. Dan.. besok pagi kakak harus ke luar negri! Ini malam terakhir kakak sama kalian! Kamu boleh marah sama kakak.. tapi kakak mohon, jangan pernah membenci kakak! Pliss ya Ndah.. kakak mohon, jangan pernah sedih lagi! Inget omongan kakak ini!”
“Ta.. ta.. tapi kak! nanti Ibu siapa yang nemenin waktu jualan? Indah kan sekolah!” ucapku sambil menangis.
“Sudahlah Ndah.. Ibumu biar aku yang nemenin! Kamu nggak perlu lagi khawatir. Oke! Sekarang kalian boleh nginep disini! Ini malam terakhir buat lo Dho! Lo nggak mungkin mau nyia-nyiain malam ini! Btw mau makan minum apa? Haha..”
“halah.. Mau pulang aja kita! Yuk kak pulang aja, kasian Ibu!” ajakkku.
“Eeiittss..  siapa suruh ?! NGGAK BOLEH!!”  larang Mas Arwin.
“Haha Indah.. Indah! Nggak usah mikir Ibu kayak gimana ada Mbak Rin kok! lagian tadi aku udah bilang sama Ibu kok!”  nasehat Kak Ridho.
Who Mbak Rin ?!”
“Mbak Rin itu, pacarnya kakakmu! kamu belum tahu ya Ndah?! Kasian! Haha.”
“Suerr nggak ngrepotin ini?!”
“Ya enggaklah! Beneran dehh!”
“Ya udah dehh!” mukaku kusut tapi gimana lagi, Ini kenangan terakhirku sama Kak Ridho!
“Katanya.. tadi ada yang mau cerita nih? Mana sih ceritanya? Hehehe.. Ndah, cerita dong?!”  pinta kak Arwin.
“Emb.. sebenernya, Indah malu Kak, Mas.. Indah malu mau cerita ini!”  tundukku yang mulai perasaan kalang kabut yang buatku malu.
“Malu kenapa?! this not your secret Indah!”  nasehat Mas Arwin.
“Hhee’emb…”nafasku mulai tak karuan, jantungngku berdegup keras seolah depanku ada penjahat yang ingin meneMbakku. “Oke! Aku ingin berhenti sekolah!” lontarku.
What?! Why!”  sontak Mas Arwin kaget dengan perkataanku.
“Kamu gila ya Ndah?! Cuma ini yang pengin kamu ceritakan? Nggak mutu tau nggak ?!!” marah Kak Arwin. “Ini aku ke luar negri mau ngrubah nasib kita! Tapi kenapa kamu mau nyinyiaiin kesempatan yang udah Allah berikan buat kita?! Mau ngehancurin semangat Kakak ya? Udahlah.. hapus itu angan-angan nggak mutu!”
“Bu.. bu.. bukan gitu Kak, Mas! Justru aku mau ngebantuin Ibu aja di warung! Bayangkan, setiap bulan 150ribu dikeluarkan Ibu buat aku. Sedangkan kakak hanya 15rIbu ! Sepuluh kali lipat sendiri Kak! Dan aku tahu ini ada resiko! Biar aku yang nanggung semua resiko itu!”  jelasku.
“Indah.. kamu benar, selama ini Ibumu mengeluarkan uang sebanyak itu untuk biaya sekolahmu. Tapi kamu dewasa nanti baru tahu sebab dan akibat yang kamu dapat setelah kamu berhenti sekolah! Percaya Mas Arwin Ndah!”
“Tapi gimana lagi Kak?!”  senggolku di betis kakakku.
“Mending hapus keinginanmu itu sajalah Ndah! Kakak cuma minta kamu sukses melebihi Kakak! Udah itu aja! Kamu tetep sekolah! TITIK!” nasehat Kak Ridho.
“Iya Ndah.. bener apa kata Kakakmu! Kamu masih perlu! Soal biaya biar nanti aku carikan beasiswa. Kamu nggak usah mikir yang engak-enggak!” taMbah Mas Arwin.
“Iyadeh! Tapi janji ya cariin beasiswa?! Haha...”  guyonanku.
“Iya janji! Kamu juga janji ya sekolah yang bener?!”  balas Kak Ridho.
“Insyaallah ! Doa dan usaha saja! J
“Nah gitu dong! baru adek kakak yang baik! Sip dah! Kaka sayang sama kamu Ndah!” cubit Kak Ridho.
“Hoho.. iya sayang tapi nggak make nyubit ya?!”  timpalku.
“Hahahaha..!” sahut Kak Ridho sama Mas Arwin bareng.
Malam ini aku, Kak Ridho, Mas Arwin nggak berenti-berentinya cerita. Sampai-sampai Mbak luthfi, adeknya Mas Arwin mengebrak pintu kamar Mas Arwin gara-gara kita berisik ! haha.. kenangan indah saat terakhir inilah yang aku rasakan ketika orang yang aku sayangi akan pergi meninggalkanku, kenangan terindah yang pernah kumiliki dan tak akan pernah kulupakan !! J
Gemerlap bintang dan sorotan bulan yang menemani kami bertiga. Menghabiskan malam-malam yang terindah untuk tak akan kami lupakan, membuat kedamaian didalam kekacauan yang kumiliki.. ya Allah jika memang engkau menghendaki semua yang ingin kau perintahkan ! kami sanggup ya Allah ! kami yang akan menanggung resiko yang juga telah engkau berikan. Dan jika aku harus berpisah dengan kakakku, ikhlaskan hatiku.. kuatkan batinku ya Allah ! dia pergi untuk kebaikannya dan keluarga kami. Memang berat untukku berpisah dengannya, tapi takdir-MU yang menghendaki. Lindungilah dia yang akan pergi, dan kuatkan kami yang menunggunya pergi.. kami yakin, dia akan baik-baik saja ! sukseskan dia, dunia dan akhirat. Jagalah dia semasa dia tak berpaling dari-MU. Hanya do’a kalbuku ini yang bisa kuberikan !! J
***




SEBERKAS HARAPAN UNTUKMU IBU
Karya : Alfi Nurrahma Widiastuti
Terlahir dari keluarga sederhana, membuat gadis belia yang bernama Nur Latifah, dan akrab disapa Ifa ini mengetahui apa arti hidup yang sebenaranya, setiap pagi ia membantu Ibunya mengantarkan gorengan ke warung dekat rumahnya dan  kantin sekolahnya.Semua itu ia lakukan untuk membantu Ibunya memenuhi kebutuhan keluarganya. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit. Semua ia jalani dengan penuh suka cita. Walaupun terlahir dari keluarga yang sederhana Ifa tidak pernah bersedih. Justru it merupakan penyemangat baginya untuk dapat memperbaiki masa depannya. Namun di setiap kehidupan tidak selalu indah, seperti yang terjadi pada pagi ini Ifa tiba-tiba di panggil guru untuk pergi ke ruang BK (Bimbingan Konseling), lagi-lagi karena ia sudah menunggak pembayaran SPP selama beberapa bulan.
Di jalan menuju rumah ia melamun memikirkan kembali perkataan gurunya jika ia tidak segera melunasi administrasi sekolah ia tidak dapat mengikuti Ujian Nasional, memang Ifa mendapat beasiswa namun beasiswa yang ia dapat hanya cukup untuk membayar buku-buku sekolah, selanjutnya untuk biaya administrasi sekolah ia dan Ibunya harus berusaha mati-matian agar bisa melunasinya. Sesampainya di rumah Ibunya merasa ada hal yang aneh dengan Ifa karena tidak biasanya ia langsung menuju kamar seusai pulang sekolah. Lalu diam-diam Ibu mengikuti Ifa ke kamar Ibunya terkejut melihat Ifa tiba-tiba menangis, dan menghampirinya.
“Nak ada apa mengapa kamu menangis?” tanya Ibunya sambil menghapus sisa air mata di pipi Ifa.
“Ifa harus melunasi administrasi sekolah Bu, jika Ifa ingin mengikuti Ujian Nasional,” jawab Ifa tersendat-sendat. Ibunya termenung sejenak lalu menghela nafas. Sudahlah nak, untuk itu tidak usah kamu fikirkan, Ibu akan berusaha untuk melunasi biaya sekolah kamu”jawab Ibu berusaha tegar.
“Terima kasih ya Bu, maaf jika Ifa selalu merepotkan Ibu,”  jawab Ifa.
“Tidak nak, ini sudah menjadi kewajiban Ibu, kamu harus belajar dengan rajin itu sudah cukup membuat Ibu bahagia nak,” pinta Ibunya.
Sejak kejadian itu ia selalu belajar dengan giat agar dapat meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Soal prestasi, dia tidak pernah luput dari ranking satu di sekolahnya. Memang Ibunya selalu berharap agar Ifa bisa hidup lebih baik dari beliau.
“Ifa ayo sarapan dulu lalu antarkan gorengan ke warung sebelah ya, jangan lupa bawa juga untuk dititipkan di kantin sekolahmu,” pinta Ibunya. Iya Bu sebentar,” jawab Ifa.
“Kak aku boleh tidak membonceng kakak, sepedaku bocor kak, ujar adiknya Afi  yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Tentu!” jawab Ifa singkat.
Setelah selesai sarapan ifa mengAyuh sepedanya, dengan memboncengkan adiknya, tidak lupa ia membawa gorengan untuk dititipkan di warung dekat rumahnya dan kantin sekolahnya. Ifa tidak pernah mengeluh sedikitpun.  Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, Ujian Nasional untuk Sekolah Menengah Pertama sudah di depan mata, hati Ifa bimbang, selain harus belajar lebih giat lagi, ia juga harus kembali memikirkan apakah ia akan melanjutikan sekolahnya atau tidak. Ia tidak ingin menaMbah beban Ibunya. Namun dalam hati kecilnya hanya itu harapan satu-satunya agar ia bisa merubah nasib keluarganya.
“Ibu,” Ifa memulai pembicaraan dan mendekati Ibu yang duduk di teras rumahnya.
“Iya nak ada apa, sepertinya kamu dari tadi geLisah sekali?” tanya Ibunya.
“Bu Ifa ingin bicara pada Ibu,” ujar Ifa dengan nada lirih.
”Bicara tentang apa Ifa?” jawab Ibunya penasaran
“Begini Bu, Ifa ingin melanjutkan sekolah Ifa, tapi apa Ibu mempunyai cukup uang untuk membiayai Ifa, melanjutkan pendidikan Ifa?” jawab Ifa berterus terang.
“Rejeki itu urusan Tuhan nak, kita hanya bisa berusaha dan meminta, bagaimanapun kamu harus tetap melanjutkan sekolahmu, Ibu tidak ingin melihatmu menjadi orang susah seperti ini, cukup Ibu yang tidak bisa membaca dan menulis kamu dan adikmu harus bisa agar dapat mengubah kehidupan kita agar tidak seperti ini.”
“Untuk biayanya, kamu tidak usah memikirkannya yang penting kamu dan adikmu bisa menjadi orang yang sukses agar dapat mengubah kehidupan kita nak,” jawab Ibunya penuh harap.
“Terima kasih ya bu,” jawab Ifa sambil memeluk Ibunya.
“Iya nak,” jawab Ibunya.
Ifa memang tinggal di desa terpencil  yang jauh dari hingar-bingar kota besar. Di desa yang sebagian besar penduduknya hanya lulus SD dan SMP  jika ada yang lulus SMA sampai perguruan tinggi, itu bisa dihitung dengan jari, itu pun biasanya mereka harus rela bolak-balik ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Namun Ibunya tidak menginginkan ifa hanya lulus sekolah dasar  atau SMP saja.
Masih membekas dalam ingatan Ifa di mana Ibunya rela bekerja keras, agar dapat memenuhi kebutuhannya dan adiknya, Ibu rala bekerja membanting tulang, berpanas-panasan untuk memperoleh sepeser uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya untuk membayar sekolahnya dan adiknya. Ibu rela melakukan apapun untuk meMbahagiakan Ifa dan adiknya. Beliau hanya menginginkan Ifa dan adiknya menjadi anak yang berbakti dan bisa hidup lebih layak darinya. Itu pula yang membuat Ifa tidak ingin hanya sekedar berpangku tangan tanpa melakukan apapun.
Pengumuman hasil ujian nasonal telah tiba alangkah bahagianya Ibu  ketika mengetahui putrinya mendapat nilai tertinggi, dan mendapat penghargaan berupa piagam dan sejumlah uang. Uang itu digunakan untuk biaya Ifa melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah atas. Ifa pun sangat bahagia bisa melanjutkan sekolahnya. Karena ifa memang anak yang pintar selama duduk di bangku sekolah menengah atas ia selalu mendapat beasiswa karena prestasinya.
Setelah lulus sekolah menengah atas, Ifa mengikuti program beasiswa untuk anak berprestasi dan kurang mampu siapa yang lolos seleksi akan mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di Universitas yang cukup terkenal yaitu Universitas Al-Azhar Mesir.
“Ibu, jika Ibu mengijinkan, Ifa akan mengikuti program beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas impian Ifa Bu,” pinta Ifa.
“Beasiswa,untuk melanjutkan kuliah di universitas Impian kamu, kalau Ibu boleh tau dimana nak?” tanya Ibunya.
“Di mesir Bu, tepatnya di Universitas Al- Azhar, Mesir, dan besok akan diadakan seleksi,” jawab Ifa.
“Tentu saja boleh nak, hanya satu pesan Ibu, jika kamu berhasil lulus menjadi sarjana jangan lupakan orang-orang yang mendukungmu dan  jangan lupakan ibadahmu ya nak.”
Dengan berlinang air mata bahagia Ifa menjawab, “Tentu bu, terimakasih atas izin yang Ibu berikan, doakan Ifa ya bu, semoga ifa bisa menjadi orang yang sukses dan dapat meMbahagiakan Ibu dan adik ya Bu,” pinta Ifa.
“Doa Ibu menyertaimu nak,” jawab Ibunya.
Benar saja Ifa berhasil lolos dalam seleksi, dan satu minggu lagi ia akan berangkat ke Mesir.Segalanya telah Ifa persiapkan, dan hari yang dinanti pun tiba.
“Hati- hati di jalan ya nak, Ibu hanya bisa mengantarmu sampai sini”ujar Ibu melepas kepergian putrinya.
“Terima kasih bu doakan Ifa ya bu, agar Ifa dapat selamat sampai tujuan dan bisa menempuh pendidikan dengan lancar,” jawab Ifa.
“Doa dan harapan Ibu menyertaimu nak, jaga dirimu baik-baik ya nak,” harap Ibunya melepas kepergian Ifa. Dengan berlinang air mata Ibu dan adiknya mengantarkan kepergian Ifa.
Dalam hati Ifa bergumam, “Ibu Ifa akan kembali dengan seberkas harapan untuk meMbahagiakn Ibu, dan adik doakan Ifa,  Bu.”
Setelah sekian lama berada di Mesir untuk melanjutkan pendidikan selama 5 tahun, Ifa akhirnya mendapat gelar sarjana pendidikan sekaligus lulus sebagai lulusan dengan nilai terbaik. Tidak pernah sedikitpun terbersit dalam fikiran Ifa, bisa lulus dengan  nilai tertinggi dan mendapat gelar sarjana pendidikan dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dengan berlinang air mata Ifa  mengungkapkan orang yang paling berjasa dalam hidupnya yaitu Ibunya.
“Ibu adalah segalanya bagiku, tanpa beliau aku tidak akan bisa berdiri di tempat semegah ini, tanpa beliau pula aku tidak akan pernah mengerti arti hidup yang sebenarnya”.
Hadirin yang datang dan menyaksikan pun ikut hanyut dalam suasana haru. Sesekali ia menyeka air mata yang terlanjur membasahi pipinya, lalu melanjutkan kembali sambutannya. “Bahwa betapa besar dan tidak terkiranya jasa seorang Ibu bagi kita.”
Ini semua untuk Ibuku,  Mom, you are my everything.”
 Hadirin yang datang dan menyaksikan bertepuk tangan mendengar sambutan Ifa. Setelah lulus Ifa berniat kambali ke negaranya untuk memajukan pendidikan bagi anak bangsa yang kurang mampu. Dan menepati janjinya pada Ibunya bahwa ia akan pulang dengan seberkas harapan, harapan yang akan membuat mimpinya menjadi kenyataan dan dapat memperbaiki kehidupannya.
***




Cinta Sejati
Karya : Alveno Prakoso Nugroho
Hujan turun dengan derasnya di ikuti dengan suasana yang mencekam pada malam itu,  mengoyak gubuk doyong di rerumbunan bambu-bambu yang bersuara.  Gubuk itu hampir tidak terlihat pada malam itu. Di gubuk itu tinggalah seorang Janda Tua dan seorang gadis yang cantik jelita.   Di gubuk itu tak ada satupun ada barang berharga kecuali gadis itu. Maka Janda Tua itu menjaga gadis itu untuk melindungi kesuciannya.  Dan gubuk itu hanya terbuat dari anyaman bambu yang sudah rusak,  genting terbuat dari alang-alang. Di rumah itu tak ada sekat antara ruang tamu dengan lainnya.  Pada ruang tamu gubuk itu tak ada meja dan kursi untuk menyambut tamu yang datang.  
            Janda Tua itu bernama Nenek Minah dan gadis itu bernama Mizah.  Nek Minah hanya bekerja menjadi pembantu di rumah Pak Kades,  Mizahpun hanya dapat membantu Ibunya.  Karena mizah tak mengayomi pendidikan yang cukup.  Ternyata di rumah Pak Kades ada seorang lelaki yang ternyata adalah keponakannya.  Pemuda itu ke rumah Pamannya ( Pak Kades ) bertujuan untuk membuat rangkuman ilmiahnya di desa.  Pemuda itu bernama Joni.  
Ketika Joni jalan – jalan di desa itu.  Tak menyangka dia menemui gadis baru mandi di sungai.  Joni berusaha mendekati gadis itu.  Ketika waktu Joni mau mendekati,  gadis itu tau kalau ada orang yang mengintipnya mandi.  Gadis itu langsung bersembunyi dan lari  untuk menghindari Pemuda ( Joni ) itu.  Ketika Joni mau sadar bila gadis itu lari,  dan Joni berusaha mengejarnya.  Ternyata Gadis itu sudah jauh dan Joni pun bila terus mengejarnya takut bila tersesat.  Karena Joni belum tau jalan di desa itu.  Lalu Joni memutuskan untuk pulang ke rumah pamannya.  Pada perjalanan pulang Joni tak menyangka bila ada seorang gadis yang cantik jelita dan putih dia temui di desa itu.  Padahal Joni waktu di kota tidak pernah menemui gadis seperti yang baru saja dia temui waktu di sungai.  Ketika Joni mau tidur,  dia tak bisa menghilangkan pikirannya dari gadis yang dia temui tadi.
            Keesokan harinya dia berniat mau menemui gadis itu.  Ternyata Gadis itu tak ada di sungai itu.  Dan Joni pun kembali pulang.  Joni terus bertanya pada pamannya “Paman,  apakah anda pernah tau gadis putih,  cantik jelita,  dan gadis itu pemalu,  tinggal di desa ini ?” kata Joni.
Paman menjawab, “Sepertinya di desa ini tak ada gadis seperti itu yang tinggal di desa ini”.  
Ketika pembantu rumah pamannya mau pulang,  Joni di tawari untuk main ke rumah pembantu tadi.  Joni pun menyetujui ajakan pembantu ( Nek Minah ) tadi.  Joni di suruh mengikuti Nek Minah.  Ketika Joni sampai di rumah Nek Minah,  Joni pun sangat kaget melihat keadaan rumah Nek Minah yang serba kekurangan.  Dan Jonipun di kenalkan dengan anaknya Nek Minah.  Joni pun sangat kaget melihat anak gadis itu,  ternyata gadis anak dari Nek Minah adalah gadis yang dia cari-cari selama ini.  Yang membuat selalu terbayang di pikirannya.  Ketika Joni kenalan dengan Mizah (anak Nek Minah) Joni pun sangat tak menyangka bila Nek Minah mempunyai anak yang dia idamkan.  Mizah pun langsung membuatkan minum untuk Joni.  Malam telah larut dan Joni pun pamit pulang kepada Nek Minah.
Keesokan harinya Joni berniat main ke rumah Nek Minah lagi.  Sesampainya di rumah Nek Minah ternyata Mizah pun tak ada.  Ternyata Mizah baru mencuci pakaian di sungai.  Joni pun tak mau mengganggu kegiatan Mizah,  dan Joni memutuskan untuk pulang ke rumah.  Sesampainya di rumah Joni pun bertanya kepada pamannya.
“Apakah Paman merestui bila saya menikah dengan anak Nek Minah?” tanya Joni.
“Merestui, asalkan kau bisa bahagia bersamanya,” jawab Paman.
“Makasihh Paman,” kata Joni.
            Beberapa hari kemudian Ibu Joni yang ada di Jakarta pun mengetahui bila Joni telah mencintai gadis desa.  Tentu saja Ibu Joni tak merestuinya. Karena Joni telah di jodohkan oleh gadis pilihan mama, yang tanpa persetujuan dari Joni dan Joni tak mencintai gadis pilihan Ibunya.
            Keesokan harinya Ibu Joni pun pulang kedesa membawa gadis pilihan Ibunya.
            Ketika  Ibu Joni mengetahui sosok gadis itu, dan rumahnya. Ibu Joni pun berniat membunuh Nek Minah dan Mizah dengan mengirimkan preman untuk membunuhnya.  
            Ketika malam telah larut, preman suruhan Ibu Joni pun beraksi. Dia masuk melalui pintu belakang. Ketika Preman mau mendekati Mizah, Mizah pun langsung melarikan diri. Dan Mizah tak menduga bila dia meninggalkan Nek Minah. Ternyata preman itu berhasil membunuh Nek Minah. Setelah membunuh Nek Minah, preman itu mengejar Mizah dan berniat memperkosanya. Karena harta yang paling berharga baginya adalah kesuciannya.  Setelah preman itu berusaha mengejar Mizah dengan susah payah, ternyata ada hasilnya. Mizah pun tertangkap dan di kurung di sebuah rumah tua yang tempat itu belum pernah di ketahui oleh Mizah.
            Keesokan harinya Joni pun berniat main ke rumah Nek Minah. Ketika Joni telah sampai di depan rumah dan pintu keadaan terbuka. Ketika Joni mau masuk, dia sangat kaget melihat darah yang bercucuran yang di sebabkan oleh pembunuhan Nek Minah. Joni pun langsung berteriak, dan warga desa pun langsung datang ke suara yang tertuju. Joni telah berusaha mencari Mizah di dalam rumah,  ternyata Mizah pun tak dia temui. Warga desa pun menyemayangkan jenazah Nek Minah ke tempat pesemayangan terakhir.
            Waktu itu juga, preman suruhan Ibu Joni berusaha memperkosa Mizah. Preman itu  untuk memojokan Mizah. Dan preman itu berhasil merengkut pakaian atas Mizah. Dan ketika Mizah terpojok,  di dekatnya ternyata ada gunting.  Lalu Mizah berpikir “Bila aku membunuh Preman itu untuk melindungi kesucianku, apakah aku dosa?”
Lalu Mizah pun menancapkan gunting itu ke punggung preman itu.  Dan preman itu meninggal dunia.
            Ketika di dalam rumah itu ada suara yang mencurigakan, warga desa sekitar rumah tua itu mendatanginya.  Dan warga mendobrak pintu rumah tua itu. Ketika warga berhasil membuka,  lalu warga menangkap Mizah karena tersangka pembunuhan. Warga pun tak mendengarkan penjelasan dari Mizah. Dan Warga pun memanggil polisi untuk memproses kejadian ini. Dan Mizah pun menjadi tersangka dan di penjara.
Kejadian ini membuat Joni tak mempunyai semangat hidup lagi.  Karena wanita yang dia bisa cintai dengan tulus tak tau entah pergi kemana. Dengan begini gadis pilihan Ibunya Joni pun sadar bila “Cinta Tak Perlu Di Paksakan.” Dan gadis pilihan Ibunya pun meminta maaf kepada Joni karena telah memaksa Joni untuk menikah dengannya. Kejadian ini pula membuat Joni malas mandi dan hanya bisa merenung di kamar dan nafsu makannya pun hilang. Dengan begini membuat Ayah Joni dan Ibu Joni pun berusaha mencari Mizah. Dengan menggunakan media foto yang dia pertanyakan setiap penduduk.
Ketika Mizah hidup di penjara, dia di kenal dengan adalah gadis yang baik hati dan sopan. Karena dia sering menyapu, mengepel lantai, dan sebagainya yang Mizah dapat kerjakan.
Ketika masa tahanan Mizah tinggal 30 hari. Mizah pun mulai bingung bila telah  keluar penjara nanti Mizah mau hidup dimana. Karena dia tak mempunyai rumah dan saudara di daerah sana.  
Waktu terus bergilir.
Ketika masa tahanan Mizah habis pun dia di tawari untuk menjadi pembantu dan tinggal di rumah salah satu pegawai penjara itu. Mizah tanpa pikir panjang pun langsung menyetujuinya. Mizah pun di boyongnya ke rumah pegawai penjara itu untuk menjadi pembantu.
Ternyata pegawai yang menjadikan Mizah pembantu itu adalah teman dari Ayah Joni.
Ketika Ayah Joni berniat bertamu untuk silahturahmi ke pegawai itu. Ayah Joni pun sangat kaget ketika melihat pembantu yang bekerja di rumah temannya itu. Ayah Joni pun langsung bertanya kepada pembantu itu.  
“Kamu Mizah kan?” kata Ayah Joni.
“Iya om,” jawab Mizah.
“Kamu kenal dengan Mizah?” tanya temen Ayah Joni kepada Ayah Joni.
Ayah Joni pun mulai menjelaskan bahwa Mizah adalah gadis pilihan anaknya. Dan Mizah mencintai anakku.
Begitu pula Ayah Joni pun membawa pulang Mizah ke rumahnya untuk tinggal di rumahnya.
Ketika Joni di panggilnya oleh Ayah untuk melihat gadis yang di bawa Ayahnya. Joni pun sangat kaget bila yang di bawa Ayahnya adalah Mizah.
Joni dan Mizah pun di nikahkan dan hidup bahagia.
***














P D Aja Man !
Karya : Arizal Nur Dwinawan
                Maman, itulah namanya. Anak yang hidup dalam kesederhanaan. Ia harus merasakan kerasnya hidup di dunia pada saat ia yang seharusnya menikmati masa kecilnya untuk bermain. Ya, benar, Maman adalah seorang anak yang hidup dalam kesederhanaan. Ibunya saat ini sedang sakit, sedangkan Ayahnya hanya perprofei sebagai nelayan yang tidak tentu pendapatannya. Maman juga mempunyai adik perempuan yang bernama Rahmi. Rahmi saat ini masih duduk di bangku kelas 3 SD.
            Maman mau tidak mau harus membantu Ayahnya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Maman adalah orang yang biasa saja, pendiam, pemalu, dan lebih sering menyendiri. Tetapi, dibalik semua itu, ia adalah anak yang rajin dan cukup pandai. Ia selalu mendapatkan rangking saat ujian sekolah.
            Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Maman bergegas pulang dan mengganti pakaiannya. “Bu, aku pergi melaut sama Ayah dulu ya?” . Hanya sepenggal kata itu yang selalu Maman ucapkan saat pulang dari sekolah.  Rahmi, adiknya, selalu mengantarkan maman dan Ayahnya ke pantai. Tapi, Maman tidak hanya membawa jaring dan kail untuk bekal kelaut. Tidak lupa Maman selalu membawa buku pelajaran untuk di pelajarinya di perahu.
“Pak, aku sambil belajar ya?” kata Maman. “ya nak, belajar yang rajin, jangan sampai seperti Ayah. Jadilah orang yang sukses di kemudian hari”sahut Ayahnya.
Bulan menggantikan sang matahari. Itu artinya Maman dan Ayahnya harus pulang untuk menyerahkan hasil yang tidak seberapa ke Ibu. Sepulang melaut, Maman tidak langsung istirahat, melainkan belajar. Hanya di temani lampu minyak dan segelas air putih, terlihat Maman sangat giat belajar.
Matahari kembali memancarkan sinarnya. Teng... teng... teng... suara bel tanda dimulainya kegiatan pada hari ini. Di papan tertulis sebuah soal yang menurut semua siswa di kelas itu susah. “Ayo anak-anak siapa yang bisa mengerjakan soal di depan?”
Tak ada suara sedikitpun.
“Man, ayo maju dan kerjakan soal di depan!” suara bu guru memecah keheningan. “ya bu,” hanya itu kata yang Maman ucapkan. Tanpa Maman sadari, tepuk tangan dari teman-temannya dan bu guru telah terdengar. “hebat kamu Man”kata bu guru.
Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai. Maman keluar kelas dengan wajah yang lemas. Melihat itu, bu guru menghampiri Maman dan bertanya “Man kamu kenapa sepertinya leman banget?”
“Eng..  enggak bu, saya hanya malu pada teman-teman, saya merasa tidak pantas berada di dekat mereka, saya hanyalah anak dari keluarga nelayan”“kenapa, P D aja kali Man, tidak semua orang yang punya itu selalu menang, buktikan bahwa kamu juga bisa”kata bu guru sembari mengelus-elus kepala Maman.
“Iya bu.”
“Oh.. iya, besok Minggu ada lomba matematika, Ibu akan mengikutsertakan kamu”“tapi bu...” “Maman harus mau ya”
“Ya bu.
Sepulang sekolah Maman tidak ikut Ayahnya melauk seperti biasanya. “Hlo Man, tidak melaut?” tanya Ibu
“Tidak bu.”
Maman menceritakan bahwa ia akan mengikuti lomba matematika pada hari minggu.
”Bagus itu Man”
“Tapi bu, aku malu dan takut”
“P D aja Man, buktikan bahwa kita juga bisa berbrestasi!”
Maman merenung sejenak memikirkan ternyata kata-kata yang diucapkan Ibunya sama dengan bu guru. Semenjak hari itu Maman menjadi lebih rajin dan bersemangat dalam belajarnya.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa hari sudah memasuki hari Minggu, hari yang telah di tunggu Maman untuk membuktikan bahwa dia bisa. Memasuki ruang lomba Maman terkagum-kagum, belum pernah ia memasuki ruangan yang besar nan mewah. Maman sedikit rag karena banyak sekali peserta yang ikut. Tetapi Maman teringat kata bu guru dan Ibu “P D aja”. Maman pun dengan jiwa yang penuh semangat, percaya diri akan menang.
Waktu lomba telah usai.
Dan benar saja, ternyata tidak rugi Maman belajar tiap hari. Dan benar kata bu guru bahwa kita pun bisa menang. Ia keluar menjadi juara pertama. Dia pulang dengan wajah gembira, dengan sebuah piala dan amplop yang ada di tangannya. Dan kini Maman telah menjadi anak yang percaya diri, tidak pemalu seperti dulu.
Setelah Maman lulus sekolah, ia mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, dan ia mendapatkan beasiswa ke jenjang yang lebih tinggi. Pada akhirnya Maman yang dulu adalah anak yang biasa, sekarang menjadi anak yang sukses. Maman telah membuktikan bahwa orang sepertinya pun bisa menang apabila mau berusaha. Ia akan menularkan pesan yang di berikan bu guru dan Ibu untuk anaknya kelak.
Dan satu kalimat kecil yang selalu Maman ingat hingga sekarang yaitu “P D aja
***





Walaupun Sebentar Saja
Karya : Asih Setiyowati
Hai sobat perkenalkan namaku Resa Ardiana Putri.Aku biasa dipanggil Resa.Aku murid kelas IX di SMPN 1 Cenderawasih. Aku anak kedua dari tiga bersaudara.Aku mempunyai kakak, ia bernama Rendi Ardian putra. Ia kakak yang cerdas dan baik menurutku.Walaupun ia selalu judes dan kelihatanya nggak perduli sama keluarga, tapi sebenarnya ia sayang banget sama aku dan keluargaku.Rendi kelas XI di SMAN Budi pekerti yang katanya sih SMA Favorit. Sedangkan adikku. Ia bernama Riska Ardiana Putri.mirip namaku kan. Dan aku juga mempunyai Ibu yang baik.beliau bernama Sandra ardiana putri.
            Pasti kalian berfikir kalau hidupku sempurna.padahal tidak. Dan kalian pasti berfikir  kalau keluargaku hidup bahagia.padahal tidak.sebenarnya sejak aku keci.aku tak mengetahui dimana Ayahku berada, bagaimana keadaanya dan seperti apa wajahnya.Karena Ayah tak pernah menemuiku. Entah kenapa…?
            Ya inilah keluargaku.Tanpa Ayah. Dari kecil aku nggak tau dimana Ayahku dimana.aku selalu bertanya kepada Ibuku tapi tidak pernah dijawabnya dan sampai sekarang jawaban itu masih sama.
            Suatu hari aku tak sengaja terjatuh dari tangga rumah. Hidungku berdarah.tapi aku tak pernah memberi tau hal ini kepada Ibu, kakak dan adikku. Karena aku takut mereka akan menghawatirkan ku.Karena kejadian itu hidungku selalu berdarah entah kenapa. Sampai akhirnya aku tak tahan karena setiap malam hidungku mimisan. Disertai kepalaku yang pusing. Sebelumnya aku tak pernah mengalami hal seperti itu.Tapi mengapa tiba-tiba aku mengalaminya.
            Sampai akhirnya aku pergi kerumah sakit sendirian tanpa memberi tahu keluargaku. Aku takut mereka menghawatirkanku. Sesampainya dirumah sakit. Aku menceritakan semuanya kepada pak dokter. Sampai waktunya aku berbicara dengan dokter itu.
“Pak sebenarnya saya sakit apa, kok periksanya sampai lama?” tanyaku
“Orang tua adik dimana?” jawab beliau yang malah menanyakan orang tuaku
“Orang tua saya semuanya sIbuk pak,” jawabku.
“Ya sudah. Adik siap mendengarkan semua ini sendirian karena sebagai dokter saya harus memberitahu keadaan adik sekarang,” kata dokter.
“Iya saya siap dokter. Katakan saja,” jawabku.
“Sebenarnya adik telah didiagnosa menderita sakit kanker darah atau LEOKIMIA,” kata dokter.
“Kanker darah? Apakah penyakitku separah itu? Padahal aku kan hanya mimisan?” tanyaku.
“Iya memang salah satu tanda penyakit kanker darah adalah mimisan dan kepala pusing,” jawab beliau.
“Apakah penyakit ini bisa di sembuhkan, Dok?” tanyaku.
“Kemungkinan  hanya 50 %” jawab beliau.
“Oh ya?”
            Lama aku memikirkan untuk memberitahu keluargaku.namun sesampainya dirumah aku melihat adikku sedang bermain dengan gembira.Kakakku pun berpamitan akan pergi bersama temanya dan Ibu sedang dikantor.Aku pun menuju kamar untuk memikirkan hal itu.
            Sampai di pagi hari aku dan keluargaku sarapan bersama untuk memulai beraktivitas. nmun aku mengurungkan niatku untuk memberitahu mereka.Karena aku takut mereka akan sedih dan mereka akan menganggapku lemah.Hari ini hari sabtu. karena ini hari weekend jadi hari ini libur.
            Aku bersama adikku  berniat untuk membersihkan rumah dan gudang. Waktu aku membersihkan gudang taksengaja aku menemukan sebuah benda kotak mirip buku yang sudah kusam dan jelek. Aku bersihkan perlahan-lahan setelah itu aku buka. Ternyata itu sebuah album foto. Di album itu terlihat sebuah foto yang bergambarkan Ibu bersama seorang pria. Aku berfikir apakah itu foto Ibu bersama Ayah. jika itu Ayah dimanakah Ayahku sekarang?
            Setelah semuanya selesai, aku berniat menanyakan hal itu kepada Ibu.
“Ibu, dulu Ayah kaya gimana sih?” tanyaku.
“Dulu Ayah baik dan penyayang,” jawab Ibu.
Apakah Ayah seperti ini bu?” aku bertanya sambil memperlihatkan foto yang temukan digudang tadi.               
“Darimana kamu temukan foto itu?” tanya Ibu dengan suara yang agak membentak.
“Darimana itu nggak penting, yang penting itu Ayah atau bukan?” aku bertanya.
“Bukan, itu bukan Ayahmu,” jawab beliau.
“Lalu dimana Ayah sekarang?” aku menangis.
“Ayahmu pergi meninggalkanmu dan keluarga kita,” jawab Ibu yang ikut menangis.
“Tapi kenapa Ayah meninggalkan kita?” tanyaku yang manangis semakin keras.
“Mulai sekarang jangan pernah tanyakan itu lagi!” Ibu membentak.
            Sejak itu aku mulai merenungkan diri. Aku tidak berselera makan dan minum, hingga pada akhirnya aku sakit demam, tentu saja itu membuat Ibuku panik. Ibuku pun langsung membawaku kerumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit badanku semakin panas hidungku yang mimisan. Keadaan itu membuat Ibuku semakin kawatir. Sesampainya dirumah sakit, aku diperiksa. Ibu bertanya kepada dokter.
“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Ibu.
“Anak Ibu apakah sering mimisan?” dokter berbalik bertanya.
“Saya barau tadi melihat anak saya Resa mimisan sebanyak itu. Sebenarnya anak saya kenapa dok?” tanya Ibu sambil menangis.
“Sebenarnya anak Ibu sudah lama menderita penyakit kanker darah. Memang Ibu tidak tau?” jawab dokter.
“Saya harus bagaimana, Dok? Saya benar benar tidak mengetahui bahwa anak saya sakit,” tanya Ibu yang menghawatirkan keadaanku.
Dokter pun hanya terdiam dan tak berkata apa apa.
            Setelah menemui dokter Ibu lalu pergi ke kamar periksaku.Dengan keadaan setengah sadar. Aku mendengar Ibu berkata, “Ibu sayang sama Resa, Ibu nggak mau Resa sakit. Jika kamu sadar nanti, Ibu akan ku telfonkan Ayahmu.”
Waktu tidur aku sering mengigau memanggil manggil Ayah.
            Kata dokter aku tidak boleh pulang karena keadaanku menghawatirkan sampai sampai 1 hari bisa habis infuse 3 coba bayangkan semua badanku sakit.aku heran mengapa keadaanku semakin parah. Kakakkku yang dulunya suka main sekarang sering menungguiku dan ia kelihatan khawatir  dengan keadaanku.
            Ketika aku selesai diobati aku pernah berfikir.akankah aku bertemu Ayah.apakah hidupku masih lama ataukah aku akan pergi.
            Sebelum aku menemui hal seperti itu,aku berniat menanyakan Ayah kepada Ibuku.
“Ibu!” panggilku dengan nada suara yang agak malemas.
“Iya sayang?” jawab Ibu dengan nada yang lembut yang menandakan sayang.
“Bolehkah  Resa meminta sesuatu?” tanyaku.
“Boleh,” jawab Ibu.
“Resa ingin bertemu Ayah sekali saja,” pintaku.
“iya sayang besok Ibu telfonkan Ayahmu untuk datang kemari,” jawab Ibu.
“Terimakasih bu,” jawabku.
            Seminggu berlalu. Ayah pun belum datang juga. Dengan keadaanku yang memburuk. Beberapa hari kemudian tak disangka Ayah pun datang. Aku bertanya kepada Ibuku.
“Ibu apakah itu Ayah?” tanyaku.
“Iya itu Ayahmu,” jawab Ibu.
            Tanpa memperhatikan keadaan ku yang semakin memburuk.Aku langsung berlari menuju kepelukan Ayah.saking kangenya aku memeluk Ayah dengan erat.Rasanya tak ingin dilepas.tanpa aku sadari dan semuanya pun gelap seketika.ternyata aku tak sadarkan diri.
            Setelah aku sadar aku langsung mencari Ayah. Dengan keadaanku yang semakin memburuk.
“Ibu bolehkah aku minta sesuatu lagi untuk yang terakhir kalinya,” pintaku.
“Apa sayang silahkanm,” jawab Ibu.
“Ibu aku ingin lIburan bersama Ayah,” aku meminta.
“Tapi keadaanmu?” Ibu menghawatirkanku.
“Tidak apa apa bu. Asalkan tetap bisa bersama Ayah,” aku menenangkan Ibu.
“Ya boleh terserah kamu,” Ibu mengiyakan.
            Setelah mendapatkan izin. aku pun pergi berlIbur bersama Ayah.
“Ayah...” kataku.
“Iya?” jawab Ayah.
“Ayah sayang sama Resa nggak?” aku bertanya.
“Ya sayanglah,” jawab Ayah.
“Kalau sayang, peluk aku dan nyanyikan 1 lagu nina bobo!” pintaku.
“Boleh ...” Ayah mengiyakan.
            Ayah pun melakukanya Ayahpun bernyanyi sambil menangis.Tak terasa mataku mulai terpejam. Terpejam bukan untuk tidur, tapi terpejam untuk tidur yang lelap. Selamat tinggal dunia. Selamat tinggal Ayah, Ibu, Rendi, dan Riska. Aku menyayangi kalian semua, semoga dengan kepergianku Ibu dan Ayah bias bersatu kembali.
Aku senang karena bertemu Ayah walau pun hanya sebentar saja.
***













Bukan Dia Tapi Aku
Karya : Bagus Cahyo Bagaskoro
Hazard adalah seorang mahasiswa yang sangat terkenal di kampusnya,bahkan pra dosen dan  pun mengenalnya, maklum dia adalah anak rector kampus itu. Tapi dia tidak sombong kepada teman-temanya dia pun senang membantu temanya yang kesusahan. Dia mempunyai sahabat bernama Oscar, mereka berdua saling kenal sejak kecil dan mereka selalu bersekolah bersama.Hazard mempunyai kekasih yang sangat cantik, dia bernama Jane.Hazard sangat mencintainya karena menurutnya dia adalah wanita yang paling sempurna.suatu hari Hazard ingin mengajak Jane ke sebuah restoran dan Jane pun menurutinya.
Hari pun tiba Hazard menjemput Jane kerumahnya tepat pukul 5 sore, Hazard sangat senang bila dia kencan dengan Jane karena dia seperti pangeran yang  pergi dengan putrid yang cantik jelita.
Setibanya di kafe mereka lalu memesan makanan, ”Mau makan apa sayang?” kata Hazard.
Jane pun menjawab “Steak aja say,” Hazard pun lalu memesan makanan ke pelayan dan sasaat kemudian makan pun tiba.
Hazard berbicang dengan Jane, ”Say kamu tu sayang ma aku karena tulus atau cuma karena aku anak rector di  kapus kita?”
Jane pun menjawab, “Enggak kok say aku cinta ma kamu tu tulus dari hati.”
”Bener?”
“Iya ya!”
Setelah beberapa menit berbincang tak terasa makanan yang mereka santap sudah habis mereka pun pulang.Keesokan harinya sahabat Hazard, yaitu Oscar memberitahu kepada Hazard bahwa dia mempunyai pacar baru.Hazard pun ikut senang karena sahabatnya mempunyai kekaih baru,Hazard pun bertanya kepada Oscar siapa pacar barunya tersebut, tetapi Oscar hanya diam serIbu bahasa. Hazard pun tidak curiga kepada Oscar mengapa dia tidak memberitahukannya kepadanya dia berpikir bahwa Oscar mungkin malu kepadanya.
Malam minggu Hazard mengjak jane pergi noton ke bioskop tetapi Jane tidak mau karena beralasan menjenguk temannya yang sakit. Hazard pun pulang saat tiba dirumah dia berencana main ke rumah Oscar daripada dia hanya diam di rumah, ternyata Oscar pun tidak ada Hazard jadi binggung dengan tingkah kedua orang yang paling dekatnya itu.
Kesokan harinya dia bertanya Kepada Oscar kemana dia semalam, Oscar terlihat gugup menjawab pertanyaan Hazard. Hazard pun mulai curiga tentang tingkah Oscar dan Jane yang aneh belakangan ini. Hazard pun mulai melakukan tindakan untuk mencari tau apa yang menyebabkan Jane dan Oscar sulit di hubungi akhir-akhir ini. Hazard pun menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki tingkah polah Jane dan Oscar. Pak Terry bertugas mengawasi Jane dan pak Torres bertugas mengawasi Oscar.
Suatu Hari Oscar di ajak Hazard untuk pergi bersama ke pantai membawa kekasihnya dan Hzard pun juga, tapi Oscar tidak meiyakannya karena alasan sakit  lalu Hazard mengajak Jane untuk pergi tetapi Jane juga tidak mau karena beralasan pergi dengan Ibunya.
Lalu Hazard menugaskan Pak Terry dan Pak Torres untuk mengawasi keduanya apa yg mereka lakukan sehingga mereka tidak mau dia ajak jalan oleh Hazard. Mula mula pak torres Dan pak Terry Diberi Walkitoky oleh Hazard agar mempermudah percakapan mereka saat sedang mengawasi Jane Dan Oscar. Pak Terry pun mendatangi rumah Jane untuk me mata-matai apa yang sedang di lakukan Jane apakah dia benar-benar pergi dengan Ibunya atau dia berbohong agar bisa pergi dengan orang lain, Pak Torres pun demikian dia dating ke rumah Oscar untuk mengawasi gerak-geriknya.
Pak Terry lalu melihat Jane ternyata tidak pergi dengan Ibunya melainkan dia pergi sendiri dan ternyata dia membeli gaun biru yang cantik, Pak Torres pun demikian dia melihat Oscar mengambil jas yang ia Londry ke tempat pencucian lalu keduanya lapor kepada Hazard.
’’Bos ternyata Jane tidak pergi dengan Ibunya tetapi ternyata dia malah pergi membeli gaun berwarna biru,” kata Pak Terry.
Lalu Pak Torres pun menyusul melapor, “Bos Oscar tidak sakit tapi melainkan dia mengambil cucian di tempat laundry untuk mengambil jas.”
Lalu Hazard bertanya kepada hati kecilnya, “Mengapa jadi aneh ya, apakah mereka sengaja menjaui ku atau jangan-jangan mereka selingkuh dan mereka tetap ada di sekeliling ku? Oh aku harus mencari tahu apa yang mereka perbuat jika di luar sana.
Hazard pun mengambil langkah ekstream Hazard menyuruh Pak Terry dan pak Torres untuk Memasang penyadap telepon ke rumah Jane dan rumah Oscar, Hazard memerintah kan keduanya pada malam hari agar tidak di ketahui oleh Jane dan Oscar.
Jam 12 malam Pak Terry dan pak Torres pun dating ke rumah Oscar dan Jane mereka lalu menyelinap masuk ke dalam rumah tanpa sepengetahuan Jane dan Oscar. Lalu mereka berdua mulai memasang  alat penyadap telefon itu, tugas pun selesai Pak Terry dan Pak Torres lalu melapor kepada Hazard Bahwa tugas meeka sudah selesai.
Kesokan harinya ternyata Oscar menelepon Jane untuk beretemu di sebuah kafe jam 7 malam, Hazard pun lalu terkejut bukan main ternyata dugaan nya ternyata benar lalu dia pun bergegas untuk menyelidiki apa yang di lakukan keduanya   jam 6 sore Hazard bergegas untuk tiba dahulu agar Jane dan Oscar ridak mengetahui kalu dia juga ada di kafe itu saat,di tunngu pun tiba Jane dan Oscar bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang baru di mabuk asmara hati Hazard pun rasanya seperti di cabik-cabik pisau bermata dua dia melihat sendiri Kekasihnya dan sahabatnya sedang berduaan.
Hazard pun mulai mendekati tempat duduk Oscar dan Jane namun keduanya tidak curiga bahwa orang yang di dejat mereka adalah Hazard karena Hazard memakai jumper hitam dan memakai pelindung mulut, Hazard pun merekam apa yang Jane dan Oscar lakukan di kafe itu agar menjadi bukti perselingkuhan mereka berdua, Hazard memutuskan  menunggu keduanya pulang dan dia berniat mencegat mereka berdua bersama pak terry jam 8 malam. Ternyata mereka berdua tidak langsung pulang melainkan mereka berdua pergi ke bioskop untuk menonoton film, Hazard pun menugaskan Pak Torres untuk mengawasi mereka berdua di bioskop sementara dia dan Pakt Terry mencegat jalan yang akan di lalui Oscar dan Jane pulang nanti.
Jam 10 malam Oscar dan Jane ternyata sudah meninggalkan bioskop lalu pak torres melapor kepada Hazard dan Pak Terry nbahwa Oscar dan Jane akan segera pulang. Mobil yang di kendarai Jane dan Oscar sudah tiba di depan jalan yang sudah di cegat oleh Hazard, Hazard pun lalu mencegat mobil itu, Jane dan Oscar terkejut dan marah karena ada orang yang mencegat mobil nya secara tiba-tiba.
Betapa terkejutnya Oscar dan Jane saat mereka berdua keluar dari mobil mereka ternyata orang yang mencegat mereka itu adalah Hazard, Hazard langsung menepuk tangannya dan berkata, ”Bagus, ternyata 2 orang yang aku anggap orang yang paling baik dalam hidup ku ternyata hanyalah orang yang tidak mempunyai perasaan yang tega selingkuh di belakang ku!”
Lalu Jane dan Oscar member tahu Hazard bahwa apa yang terjadi bukan sepaerti apa yang di pikirkan oleh Hazard, tapi Hazard tidak sebodoh yang mereka kira Hazard lalu mengeluarkan rekaman Video saat mereka sedang berdua di kafe dan rekaman sadapan telefon yang telah di ambil oleh Pak Terry dan Pak Torres. Namun Oscar dan Jane tidak juga mengaku, lalu Hazard pun mengambil barang bukti terahir berupa kado yang di berikan Oscar kepada Jane yang ternyata jatuh dan di temukan oleh Pak Terry.
Oscar dan Jane pun lalu mendekati Hazard dan memohon meminta maaf atas segala kesalahan yang telah mereka perbuat kepada Hazard, namun Hazard hanya diam dan tak peduli apa yang di ucapkan.Hazard pun lalu pergi dan terlihat mengeluarkan air mata yang berlinang di bajunya,dia lalu menulis sebuah catatan yang berisi, “Terima kasih atas segala yang kalian lakukan untuk ku selama ini mingkin aku yang salah karena aku terlalu memaksa kalian untuk selalu berada di sisi ku tapi kenapa harus dengan car begini kalian memberitahu ku,knapa kalian tidak terus terang saja apa yang ingin kalian ungkapkan toh jika kalian katakana kepadaku sejak awal aku tidak akan marah karena aku bisa melihat kalian bahagia.”
Oscar pun mengambil catatan itu dan dia berkata, “Bro mafkan aku dan Jane aku berjanji akan menjaga Jane sebisa ku.”
Keseokan harinya Oscar dan Jane mendatangi rumah Hazard untuk meminta maaf tapi ternyata Hazard sudah pergi ke Amerika serikat untuk berkuliah di sana.Oscar dan Jane pun hanya bisa menyesal karena telah melakukan hal yang buruk terhadap Hazard.
***

Dia Telah Pergi
Karya : Delya Intan Ramadhanty
Anak itu dipanggil Gani. Dia baru di kelas 2, SMPN Mekarsari 2. Sejak sebulan yang lalu Gani  masuk di kelasku. Dia pindahan dari SMPN di kota, aku tidak tahu dari SMPN mana. Dengan melihat tampangnya, kita akan berkesimpulan bahwa dia anak nakal, atau mungkin anak berandalan.
Gani anak pendiam, tidak mau bergaul, tatapan matanya dingin, seprti menyembunyikan kebencian. Di wajahnya terdapat bekas luka-luka, sepertinya bekas luka karena sering berkelahi. Setiap hari dia selalu terlambat. Gani paling sering mendapat peringatan dari wali kelas kami, Bu Mira. Dulu aku mengira, tidak ada anak yang lebih sering terlambat dan tidak mengerjakan PR, selain Ronaldo. Ternyata, masih ada yang lebih buruk darri itu. Gani menjadi buah bibir dikelas kami, tapi untuk hal-hal yang bersifat negatif.
Sejak Gani masuk,dikelassku sering terjadi kejadian-kejadian buruk. Marisha kehilangan cincin emas 2 gram hadiah pemberian Ibunya. Ratna kehilangan hape Blackberry Bold pemberian dari kakaknya. Rudi yang tadinya pendiam tiba-tiba sering berbuat ona. Kejadian-kejadian lain seperti buku hilang atau alat-alat tulis hilang, sudah tidak terhitung lagi.
“Menurutku, ini semua pasti perbuatan Gani,” kata Aji, seorang teman sekelasku, ketika kami dalam perjalanan pulang.
“Sejak dia datang, kelas kita jadi kacau. Rudi yang tadinya pendiam, sekarang bandel sekali. dia pasti sudah dipengaruhi oleh Gani,” lanjut Aji.
“Aku juga berpikir begitu,” kataku pendek.
“Aku pernah melihat Gani menguntit Ratna, sebelum dia kehilangan hp Blackberry Bold pemberian dari kakaknya,” kata Shandi.
“Tapi, kita belum menemukan bukti yang kuat. Kita hanya menduga-duga,” kataku menyadarkan teman-teman.
“Reza, masalahnya sudah jelas. Kita tidak butuh bukti lagi.semua anak sudah tahu. Sejak Gani datang, kelas kita langsung kacau. Siapa lagi kalau bukan dia?” sergah Aji dengan kata-kata meluncur seperti air dari water canon. Aku hanya diam, mau membantah sulit, mau menuduh juga tidak punya bukti.
Akhirnya kami bertiga sepakat untuk menyelidiki Gani. Kami ingin tahu kesIbukan dia sehari-hari. Kalau nanti kami menemukan bukti-bukti kuat, kami akan melapor Bu Mira, agar Gani ditindak tegas. Kami bertiga sepakat untuk tutup mulut sampai penyelidikan selesai.
Kami bertiga mengawasi Gani dikelas. Kami juga mengawasi dia ketika waktu istirahat. Setelah pulang sekolah, kami mengikuti dia sampai ke rumahnya. Ternyata, rumahnya jauh dekat tempat penampungan sampah. Disana kami mengawasi dia dari kejauhan, takut ketahuan. Kami terus mengikutinya, termasuk ketika Gani pergi ke tempat penampungan sampah.
Sudah seminggu kami mengawasi gerak-gerik Gani, tapi belum mendapatkan bukti yang dicari. Malah kami dipergoki Gani ketika sedang menguntit dibelakangnya. Lebih buruk lagi, beberapa kali kami ditegur Bu guru karena tidak memperhatikan pelajaran dikelas. Ternyata menyelidiki itu meletihkan juga.
“Gimana Reza? Kita sudah seminggu, tapi belum dapat apa-apa,” tanya Shandi ketika kami duduk-duduk dibawah pohon kersen dihalaman sekolah.
“Gak tahu lah, Shan. Bukannya dapat bukti, kita malah kepergok,” jawabku.
“Ji, gimana menurutmu?” tanyaku Aji yang sejak tadi hanya diam. Dia hanya menggelengkan kepala.  Untuk beberapa lama kami terdiam.
“Persoalan ini sangat aneh,” kataku memecahkan keheningan.
***
“Kamu ingat tidak, kejadian Kamis kemarin, Shan? Waktu itu Gani mau pergi ke tempat penampungan sampah. Sebelum pergi dia mencium tangan Ibunya. Selama di tempat penampungan dia memulung sampah seperti pemulung-pemulung lain. Dia memulung sampah setelah pulang sekolah. kasihan sekali! Aku tidak menyangka. Dia semiskin itu.
“Benar, Rez. Aku jadi agak menyesal. Mengapa kita mencurigai dia? Sepertinya dia anak baik.” Kata Aji yang sejak tadi diam saja.
20 Januari 2011, aku mencatat tanggal ini di student diary pemberian Ayah. Hari itu terjadi kejadian istimewa. Gani didampingi Ayahnya berdiri didepan kelas. Bu Mira menjelaskan bahwa Gani akan pindah sekolah, sebab keluarganya akan pindah ke Sumatera Barat. Ayah Gani berbuat kesalahn. Sesudah itu Gani menyalami kami satu per satu sambil mengatakan “Maafkan aku!”
Setelah Gani pindah. Kejadian-kejadian buruk masih tetap terjadi. Rudi berkelahi dengan Irfan. Ketika itu pak guru datang dan langsung mereka disidang.
Perkelahian Rudi dan Irfan membawa hikmah besar. Ternyata yang mengadu domba Rudi dan Irfan adalah ronaldo dan kejadian-kejadian burul selama ini adalah perbuatan Ronaldo. Kami jadi menyesal telah menuduh Gani.
Aku masih ingat ketika Gani menyalamiku dikelas, dia sempat berkata lirih “bukan aku pelakunya, percayalah!” aku hanya diam terpana. Apalagi ketika melihat matanya berkaca-kaca.
Oh, Tuhan, aku telah salah menuduh, tapi kini dia telah pergi....
***



Berkat Mimpiku
Karya : Dewi Puspitasari
Hidup berawal dari mimpi. Tetapi mimpi juga harus kita imbangi degan beribadah dan berdoa. Tanpa itu, kita akan sangat sulit untuk mencapai mimpi. Salah satu cara untuk mewujudkannya, dengan berusaha semaksimal mungkin.
            Hal ini juga telah dialami oleh seorang anak yang duduk dibangku X(Sepuluh) SMA, dialah Key. Masa kecilnya tidak sebaik anak-anak lain yang hidupnya serba kecukupan. Keluarganya tak sanggup lagi  membiayai kelanjutan sekolahnya. Karena pamannya tahu hal itu, beliau segera mencari solusinya. Berpikir…berpikir…dan berpikir…
“Nhaa.. paman tahu, gimana kalo paman carikan panti asuhan??” kata paman dengan semangat.
“Haaa..?” teriak Key kaget.            
Setiap pagi paman selalu berusaha mencarikan panti asuhan yang mungkin nyaman untuk Key. Hingga 3 jam roda sepeda motor paman terus berputar. Dan akhirnya terhenti di Panti Asuhan yang berpapan nama Soman Shawol. Paman pun masuk ke kantor panti asuhan itu, dan mengungkapkan semua yang paman maksud datang ke panti itu pada pengasuh yang mendampingi paman.  Satu demi satu baris pada lembaran kertas yang sedikit usang itu, paman isi dengan pena bertinta Parceslent Sky Blue. Yang dimaksud adalah formulir pendaftaran.
“Dua hari lagi tanggal 18 Juli, silahkan bapak datang lagi, untuk melihat pengumuman diterima atau tidaknya keponakan bapak,” perintah pengasuh Panti Asuhan Soman Shawol.
“Baiklah, besok saya akan datang lagi,” jawab paman.
Setelah itu, paman ingin melihat keadaan dalam panti asuhan yang berplakat Soman Shawol. Bisa dikatakan, keadaan panti asuhan itu cukup nyaman untuk Key. Roda sepeda motor paman
 kembali melakukannya lagi, yaitu berputar… Sampailah di gubuk tempat Key tinggal, paman menyampaikan semua yang telah ia lakukan selama beliau di Panti Asuhan Soman Shawol.
            Satu minggu.. dua minggu.. berlalu, Key masih saja merasa geLisah. Ternyata Key belum mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dengan keputusannya yang kilat, ia memaksakan diri untuk pulang selama 3 hari, untuk menenangkan kegeLisahannya. Paman berusaha membujuk untuk selalu sabar dan tabah. Dan ajaibnya, ketika Key melamun sendirian diruang kamar, ia mengamati wajah Ibundanya yang umurnya separuh baya,  dan lebih parahnya lagi, dia sakit-sakitan. Maaf, Ayah Key juga telah meninggal dunia 4 tahun lalu. Dengan ratapan yang sangat dalam, Key meneteskan air matanya dengan penuh penyesalan, yang ada dipikirannya yaitu
“Mengapa aku musti gak bisa bantu Ibu, mengapa…?”
“Aku harus kembali ke panti asuhan itu lagi, Ayoo.. Key Bisa”gumam Key sambil menepuk-nepuk dadanya.
Akhirnya Key memutuskan untuk tidur, ditengah perjalanan tidurnya, Key bermimpi mengHajikan Ibunda dan pamannya, setelah ia menjadi orang sukses.
            “Alhamdulillah,” ucap Key usai bangun, ia sangat mengingat sekali mimpinya tadi, dan tak tahu mengapa ia ingin sekali mencapai mimpi itu, maka Key segera beranjak mempersiapkan untuk kembali ke Panti Asuhan Soman Shawol lagi. Hal yang membuat Key kaget, peraturan Panti Asuhan Soman Shawol yaitu, HARUS TINGGAL DIPANTI MINIMAL 3 TAHUN. Tapi justru hal itu yang membuat hatinya bangga, dengan hal itu pula Key bisa memanfaatkan masa depannya di kemudian hari. Cara Key gini, selama Key tinggal dipanti, dia akan mengumpulkan uang yang diterimanya dari para tamu yang menyumbang ke Panti Asuhan Soman Shawol. Biasanya, setiap kali bulan Ramadhan tiba, banyak para donator yang ingin ngabuburit bersama anak-anak panti asuhan.
            Ada banyak pertanyaan yang ada pada diri Key, salah satunya yaitu,
“Apakah aku dapat menyelesaikan tugasku dipanti ini, jika aku harus bertahan tiga tahun, dan belum tentu juga, siapakah yang dipilih untuk mengabdi?
           
            Selama tiga tahun, Key belajar dan mendalami ilmu-ilmu agama, seperti Bahasa Arab, Fiqih, Tajwid, dan Akhlak. Ilmu-ilmu itu yang telah membantu Key menjadi anak yang sadar bahwa kelakuannya dahulu sebelum masuk panti asuhan itu sungguh berbeda dengan sekarang. Setelah mendalami ilmu yang dituangkan dari ustadz dan ustadzah disana, ia bertekad untuk menjadi pedagang Ala Rasulullah, yaitu dengan kunci JUJUR.
Inilah waktu penentuan bagi siapa yang ditanggung jawabkan untuk mengabdi. Mengabdi bertujuan untuk membantu menjalankan kegiatan Panti Asuhan Soman Shawol, selain itu, juga mendidik santri. Dag.. dig.. dug.. telah membuat Key terspontan dengan kalimat yang disampaikan oleh Ustadz, bahwa:
“Bagi yang mengabdi pada Tahun Ajaran 2011-2012 adalah Joney, Tommy, Henry, Arly, dan David.”
Benak Key berputar, ternyata ia teringat bahwa Joney, Tommy, Henry, Arly, dan David adalah kelompok geng yang terkenal nakal, dan sering membantah nasihat pengasuh, mungkin mereka ditugaskan mengabdi untuk menggantikan perasaan pengasuh pada saat mereka membantah dari nasihat. Dan Key sangat berterimakasih sekali, karena ia bukan termasuk santri yang bandel. Malah, ia semakin rajin ibadah untuk menghadap Tuhan.
            Tinggal 2 minggu lagi, ujian sekolah Key berakhir, dan pikiran Key telah berada dirumah, sehinnga Key tidak merasa bahwa dirinya itu masih berada di panti asuhan.
“Sebentar lagi, aku akan bertemu dengan Ibunda kesayanganku. Dan aku tidak habis pikir, jika nantinya aku pulang kerumah, aku akan segera berangkat Haji bersama paman dan juga Ibu.” gumam Key sambil melonjak-lonjak.
Kurang lebih 2 tahun, Key telah menjadi orang yang sukses, sebentar lagi ia juga akan menghajikan Ibunda dan pamannya. Dan itu sebuah mimpi yang ditunggu-tunggunya.
Namun mimpi itu hanya ada dibenaknya, kejadian saat Key pulang kerumah, ia tak menyadari bahwa didepan rumahnya telah banyak warga yang berkumpul, Key mendatangi rumahnya dengan bantuan lari, dan Key seperti tak bernyawa lagi ketika ia melihat wajah Ibundanya yang telah dIbungkus dengan kain mori. Key mendekati mayat Ibundanya dengan langkah tak bersemangat, lalu ia menggeleng-gelengkan wajah Ibundanya yang dipikirnya bisa hidup kembali. Semua yang dilakukan Key hanya sia-sia, ia tetap menangis disamping Ibundanya.
“Apa yang telah terjadi?” bisik Key pada pamannya sambil melotot dan menggoyang-goyangkan tubuh pamannya.
“Ketika Ibumu hendak bangun dari tempat tidur, beliau terjatuh. Dan saat diperiksa, beliau telah menghembuskan nafas terakhirnya”jawab paman singkat.
“Lalu mengapa paman tidak memberitahu Key, apa yang paman sembunyikan dari Key, bahkan dia adalah Ibu Key?” tanya Key dengan suara makin keras.
“Paman bermaksud baik, hanya saja paman tidak tega melihatmu sedih ketika belajar dipanti asuhan,” sahut paman.
“Terimakasih paman, hanya saja Key yang berpikirnya terlalu kekanak-kanakan,” kata Key dengan muka menunduk.
            Key hampir saja putus asa, karena keluarga yang dicintainya telah pergi mendahului Key. Dan Key hanya seorang diri. Dalam keadaan seperti itu, paman tidak tega melihat Key hidup  sebatang kara, paman pun menawarkan Key tinggal bersamanya. Karena Key sadar dengan ilmu yang diberikan oleh Ustadz dari panti asuhan, bahwa “Semuanya adalah milik yang Maha Kuasa, maka mereka akan diminta kembali oleh-Nya,” maka ia harus tetap berangkat Haji bersama pamannya.
            Memang mimpi itu juga harus butuh pengorbanan tiada tara. Selain itu, jika kita sangat bertekad baik untuk mewujudkan suatu mimpi, dan dengan sepenuh hati, mimpi itu benar-benar ada didepan mata dan nyata.
***
 Maafkan Aku, Bunda
Karya : Dwi Oktaviani
            Terdengar suara kokok ayam saling sahut menyahut menyambut datangnya sang mentari pagi. Kicauan burung burung kecil menghiasi suasana pagi yang sangat cerah ini.Berbeda dengan suasana damai di alam luas ini,suara gaduh dan rIbut terdengar jelas di sebuah rumah yang telihat mewah.
Ya, disinilah aku, Mutiara Putri Angelita. Atau sering dipanggil Ara tinggal. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku berserta pembantuku Bi Tini juga Pak Joko supir pribadiku.
***
            Seperti halnya orang orang yang lainya,sebagai anak orang kaya aku selalu ingin dimanja,disayang dan tentunya semua keinginanku harus terturuti.
   “Bi… Bibi… Akukan mau sepatu yang hitam kok di ambilin yang putih sih! Bibi dengar ngak sih!” suruh ku dengan suara kasar.
   “Baik non,sebentar tanggung!”
   “Bi cepetan keburu terlambat nih!” panggilku semakin kasar.
Namun Bi Tini tak lagi menjawab, yang terdengar hanyalah suara lembut yang membelai telingaku.
 “Sabar dong Ra bibikan sedang sIbuk mempersiapkan sarapan,” sapa mama dengan lembut.
            “Tapi Ma ...” jawabku memotong pembicaraannya.
“Ara kamu kan punya tangan dan kaki sendiri! Kenapa kamu tak menggambilnya sendiri dan kenapa harus bibi yang menggambilkanya untukmu…” jawab mama menasehati
“Tapi ma Bi Tini disini kan cuma pembantu dan memang sepantasya ia melayaniku..” bantahku
“Iya mama mengerti tapi kan bukan seharusya kamu tergantung sama bibi! Lha kalau kamu terbiasa begitu kapan kamu mandirinya,” nasehat Ibu.
Mendengar nasehat Ibu aku pun tak lagi berani menjawabnya.Aku pun segera bergegas mengambil sepatu dan segera menuju garasi tempat mobil kesaynganku tersimpan
           “Pak cepetan sudah terlambat nih!” seruku memanggil pak Joko.
             “Baik non…”jawab pak joko sambil mengeluarkan mobil Xenia, mobil pribadiku.
              “Cepetan pak!”
             “Baik non.”
***
            Sesampainya digerbang depan sekolah bel pertanda sudah masuk berbunyi.Tanpa pamit pada pak Joko aku pun segera menuju kelasku.Namun saat tiba di depan pintu kelasku KBM sudah berlangsung dan tiba tiba Pak Tono mengagetkanku,
“Ara kamu terlambat lagi!”
Aku hanya diam saja sambil menahan takut.
            “Ayo segera kamu masuk!” ajak pak Tono.
“Ba… baik pak!”
“Kenapa kamu terlambat?” tanya pak Tono sambil perkacak pinggang
“Emb ... Anu pak… Emb… anu…!” jawabku nggak karuan.
            “Anu… anu! Sudah sekarang taruh tas mu dan cepat kembali kedepan kelas!”
“Baik pak…”
“Dah ebagai hukuman karena kamu terlambat lagi, sekarang berdiri di sini sampai pelajaran ini selesai ! Mengerti!”
Tanpa berpikir panjang lagi aku pun segera mengangkat kaki kananku dan memeganggi kedua telingaku di ikuti ejekan ejekan dari temanku.
***
            “Teng…teng…teng..”
Bel istirahat berbunyi dan akhirnya berakhirlah hukuman dari pak Tono.
             “Nah Ara bel sudah berbunyi silahkan kamu kembali ke tempat dudukmu ! dan untuk anak anak semuanya kalian jangan keluar dulu !” pinta pak Tono pada kami.
            “Memangya ada apa pak “Tanya salah satu temanku.
            “Emb… ini ada pengumuman yang sangat penting ! “
            “Baik pak..!” jawab kami serempak
            “Ya dengarkan baik baik! Besok pagi kalian belajar di rumah karena para guru akan mengadakan rapat untuk menjelang datangnya UTS !” jelas pak Tono panjang lebar.
           “Jelas anak anak?”
           “Jelas pak.”
“Ya baiklah, segeralah kalian berkemas kemas ! karena hari semua guru akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk rapat besok !” twterang pak Tono kembali.
“Baik pak.”
Setelah mendapat instruksi dari pak Tono kami pun segera pulang kerumah masing masing.
***
            Disaatku berjalan menyusuri lorong lorong tiba tiba ada seseorang memanggilku.
“Ara… tunggu!”
“Eh, kamu La! Kirain siapa,“ jawabku
“He..he kaget ya … sorry!”
“Uhf untung aku nggak punya penyakit jantuna kalau punya pasti mati aku “
“Sorry habis kamu sih! Jalan kok sambil ngelamun!”
             “Eh, Ra, kenapa tadi kamu terlambat?” tanya Latifah padaku.
 “Emb… enggak tadi tu nyariin sepatu.”
 “Sepatu? Memangnya sepatumu jalan jalan apa!” ledeknya.
 “Ya enggak lah !”
  “Terus kalau enggak dimana dong hilang? Dicuri orang atau jangan jangan kamu makan ya!” tanyanya sambil  terus meledekku.
 “Ya bisa jadi !”
“Bisa jadi? Mangsudnya ?” tanyanya lagi sambil mengerutkan dahinya.
“Dah nggak usah di pikirin ! tu supirku udah datang, pulang bareng yuk!” ajaku.
“Enggak ah aku tadi kan udah janjian sama seseorang mangsudku mamaku !” jelasnya.
“Ow ya udah brarti aku duluan ya! Bye… byeee!”
“Bye!” jawabnya sambil melambaikan tangan.
***
            Sesampainya dirumah aku pun segera masuk kamar aku pun mulai membaringkan tubuhku.
“Bi, bibi cepetan sini!”
“Baik non sebentar.”
“Dari tadi sebentar sebentar terus cepetan b!” suara ku makin kasar.
“Ba..baik non ada apa?”
“Nah sekarang pijitin aku!” suruh ku bagaikan putri raja.
“Baik non.”
 Bibi pun mulai memijitiku dengan sangat lembut.
“Aw… aw.. sakit bik aw!”
“Maaf non.”
“Maaf… maaf! Bibik tu bisa mijitin nggak sih?”
Tiba tiba terdengar suara mama menghampiri ku.
“Ini ada apa sih kok teriak teriak?” sapa mama.
“Ini lho ma masak mijitin aja bibi nggak bisa!”
“Memangnya itu kenapa kok tumben nyuruh bibi mijitin segala?”
“Habis capek banget disuruh pak Tono berdiri di kelas selama 2 jam.”
“Di hukum ?”
“Iya.. tadi kan Ara terlambat ma.”
“Terlambat? Kok bisa?”
“Iya ini kan salah bibi!”
“Lho kok nyalahin bibi?”
“Iya ini semua gara gara bibi ma! Coba kalau tadi bibi cepetan ngambilin sepatuku pasti aku nggak bakalan terlambat!”
“Oalah Ra masalah kayak gitu kok dibesar besarin!”
“Biarin! Lho kok bi jangan berhenti mijitinya!”
“Ba…baik non.”
Sembari Bibi memijitiku kembali mama ku pun meninggalkanku.
“Bibi pelan pelan dong sakit nih “bentak ku semakin keras.
Bibi tak lagi menjwabnya
“Dasar pembantu nggak berguna disuruh mijitin aja  nggak bisa!” caci dan makiku.
            Mendengar cacian dan makiku papa ku pun menghampiriku.
“Ara stop!” bentak mama dari belakang.
“Apa-apaan ini?” sambung papa sedikit membentakku.
“Keterlaluan kamu!” taMbah mama.
“Dasar anak durhaka, sama Ibunya kok berani!” wajah papa semakin marah.
“Ara ketahuilah bahwa orang yang kau caci dank au maki itu Ibumu Ibu kandung mu!” jelas Ayah.
“Mangsudnya ?” tanyaku kebingungan
“Dulu waktu bibi mengandung non Ara Ayah kamu meninggal dunia, dan saat saya melahirkan non Ara saya tak mampu membayar biaya rumah sakit namun kemudian nyonya dan tuan menolongku lalu menggangkat non Ara sebagai anaknya dan untuk membalasnya bibi bekerja disini menjadi pembantu non Ara,” cerita bi Tini dengan penuh bersalah.
“Ja…jadi bi… bi Tini adalah bundaku? Ibu kandungku bukan kalian papa dan mama ku…”jawabku sambil memandanggi papa,mama dan bibi ku yang ternyata Ibu kandungku. Tak ada satu jawaban dari mereka melainkan anggukan yang meyakinkanku.
***
            Melihat anggukan dari mereka semua aku pun segera berjalan dan memeluk bunda ku.Sejuta permintaan maaf aku pinta.
    “Bu…bunda maafkan Ara bunda !”
    “Sebelum non Ara meminta maaf bibi sudah memaafkanmu !”
    “Bun Ara minta jangan panggil lagi aku non aku itu anak bunda bukan majikan bunda lagi!” pinta ku pada bunda.
   “Terima kasih saying kamu sudah mau mengkui bunda sebagai bundamu walaupun bunda adalah mantan pembantumu!”
  “Ara… Ibu… meskipun kalian telah tau akan kebenaran namun ijinkan kami untuk tetap merawat Ara dan Ibu sampai Ara sukses! Mau ya!” pinta Ayah dan bunda.
   “Tentu!” jawabku sambil tersenyum.
Mulai hari ini kebohongan selama 15 tahun yang terpendamtelah terungkap. ”Ya,” inilah kebenaran yang membuktikan bahwa orang yang setiap hari kucaci dan ku maki adalah Ibu kandungku.
***





Kamar Rahasia Oma
Karya : Hasna Purwinda Maghfira
Sudah sejak tadi matahari kembali ke peraduannya.  Tidak terasa malam telah kian larut. Terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam. Ternyata malam ini bulan purnama. Sang Dewi malam itu terlihat bulat penuh. Sinarnya menyapu kegelapan malam. Di perkampungan kumuh itu terlihat seorang gadis sedang duduk di teras rumahnya. Ia sedang menunggu kedatangan temannya yang tadi sudah berjanji datang kerumahnya untuk belajar  bersama – sama.
Pikiran gadis itu melayang ke masa lalu, ia mengingat ingat masa – masa terakhir bersama Ayahnya. Ayahnya memang sudah lama meninggal terkena kanker, kanker itu menyerang bagian otaknya. Ayahnya tidak pernah mau berterus terang kepada siapapun termasuk ia dan Ibunya. Karena Ayahnya tau jikalau ia berterus terangpun keluarganya pasti tidak kuat membiayai pengobatannya karena istrinya hanyalah penjual gorengan dan kue camilan. Ia membiarkan kanker itu terus menggerogotinya. Akhirnya kanker itu memasuki stadium akhir, karena terlambat mendapatkan pertolongan ia pun meninggal dunia.
Ia baru tersadar dari lamunannya ketika suara seorang perempuan memanggilnya.
“Tasya Putri Dharmaatmadja.” teriaknya di telinga gadis yang ternyata bernama tasya itu.
Sontak gadis itu terkejut bukan kepalang ketika mendengar teriakan itu. Tapi tak lama kemudian gadis yang dipanggil Tasya itu membalas teriakan temannya lebih keras.
“Ada apa Amelia Saputri?” balasnya.
Temannya yang kaget dan tidak siap mendapat balasan sperti itu hanya terdiam kaget. Tasya yang merasa menang tertawa terbahak – bahak, “Ha… ha… ha… liat deh ekspresimu lucu kalau kaget haha…”
Namun tawanya tidak bertahan lama ketika sebuah suara menegurnya dengan tegas, “Aduh tasya anak perempuan kok teriak – teriak seperti itu. Ini kan sudah malam, kasihan tetangga sebelah yang terganggu karena teriakanmu itu,” ujar Bu Indah, Ibu Tasya.
“Ya maaf Bu. Tasya gak akan mengulanginya lagi,” ujarnya penuh penyesalan.
Amel tersenyum penuh kemenangan, “Yasudah kalian lanjutkan belajarnya.
Ibu mau kedalam membuat adonan untuk bakwan dan onde – onde yang akan dijual besok. Hayo Tasya belajar yang benar agar kamu dapat sepintar Amel.”
Setelah mengatakan itu Ibunya masuk kerumah. Jam menunjukkan pukul 9 malam ketika mereka selesai belajar bersama. Amelpun pamit pulang karena  udara semakin dingin. Udara dingin berhembus mencari celah melewati dinding – dinding rumah yang berasal dari bambu itu. Malam semakin larut. Satu persatu penduduk desa itu mulai terbuai alunan musik dari mimpi mereka sendiri.
“Tasya ayo bangun jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih 10 menit. Kau mau telat masuk sekolah?” kata Ibu tasya berusaha membangunkannya.
“Iya bu, 5 menit lagi.” elak  Tasya.
Byurrr  tiba – tiba badan Tasya menjadi basah semua oleh air yang diguyurkan Ibunya ke badannya. “Iya iya bu tasya bangun!”
Tasya kemudian bangun dan melihat jam yang berada di tas meja belajarnya.” Hah sudah jam 6.15 aku harus cepat – cepat. Kenapa Ibu tidak membangunkanku jam 6?” ucap Tasya kepada Ibunya.
“Ibu saja sudah membangunkanmu dari tadi. Kamu saja yang malas. Ayo sana cepat mandi!” perintah Bu Indah kepada anaknya.
Setelah selesai mandi dan menyisir rambutnya Tasya siap berangkat sekolah, “Tasya nggak sarapan dulu nak?” tanya Ibunya.
“Nggak usah bu, ini udah sing takut nanti telat.”
”Yasudah nanti kamu antar ini bakwan sama onde – onde ke warung Mbok Minah sekalian minta hasil penjualan kemarin. Hasil penjualan  kemarin kamu ambil saja sebagai uang saku. Ini adea onde – onde yang sudah Ibu bungkuskan buat kamu, buat sarapan.” kata Ibunya”Baik bu. Tasya berangkat dulu, Assalamualaikum bu,”  ucapnya sembari mencium punggung tangan Ibunya.
“Mbok ini bakwan dan onde – ondenya. Sekalian minta hasil penjualan yang kemarin mbok.” ujarnya kepada Mbok Minah.
“Ini hasil penjualan kemarin Tasya. Makasih udah diantar bakwan sama onde – ondenya,” ucap Mbok Minah.
“Iya Mbok sama – sama. Mbok Minah lihat Amel tidak? Biasanyakan Amel nunggu Tasya disini,” tanya tasya kepada Mbok Minah.
“Tasya ayo cepat nanti kita ketinggalan angkot!” teriak Amel yang kesal karena menunggu tasya yang tidak kunjung datang.
“Itu Amel,” jawab Mbok Minah.
“Iya Mbok. Mari Mbok.” ucap Tasya sambil berlari menghampiri Amel. Mereka lalu berlari karena melihat sebuah angkot melintas didepannya.
Setelah turun dari angkot mereka melihat sekelilingnya yang penuh dengan mobil mewah. SMP Bina Bangsa, memang termasuk salah satu sekolah swasta favorit di Jakarta. Ia lalu berjalan menuju kelas. Ketika berjalan masuk ke kelas ia sempat mendengar sindiran Meli dan teman – temannya “Eh ada anak beasiswa kurang mampu”sindirnya dengan tatapan sinis. Tasya dan Amel memang anak yang mendapatkan beasiswa tetapi perbedaannya Amel mendapat beasiswa siswa berprestasi dan Tasya mendapat beasiswa anak kurang mampu. Tasya dan Amel tidak menghiraukan sindiran itu. Tidak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa berhamburan keluar menuju kelas ingin segera pulang.
Sesampainya Tasya dirumah betapa kagetnya ia mendapati rumahnya yang penuh dengan orang – orang. Ada apa batinnya.
“Tasya sudah pulang?” Tanya seorang Ibu dengan kaget.
“Ia bu. Ibu Tasya ada dimana kok tasya tidak melihatnya?” tanya Tasya kepada Ibu itu.
“Bu Tina tolong bawa Tasya ke dalam rumah,” kata Ibu itu.
Ibu yang dipanggil Bu Tina itupun mengantar Tasya sampai kedalam rumah. Betapa kagetnya Tasya melihat Ibunya tergeletak di sofa tua sekujur tubuh Ibunya penuh dengan luka.
“Ibu kenapa, ada apa bu?” tanya Tasya.
“Tasya Ibumu menjadi korban tabrak lari orang yang tidak bertanggung  jawab untung tadi Pak Tarno melihatnya lalu meminta warga menolongnya,” ucap seorang Ibu kepada Tasya. Tasya menangis sejadi – jadinya.
“Tasya jangan menangis sayang. Ibu tidak apa –apa. Tasya tolong ambil buku kecil di almari,” ucap Ibunya dengan nada lirih tetapi dapat didengar olehnya. Tasya pun segera mengambil buku itu. “Tasya di..si..tu ada ala..mat ne..nek mu. Ji..ka Ibu tak ada nan…ti cari..lah al..a..mat itu. Ne.. nekmu pas..ti mau me..ne…ri…mamu nak,” ucap Ibunya dengan nafas yang tersengal – sengal, kemudian ia melanjutkan “Ibu sa….yang Ta…Sya.”
Itulah kata terakhir yang diucapkan Ibunya. Air matanya tidak terbendung lagi. Bagai tanggul yang jebol air mata it uterus mengalir tiada henti. Akhirnya ia bisa menerima kenyataan bahwa ia sekarang sudah menjadi yatim piatu. Ketika sedang melamun ia ingat sebuah buku kecil yang diberikan Ibunya kepadanya. Ia membuka buku itu, ternyata itu adalah sebuah buku catatan milik orang tuanya. Ia melihat tuLisan Ayahnya.
Indah, jika anak kita sudah besar bawalah ia ke rumah orangtuaku agar ia hidup berkecukupan disana. Bawalah ia ke perumahan Mawar Merah.  Cari rumah yang banyak terdapat segala macam jenis bunga terutama bunga melati.
Berbekal buku itu Tasya bertekad mencari rumah neneknya. Dengan modal uang dari hasil berjualan bakwan dan onde – ondenya ia mulai mencari rumah neneknya.
Tasya mencari taksi yang akan melewati Perumahan Mawar Merah. Setelah sekian lama ia menunggu akhirnya ada taksi yan akan melewati Perumahan Mawar Merah. Tasya pun masuk.
“Mau kemana Mbak?” Tanya sopir taksi itu.
“Ke Perumahan Mawar Merah Pak”jawab Tasya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat yang dituju setelah membayar ongkos taksi ia lalu mencari rumah yang dikatakan Ayahnya dalam buku itu. Tidak sulit menemukan rumah itu karena rumah itu adalah rumah yang terbesar di perumahan itu.Setelah berhasil masuk ke perumahan itu. Ia dengan ragu – ragu memencet bel rumah yang penuh dengan bunga itu. Berkali – kali ia memencet bel tetapi tidak segera dIbuka oleh si empunya rumah. Karena saking seriusnya ia melihat ruamh itu ia tidak mendengar ada sebuah mobil BMW yang menyalakan klakson sedari tadi, mengisyaratkan ia untuk minggir dari situ. Karena kesal orang itu turun dari mobilnya dan menghampiri Tasya.
“Siapa kamu nak? Kenapa ada disini?” Tanya wanita tua itu.
“Saya Tasya Putra Dharmaatmadja. Saya disini sedang mencari nenek dari Ayah saya yang bernama Riyani”jawab Tasya.
Bukan main kagetnya wanita itu. “Apakah kamu anak dari Dharmaatmadja?” Tanya wanita tua itu lagi.
“Iya”jawab Tasya singkat. “Kalau begitu kaulah cucuku. Dimana Ayah dan Ibumu Tasya?” tanya nenek itu.
“Mereka… mereka sudah meninggal,” terlihat raut sedih pada wajah Tasya.
“Apa? Benarkah itu. Ya Tuhan anakku!” jerit wanita tua itu dalam hati. “Yasudah kita masuk dulu. Panggil aku Oma Riyani”kata wanita tua yang ternyata bernama Riyani itu ramah.” Bagyo, bawa masuk mobilnya.” Perintah Oma Riyani kepada Pak Bagyo, supir pribadinya.Oma Riyani bertanya kepada Tasya kapan dan mengapa orang tuanya meninggal. Tasya menjawab semua pertanyaan Oma Riyani, setelah itu ia disuruh berganti baju dan nanti malam akan dikenalkan dengan saudara – saudara adik Ayahnya, karena Ayah Tasya adalah anak sulung.
Malam pun tiba adik – adik  Ayahnya mulai berdatangan kerumah Oma Riyani. Tetapi ada salah seorang adik Ayahnya yang tidak datang. Ia bernama Tio, Tasya segan untuk bertanya kepada Oma. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Meli dan Anton hadir disitu begitu juga mereka. Pertemuaan itu diadakan diruang makan Oma yang memperkenalkan Tasya kepada mereka  “Mala mini kita sangat berbahagia karena kedatangan anggota keluarga baru ia bernama Tasya”“Kenapa Oma begitu yakin kalu dia saudara kita”potong Meli yang kemudian diikuti tatapan tidak suka mamanya. “Aku punya bukti aku membawa buku Ayah”ucap Tasya. “Diam Meli! Sudah Tasya tidak usah hiraukan dia”ucap Oma. Oma mulai memperkenalkan satu persatu mereka kepada Tasya “Ini Tante Sabrina dan suaminya Om Andre dan anaknya Meli. Ini Tante Tian dan Om Rizky ini anaknya Anton”. “Mereka satu sekolahan denganku Oma”jawab Tasya. “Oh benarkah? Bagus itu. Berarti kalian sudah saling mengenal.tasya ini adalah anak paman kalian. Kalian tahu!” ucap Oma diiring senyum yang mengembang. Meli dan Anton tersenyum masam, Tasya membalasnya dengan senyum penuh kemenangan.

Tak tersa sudah hampir setahun ia tinggal di rumah ini. Tasya sangat penasaran dengan kamar paling ujung itu. Kamar milik Om Tio. Aku harus bisa masuk kamar itu tekadnya dalam hati. Suatu malam ketika memastikan Oma sudah tertidur Tasya mengendap – endap berjalan memasuki kamar itu. Tidak ada yang pernah berani memasuki kamar itu. Anton dan Meli pun tidak berani karena larangan Oma itu. Tasya  berhasil mengambil kunci yang ada di dapur. Ia memasukkan kuncinya dan dengan pelan  - pelan ia membuka kamar. Kamar itu terlihat rapi karena hampir setiap hari Oma menyuruh Bi Inah membersihkannya, walaupun tidak ditempati. Menurut keterangan Tante Sabrina perabotan dikamar itu tidak hanya perabotan milik Om Tio, milik Ayahnya juga ada disitu.
Kemudian ia menutup pintu ia berjalan mengamati ruangan itu, sepertinya barang – barang disini tidak ada yang dipindah ke gudang padahal kan disini tidak asa gunanya pikir Tasya dalam hati. Ia mulai membuka almari pakaian disana ia menemukan berbagai macam buku tentang teknologi informasi dan komunikasi, ada juga buku tutorial untuk hacker pemula. Kata Oma Om Tio itu suka sekali hal yang berbau komputer. Ia mulai mencari barang yang mungkin bisa ia bawa dan baca. Tiba –tiba matanya tertuju pada sebuah buku bersampul cokelat. Itu adalah buku diary milik Ayahnya ia mengambilnya dan menyimpannya disaku bajunya.
Tiba –tiba saja pintu kamar terbuka dan terlihat wajah Oma disana.
“Tasya apa yang kamu lakukan disini? Ayo pergi tidur!” seru Oma Riyani.
“Baik Oma,” jawabnya.
Di dalam kamar ia tidak bisa tidur karena masih memikirkan kamar paling ujung itu. Kenapa sampai bisa tidak ada yang boleh masuk ke dalamnya kecuali Oma dan Bi inah. Tasya teringat buku diary milik Ayahnya. Ia mulai membacanya satu persatu. Disana Ayahnya menceritakan bahwa Omanya adalah sesorang yang suka memaksakan kehendak kepada anaknya. Adiknya, Tio sangat suka bermain computer dia sudah merasa bahwa komputer itu adalah hidupnya dia tidak bisa hidup tanpa kompuer tetapi Oma mengenginkan ia menjadi ahli botani iapun melarangnya dan mengancamnya jika masih ingin bermain computer ia akan menjual komputernya. Om Tio melakukan aksi mogok makan dan membuat badannya lemah dan semakin lemah sampai ia harus di infus, Om Tio akhirnya memutuskan bunuh diri dengan meloncat dari jendela kamarnya.
Ternyata sebelum bunuh diri Om Tio sudah mempunyai rencana yaitu akan mengirim e-mail kepada Oma dan ia menyetting agar e-mail itu terkirim ke e-mail Oma setelah seminggu ia meninggal. Om tio memang ahli TI yang hebat, puji Tasya dalam hati. Omapun kaget ketika mendapat e-mail dari Om Tio yang berisi ia menginginkan saudara – saudaranya dibebaskan dengan apa yang meraka inginkan tidak harus melulu mematuhi apa yang Oma inginkan.
Tetapi Oma tetap tidak peduli dengan e-mail Om Tio. Bahkan ia merencanakan untuk menjodohkan Ayahnya denagn wanita pilihan Oma sendiri. Ayahnya yang mempunyai pilihan sendiri tidak direstui oleh Oma, akhirnya ia lari dari rumah. Ah kasihan sekali mereka pikir Tasya, karena capai iapun tertidur. Pagi harinya Oma dan Tasya berjalan – jalan di taman.
“Tasya, apa yang kamu lakukan tadi malam di kamar Tio?” tanya Oma mengawali pembicaraan.
“A aku hanya ingintau apa isi kamar itu Oma,” jawab Tasya terbata - bata.
“Kenapa kamar itu tidak diubah saja Oma mungkin menjadi ruang makan yang baru atau ruang keluarga?” tanya Tasya hati – hati.
“Kamar itu menyimpan sejuta kenangan Tasya,” ucap Oma dengan nada datar.
”Kadang kenangan itu membuat Oma sedih,” sambung beliau.
“Jadi agar Oma tidak mengingat kenagan sedih itu kenapa Oma tidak merubahnya jadi ruangan yang bermanfaat bagi semuanya?” tanya Tasya lagi. Oma melihat Tasya dengan tatapan tidak suka.
Malam ini adalah malam minggu, waktunya untuk bersantai setelah dicekoki pelajaran – pelajaran yang memusingkan. California Girlnya Katy Perry mengalun dengan merdu dari iPodnya. Baru saja ia membaringkan tubuhnya terdengar pintu diketuk.
“Non Tasya Dipanggil Nyonya di kamarnya Den Tio,” terdengar suara Bi Inah. Ada apa ini kok dikamarnya Om Tio, pikir Tasya dalam hati.
Ia pun berjalan menuju kamar Om Tio. Ternyata Oma menyulapnya menjadi ruang keluarga. Disana sudah ada Tante Sabrina,Om Andre,Meli,Tante Tian,Om Rizky, Anton dan Oma sendiri.
“Tasya sini!” seru oma membuyarkan lamunannya.
“Mungkin kamu benar Oma harus melupakan kisah masa lalu yang menyedihkan. Dan menyongsong hari esok dengan semangat yang baru. Trimakasih nak!” Tasya hanya tersenyum kecil menanggapinya.
***

















Ulang Tahun Itu
Karya : Iyan Setiyani
Pak Karto duduk di depan rumahnya yang kumuh, penuh barang rongsokan dan pecahan beling. Dimana-mana sampah. Lalat beterbangan mencari makan di sekitar tumpukan sampah yang menggunung itu.
Pagi itu Pak Karto sedang memikirkan anaknya yang bernama Tono. Sewaktu bayi dulu Tono hampir meninggal, tubuhnya panas tinggi. Orang banyak bilang ia kena tifus, sementara Pak Karto belum bisa memeriksakannya. Uang untuk makan saja masih kurang, apalagi untuk memeriksakan Tono ke rumah sakit.
Yang jelas Tono akhirnya sembuh dengan pertolongan orang pintar, Pak Marto namanya. Pak Marto hanya menengadah sambil meletakkan tangannya di kening Tono. Aneh, beberapa hari kemudian panasnya turun dan Tono pun sembuh, tidak pernah sakit lagi hingga usianya hampir lima tahun. Sejak saat itu Pak Karto, Bu Karto, Serta Mbah Karyo, bapaknya, berjanji akan merayakan syukuran kecil-kecilan kalau Tono genap lima tahun.
“Pak, Tono ulang tahunnya kapan, sih ?,”  Tanya Tono kemarin pada Bapaknya. Matanya berkilat tampak cerdas. Hati Pak Karto sedih. Tahu dari mana Tono ulang tahun itu. Di daerah itu jarang ada pesta, apalagi ulang tahun. Pak Karto merasa mungkin janji mereka sudah saatnya ditepati.
“Sekarang tanggal berapa, Ton ?” tanya Pak Karto.
“Tidak tahu, Pak, Tono kan belum sekolah,” jawab Tono.
“Dengar Ton, sebentar lagi Tono ulang tahun. Lima hari lagi, Tono senang?”
“Senang dong Pak. Ulang tahunnya bagaimana, Pak?”
“Ya, pesta,” jawab Pak Karto singkat.
“Tono dibelikan baju baru?”
“Iya”
“Nanti makan-makan sama teman-teman Tono ?”
“Iya”
“Nanti ada Karno, Bona, Tuti. Ada Yudha, terus Tini, ada Warti, Toto, terus ada ...  banyak ya, Pak ?”
“Iya dong”
Aneh, setiap Tono tanya selalu dijawab “Iya,”  padahal kemarin mereka baru saja membayar hutang yang menumpuk. Itu pun tidak lunas semuanya.
Dan sebentar lagi Tono ulang tahun. Pak Karto dan Bu Karto pun tahu, tapi tidak punya apa-apa untuk itu. Sementara Tono tampak selalu riang, kemana-mana selalu bercerita kepada teman-temannya bahwa ia akan berulang tahun. Berulang kali Tono bertanya pada Bapak, Ibu, dan siMbahnya, tetapi pertanyaan Tono malah membuat mereka semakin sedih.
Seminggu pun berlalu. Tidak ada makan-makan dan teman-teman yang berkumpul, tidak ada ulang tahun. Sebabnya pasti, mereka tidak punya uang, tidak bisa berutang karena takut tidak bisa membayar.
Sejak itu Tono jadi pendiam, jarang main keluar. Matanya tidak lagi terlihat riang. Yang paling membuat Bu Karto sedih, ia tak mau makan. Tubuhnya menjadi panas. Kulit tubuhnya timbul bintik-bintik merah seperti bekas gigitan nyamuk, banyak sekali. Tono seringkali mengigau menyebut kata ulang tahun berulang-ulang. Bu Karto mengganti kain kompres Tono.
“Panas Tono belum turun juga, Pak. Sudah berkali-kali ia muntah, sepertinya perutnya selalu mual”
“Sudah kau bawa ke dokter, Bu ?,”  Tanya Pak Karto.
“Uang dari mana, Pak. Yang lima rIbu sudah habis, tinggal serIbu rupiah”
Malam itu hujan turun dengan derasnya, menembus atap rumah mereka. Yang terdengar hanya bunyi air yang menetes di ember yang digunakan Bu Karto untuk menadahinya.
Pak Karto dan Mbah Karyo hanya tidur beralaskan Koran dan kardus. Sementara Bu Karto dan Tono tidur di atas amben yang sudah lapuk. Sudah empat hari Tono sakit. Tetapi tetap saja mereka tidak bisa membawa Tono ke dokter atau ke rumah sakit.
Hampir pukul sebelas, mereka tak lagi tidur, menunggui Tono yang sedang sakit. Bagaimanapun juga Pak Karto harus narik becak lagi mala mini, mencari uang untuk memeriksakan Tono.
Bu Karto merasa khawatir dengan keputusan Pak Karto. Dia takut terjadi sesuatu dengan Pak Karto. Tetapi Pak Karto tetap memutuskan untuk mencari uang malam ini juga. Bu Karto tidak bisa menolak. Akhirnya dia mengijinkan Pak Karto pergi.
Meskipun masih hujan deras, Pak Karto tetap terus mengAyuh becaknya. Dia terus menyusuri gang-gang sempit, becek, dan gelap sebelum sampai di jalan raya. Dinginnya udara tak lagi dirasakannya. Kadang becaknya terperosok dalam tanah bersampah. Sesampainya di jalan, suasana berubah sama sekali. Begitu terang benderang, tidak seperti di kampung Pak Karto. Begitu hujan mulai reda, kendaraan yang lewat lebih banyak lagi. Pak Karto pun berharap malam itu ia dapat uang banyak.
Hampir pukul tiga dini hari, Pak Karto pulang ke tempatnya mangkal. Ia baru saja mengantar orang baik hati yang mau memberinya selembar lima rIbuan. Dengan hati riang, Pak Karto bersiul-siul di atas becaknya yang terus melaju. Tiba-tiba sebuah sedan putih melaju kencang ke arah Pak Karto. Benturan keras terdengar saat mobil sedan itu bertabrakan dengan becak Pak Karto.
Tubuh Pak Karto terpental, sementara becaknya rusak berat. Kepalanya pecah terbentur batu di pinggir jalan raya itu. Pak Karto ingat istrinya, Tono, dan bapaknya. Ia ingat ulang tahun itu. Dilihatnya banyak anak-anak dan Tono ditengah-tengah, meniup lilin di atas kue yang besar. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap gulita.
Pak Karto pun meninggal dunia malam itu juga. Saat hujan mulai reda jasad Pak Karto dibawa pulang. Bu Karto, Tono, dan Mbah Karyo pun menangis tanpa henti. Bu Karto menyesal telah mengijinkan Pak Karto pergi malam itu. Jika malam itu Pak Karto tidak pergi, mungkin peristiwa ini tidaka akan pernah terjadi.
***

















Cinta Ibu Tak Pernah Luntur
Karya : Krisvan Patra Delasano
Alkisah disebuah desa kecil di pinggir sungai. Hiduplah seorang pemuda berusia 17 tahun. Dia adalah anak tunggal, dia ditinggal Ayahnya saat dia berusia 5 tahun. Sebut saya dia Paijo. Sejak dia ditinggal Ayahnya dia hidup bersama Ibunya dirumah yang sudah tidak layak lagi untuk dipakai. Waktu Paijo berusia 5 tahun Setiap hari Ibu Paijo selalu mencari nafkah sendiri. Dia berusaha keras untuk bisa menghidupi keluarganya. Paijo  sejak kecil sudah diajarkan cara menghargai orang lain, membantu orang lain, dan membalas budi kepada orang lain.
Desa Paijo sangat dekat dengan sungai jadi rata-rata pencaharian mereka adalah sebagai nelayan. Tidak juga Paijo. Dia adalah seorang keturunan nelayan, tak heran jika kini dia menjadi nelayan juga. Setelah Ibu Paijo menginjak usia ke-60’an paijo berusaha menggantikan Ibunya untuk mencari ikan. Setiap sore paijo berangkat dari rumah, dan selalu pulang pagi. Paijo tidak pernah merasa bosan. Uang yang selalu dia dapat langsung diberika kepada Ibunya. Tetapi, suatu hari paijo pernah berkata kepada Ibunya . Dia ingin pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dia tidak mau selamanya menjadi nelayan. Paijo juga berkata pada Ibunya jika kita terus seperti ini keluarga kita tak akan berubah bu.  Ibu paijo langsung kaget mendengar perkataan paijo. Ibu paijo tidak mau jauh dari paijo. Tetapi paijo tetap menolak , dia tetap ingin bekerja di Jakarta. Ibunya sudah melarang paijo , di Jakarta banyak kejahatan jo. Paijo tidak takut itu bu.
Akhirnya paginya paijo berangkat dengan kawanya. Dia dalah teman dekat paijo. Nama dia Paimin. Paijo berpamitan dengan sang Ibunya. Ibunya mengatakan bahwa jangan pernah kau melupakan Ibu ya nak! Walaupun begitu Ibunya langsung pergi dan menangis melihat sang anak pergi meninggalkanya sendirian.  Pada jam 8 tepat akhirnya paijo dan paimin berangkat ke Jakarta. Dia berangkat menggunakan bis. Waktu di bis, disamping paijo ada seorang yang misterius . Tingkahnya mencurigakan. Sepertinya dia pencuri. Tak lama kemudian srekkk , tas paijo yang berisi uang untuk bekal ke jakarta lenyap. Paijo berusaha untuk mengejar pencuri tersebut. Namun, sang  pencuri berhasil meloloskan diri dari paijo. Paimin kemudian menghampiri paijo, dan mengatakan bahwa itu biasa di Jakarta. Karena paimin dulu juga pernah dicopet seperti itu. Sekarang kembali duduklah.
 Kita lanjutkan perjalanan ini. Sesampainya di Jakarta paijo sangat senang , tetapi dibalik kesenganya itu masih ada rasa penyesalan karena tidak berhat-hati waktu menaruh tas . Paimin  mengajak paijo untuk pergi kerumahnya. Paijo hanya nurut dengan paimin. Paijo diperbolehkan istirahat dulu, setelah itu besok pagi mereka akan melamar pekerjaan di Jakarta. Pagi harinya Paijo sudah siap dengan beberapa surat-surat penting waktu dia sekolah. Walaupun dia hanya lulusan SMP. Dia tetap berusaha mencari pekerjaan.
            Ketika dia ingin melamar pekerjaan disuatu tempat dia bertemu dengan kawan lamanya didesa. Dan juga teman dari paimin. Paidi yang teman dekat paijo.  Akhirnya menerima paijo sebagai sekretarisnya. Karena paijo telah terpercaya oleh Paidi. Paijo sangatlah senang karena dia bisa diterima kerja di sebuah pabrik ternama. Dia sangat betah kerja disana. Dia juga selalu mengirimkan surat untuk Ibunya di makasar. Dia amat menyayangi Ibunya. Di suatu bulan pabrik itu mengalami kebangkrutan. Sebagian besar para pekerjanya di PHK.
Tetapi tidak untuk paijo, Paidi yang sangat kasihan sama Paijo tidak mempecat Paijo. Malah paijo dijadikan pimpinan direksi. Tetapi, karena paijo sangat senang dan sIbuk dia lupa akan Ibunya. Dia sekarang tidak pernah mengirimkan kabar untuk Ibunya yang diMakasar. Dia hanya memikirkan pekerjaanya. Sudah sebulan Ibunya tidak menerima kabar dari Paijo. Ibunya bertekad untuk mencari anaknya yang telah sukses di Jakarta. Tetapi Ibunya bingung bagaimana dia bisa ke Jakarta. Makan untuk hari-hari saja sudah pas. Tetapi dia mengumpulkan uang untuk bisa ke Jakarta dan bertemu anaknya.
Pagi hari setelah seminggu Ibu Paijo pergi ke Jakarta. Tetapi nasib Ibu tidak mudah. Dia bertanya-tanya kepada orang-orang, tetapi setiap orang tidak ada yang mengenal orang yang dimaksud Ibu. Ketika Ibu berjalan untuk menyebrang jalan tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang. Gubrak!! Mobil tesebut menabrak Ibu Paijo. Tetapi apa yang tejadi? Yang didalam mobil tersebut adalah Paijo. Anak Ibu sendiri. Tetapi Ibu tidak menyadari itu. Ibu langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Dirumah sakit Ibu dirawat oleh suster yang cantik dan baik hati. Suster tersebuat sangat sabar dalam membantu Ibu saat terkena masalah. Dan ketika itu suster dan Ibu saling bertanya
“Ibu darimana?”  tanya suster.
“Saya dari Makasar,”  jawab Ibu.
“Kenapa Ibu pergi ke Jakarta?”
“Untuk mencari anakku.”
“Adakah alamatnya bu?”
“Ada,”  jawab Ibu sambil memberikan alamatnya Paijo di Jakarta.
“Ini dekat dari sini bu.”
“Benarkah?”
“Benar bu, besok saya bantu untuk mencari alamat ini bu.”
“Makasih nak, kamu emang baik,”  kata Ibu.
Sang suster yang baik hati ingin membantu Ibu untuk mencari alamat itu. Sesampainya dia disebuah rumah. Dia bertanya apakah ini rumah Paijo ?. benar. Seseorang menjawab dari dalam. Ternyata suara dari dalam itu adalah suara paijo. Betapa senangnya hati Ibu mendengar suara itu. Sampai luar Paijo juga mengetahui jika yang datang Ibunya. Seketika mereka saling berpelukan. Cinta Ibu kepada anaknya tidak akan pernah luntur.
***



Salah Paham
Karya : Lilik Andriyanto
Pagi mulai menyongsong, mata hari mulai terbit, burung burung mulai bernyanyi. Bulan Ramadhan pun semakin dekat, bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan, dan hanya datang sekaliselama setahun. Pada waktu itu Kefin, Marto, Ayu, dan Diyah berangkat ke masjid bersama sama. Mereka memang sahabat yang akrab sejak dulu. Ini bulan puasa yang pertama jadi teman teman yang berangkat ke masjid sangat benyak, kebanyakan dari mereka berangkat hanya untuk mencari makan bukan untuk mencari ilmu.
Dijalan mereka bercanda tawa sambil ber bincang bincang tentang acara jalan jalan yang tak kunjung terwujud kan tak menyangka waktu ber jalan begitu cepat akhirnya kami pun sampai di masjid.  Sesampai di masjid ternyata TPA nya sudah di mulai guru kami yang bernama pak sholeh biasa di pangil ustad sholeh. Pada waktu itu ustad sholeh menjelaskan tentang contoh perilaku. Pak Ustad bilang
“Kita harus bisa meniru perilaku yang baik baik dan dapat meninggalkan perilaku yang buruk buruk jadi kesimpulannya adalah tinggalkan yang buruk buruk ambillah yang baik baik.”
Lalu Kefin bertanya, “Pak jadi kita harus mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk ya pak?”
Pak Ustad pun menjawab, “Kan tadi saya sudah bilang.”
“Makanya kalau TPA itu jangan main sendiri!” sahut Marto. Hari sudah mulai petang dan waktu berbuka puasa pun mulai tiba. Para santri pun bersiap siap untuk ber doa.
Setelah semuanya selesai berbuka puasa, kamipun mengambil air wudhu lalu sholat maghrib berjamah di masjid, walaupun jamahnya sholat maghrip nya  tidak terlalu banyak  tapi kita harus bersyukur karena masih ada yang ingin sholat di masjid. Sehabis sholat maghrib mereka ber empat berkumpul untuk musyawarah tentang jalan jalan besok pagi apakah jadi atau tidak, kalau jadi nanti kemana, jam berapa.
Ayu pun mengajukan usul, “Bagaimana kalau kita berkelilingkampung sambil menikmati udara yang segar?”
“Kami setuju dengan usulmu!” sahut Marto dan Diyah.
“Kalau cuma di desa sih ngak keren guakan anak kota masak mau keliling kampung gak level lah bro,” kata Kefin.
lalu Ayu bilang “Kalau kamu enggak ikut juga nggak papa kan kami masih bias ber tiga.”
Tapi kalau cuma didesa sajakan aku bosan mending ke kota saja kita bias belanja sepuas nya.” kata Kefin.
“Kalau itu yang suka cuma kamu aku tidak setuju kalau ke kota lagi pula jarak dari desa ke kota itu sangat lah jauh lalu kita mau naik apa kalau kesana”jawab Marno.
Lalu mereka bun berdebat satu sama lain.  Kefin tetap pada pendiriannya sedang kan mereka ber tiga setuju berjalan jalan di desa.  setelah beberapa lama mereka ber debat akhirnya Kefin setuju untuk ber jalan jalan keliling kampong.
Jadi kita nanti akan jalan jalan keliling kampun pagi pagi sekali,” kata Diyah.
Saya punya usul bagaimana kalau kita sholat subuh sekalian di masjid bagaimana?” kata Ayu sambil mengangkal tangan.
Saya belum bangun saya masih tidur,” sahut Kefin.
Bilang saja kamu nggak mau ikut!” jawab Marto.
Ya deh gak papa,” sahut Kefin sambil memegang kepala.
Lalu merekapun meng akhiri musyawarah pada hari itu dan mereka selesai musyawarak tepat pada saat adzan isak ber kumandang.
Setelah selesai musyawarah tentang jalan jalan besok pagi merekapun lalu sholat isak dan tarawih di masjid. kalau sholat tarawih jamaah nya memang banyak tidak seperti sholat maghrib dan sholat sholat lain lain nya. Pada awal Ramadhan yang ikut sholat tarawih di masjid sangat banyak dahkan samapi tidak muat akan tetapi pada saat mencapai penghujung puasa yang sholat tarawih di masjin semakin ber kurabng bahkan bias sanpai dua atau tiga shof saja. Pada saat sholat tarawih belum selesai Kefin pun keluar dari masjid.
“Kefin mau kemana? Sholatnyakan belum selesai,” kata Marto.
“Mau ke kamar kecil,” jawab Kefin.
Lalu Kefinpun mengambil sandal dan langsung pergi. Marto pun ber fikir, “Kenapa pergi ke kamar kecil kok lama sekali apa sakit perut ya?”
Sampai selesai sholat tarawih Kefinpun belum kunjung datang. Setelah selesai sholat tarawih merekapun tadarusan bersama di masjid walaupun tanpa Kefin mereka tetap tadarusan.  Setelah selesai tadarusan  lalu mereka  pulang bersama kedua teman ku yaitu Ayu dan Diyah.
“Yah kamu tadi melihat Kefin keluar?” kata Marto.
“’Tidak emangnya kenapa?” sahut diah.
“Paling hanya pulang ke rumah,” sahut Ayu.
Dijalan mereka bertemu dengan Pak Danu.
“Anak anak kalian melihat sandal bapak?” kata Pak Danu.
“Kami tidak melihat sandal bapak,” sahut mereka.
“Yasudah sama-sama, yang tersisa hanya ini kok, Dek,” jawab Pak Danu.
“Lho... itukan kayak sandalnya Kefin?” kata Diyah.
“Apa kau yakin?” sahut Marto.
Sesampainya di perempatan merekapun mengingatkan agar jangan lupa bangun pagi dan jangan lupa sholat di masjid setelah saling mengingatkan merekapun lalu  mereka pulang  menuju ke tempatnya masing masing. Di antara mereka rumah yang paling jauh adalah rumah nya Ayu, walau jauh dia selalu datang palig awal dari semuanya, tidak seperti Kefin dia selalu datang paling akhir dan selalu terlambat.
Waktu matahari belum bersinar mereka berempat pun berkumpul di perempatan, saat Ayu, Diyah, Marto sudah sampai di situ mereka masih menunggu Marto yang belum muncul juga sampai akhirnya Marto pun tiba. Dan merekapun berkumpul, sambil menahan dinginya pagi, merekapun menuju ke masjid untuk melakukan sholat subuh dan dilanjutkan jalan jalan.
Di jalan Marto bertanya kepada Kefin, “Fin, kenapa kamu kemarin kok pulang duluan?”
Kefin menjawab “Gak ada apa-apa kok. Cuma ingin pulang aja, habis males dimasjid melulu.”
Diyah bertanya, “Males kenapa Fin?”
“Imamnya kalau baca surah itu lama sekali dan surahnya panjang –panjang, jadi aku males lalu aku pulang, deh!” sahut Kefin.
Sesampainya di masjid mereka pun lalu mengambil air wudhu lalu mereka sholat berjamaah. Dan pada waktu itupak takmirnya seddang tidak sholat di masjid lalu semuanya menunjuk Marno untuk menjadi imam di masjid,  walau pun jamaah nya Cuma kami ber empat dan para Ibu Ibu yang rumah nya dekat dengan masjid. Akhirnya merekapun sholat dengan khusyuk tanpa ada ganguan sedikit pun.
Setelah selesai sholat berjamaah merekapunber siap siap untuk jalan jalan,  setelah dirasa siap merekapun  lalu jalan jalan sambil menikmati indahnya pemandangan di desa mereka dan sejuknya udara di pagi hari. Pada saat matahari belum muncul para petani sudah berada di sawa mereka untuk mengolah sawah. Sewaktu di jalan yau melihat sandal Kefin yang baru lalu dia berkata, “Fin kamu punya sandal baru ya?”
Lalu Kefin menjawab “Tidak kok.”
“Lalu itu sandal siapa?” kata Ayu.
“O.... kan kata Pak Ustad kemarinkan ambillah yang baru dan tinggalkan yang lamakan. Lalu kemarin saat tarawih aku ambil sandal yang baru lalu sandalku yang lama kutinggal di masjid,” sahut Kefin.
“Kefin kau tidak tahu apa yang di maksut Pak Ustad ya?” kata Marto sambil memegang kepala Kefin.
”Emangnya ada apa?” tanya Kefin.
“Yang dimaksud Pak Ustad itu kamu harus meninggalkan perilakumu yang jelek dan  meningkatkan perilaku yang baik, bikan menggambil sandal milik orang lain kau tahu tidak?” jawab Marto.
“Eh... ngomong-ngomong kau tahu tidak itu sandalnya siapa?” tanya Ayu.
Kefinpun mengelengkan kepalanya pertanda bahwa Kefin tidak tahu itu sandal siapa yang ia bawa.
”Itu sandalnya Pak Danu, kemarin Pak Danu tanya sama kita kita, dan dia membawa sandalmu,” kata Marto.
Kefin pun terkejut mendengar omongan Marto, lalu Kefin berkata, “Lalu gimana ni, aku jadi takut.”
“Makanya kalau ngaji itu didengari yang baik jangan sambil ramai sendiri, gurunya nerangin tapi muridnya malah rame sendiri kayak kamu, lalu jadi salah pengertian deh!” kata Diyah.
Setelah jalan-jalan mereka pun pulang kerumah masing-masing sebelum pulang Kefin minta tolong kepada teman-temannya, “Teman-teman tolong nanti bantu aku mengembalikan sandal ya!”
“Kenapa tidak nanti saja kalau terawih?” jawab Ayu.
“Aku malu dilihat banyak orang,” sahut Kefin.
“Ya nanti kami akan membantumu,” kata mereka semua.
Lalu merekapun pulang ke rumah mereka masing masing.  Kefin merasa bersalah kepada Pak Danu karena dia telah mencuri sandalnya Pak Danu, dia kira apa yang di katakan Pak Ustad itu adalah menukarkan barang yang lama dengan yang baru.
Saat hari menjelang sore merekapun berkumpul di tempat biasa mereka menunggu satu sama lain,  setelah mereka berkumpul merekapun lalu berangkat mengaji. Sebelum sampai di masjid  Kefin dan teman teman mampir ke rumahnya Pak Danu, untuk mengembalikan sandalnya yang diambil oleh Kefin kemarin saat sholat tarawih. Rumah Pak Danu dengan masjid memang tak terlalu jauh.
”Assalamuallaikum,” kata mereka semua.
“Waalaikumsallam, ada apa ya anak anak datang kemari?” tanya Pak Danu sambil menatap mereka.
”E.... saya mau mengembalikan sandal bapak yang saya ambil kemarin saat saholat tarawih di masjid,” jawab Kefin.
“O... ya nggak papa kok, semua orang itu pernah salah kok, tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya!” sahut Pak Danu sambil mengelus kepala Kefin.
”Ya, pak,” jawab Danu sambil berjabat tangan dan meminta maaf kepada Pak Danu. Mulai saat itu Kefin berjanji akan berusaha mendengarkan apa yang di jelaskan oleh pak guru maupun Pak Ustad. Dari situlah Kefin berubah dari dulu yang sikapnya egois,  sombong dan mementingkan diti sendiri kini dia jadi orang yang dermawan dan baik hati dan tidak sombong.
Saat mereka beranjak dewasa merekapun mulai membantu mengajar TPA,  mulai saat itulah mereka mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmu kepada para santri  di masjid itu. Meskipun mereka sudah mempunyai kehidupan masing masing tetapi mereka tetap mengajar TPA  apalagi Kefin sekarang dia paling sering berangkat ke masjid untuk mengajar TPA bahkan bisa dibilang dialah yang paling sering ke masjid dari pada mereka bertiga. Sampai tua pun mereka masih tetap sering pergi ke masjid walau jaraknya agak jauh dari rumah mereka.
***

























Membeli Keajaiban
Karya : Masita Hayunikusuma Alfian
Sebuah angkutan umum beroda tiga, menggulirkan roda – rodanya menuju sebuah tempat kumuh yang memiliki gerbang yang terbuat dari seng-seng bekas yang sebagiannya telah berlubang ataupun patah, bahkan roboh. Sekelompok anak berlari riang mengikuti bajaj itu ke salah satu rumah kumuh yang ada di daerah itu, daerah yang dibangun untuk menempatkan beberapa keluarga kurang mampu macam mereka.

     Bajaj itu pun berhenti tepat di depan sebuah rumah kumuh yang terbuat dari susunan kardus-kardus bekas dan beratapkan dedaunan semacam daun pada pohon kelapa.
“Ayah, Ibu! Akhirnya kalian pulang!” ucap seorang bocah laki-laki berumur 9 tahun.
“Hahahaha, kamu sudah rindu dengan kami, ya, nak?” ujar Ibu, dengan suara yang lemah dan rapuh.
Bocah itu segera membantu Ibunya berjalan masuk, sementara Sang Ayah masih berbicara dengan Supir Bajaj.
“Duh, Yo, aku minta maaf. Aku hanya punya dua rIbu rupiah saja,” kata Ayah seraya menyodorkan dua buah uang serIbu rupiah yang tampak begitu lecak dan tak layak lagi.
Tapi, Sang Supir Bajaj yang bernama Yono itu hanya tersenyum dan menolak uang itu. “Simpan saja untukmu, Min. Aku ikhlas membawa mu dan Istri mu yang sedang terkena penyakit itu. Jadi, lebih baik kau simpan saja. Siapa tahu, sewaktu – waktu, keluargamu membutuhkan uang itu.”
Ayah pun merasa terharu akan kebaikan sahabatnya itu. Ia merasa bergetar di dadanya ketika mendnegar kata – kata peduli dari Sang Sahabat barusan. Hingga bukan salahnya jika ia pun meneteskan air mata haru dan memeluk sahabatnya itu.
Dan, setelah Yono, Sang supir Bajaj mengendarai bajaj jingganya keluar wilAyah kumuh itu, Ayah segera menghapus air matanya dan berjalan masuk, menuju kedalam rumahnya yang sangat sederhana itu.
Ayah segera menghampiri Ibu yang sedang terbaring lemas di atas sebuah tembikar sederhana yang menjadi lantai di rumah mereka itu, dengan seorang bocah kecil berumur 9 tahun yang duduk di sisi lemah dan rapuh wanita itu seraya menggenggam tangan Sang Ibu yang tersenyum menatapnya dan beralih kepada sosok Ayah yang kini duduk bersama di sebelah anak semata wayangnya, Kiki.
“Ayah, sudah membayar Yono?” kata Ibu dengan lemas. Sebuah selendang lama dan berwarna pudar melingkarkan diri di leher wanita itu, berusaha tuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil. Dan, sebuah baju tebal bekas yang Ayah beli di pasar, dekat daerah perumahan kumuh mereka itu pun membantu Sang selendang untuk menghangatkan tubuh wanita itu.
“Sudah, bu,” kata Ayah seraya mengelus lembut rambut setengah putih dari Sang pendamping hidupnya itu. Hati Ayah begitu rapuh ketika melihat senyum manis Sang Pendamping hidupnya yang sudah menemaninya selama lebih dari 17 tahun berumah tangga. Dadanya terasa sesak, melihat kondisi Istrinya yang semakin hari semakin lemah saja. Padahal, sudah banyak obat alami yang di suapkan ke tubuh Sang Istri, untuk membantunya dalam sembuh melawan penyakitnya itu. Tapi, tak ada reaksi. Dan, kini, mereka baru saja pulang dari Jakarta, untuk mengobati Sang Istri.
Dan tak sengaja, air matanya yang begitu bening dan tulus pun menetes, mengenai pakaian tebal yang tampak bekas, yang dipakai sang Istri.
“Kiki, kamu bisa bermain di luar dulu, nak?” kata Ayah, mengganti belaian lembutnya dari rambut Sang Istri ke anaknya, Kiki.
“Mungkin, ada sesuatu yang ingin kamu mainkan?” Ayah memberikan senyuman hangat yang terasa menerpa wajah Kiki dengan lembut.
Kiki hanya mengangguk. Dan untuk yang kesekian kalianya, ia mengecup pipi Ibunya dengan penuh sayang dan cinta. Ya, walau pun ia tahu kalau hal itu tak membantu penyakit yang di derita Ibunya mereda. Kiki pun berjalan keluar. Dan, ia pun berhenti di ambang pintu yang berupa kain, dan menoleh kepada Ibunya yang memucat, seraya menyunggingkan senyum manisnya, dan berjalan keluar. Tapi, baru beberapa langkah dari pintu kain itu. Sebagian dari diri Kiki enggan untuk keluar, dan memilih untuk mendengar kan sesuatu yang kedua orang tuanya hendak bicarakan. Tapi, sebagian lagi ingin meneruskan langkah kaki kecilnya menuju rumah salah satu teman seperjuangannya.
Tapi, ia menetapkan untuk kembali ke dalam rumah untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Dan, ketika hendak menyibakkan kain yang menjadi pintu rumahnya itu, tiba – tiba saja Kiki berdiri bergeming ketika ia mendnegar Ayahnya menyebut – nyebut namanya.
“Aku merasa prihatin kepada Kiki, bu. Aku tidak ingin anak semata wayang kita itu benar – benar terpukul bila ia tahu kalau umurmu sudah tak lama lagi!” kata – kata Ayah membuat Kiki makin peansaran hingga ia pun mencoba untuk mendengarkan lebih seksama lagi.
“Jangan berbicara seperti itu, Ayah. Ibu tahu kalau umur Ibu sudah tak lama lagi. Tapi, jika kita mau dan terus berusaha, mungkin Ibu akan dapat tertolongkan.” Kata Ibu. Suaranya begitu lemah dan rapuh, hingga sesekali ia terbatuk – batuk kering.
“Ya, mungkin saja itu terjadi! Tapi, kita benar – benar membutuhkan keajaiban untuk kesembuhan mu itu.” Kata Ayah. Berbicara agak keras.
“Hmm, keajaiban?” gumam Kiki. Ia menganggukkan kepalanya, entah apa yang ia pikirkan. Tapi, ia segera masuk kedalam rumah, membuat kedua orang tuanya terkejut. Tapi, Kiki tak menyadari itu karena ia berjalan lurus, melewati kain yang menutupi kamarnya. Ia mencari – cari sesuatu di dalam kamar super kecilnya itu. Hingga, beberapa saat kemudian, ia mendapati apa yang ia cari. Di sudut kamarnya, sebuah keramik berbentuk buah jeruk berdiri, tampak memperlihatkan dirinya.
“Aah! Itu dia!” Kiki segera mengambilnya, dan berlari keluar rumah secepat kilat. Ia tak menggubris perkataan Ayahnya yang bingung dengan tingkah laku anaknya itu.

            Kiki terus berlari, melewati pintu gerbang yang terbuat dari seng – seng bekas, dan berbelok ke arah kiri dan menaMbah kecepatan larinya. Nafasnya terus menderu – deru, bersamaan dengan setiap langkah cepat yang ia ambil. Celengan yang ia bawa itu terpeluk erat di tangannya, sementara isinya bergemerincing ria, sesuai dengan langkah kaki Kiki.
Sinar mentari yang mencubit tak ia hiraukan demi mencari sebuah tempat yang menurutnya bisa menolong Ibunya. Hiruk pikuk kendaraan yang bising, mencadi teman seperjalanannya. Dalam benaknya, ia tahu bahwa masih ada keajaiban yang barusan, kedua orang tuanga bicarakan.
Dan, ia pun sampai di sebuah apotik yang tampak sepi itu. Ia segera berlari masuk, dan berhenti di depan sebuah meja kayu yang melebihi tinggi badannya itu. Seorang perempuan cantik berkrudung merah muda memberi ucapan selamat datang kepada Kiki dengan senyumannya yang manis. “Halo, adek. Ada yang bisa kakak bantu?” kata perempuan itu. Suaranya seakan menutupi suara bising dari hiruk pikuk kendaraan yang ada di jalan raya di belakang tubuh Kiki.
“Sebentar, kak!” Kiki segera membanting celengannya itu dan merauk isinya dengan tak sabar. Sebagian isi dari celengan itu adalah uang – uang logam dan beberapa lembar uang serIbu rupiah, dua rIbu rupiah dan  lima rIbu rupiah. Ia kumpulkan uang – uang itu dalam dekapannya dan segera ia taruh di atas meja, membuat kakak cantik itu bingung. “Saya mau membeli keajaiban, kak. Ada? Berapa? Ini uangnya.”

Kakak itu tertawa lembut dan memasukkan uang  uang itu kedalam kantong plastic dan menyodorkannya kembali kepada Kiki. “Adek, keajaiban nggak ada disini. Jadi, ambil saja uangnya.”
Kiki merasa bingung atas sikap kakak itu. Ia berfikir, mengapa kakak ini tertawa? Tapi, di balik rasa bingungnya itu, tersisip sebuah rasa kekecewaan yang mendalam. Ia sempat berfikir, apakah ia bisa menemukan keajaiban itu, dan membawanya pulang untuk menolong Ibunya yang terkulai lemas di rumahnya.
Ah, mungkin di tempat lain, keajaiban itu ada!” ujar Kiki dengan antusias dan bersemangat hingga rasa kecewa yang semula menyelimutinya pun lenyap tertiup angin semangat dari diri Kiki.
Kiki kembali melangkahkan kaki – kakinya yang tak beralaskan itu di sepanjang trotoar yang sesekali mempertemukan dirinya dengan sebuah tiang rambu lalu lintas. Terik matahri di tengah hari itu sangat menyengat kulitnya itu. “Huft, panas! Kenapa cuacanya bisa sepanas ini? Dimana pepohonan yang hijau nan rindak menyejukkan? Aku butuh mereka!” Kiki menendang sebuah kaleng bekas minuman bersoda yang langsung terlempar ke dalam saluran air yang kering. Ia merasa kesal dengan tidak adanya satu pohon pun. Dan itu disebabkan oleh orang – orang egois, yang tak menggunakan otak mereka untuk berfikir! Berfikir untuk tidak merusak alam atau menghancurkannya demi kebutuhan sesaat yang mereka miliki itu!
Dan, langkahnya terhenti di depan sebuah apotik kedua yang ia incar. Dalam hati,ia berharap dapat menemukan keajaiban dan dapat membawanya pulang. Begitu semangatnya ia melagkah, hingga membuatnya jatuh terpleset di lantai yang baru di bersihkan.
“Astaga, adek tidak apa – apa?” kata seorang pria muda yang mengenakan jas putih bersih, dengan sebuah kaca mata yang ia selipkan di dalam kantong di dadanya. Tapi, Kiki hanya menggelengkan kepalanya dan kembali berdiri, seraya di bantu oleh pria muda itu.
“Adek mau beli apa?” katanya dengan lembut, walau sedikit tegas.
“Saya mau membeli keajaiban, kak!” ujar Kiki seraya melemparkan senyum lugu-nya kepada pria itu.
Dan, pria itu pun membalas senyumnya seraya mengelus – elus rambut Kiki, dan berkata, “Adek, keajaiban itu bukan untuk di beli. Keajaiban itu seharusnya di cari atau di ciptakan dengan suatu usaha yang sangat besar. Keajaiban itu hanya datang kepada orang – orang yang keras berusaha dan tekun dalam berdo’a.”
“Jadi begitu?” ujar Kiki seraya menunduk lemas. Perutnya terasa melilit nyeri. Jantungnya berpacu, seiring dengan rasa takut dan rasa kekhawatirannya terhadap Ibunya tersayang.
“Berarti, Kiki nggak bisa menolong Ibu, dong?” matanya mulai berkaca – kaca, hingga setetes, dua tetes air mata jatuh di pipinya. Rasa geLisah, takut dan khawatir menyerang dirinya hingga membuat dadanya terasa sesak.
Tapi, semua perasaan itu agak berkurang ketika suara Pria itu terasa lembut membelai rambutnya. “Mungkin kakak dapat menolong Ibu adek. Tapi, Ibunya adek sakit apa?”
“Kiki juga tidak tahu, kak. Yang pasti, Ayah dan Ibu benar – benar membutuhkan keajaiban. Untuk itulah Kiki pergi membeli keajaiban yang susah di temukan di toko manapun.”
“Kalau begitu, kakak boleh datang kerumahnya Kiki, nggak?” kata Pria itu.
Kiki mendongak, menatap mata Pria itu dan tersenyum kecut. “Boleh, tapi, kakak mau ngapain?” kakak itu hanya tersenyum dan berjalan masuk kesebuah ruangan yang ada di apotik itu. Dan beberapa saat kemudian, ia keluar seraya membawa tasnya yang ia gandengkan pada salah satu tangannya.
“Kakak akan membantu untuk menemukan keajaiban itu. Untuk sesungguhnya, Kiki harus minta kepada Yang Maha Kuasa. Karena di tangan-Nya lah, keajaiban itu datang. Dan kakak hanya sebagai perantaranya saja. Kiki mengerti?” kata Pria itu, berjalan bersisian bersama dengan Kiki yang tampak lega. Mereka pun berjalan menuju sebuah mobil yang langsung membawa mereka menuju tempat Sang Ibu terkulai lemas, yang benar – benar membutuhkan keajaiban itu, sesegera mungkin.
Beberapa pasang mata tampak mengikuti arah yang di ambil mobil itu. Mereka juga tidak segan – segan mengikuti mobil yang berhenti tepat di rumah Kiki.
“Ayah, Ibu! Kiki pulang! Lihatlah, siapa yang Kiki ajak!” Kiki berlari keluar dari mobil dan berteriak – teriak riang. Membuat Ayahnya segera beranjak keluar dengan cepat dan terpukau melihat pria itu dan sebuah benda mewah yang memiliki roda empat sebagai alat penggeraknya itu.
“Waw! Itu mobil anda, Tuan?” kata Ayah, tampak menunduk sopan ke arah Pria itu.
“Ah, pak, tolong jangan panggil saya Tuan. Saya Reza, saya dokter yang akan mencoba untuk menolong istri bapak.” Kata Dokter Reza seraya mengulurkan tangannya kepada Ayah.
“Ah, syukurlah. Tapi, maaf, Dokter. Kami tidak punya cukup uang untuk membayar ...” kata-kata Ayah terputus oleh Dokter.
“Bapak, bapak tidak perlu membayar saya. Saya ikhlas menolong Istri bapak. Jadi, bagaimana keadaannya?” ujar Dokter Reza.
“Ah, ya, saya lupa! Ayo, silahkan masuk.” Ayah dan Dokter Reza meninggalkan kerumunan orang – orang setempat yang masih memerhatikan mobil mewah itu dengan mata membelalak, untuk segera memeriksa keadaan Ibu, dan mungkin masih bisa menolongnya

    ***
     Beberapa menit berlalu, Dokter Reza dan Ayah keluar bersama dan berjalan menuju mobil. “Bapak, Istri bapak terkena penyakit kanker otak setaium 1. Dan itu masih bisa diselamatkan dengan beberapa terapi yang sangat di butuhkan untuk menghilangkannya. Dan ini, kartu nama saya. Datang saja ke Rumah Sakit yang tertera di dalam sini, dan tunjukan kartu ini kepada petugasnya. Saya akan menunggu dan membantu menyembuhkan Istri bapak. Tapi, itu semua masih berada di tangan Yang Maha Kuasa. Jadi, jangan pernah berhenti untuk terus berdo’a akan kesembuhan Ibu, ya, Pak.” Ujar Dokter dengan ramah dan penuh sopan santun.
“Syukur Alhamdulillah! Terima kasih pak Dokter! Terima kasih!,”  ujar Ayah seraya memeluk Dokter Reza sesaat dan bersujud syukur akan karunia yang Tuhan berikan kepadanya.
Setelah berpamitan, Dokter Reza pun mengendarai kembali mobilnya dan berjalan pulang, meninggalkan rasa syukur dan kelegaan di hati Ayah, Kiki dan Ibu, serta seluruh tetangga mereka. Dan keesokannya, mereka pun datang dan menjalankan semua yang di beritahukan oleh Dokter Reza kemarin untuk menunjukkan kartu itu kepada petugas Rumah Sakit itu. Dan, ketika bertemu dengan Dokter Reza, Ibu pun segera di tolong dengan beberapa terapi seperti kemoterapi dan lain sebagainya, yang hasilnya. Alhamdulillah, kanker itu lenyap dan tak mungkin kembali! Dokter Reza juga tetap memberikan obat – obatan kepada Ibu agar mengkonsumsinya setiap saat, sesuai waktu yang telah tertulis di obatnya.
Dari sini, kita mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Teruslah berdoa dan berusaha untuk menemukan keajaiban itu. Jangan pernah menyerah dalam mendapatkan sebuah keajaoban, karena sesungguhnya, keajaiban itu telah ada di depan mata bila kita terus bordoa dan berusaha
***









Bersakit-sakit Dahulu Bersenang-senang Kemudian
Karya : Miftah Awalurrizqi
Dingin malam yang menusuk tulang, itulah suasana dan rasa tidur keluarga Pak Broto setiap malam. Angin yang bertiup kencang semakin menaMbah dingin suhu rumahnya. Rumah yang tak layak yang sudah lama ditinggali Pak Broto. Rumahnya hanya dari kulit bambu yang dianyam yang biasa disebut Gedheg. Mirisnya rumah itu hanya bersekat dengan kandang kambing.
Setiap pagi tidak pasti ada hidangan makanan diatas meja makan yang rapuh itu. Kadang jika Pak Broto ada rezeki mereka bisa makan nasi. Itupun hanya dengan garam. Namun keluarga Pak Broto selalu bersyukur kepada Allah masih diberi jatah hidup untuk ibadah dan bekerja.
Pak Broto memiliki istri bernama Ibu Karinah. Mereka dikaruniai satu orang putra bernama Saiful. Beruntung Pak Broto memiliki istri dan anak yang mengerti keadaan. Walaupun keadaan mereka sangat miris.
Kerja serabutan yang dilakukan Pak Broto hanya bisa mencukupi kebutuhan makan keluarganya. Apa boleh buat, tawaran kerja tak pasti datang. Mungkin pendidikan salah satu factor masalah financial Pak Broto.  Maklum hanya lulus SD Pak Broto sekolah. Juga karena faktor ekonomi.
Si Saiful anak semata wayangnya masih duduk di kelas tiga SD. Tak pernah dia merasakan sepatu bru. Itulah keinginannya selama ini. Sepatu yang sudah bolong dan talinya yang sudah using selalu dipakai nya. Banyak temannya yang mengerti keadaannya, namun tak sedikit juga yang mengolok-oloknya.
Itulah nasib yang diterima Pak Broto dan keluarganya. Namun nasib itu masih bisa birubahnya. Tak putus ibadah keluarga Pak Broto. Sholat lima waktu selalu dikerjakan Pak Broto dan keluarganya. Namu ibadah yang tak disertai  usaha tak akan jadi apa apa. Inilah takdir yang telah ditulis yang maha kuasa. Saat disuatu hari kebutuhan Pak Broto akan uang sangat dIbutuhkannya.
Tak sedikit jumlah uang yang dibtuhkannya. Tunututan pembayaran sekolah Saiful yang mengharuskan membayar buku dan seragam milik Saiful. Dan beras yang ada mulai terkuras habis. Tak menyadari semua itu Pak Broto kaget.
Menangis ia tersedu-sedu sambil memeluk istri dan anaknya. Tak lama tetes air mata Bu Karinah dan Saiful mulai keluar. Pak Broto tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Belitan hutangnya sudah mengikat keluarganya.
Malamnya Pak Broto sholat tahajud, berdoa  dia kepada sang pencipta. Tak bisa ditampungnya kesedihan dan derita yang dipikulnya. Menangislah dia. Tetesan air matanya membuat rembesan air mata di bajunya.
Selesai sholat dan berdoa, ia kembali ke kasurnya. Tak lama kemudian,  giliran Bu Karinah sholat. Doa yang panjang dipanjatkannya. Tak kuat membendung air matanya, ia menangis juga.
Saiful pun juga menyusul sholat tahajud. Sambil mengantuk ia sholat tahajud. Beberapa kali ia menguap sampai rakaat terakhir.
Mereka pun kembali tidur menyusul Pak Broto. Waktu subuh tiba. Pak Broto yang sudah bangun, lalu membangunkan anak dan istrinya. Lalu mereka sholat subuh Berjamaah.
Pagi datang mengganti malam yang dingin. Syukur masih bisa menanak nasi meskipun sedikit. Makan pagi Bersama sudah jadi adat keluarga Pak Broto. Makan dengan Nasi dengan sambal membuat perut mereka sedikit perih. Namun mau makan apa lagi. Si Saiful berkata”kenapa sih nasib kita kayak gini?” . Pak broto dan Bu Karinah hanya diam dan menatap kosong.
“Sudahlah nak, syukuri saja. Masih bersyukur kita bisa makan hari ini,” Pak Broto menjelaskan.
Setelah makan Pak Broto duduk di depan rumah melamuni nasibnya. Tak lama kemudian, dia diajak tetangganya untuk bekerja jadi kuli bangunan. Dikenalkanlah Pak Broto ke mandor itu. Di terimalah Pak Broto bekrja disana.
“Terimakasih pak mandor,terimakasih,” dikatakannya berulang ulang sambil menciumi tangan mandor itu.
“Iya pak, sama sama kita harus saling membantu,” Mandor itu menengangkan Pak Broto.
Pak Broto orang yang bekerja keras. Dia selalu mengingatkan teman kerjanya agar tidak malas malasan. “Bijaksana sekali dia, patut aku jadikan wakilku “. Kata mandor sambil berbisik. Mandor itu mendekat dan menawari Pak Broto untuk jadi wakilnya. Bersujud Pak Broto mendengar itu.
Hanya kata terimaksih dan syukur yang dapat ia lontarkan. BerIbu puja puji kepada mandor dan yang maha pencipta. Di sanalah kesejahteraan hidup mulai didapatkan Pak Broto dan keluarganya.
Si Saiful dapat sekolah hingga masuk SMP. Dan Bu Karinah dipanggil jadi buruh tukang cuci oleh saudagar kaya. Inilah hasil kerja keras dan ibadah serta doa mereka selama ini dalam tindasan derita yang dialami.
Jadilah hamba yang pandai bersyukur, bekerja keras dan kuat dalam iman. Niscaya Allah akan mensejahterakan hidup kita. Dan kita harus tahu tak ada yang tidak mungkin bagi sang pencipta.
***













Bakso
Karya : Muhammad Hasbi Ash-shidiqi
Sebuah gerobak bakso berjalan melewati pinggiran trotoar yang kasar. Sebuah gerobak kAyu tua berwarna biru kusam kehitam-hitaman, banyak kAyunya yang keropos karena dimakan usia. Gerobak bakso itu berbelok dan bergerak memasuki perkampungan, menjauh dari kebisingan jalan raya.
“Bakso –bakso,” teriaknya sambil berjalan menyusuri perkampungan yang sepi. Ia tidak berjualan di dekat jalan raya yang ramai. Ia lebih suka berjualan di perkampungan, karena penjual bakso keliling seperti ia akan kalah dengan warung bakso di pinggir jalan. Ia sering membayangkan betapa tiidak adilnya dunia ini, pemilik warung bakso tinggal diam diwarung nanti pelanggan akan datang sendiri, tidak seperti penjual keliling harus berjualan keliling apalagi jika bannya kempes, hujan, atau ia sakit.
            Hari ini sedikit sekali pelanggannya karena hari ini sangat sepi. Biasanya jika sedang ramai, atau sedang ada pasar malam, pengajian, dan wayangan,ia akan laris pelanggan danbaksonya sudah habis, tetapi hari ini baksonya belum juga habis. Di seberang jalan terlihat ada ramai-ramai orang berronda, ia segera mendorong gerobaknya kesana.
“Bakso pak?” tanyanya.
“Tidak-tidak pak terimakasih,” jawabnya.
Ia pun segera pergi dari tempat itu. Tidak terlalu jauh dari ia melangkah, tiba –tiba langit menggelegar terlihat kilatan kilatan gahaya di langit dan hujanpun turun. Ia segera mencari tempat untuk berteduh. Sesampainya di emperan rumah yang cukup luas ia berhenti. Dipandangiya bakso-baksonya yang masih banyak. Setelah beberapa saat hujanpun reda, tinggal gerimis kecil. Ia mendorong kembali gerobaknya.
            Hujan menaMbah sepi keadaan dan membuat hawa dingin yang menusuk tulang.Ia menjadi putus asa. Ia tidak yakin bakso baksonya akan terjual habis. Ia lalu memutar balik gerobaknya, ia ingin pulang. Ia ingin segera sampai di rumah dan meluruskan tubuhnya di tempat tidur.            
Sangking tergesa –gesanya ia tidak memperhatikan keselamatannya ia tidak ingat kalau ia sedang berada di jalan. Ketika ia melewati sebuah perempatan, tiba –tiba dari arah Timur melaju sebuah mobil dengan cepat,ia tidak sempat menghindar dan mobil itupun segera mengerem mendadak tetapi usahanya itu juga tidak berhasil, akhirnya terjadilah sebuah tabrakan.
Si penjual bakso itu terpental bersama gerobaknya, lalu kepalanya terbentur aspal yang keras dantidak sadarkan diri. Si pengemudi mobil itupun segera membawa si penjual bakso itu ke rumah sakit terdekat.
”Di.. di.. mana aku? Mana gerobak baksoku?” tanya si tukang bakso ketika ia sadar.
”Syukurlah pak anda sadar, anda sedang di rumah sakit pak,” jawab seseorang yang tidak ia kenal.
”Siapa anda, dan dimana gerobak bakso saya?” tanyanya lagi.
“Mobil saya menabrak anda tadi saya pikir anda sudah mati tadi, saya sangat bersalah saya ingin minta maaf kepada anda,” jawab si pengemudi mobil.
”Tidak apa-apa saya, juga bersalah saya tidak berhati hati tadi tapi bagaimana gerobakku,” si penjual bakso menannyakan gerobaknya lagi.
“Maaf, gerobak anda saya lihat sudah rusak berat tidak dapat dipakai lagi,” penjual bakso itupun terdiam ia memikirkan akan jadi apa ia nanti tanpa gerobak baksonya, yang dapat ia lakukan hanya membuat bakso untuk dijual keliling setiap harinya.
”Pak anda tidak apa–apa?” tanya si pengemudi mobil memecah lamunan si penjual bakso.
”Tidak apa–apa,” jawabnya.
”O iya, siapa nama anda?” tanya si pengemudi kepada si tukang bakso.
”Nama saya Ponimin,” jawabnya. Merekapun saling berkenalan, dan saling memaafkan.
Adzan Subuh pun berkumandang, semalam tadi mereka tidak tidur.Si pengemudi mobil yang bernama pak Dedipun berpamitan kepada si tukang bakso memberikan sebuah amplop coklat dan meminta maaf untuk sekali lagi sebelum akhirnya ia menghiilang dari ruangan itu. Setelah kepergian orang itu si tukang bakso melihat kea rah amplop itu, lalu membukanya.
”Masyaallah,” kata sipenjual bakso, ia melihat lembaran –lembaran uang seratus rIbuan didalam amplop itu dan segera menghitungya.
”Sebelas juta!” katanya.
Uang itu cukup untuk mengganti modal baksonya, untuk membeli gerobak baru, dan masih sisa banyak.” Terima kasih ya Allah,” katanya, ia pun teringat kepada orang yang menabraknya, kepada pak Dedi, ia belum mengucapkan terimakasih kepadanya.
***









Keluarga Yang Sejahtera
Karya : Novita Sari Eka Haryati
Di sebuah desa yang sangat sejuk udaranya. Berselimutkan kabut di pagi hari. Di tengah-tengah sejuk nya udara di pagi hari, ada sebuah rumah yang sederhana. Rumah yang terbagi atas beberapa ruangan, menjadikan rumah itu semakin meriah. Di sudut depan rumah itu berhiaskan tanaman bunga yang sangat indah di pandang mata, di belakang rumah di jadikan untuk menanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Di samping rumah itu juga di penuhi oleh tanaman obat-obatan.
            Di  dalam rumah yang sederhana terdapat ruang tamu, 2 kamar tidur, dapur. Keluarga itu terdiri atas 4 orang anggota keluarga. Mereka itu Bapak Trismo, Ibu Trismo, Bayu, dan Rengganis. Bayu anak nya yang pertama sudah kuliah di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, dan Reni anak nya yang kedua masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Piyungan Yogyakarta.
            Kehidupan di keluarga Pak Trismo sangatlah rukun dan ekonominya berkecukupan.  Walaupun ekonomi nya sangat terbatas, keluarga Pak Trismo tetap mementingkan kerukunan dan kepercayaan dalam keluarganya.
            Walaupun Pak Trismo dan Bu Trismo hanya bekerja sebagai petani. Tetapi mereka di kenal oleh warga sekitar sebagai petani yang sangat rajin dan bekerja keras. Pak Trismo dan Bu Trismo mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan para petani yang ada di desa Pak Trismo, sifat yang di miliki Pak Trismo adalah tidak mudah menyerah dan tak kenal lelah.
***
            Suatu pagi ada beberapa warga yang menghampiri Pak Trismo yang sedang mencangkul di sawah, mereka bertanya kepada Pak Trismo
 “Pak, apakah bapak  tidak lelah, bekerja keras tiap hari?” kata pak Tedjo  mengawali pembicaraannya.
“Tidak Pak, kan Allah SWT sudah menjelaskan dalam Al-Qur’an, bahwa Allah tidak akan merubah nasib setiap umat nya, jika mereka tidak mau merubah nya sendiri dengan giat dan keras,” ujar pak Trismo.
            “Berarti nasib setiap umat manusia tidak akan di rubah oleh Allah, kalau manusia itu tidak berusaha merubah nya sendiri, ya pak?” kata pak Tedjo sambil menggaruk-garuk kepala nya sajak bingung.
            “Inggih, leres pak ,”  ujar pak Trismo
            Hari sudah siang, tandanya pak Trismo dan warga lain pulang ke rumah untuk menunaikan shalat Dhuzur dan makan siang bersama keluarga nya masing-masing. Pak Trismo berpamitan kepada warga lainnya. Setelah sampai di rumah pak trismo segera menuju ke belakang rumah, untuk mencuci kaki dan tangannya yang setengah hari bergelut dengan sawah nya. Pak Trismo sudah di tunggu istri dan anak-anaknya yang dari tadi sIbuk menyiapkan makan siang untuk Ayah tercinta nya. Setelah mereka selesai makan siang, kemudian mereka solat dhuzur bersama-sama. Itu semua di lakukan setiap hari oleh keluarga pak Trismo.
            Jam dinding telah menujukkan pukul 13.00 p.m. Waktu nya pak Trismo dan warga lain untuk melanjutkan tugas mulia nya yaitu untuk mencari nafkah, untuk menghidupi istri dan anak-anak nya.
***
            Di suatu siang, di tengah sawah terjadi suatu pertengkaran antara petani lain dengan pak Trismo. Mereka salah paham. Cuma gara-gara batas tanah mereka tidak seimbang dengan yang dulu.
“Pak, kenapa tanah bapak lebih luas daripada tanah saya, padahal dulu tanah saya luas dan tanah bapak enggak selebar sekarang?” ucap pak Mustafa.
“Lha saya tidak tahu Pak, lha wong saya enggak mindah-mindah garis pembatas tanah kita kok?” kata pak Trismo.
“Tapi kok garis itu bisa bergeser toh pak? Kalau bukan bapak yang menggeser siapa lagi … hayo ?” ucap pak Mustafa
“Pak, tolong jangan menuduh sembarangan seperti itu dulu. Belum ada bukti nya toh!” ucap pak Tedjo memberi solusi.
“Bukan nya saya menuduh pak Trismo pak, tetapi itu kenyataanya kok pak?” ujar pak Mustafa pada pak Tedjo.
“Kalau nyata mana buktinya pak?” desak pak Tedjo meminta bukti.
“Sudah-sudah pak Mustafa dan pak Tedjo, kalau itu memeng benar saya yang melakukan biar Allah SWT yang memberi pelajaran bagi saya. Dan kalau itu bukan saya yang melakukanya, biar orang yang melakukan itu mendapatkan hidAyah dari-Nya,” ucap pak Trismo dengan santun dan sabar.
“Mana mungkin orang lain yang melakukan pak, wong jelas-jelas saya tahu sendiri, kalau bapak yang melakukan kok!” tentang pak Mustafa dengan nada emosi.
“Pak Mustafa sudah jangan terbawa emosi seperti itu, kita bisa selesaikan dengan cara kekeluargaan toh pak, berhubung hari sudah sore sebaiknya kita pulang saja!” jelas pak Tedjo
Akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing.
***
            Pagi harinya mereka pak Trismo datang kerumah pak Tedjo untuk menyelesaikan masalah yang kemarin sore belum terselesaikan.
“Assalamualaikum,” ucap pak Trismo.
“Wassalamualaikum salam,” jawab pak Tedjo dan pak Mustafa.
“Gimana perkara yang kemarin mau di selesaikan apa enggak pak,” ucap pak Mustafa mulai emosi.
“Sabar pak, tenang dahulu. Bukan saya yang melakukannya!” ujar pak Trismo.
“Terus siapa kalau bukan kamu ?” ucap pak Mustafa
“Kata istri saya kemarin. Bapak sendiri yang memindahkan batas tanah itu. Bukan nya saya balik nuduh Bapak, tapi kalau bener itu bapak yang melakukan tolong jujur saja Pak. Saya juga enggak akan marah dan dendam kepada bapak kok ?”
“Saya kemarin juga lihat bapak sedang jongkok sambil memengangi tali rafia, terus saya sapa Bapak tidak menghiraukan saya?”  taMbah pak Tedjo.
Pak Mustafa hanya diam serIbu bahasa. Dia hanya menundukkan kepala.
“Iya, memeng bener pak, saya yang memindahkan pembatas tanah kita. Tapi, saya menyalahkan pak Trismo yang enggak tahu apa-apa ?” terang pak Mustafa
“Kenapa bapak tega melakukan itu pada pak Trismo, pak?”  tanya pak Tedjo.
“Karena, saya iri hati pada pak Trismo, yang dalam usahanya selalu berhasil, pak?”  lanjut pak Mustafa.
“Ya, seharusnya pak Mustafa enggak boleh begitu pada pak Trismo. Kalau bapak ingin berhasil dalam segala bidangnya bapak harus selalu usaha dan berdo’a, pak?”  jelas pak Tedjo.
“Sudah, sudah pak enggak apa-apa kok. Syukur kalau pak Mustafa sudah mau mengakui kesalahannya. Saya juga sudah memaaafkan pak Mustafa kok!”  kata pak Trismo mulai bicara.
“Saya merasa bersalah sama bapak, saya dengan tulus hati minta maaf ya pak,”  pinta pak Mustafa.
“Sudah, tidak apa-apa kok pak, saya sudah memaafkan kesalahan bapak. Tapi, besok tidak di ulangi kembali!”  jelas pak Trismo.
***
            Akhirnya sekarang mereka bertiga menjadi sahabat akrab dan bersaudara pula. Maka jadilah orang yang “Gemi, Setiti, lan Ngati-ati.”  Jangan mudah terbawa emosi dan selalu intropeksi diri. J
***















Salah Sangka
Karya : Prawala Adi Wara
Semilir angin yang sejuk selalu menemani langkah kecil Reva setiap pagi, saat berangkat ke sekolah dengan teman-temannya dan juga sahabat karibnya Aldo.
            Tapi pada pagi yang dingin itu tidak nampak sesosok Aldo yang selalu berangkat bersamanya. Lalu Reva melangkahkan kakinya lebih cepat mengejar temannya yang lain dan mendekati Iqbal.
            “Bal, Iqbal,”  kata Reva berulang-ulang, sambil mendekati Iqbal yang saat itu agak jauh didepan.
            “Bal, Aldo mana?”  tanya Reva disamping Iqbal.
            “Hai Reva,  kamu nyari  Aldo? Kan biasanya dia berangkat sama kamu? Kok kamu nanya aku sih?” jawab Iqbal.  Kemudian mereka bertanya ke teman-temannya yang lain, tapi  mereka juga tidak tahu Aldo kemana.
            Setelah berjalan sambil mengobrol sampailah mereka disekolah,  merekapun memasuki pintu gerbang sekolah SMPN  Sukamaju tempat mereka menimba ilmu. Sekolah yang cukup besar dengan pemandangan yang indah dan guru yang ramah, yang selalu  menyapa mereka dengan ramah, sopan dan santun saat muridnya datang. Saat itu masih pagi jadi masih banyak siswa yang belum berangkat. Kemudian Reva dan Iqbal bergegas memasuki kelas IX B,  mereka berdua teman sekelas.
            Saat sampai dikelas,  Reva mendekati Vera yang saat itu merenung sendiri dibelakang.  
“Ver, kamu tahu dimana Aldo,  kok jam segini belum berangkat?”  tanya Reva.
Vera diam tidak menjawab pertanyaan  Reva. Reva lalu mengulangi pertanyannya,  akhirnya Vera pun menjawab dengan wajah yang sedih, “Va, Aldo kecelakaan kemarin sore” lalu diapun menunduk lesu. Reva pun kaget mendengar berita  itu. Berbarengan dengan bunyi bel tanda masuk.
            Jam pelajaranpun dimulai, Bu Rani  wali kelas mereka memasuki ruangan kelas mereka yang nampak hening dan tenang.  “Selamat pagi anak-anak,”  sapa Bu Rani.
Merekapun menjawab serentak,  “Selamat pagi, Bu ...”  
Bu Rani agak heran, kok tidak seperti biasanya, anak-anak yang biasanya gaduh kok hari ini sepi. “Ada apa,kok sepi?”  tanya Bu Rani, tidak ada satupun  murid di kelas  yang menjawab.
Bu Rani pun melihat sekeliling kelas, pandangan matanya tertuju kemeja Aldo,  “Kok Aldo tidak ada,  Aldo kemana?”  tanya Bu Rani lagi, tidak ada yang menjawab.
Pertanyaan bu Rani seperti angin yang lewat ditelinga mereka saja. Akhirnya Reva pun berdiri lalu dia berkata, “Bu, Aldo kecelakaan kemarin sore,”   Bu Rani terdiam mendengar berita itu.
Kemudian Bu Rani menyuruh Reva,  Iqbal dan  Vera menjenguk Aldo di Rumah Sakit, untuk mengetahui keadaan Aldo. Lalu  Bu Rani pun menyuruh murid-murid mengumpulkan uang untuk diberikan ke  Aldo saat Reva,  Iqbal dan Vera  menjenguknya.  Uang yang sudah terkumpul  ditaruh Bu Rani didepan meja guru yang akan diambil Reva  nanti saat pulang sekolah.
            Jam pelajaran pun berlalu begitu cepat,  tak terasa sudah saatnya pulang sekolah.   Bel sekolah pun berbunyi  murid-murid bergegas keluar dan pulang kerumah masing-masing.  Reva,Iqbal,dan Vera bergegas keluar sekolah untuk menuju rumah sakit,  karena terburu-buru merekapun lupa untuk mengambil uang tadi.
            Siang itu cuaca sangat panas mereka sempat berhenti sejenak dibawah pohon yang lebat. Mereka  melihat ada warung mie ayam, seketika perut mereka terasa lapar.  Iqbal pun mengajak temannya makan disana.  
“Yuk kita makan disana dulu aku sudah lapar nih,”  kata Iqbal. 
Reva dan Vera yang memang juga sudah lapar mengiyakan ajakan Iqbal, lalu mampirlah mereka diwarung itu. Setelah mereka selesai makan,  Iqba lpun membayar makanan yang telah mereka makan tadi. Merekapun pergi meninggalkan warung dan  bergegas ke rumah sakit.
             Sesampainya dirumah sakit Reva  merasakan firasat yang tidak enak.  Revapun berhenti didepan pintu masuk rumah sakit itu.  “Reva, kenapa kamu berhenti?”  tanya Vera dan Iqbal. 
“Aku mempunyai firasat yang tidak enak, nih,”  jawab Reva.
            Mereka berhenti di depan pintu masuk rumah sakit  agak lama. Reva  lalu melihat kesakunya sendiri,  “Loh, uang untuk Aldo tadi kemana ya kok tidak ada?”  tanya Reva kepada temannya.  
Iqbal dan Vera  hanya diam saat Reva menanyakan soal uangnya itu. Lalu Verapun berkata “Lho, kan kamu tadi yang disuruh membawanya.  Reva lalu mengajak temannya pulang 
“Ayo kita pulang  dulu, uangnya kayaknya ketinggalan nih,  besok saja kita kemari lagi,”  ajak Reva. Akhirnya mereka  tidak jadi menjenguk Aldo,  lalu  pulang kerumah mereka masing masing.
            Keesokan harinya Reva berangkat kesekolah dengan wajah yang murung. Sesampai di sekolah dia langsung berlari kekelasnya lalu kemeja guru, ternyata uang itu tidak sudah tidak ada. Lalu dia keluar kelas kebetulan Iqbal juga baru datang, Reva  menampakkan wajah marahnya didepan Iqbal. 
“Bal, mana uang yang diberikan Bu Rani untuk diberikan kepada Aldo, kau yang mengambilnya kan, ngaku aja?”  tanya Reva dengan wajah yang marah.  Iqbal bingung dengan pertanyaan Reva. “Kok kamu nyalahin aku sih, kan kamu yang disuruh Bu Rani mengambil uangnya, kenapa menuduh aku aku?”  jawab Iqbal.
Lalu Reva masuk kekelas diikuti Iqbal dibelakangnya. Mereka duduk dibangku masing-masing. Tak lama kemudian Verapun datang. Setelah meletakkan tasnya  Vera  mendekati Reva.  “Va, kenapa kok kamu kelihatanya marah?”  tanya Vera. 
“Temanmu itu mengambil uang yang diberikan Bu Rani untuk Aldo,”  jawab Reva.  Vera terkejut dengan jawaban Reva.
“Va, kamu jangan nyalahin Iqbal dulu dong, kan belum tentu uang  itu  diambil Iqbal,”  jawab Vera.
Iqbal datang mendekati Reva dan Vera.  Reva langsung berdiri dari kursinya  dan mengajak Vera pergi dari tempatnya.  “Ver, pergi  yuk, ada pencuri disini, nanti uang kita juga dicuri lho sama dia!”  tuduh Reva.
“Loh kok kamu nyalahin aku lagi sih, kan aku sudah bilang ke kamu yang mengambil uangnya bukan aku, kalau aku yang mengambil apa buktinya?”  jawab Iqbal.
“Buktinya kamu kemarin yang mentraktir kami beli mie ayam,”  kata Reva.
Iqbal menjawab “Kan aku mentraktir kalian dengan uang ku sendiri.”  
Reva tetap tidak percaya  “Jangan bohong deh,  kamu kan yang mengambil  uangnya duluan dari meja guru!”  tuduh Reva.
Iqbal memotong kata-kata Reva dengan memukul meja dengan keras “Rev, kamu jangan menuduh aku yang menggambil uang itu, kamu ngajak berantem ya,  Rev?”  kata Iqbal. 
“Ayo!”  jawab Reva. Kemudian Reva berdiri mendorong Iqbal sampai jatuh ke lantai, Iqbal pun berdiri meninju wajah Reva sampai lebam.  Vera dan teman-temannya mendekati dan melerai Reva dan Iqbal.  
 “Sudah-sudah kok kalian malah bertengkar?”  lerai Vera. Bel tanda masuk berbunyi.
             Bu Rani  memasuki kelas mereka, “Assalamualaikum,”  Bu Rani memberi salam.
“Walaikum salam, Bu,”  jawab murid-murid.
Bu Rani melihat sekeliling kelas, matanya tertuju ke Reva. “Reva kok wajah kamu lebam begitu kamuhabis berantem ya?”  tanya Bu Rani. Reva hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Bu Rani.
“Iya bu, tadi Reva dan Iqbal berantem, karena uang kemarin yang dimeja  tidak ada, lalu Reva menuduh Iqbal yang mengambilnya bu,”  jawab Vera.
Reva yang mendengar kata-kata Vera kembali emosi. “Apa Ver? Memang  yang ambil uangnya Iqbal kok!”  jawab Reva sambil memegang pipinya yang babak belur itu.
“Tuh kan kamu,  menyalahkan aku lagi,”  Iqbal memotong kata-kata Reva.
            “Sudah-sudah, Reva, kamu kok menuduh orang tanpa dicari dulu?”  kata Bu Rani.
Belum selesai Bu Rani bicara sudah dipotong sama Reva, ”Benar kok bu, buktinya sebelum ke rumah sakit, Iqbal ngajak jajan Mie Ayam dulu, dia yang bayarin!”  
Iqbal jadi emosi lagi “Ndak benar itu bu,  kemarin memang saya yang mengajak  Reva dan Vera jajan dulu karena perut kita sudah lapar sebelum pergi kerumah sakit, dan saya bayar dengan uang sendiri!”  jawab Iqbal. 
“Bohong itu, Bu!”  kata Reva memotong perkataan  Iqbal.
“Sudah, Reva, dengar dulu penjelasan Ibu,”  kata Bu Rani.
            “Kemarin, waktu kalian terburu-buru pergi, Ibu masuk kekelas kembali, ternyata dimeja guru uangnya masih ada, kalian lupa membawanya,  Ibu kelua kelas, kalian sudah tidak ada, jadi Ibu simpan dulu uangnya, jadi uang kemarin ada pada Ibu,”  Bu Rani memberi  penjelasan.
“Jadi Reva, kamu jangan asal menuduh orang, tidak baik itu”kata Bu Rani.
            Reva yang duduk diam tiba-tiba berdiri mendekati Iqbal dan mengulurkan tangannya untuk meminta maaf. “Bal, aku minta maaf ya, aku sudah menuduh kamu sebagai yang mencuri uang kemarin,”  pinta Reva.
“Iya aku maaf kan, besok-besok kamu jangan asal menyalah kan orang dulu donk, tapi aku juga minta maaf aku telah memukul kamu tadi”jawab Iqbal. “Iya Bal, gak papa kok, ini biar untuk pelajaran buatku, biar ndak terlalu terburu-buru dalam segala hal,”  jawab Reva.
            Kemudian Reva maju kemeja guru,  dan mengambil uang ke bu Rani.
            “Gitu donk Reva,kamu jangan asal menuduh orang lain, kan belum tentu orang itu bersalah atau tidak,  nah,  setelah pulang sekolah nanti kalian jangan lupa menjenguk Aldo dirumah sakit ya!”  kata Bu Rani menasehati Reva.
“Iya, bu”sahut Reva.
            Setelah jam sekolah  usai Reva, Iqbal dan Vera bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Aldo.
***











Lebaran Sepi Tanpa Kamu
Karya : Rema Juaini
Di suatu siang yang panas dengan udara yang sepoi-sepoi, ada dua orang sahabat yang mempunyai janji untuk membeli novel terbaru. Mereka bernama Mona dan Lisa. Setelah menunggu selama kurang lebih 15 menit akhirnya mobilnya Mona sampai dirumah Lisa.
”Hai Lis, udah lama nunggu?”  tanya Lisa.
“Hhmmm, ya lumayan lah, ya udah yuk berangkat, nanti keburu sore,”  jawab Lisa sambil berjalan menuju mobil Mona.
Di perjalanan wajah Mona terlihat agak pucat, Lisa bertanya, ”Kamu kenapa, kamu belum makan kalau belum kita berhenti dulu terus makan?”
Namun Mona tak menjawab pertanyaan dari Lisa, sekali lagi Lisa mengulanggi pertanyaan itu “Mona kamu kenapa, belum makan?”
Juga tak dijawabnya, sampai akhirnya Lisa berteriak memanggil nama Mona. ”Monaaa!!”  Mona kaget dan memberhentikan mobilnya di kiri jalan.
“Heh kamu kenapa, kalau mau manggil pelan saja aku juga bisa dengar!!!”  dengan muka ketus dibentaknya Lisa.
“Seharusnya aku yang marah, dari tadi aku manggil kamu, kamu nggak jawab sama sekali, terus sekarang kamu marah?”  Mona keluar dari mobil langsung menarik Lisa keluar dari mobilnya.
”Sana beli saja sendiri aku lagi nggak mood!!”
Mobil Mona pun menjauhi Lisa yang ditinggalkannya di perempatan jalan dan melaju dengan kecepatan tinggi. Tanpa dilihat oleh Mona ada lampu merah, kejadian tragis pun terjadi.
”Aaaaa!!”  ternyata mobil Mona mengalami kecelakaan di tengah jalan. Kejadian itu terjadi hanya 10 meter jauhnya dari tempat diturunkannya Lisa, karena melihat itu Lisa bergegas mendekati kecelakaan yang menimpa sahabatnya. Namun naas karena kejadian itu membuat Mona meninggal dunia.
Keesokan harinya Mona dimakamkan, di rumah Mona, Lisa berbincang-bincang dengan Ibunya Mona. “Lisa, ini surat dari Mona, waktu kemarin sebelum Mona mau ke rumah kamu Mona memberikan surat ini ke tante untuk diberikan ke kamu, katanya untuk baca dirumah.”
Apa, surat dari Mona, hanya bingung yang ada dipikiran Lisa “Tante ini benar surat dari Mona?”
Ibunya Mona menganggukan kepala kemudian cepat-cepat Lisa berpamitan dengan Ibunya Mona. Sesampainya di rumah, Lisa menuju ke kamarnya dan langsung membaca surat pemberian dari Mona.
Buat: Lisa sahabatku
Hai, Lisaaaa
Mungkin saat kamu membaca surat dari aku, aku sudah menghilang dari kehidupan kamu untuk selamanya. Sebenarnya aku juga bingung Lisa, kenapa aku nulis surat buat kamu? Tapi ada seseorang yang mempengaruhi aku Lisa, suruh nulis surat buat kamu, yah aku beranggapan bahwa orang itu bener juga, karna kalau aku hanya nulis sms aja, mungkin sms dari aku bisa dihapus orang lain dan belum kamu baca percuma kan? Makanya aku turutin orang yang nyuruh aku nulis surat buat kamu, agar kamu bisa baca dan simpan surat ini.
Lisa, kamu marah ya? Kejadian kemarin aku minta maaf, aku dibisikin oleh seseorang, nyuruh kamu keluar dari mobil aku, Aku langsung pucat Lisa, bingung, ya udah waktu kamu teriak aku langsung turunin kamu.Terus aku mau berhenti waktu ada lampu merah, tapi ngak tahu kenapa mobilnya ngak bisa direm, ya kejadian. Selama tinggal Lisa.
Lisa aku mau titip pesan buat Ibu aku, bilangin kalau sila baik-baik aja disini, jangan lupa ya.Untuk kamu jaga kesehatan,taMbah pintar. Itu aja surat dari aku kamu simpan ya.
Dari:Mona
“Aneh, kenapa Mona bisa nulis surat seperti ini, apa yang ditulis Mona persis dengan kejadian itu,”  tanggapan Lisa setelah membaca surat dari Mona,
Namun seaneh apapun surat dari Mona membuat air mata Lisa terjatuh dan membasahi pipinya. Sambil menangis Lisa mengambil foto dirinya dengan Mona.dipandangginya foto itu. ”Kenapa Mona,kenapa,kamu tega banget, kamu ninggalin aku, aku kesepian tanpa kamu Mona!”  Pelampiasan melalui tangisan membuat Lisa tertidur dengan tangan memeluk foto dirinya dan Mona.
Hari telah berganti,sudah sebulan Mona telah tiada,sudah sebulan Lisa menjalankan puasa Ramadhan,dan malam ini adalah malam takbiran.Malam takbiran kali ini berbeda dengan malam takbiran tahun lalu,karna malam takbiran hari ini tanpa Mona.Tahun lalu Lisa dan Mona bermain kembang api dimasjid yang letaknya dekat dengan rumah Lisa.Namun depan masjid itu sekarang tidak ada sesosok Mona lagi.Tidak ada.Tidak ada Mona.Dimalam takbiran ini Lisa menangis dikamarnya.
”Lisa kamu nggak ikut takbiran?”  kata Ibu Lisa yang berada di depan kamar Lisa.
“Enggak Ibu, Lisa ingin dikamar aja,”  jawab Lisa dengan singkat.
”Ibu mau bikin kue lebaran, kamu mau bantuin Ibu nggak?” Ibunya Lisa menawari Lisa untuk membantu membuat kue, namun Lisa tidak menjawab pertanyaan dari Ibunya. Ibu Lisa tahu bahwa Lisa sekarang kurang bersemangat karena tidak adanya Mona dikehidupannya.
Malam yang dilalui Lisa berjalan dengan cepat, Lisa dan keluarganya melakukan sholat ied didekat rumahnya. Kali ini Lisa sholatnya disamping Ibunya berbeda dengan tahun sebelumnya yang selalu disamping Mona. Hari Kemenangan telah tiba, Lisa bermaaf-maafan dengan keluarganya, saudara dan para tetangga. Setelah melakukan itu Lisa pergi ke makam Mona sahabatnya.
”Mona, Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, maaf Mona udah teriakin kamu waktu itu dan ngebuat kamu kaget, kalau kamu salah sama Lisa, udah Lisa maafin,”  Lisa menaburi bunga kemakamnya Mona.
‘’Ya udah ya, Mona, Lisa mau pergi ketempat saudara Lisa yang jauh,”  Lisa berjalan menjauhi tempat pemakaman dan sudah ditunggu keluarganya dirumah.
Lebaran tahun ini  dirasakan Lisa sepi tanpa kehadiran Mona,namun  biarkanlah  Mona pergi karena itu sudah ditakdirkan dan tak bisa kembali lagi. Dua tahun berlalu dengan cepat,kini Lisa sudah mempunyai sahabat baru yang bernama jingga. Hari-harinya kini tak akan lagi sepi. Jingga menemaninya disaat Lisa sedih maupun senang dan Jingga juga sudah tahu bahwa dulu Lisa pernah kehilangan sahabat terbaiknya.
***











Sepenggal Kisah Hidup Mbah Marno
Karya : Rian Tri Utomo
Ayam jantan berkokok, adzan berkumandang. Terlihat lampu teplok dinyalakan di dalam suatu gubuk, seseorang keluar dari gubuk itu tak lain adalah Mbah Marno, gubuk yang tak layak di pakai itu dinamakannya rumah, rumah yang senantiasa melindungi Mbah Marno dan mbok Marno dari guyuran hujan maupun sengatan matahari. Tak beberapa lama kemudian, mbok Marno mengikutinya keluar untuk berwudhu. Tempat wudhunya pun hanyalah aliran air sungai yang diberi bambu. Setelah selesai wudhu, keduanya pun langsung shalat subuh berjamaah.
            Jam 07.00 segala aktifitas Mbah Marno maupun  mbok Marno segera dimulai, keduanya sudah biasa tak sarapan, maka dari itu meja makan di rumah pada pagi hari tak ada isinya. Aktifitas yang pertama kali dilakukan Mbah Marno ialah memperbaiki dan membuat jaring/jala ikan, maklum Mbah Marno tinggal di daerah pesisir pantai sehingga Mbah Marno berprofesi sebagai nelayan, tetapi Mbah Marno tidak melaut seperti nelayan biasanya, dikarenakan Mbah Marno sudah tua sehingga beliau sudah tidak kuat lagi untuk melaut.
Biasanya Mbah Marno mencari ikan di sungai besar menggunakan jalanya. Tepat jam 09.00 Mbah Marno berangkat ke sungai dengan jalanya, di jalan menuju sungai Mbah Marno berhenti di sebuah bangunan sederhana dengan anyaman bambu sebagai dindingnya yaitu sebuah warung makanan kecil yang digunakan mbok Marno menjual rempeyek yang dIbuatnya, disana Mbah Marno memminta nasi dan lauk untuk bekal mencari ikan di sungai, setelah selesai barulah Mbah Marno berangkat ke sungai,  sampai di sungai, Mbah Marno melakukan hal yang harus ia lakukan.
            Sudah tiga jam Mbah Marno mencari ikan, akan tetapi hasil yang ia dapatkan tak seperti biasanya. Rasa lapar menyerangnya, ia pun langsung mengambil bekal yang ia bawa, sambil makan ia memikirkan sesuatu yang menjadikan tangkapan ikan hari ini berkurang. Sudah 20 menit Mbah Marno beristirahat, diambillah jalanya dan meneruskan pekerjaan mencari ikannya, sudah dua lemparan ia lakukan tetapi hanyalah satu atau dua ikan yang ia dapatkan, pada lemparan ketiga Mbah Marno berhenti sejenak untuk mengambil nafas, terlihatlah asap hitam mengepul ke udara, Mbah Marno pun berkata, “Astagfiruwllah, ada bangunan kebakaran!”  
Langsung sajalah Mbah Marno mengangkat mengangkat jala dan membersihkannya lalu mendatangi lokasi kebakaran. Di dalam perjalanan ke lokasi kebakaran Mbah Marno geLisah ia memikirkan bangunan apakah yang terbakar, apakah warung mbok Marno kebakaran dan jika warungnya terbakar apakah mbok Marno baik-baik saja? Sejuta pertanyaan berkecamuk di pikirannya.  
Setelah sampai Mbah Marno disambut mbok Marno dengan air mata bercucuran, terlihat para petugas kedisiplinan meMbakar warungnya, maklum warung mbok Marno dibakar karena warungnya tidak enak dipandang sehingga membuat mata tidak betah memmandang ke pantai. Setelah sadar barulah Mbah Marno melihat kearah timur, ternyata rumahnya pun juga dibakar para petugas, dalam sekejap Mbah Marno pun menghampiri rumahnya lalu disusul oleh mbok Marno, kini tak tahan lagi air mata Mbah Marno dibendung,  air matanya leleh banyak sekali, salah satu tetangganya mencoba menghIburnya.
            Malam itu Mbah Marno dan mbok Marno tidur di rumah tetangganya, barang-barang yang ada di rumahnya pun sebagian dapat diselamatkan dari kobaran api, malam itu juga Mbah Marno tidak mencari jingking untuk di buat rempeyek, begitu juga mbok Marno, ia juga tidak membuat rempeyek, semua larut dalam kesedihannya masing-masing dan akhirnya semua tertidur. Pagi pun tiba, Mbah Marno tidak mencari ikan melainkan membangun rumah dengan warga lain, jam 08.00 ada petugas datang, petugas itu mencari Mbah Marno, setelah didapatkannya Mbah Marno ia pun langsung menerangkan perihal ia datang menemui Mbah Marno.
Syukur alhamdulilah kata yang terlontar dari mulut Mbah Marno, ternyata petugas itu membawa kabar baik, ia memberitahukan bahwa rumah Mbah Marno akan di bangun oleh pemerintah, dengan bangunan berdinding tembok bata dan lantai keramik, ia juga memberitahukan warung mbok Marno akan dIbuat dengan bangunan yang kokoh dan enak di pandang mata. Proyek pembangunan rumah dan warung pun dilakukan. Satu bulan pembangunan itu dilakukan ternyata bangunan yang diinginkan sudah jadi, Mbah Marno pun langsung singgah ke rumah barunya tak lupa mengucapkan terimakasih kepada tetanggannya karena telah diizinkan tidur dirumahnya. Sudah satu minggu Mbah Marno dan mbok Marno tinggal di rumah barunya, kejutan besar menghampirinya hari itu, langsung saja Mbah Marno sujud syukur diikuti dengan mbok Marno, setelah beberapa menit memberi penjelasan, mbok Marno pun pingsan karena mendengar kabar baik itu. Ternyata ada sekelompok orang mau bekerja sama dengan Mbah Marno yaitu berbisnis agar-agar, dengan Mbah Marno sebagai petani tanaman rumput laut.
            Sudah tiga bulan Mbah Marno mulai membudidayakan rumput laut, juga sudah tiga bulan Mbah Marno dapat penghasilan tetap, kini Mbah Marno berniat menyewa karyawan. Sukses itulah yang dirasakan Mbah Marno saat ini, Dua tahun Mbah Marno memulai bisnisnya sekarang ia menjadi orang yang kaya raya di desanya, ia tak sombong, ia juga sering menyantuni fakir miskin, tak kaget juga bila rejeki yang diterima Mbah Marno dan mbok Marno semakin besar dan banyak.
***









Kebijaksanaan Sang Guru
Karya: Rizal Alfiandy Pangestu
Di suatu daerah di sumatra terdapat sebuah rumah kecil yang di huni oleh 2 orang saja dia lah sang guru bapak mustahid dah muridnya Bayu. Suatu ketika sang murid sedang merenung tak tau kenapa sang guru pun mendekatinya dan bertanya.
“Hai nak nampanya belakangan  ini bapak sering melihatmu murung kenapa nak ada masalah apa? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini?”  
Lalu Bayu menjawab pertanyaan gurunya, “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Sejak orang tua saya meninggal karena kecelakaan waktu itu seperti masalah tak ada habis-habisnya menimpa saya guru.
Sang guru tersenyum dengan penuh kasih. Sang guru pun berkata pada muridnya, “Nak, ambilkanlah aku  segelas air dan dua genggam garam!”  lalu bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu .
”Bayu pun beranjak pelan tanpa semangat seakan tak ada semangat hidup lagi. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta sang guru.
“Cobalah  ambil segenggam garam  dan masukan ke dalam segelas air,”  kata sang guru. “Setelah itu minumlah airnya sedikit demi sedikit. “Si muridpun melakukanya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin. ”Bagaimana rasanya?”  tanya sang guru.
“Asin dan perutku jadi mual,”  jawab si murid dengan wajah masih meringis. Sang Guru tersenyum melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
Tanpa basa basi sang guru mengajak muridnya ke sebuah danau “Sekarang kamu ikut aku.” Sang guru membawanya ke danau di dekat mereka. ”Ambil garam yang tersisa dan tebarkanlah ke danau.
”Si murid menebarkan segenggam garam sisa ke danau tanpa bicara apapun. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dimulutnya, tapi tak dilakukanya. Tak sopan rasanya meludah di hadapan sang Guru
Lalu sang guru menyuruh Bayu meminum air danau itu kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat dipinggir danau. Si Bayu menangkupkan kedua tanganya,  mengambil air danau dan meminumnya. Ketika air dingin segar mengalir di tenggorokannya, sang guru pun bertanya kepada Bayu,  gimana rasanya Bayu.
“Segar, segar sekali,”   kata Bayu sambil mengelap bibirnya. Tentu saja air danau ini berasal dari sumber mata air diatas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil dibawah.
“Terasakah rasa garam yang kau taburkan?”  tanya sang Guru.
“Tidak sama sekali,”  kata si murid sambil mengambil air minumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum dan membiarkan muridnya mengambil minum sampai puas.
“Nak Bayu,”  kata sang Guru setelah muridnya selesai minum segala masalah di dunia ini tak lebih dari segengam garam.  
“Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau hadapi dalam hidupmu itu sudah dikadar oleh Allah,sesuai dengan kemampuan mu, nak. Jumlahnya tetapi segitu-gitu aja tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi yang terbebas dari penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam mendengarkan. ”Nak, Rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu sebesar danau.”
“Dan lupakan masalah yang selama ini mengganggumu! Hadapilah dengan punuh semangat. Toh, kamu yang akan mendapatkan hasilnya,”  kata sang Guru.
Lalu si murid pun menyadari bahwa selama ini dia hanya bisa mengeluh dan mengeluh tak ada yang bisa di perbuatnya selain mengeluh. Akhirnya dia sadar bahwa semua cobaan yang diterimanya adalah pemberian Allah dan Allah tak akan mungkin memberikan cobaan kepada umatnya melebihi kemampuan yang dimiliki seorang umatnya.
Akhirnya lambat laun, Bayu sadar apa yang telah ia perbuat selama ini Bayu yang tadinya hanya murung saja kini sudah kembali ceria dan mulai menjalankan aktivitasnya kembali.
***

Indahnya Bulan Ramadhan
Karya: Siti Rahma Wati
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah. Bulan yang selalu ditunggu-tunggu umat manusia, khususnya yang beragama Islam. Begitu juga dengan Aii. Walaupun Aii seorang anak yang usil dan nakal, tetapi dia senang pada saat bulan Ramadhan tiba. Keluarga Aii pun termasuk keluarga yang kaya. Sehingga apapun diminta Aii selalu dibelikan oleh kedua orang tua Aii. Aii pun bersekolah di SMP favorit yang siswanya termasuk kaya semua.
Tetapi ada satu anak di kelasnya kurang mampu. Dia masuk di SMP itu karena dia pandai, santun, dan jujur. Maka dari itu, dia mendapat beasiswa. Dia adalah Fariz, seorang laki-laki yang mungkin kurang sempurna tangannya karena beberapa tahun yang lalu dia tertabrak sepeda motor saat berangkat ke sekolah.
Walaupun begitu dia tetap bersyukur karena hanya tangan kirinya yang kurang sempurna, bukan tangan kanannya. Fariz pun sering diejek oleh Aii. “Kamu tidak pantas sekolah di sini karena kamu anak miskin!,”  begitulah ejekan yang sering dilontarkan Aii kepada Fariz. Walaupun diejek begitu, Fariz tetap bersabar. Sebenarnya Aii merasa iri kepada Fariz karena Fariz pintar, tidak sombong, santun, jujur., dan pemaaf. Tetapi, Aii merasa gengsi untuk mengakui itu semua.
            Saat makan sahur, Aii baru teringat kalau nanti pagi ada ulangan IPA. Padahal malam harinya Aii tidak belajar karena sIbuk bermain PS. Maka cepat-cepat Aii menyelesaikan makan sahurnya dan membuat contekan. Hari itu, puasa hari pertama dimulai. Dan tepat di hari itu, ada ulangan IPA. Lain lagi dengan Aii. Setelah makan sahur dan shalat subuh, Fariz lalu belajar IPA. Setelah belajar IPA, Fariz pun segera mandi dan berangkat ke sekolah. Tepat pukul 07.00 bel tanda masuk berbunyi. Dan Bu Soman, Ibu Guru yang mengampu mata pelajaran IPA datang. Ulangan IPA pun dimulai.
“Siapapun yang ketahuan mencontek, akan Ibu beri hukuman. Hukumannya adalah membuat surat pernyataan yang ditanda tangani oleh orang tua masing-masing!”  Bu Soman menjelaskan.
Saat melihat bentuk soal yang telah diedarkan oleh ketua kelas, Fariz pun segera mengerjakan soal itu karena yang dipelajari oleh Fariz keluar semua. Sedangkan Aii sIbuk mengawasi Bu Soman dan mencari contekan. Setelah menemukannya, Aii segera menulis jawabannya. Setelah mengerjakan semua soal yang diberikan, Aii segera mengumpulkan soal dan jawaban ke depan kelas tanpa mengeceknya dahulu dan segera keluar. Beda dengan Aii. Setelah selesai mengerjakan soal yang diberikan oleh Bu Soman, Fariz mengecek jawabannya satu per satu.
Setelah yakin dengan jawabannya, Fariz segera mengumpulkan soal dan jawaban ke depan kelas dan keluar. “Pasti aku dapat nilai 100,”  kata Aii dengan yakin dan sombong.
 “Kita lihat saja nanti Ai,”  jawab Fariz. Saat semuanya selesai mengerjakan, Aii, Fariz dan beberapa teman yang lain masuk ke kelas.
Saat Bu Soman membagikan hasil ulangan IPA, Aii kaget. Ternyata ia mendapat nilai 50. Sementara Fariz mendapat nilai 100. Aii menuduh kalau Fariz telah mencontek. Ternyata tuduhan itu tidak benar. Setelah diteliti, Aii hanya mengerjakan soal 10 nomer di lembaran depan dan 10 nomer di belakang tidak dikerjakannya.
Tak terasa puasa Ramadhan telah dilaksanakan dan tinggal lima hari lagi menuju hari kemenangan. Aii lalu minta dibelikan sepeda motor. Orang tua Aii pun membelikan Aii sepeda motor. Dan saat itulah Fariz sedang berjalan sepulang dari membantu Ayahnya di ladang. Aii dengan sombongnya lewat di samping Fariz dan mengejek Fariz.
“Awas motor baru mau lewat,”  kata Aii dengan penuh kesombongan.
Fariz pun menjawab, “Hati-hati kalo mau naik motor Ai!”  
“Diam saja kamu!”  balas Aii.
Aii pun melajukan motornya dengan kencang tanpa memedulikan nasehat Fariz. Saat sampai di perempatan, tiba-tiba ada motor yang melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan dengan Aii. Tanpa bisa menghindari motor itu, akhirnya terjadi kecelakaan.        
Aii pun segera dibawa ke rumah sakit oleh warga di sekitar tempat kejadian itu. Setelah Aii siuman, di samping ranjang ada Fariz dan orang tua Aii. Aii berterima kasih kepada Fariz karena sudah mau menjenguknya. Aii telah sadar akan perbuatannya dulu. Selama dirawat di rumah sakit, Farizlah yang sering-sering menjenguk dan menunggui Aii. Setelah sembuh, Aii meminta maaf kepada Fariz karena sudah jahat kepadanya. Dan tepat pada akhir Ramadhan Fariz dan Aii menjadi sahabat.
“Ramadhan kali ini memang indah karena aku sudah sadar dan mendapat sahabat terbaikku,”  batin Aii.
***











Semangat Ayah Membangkitkanku
Karya : Syifa Salsabila Wahyudi
Minggu pagi yang cerah ini, aku duduk di sebuah bangku taman yang sangat indah. Hanya ada aku dan sahabatku, Ont. Ont adalah sebuah sepeda onthel yang bapak berikan padaku. Karena sudah sembilan tahun hidup bersama keluargaku, aku menganggap Ont sebagai sahabat ku. Ont adalah kado karena aku bisa masuk di SMP 111  yang tergolong SMP favorit. Jarak rumah sampai sekolah hampir enam kilometer. Walaupun lumayan jauh aku tetap harus bersemangat. Agar cita-cita ku esok tercapai. Ayahku bekerja di sebuah rumah makan. Dan Ibuku, meninggal saat aku umur delapan tahun. Sebagai anak tunggal, aku harus patuh kepada Ayah.
Aku ingat, dulu waktu masih kecil aku diajari Ibu melukis. Karya-karyanya Ibu sangatlah bagus. Saat aku mencoba melukis seperti Ibu, tiba-tiba ia terpeleset saat ia mau mengambilkan cat air untukku. Ternyata kejadian itu membuat Ibu meninggal. Saat itu Ayah sangat marah padaku. Karena aku, Ibu meninggal. Semua peralatan ku melukis dibakar oleh Ayah. Dan aku tak boleh melukis lagi. Itu akan mengingatkan Ayah pada Ibu.
Jam ditanganku menunjukkan pukul 5 sore. Ini adalah waktunya pulang.
“Sudah sore  Ont, kita pulang yuk!”  ajakku kepada Ont.
Aku takut pulang terlambat karena Ayah sering memarahiku. Aku ingat kalau aku punya PR matematika. Sampai dirumah segera aku masukkan Ont ke garasi dan segera mandi. Setelah itu aku belajar dan mengerjakan tugas matematika dari Bu Guru. Buatku, matematika adalah pelajaran yang sangat rumit. Pakai hitung-hitungan lah, rumus lah, sampai-sampai aku dIbuat bingung. Walaupun aku sudah kelas 8 memang, dari SD aku memang lemah dalam matematika. Karena aku senang melukis dari pada hitung-hitungan. Karena tugas ini sangat susah, aku bertanya pada Ayah. Karena dulu Ayah pintar matematika. Lalu, aku menghampiri Ayah yang
“Ayah, bolehkah aku bertanya?” tanyaku pada Ayah. “Tanya apa? Matematika pasti?” tebak Ayah. “Benar yah. Maafkan aku kalau setiap hari aku bertanya pada Ayah.” jawabku lirih. “Bagaimana sih kamu ini? Sudah di sekolahkan di sekolah favorit tetap saja kamu bodoh dimatematika. Apa saat pelajaran kamu tidak pernah memperhatikan guru? Kalau tidak jelas tanya dong sama gurunya. Apa sih susahnya? Setiap ada tugas selalu tanya Ayah!  Ingat, kalau besok ada tugas lagi dan kamu tanya sama Ayah. Berhenti saja kamu sekolah!” bentak Ayah. Karena kata-kata Ayah, air mataku tak kuasa menetes. Langsung aku lari ke kamar.
Ku kunci pintu kamar dan aku menangis kencang. Kata-kata Ayah sungguh menyayat hatiku.  Andai saja Ibu masih hidup. Pasti Ibu lebih mengerti aku. Pasti Ibu juga akan mendukungku menjadi seorang pelukis hebat. Tidak seperti Ayah yang terus menyuruhku menjadi seorang sarjana. Dan entah tau sarjana itu mau dibawa kemana. Malam ini aku sangat marah dan sebal pada Ayah. Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Ku coba keluar dari pintu dan melihat ke kamar Ayah. Ku buka pintu kamar Ayah, ku lihat Ayah sudah tidur. Aku berniat untuk kabur dari rumah. Segera aku keluar menuju garasi dan mengambil Ont untuk kabur. Entah kemana aku ingin kabur. Pikiranku sangat kacau. Di perjalanan air mataku terus mengalir deras. Karena teringat kata-kata Ayah yang menyakitkan.
“Kenapa sih, aku harus nggak bisa matematika? Kenapa? Kenapa?” teriakku sambil mengAyuh sepeda. “bukankah semua orang memiliki kemampuan yang berbeda? Tapi kenapa Ayah selalu memarahiku karena aku tak bisa matematika? Ayah sungguh kejam!!” itulah kata-kata yang terucap dari mulutku. Tiba-tiba di depan ada sebuah truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan dariku. Supir truk itu menginjak remnya saat aku berada 30 cm darinya. Aku tak bisa menghindar dan ...
Gubrakkkk...
Terbukalah mata ini secara perlahan. Melihat suasana yang sungguh berbeda. Ku lihat Ayah duduk disebelah ranjangku.
“Ayah?”  rintihku.
“Syukurlah, Nak, kamu sudah sadar. Kamu koma selama dua hari kemudian Ayah membawa pulang kamu dari rumah sakit. Kenapa malam itu kamu kabur dari rumah?”  tanya Ayah.
“Maafkan aku, Yah. Aku tak kuasa meredam amarahku. Ayah, kenapa rasanya sakit sekali jika aku menggerakkan kakiku. Kenapa yah?” tanyaku pada Ayah.
Tiba-tiba raut muka Ayah berubah. “Sebenarnya Ayah tak tega memberitahumu.”
“Kenapa yah?”
“Kaki kamu diamputasi nak,”  kata Ayah sambil meneteskan air mata.
“Maafkan Ayah nak, Ayah salah karena telah memarahimu. Ayah janji tidak akan memarahimu karena kau tidak bisa Matematika. Ayah sadar, setiap anak itu berbeda-beda kemampuannya.”
Aku kaget mendengar ucapan Ayah kalau aku ini sekarang cacat. Aku tak punya kaki lagi karena kecelakaan itu? Kata-kata Ayah membuatku terharu.
“Apakah Ayah mengizinkanku untuk menjadi seorang seniman?”  tanyaku.
“Hmm.. bagaimana ya? Boleh deh kalau gitu. Tapi kamu janji sama Ayah. Jadilah pelukis yang hebat. Yang bisa membuat Ayah bangga padamu,”  jawaban dari Ayah membuat ku bangkit dari kekurangan ku ini.
“Yang benar saja, Yah? Tapi kan, aku tidak punya alat lukis seperti dulu yang pernah Ayah buang?”
“Tenang saja, Ayah sudah menyiapkannya di ruang tengah. Mungkin ini memang sudah jalannya Ayah melupakan Ibumu yang sudah meninggal.”
Keluar kamar aku tak sabar ingin mencoba melukis lagi seperti lima tahun yang lalu. Walaupun susah aku tetap mencoba. Hasil pertama sungguh jelek. Namun aku tak putus asa. Sudah tiga bulan ini aku menyesuaikan diri dengan keadaanku. Hasilnya aku sudah bisa menghasilkan 50 lukisan. Sebagian ada yang Ayah pajang di rumah makan. Karena Ayah memamerkan hasil karyaku kepada pemilik rumah makan itu. Dan tak disangka-sangka, lukisan ku dibeli orang asing. Karena orang itu sangat suka lukisanku, dia membeli semua lukisanku.
Beberapa tahun kemudian aku menjadi seniman yang dikenal di dalam negeri dan diluar negeri. Ayah sangat bangga sekali padaku. Dan akhirnya, harapan Ayah terwujud. Walaupun aku cacat, aku masih bisa berkreasi. Terimakasih Ayah, engkaulah penyemangatku. Aku juga berpesan kepada orang yang sama seperti aku, kita memang cacat. Tapi janganlah kalian berkecil hati dengan kondisi yang tidak sempurna. Kita bisa berkarya melebihi orang-orang yang sempurna. Terus semangat kawanku.
***













Mengembalikan Kepercayaan Mama
Karya: Wakhid Rohmat Nur Rifai
Minggu pagi, Anton dan Rudi pergi bersama keliling kota. Mereka menaiki bus kota. Mereka memang sudah lama tidak keliling kota dengan menaiki bus. Bus yang mereka tumpangi hapir sampai di dekat rumah mereka.
      “Hampir sampai, nih!”  Rudi menepuk bahu Anton yang dari tadi bengong.
      “Astaga!”  Anton menepuk dahinya.
      “Kenapa, Ton?”  Rudi heran.
      “Aku lupa minta ongkos pada Mama,”  Anton kebingungan.
      “Ya sudah, pakai uangku saja,”  Rudi memutuskan
Begini jadinya kalau terlambat bangun, batin Anton. Pergi terburu-buru, tanpa sarapan, dan yang paling parah, ya itu, lupa minta uang pada Mama. Mama sepertinya juga lupa.
Tadi malam Anton memang susah tidur. Dia terus memikirkan sikap Mamanya yang menilai kalau Anton itu pemboros, tidak pandai mengatur uang dan masih banyak yang lainnya.
“Mama payah Di! Tidak mau memberiku saku bulanan, padahal kan repot kalau urusan seperti ini, kalau kejadian seperti ini terjadi. Untung ada kamu Di.” Anton mengucapkan kekesalannya saat mereka turun dari bus kota.
“Kamu masih untung dapat uang saku harian. Coba kalau tidak sama sekali, kan lebih parah!”  kata Rudi.
“Mungkin Mama kamu punya pertimbangan lain tentang kamu,”  sambung Rudi.
“Pertimbangan apa? Pertimbangan pelit?”  kata Anton.
“Ya, mungkin kamu melakukan kesalahan sehingga Mamamu menganggap kamu pemboros. Coba ingat-ingat,”  kata Rudi.
“Mmm, aku memang pernah melakukan kesalahan. Dulu aku selalu diberi uang saku mingguan. Tetapi pada hari keempat uang sakuku sudah habis. Makanya dari peristiwa itu Mamaku kemudian memberi aku uang saku harian,”  Anton menceritakan peristiwanya.
“Nah, itu kamu tahu penyebabnya. Jadi memang ada alasannya, kan, Mamamu tidak memberi kamu uang saku bulanan,”  sambung Rudi.
“Tapi, itukan dulu Di! Masa sekarang Mama masih belum bisa mempercayai aku?”  kata Anton ragu.
      Rudi tersenyum, ”Anton, kamu harus mengembalikan kepercayaan Mamamu dengan melakukan sesuatu.”
“Melakukan apa?”  tanya Anton.
“Coba kamu sisihkan sebagian uang sakumu setiap hari. Tunjukkan ke Mamamu kalau kamu bisa mengatur uang. Mudah-mudahan Mama kamu akan berubah pikiran tentang kamu,”  saran Rudi.
Anton pun menurut sama saran Rudi. Ia kemudian menyisihkan sebagian uang sakunya setiap hari. Tanpa terasa sudah tiga minggu ia menabung.
“Ah....”  Anton merasa lega. Ia memandangi lembaran uang yang ada di kotak celengannya. “Coba dari dulu aku menabung,” Anton bergumam.
“Tak perlu menyesal. Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikanmu,”  suara mamanya terdengar merdu. Anton menoleh.
“Mama...”
Mama tersenyum sambil mengusap rambut Anton. “Mama tahu kalau kamu sedang berusaha berubah. Diam-diam Mama selalu mengikuti apa yang kamu lakukan.”
“Terima kasih, Mama.” Anton menggaruk-garuk kepalanya.
“Mulai besok kamu akan mendapat uang saku bulanan. Jadi kalau kamu lupa bawa uang ongkos, bukan tanggung jawab Mama lagi,”  Mama menjentik hidung Anton.
Anton kemudian memeluk Mamanya. Ia sangat bahagia. Bukan hanya karena ia mendapat uang saku bulanan, tetapi karena ia telah mendapat kepercayaan Mamanya lagi. Walaupun kepercayaan tersebut sempat hilang sesaat.
***
















Untuk Yang Terindah
Karya: Wiwit Yuni Astuti
Teman-temanku pun mendekapku yang sedari tadi menangis. Dan ketika itu, aku melihat sahabatku tak bernyawa lagi.
Kring … kring … kring …
“Waaa … !!”  alaramku tiba-tiba berbunyi sontak aku menjerit. Ibu pun menghampiriku.
“Ada apa Nak? Kok pakai menjerit segala, keringatan lagi?”  tanya Ibu.
“Tak apa kok Bu, hanya mimpi … huft!!”  jawabku.
“Ya sudah. Mandi dulu sana biar Ibu yang bereskan kamarmu!”  suruh Ibu.
“Kakak  sudah mandi?”  tanyaku pada Ibu.
“Sudah! Baru saja selesai.”  
Aku pun dengan lemas menuju kamar mandi.
            Ku cepatkan langkahku, ketika ku melihat sebuah gerbang Sekolah bertuliskan SMP N BINA BANGSA. Yah, itulah sekolahku. Aku pun tak henti-hentinya memikirkan mimpiku tadi. Dan berharap itu hanya bunga tidur saja.
            Di pintu kelas, aku menyapu pandangan ke dalam. Yang aku cari hanyalah sahabatku Dhea. Namun, jam kelas sudah menunjukkan pukul 06.55, yang artinya 5 menit lagi bel berbunyi. Namun, Dhea tetap belum terlihat juga. Biasanya, ia selalu berangkat pagi sebelum aku masuk, ia pasti sudah ada.
            Bel pun berbunyi dan kulihat di gerbang, tidak ada siswa yang terlambat. Sekretaris pun menyatakan Dhea alfa. Ku berharap Dhea baik-baik saja.
            Keesokan harinya, ku lihat Dhea sedang membaca buku di halaman kelas. Karena, dia sendiri, aku pun menghampirinya.
“Hai Dhea! Kamu baik-baik saja, kan? “Sapaku. Dhea pun menatapku tajam dan segera menutup buku karena, bel pun berbunyi. Aku mengikuti Dhea masuk ke kelas. Namun, Dhea menuju bangku belakang dan duduk bersama Ina, serta melewati bangku tempat dudukku dan Dhea. Ia telah berubah ! sadarku. Aku pun mencoba mengerti.
            Tiap harinya Dhea begitu acuh padaku. Aku pun menaruh curiga padanya. Hingga ketika suatu sore, aku mengajak kakakku jalan-jalan, kebetulan aku bertemu dengan Ibunya Dhea yang pulang dari Kantor. Ia membawa tas kantor disebelah kanan dan tas-tas belanja disebelah kiri. Kurasa ia juga habis berbelanja. Tanpa pikir panjang aku mendekatinya dan membantu.
“Selamat sore, Bu! Bisa saya bantu?”  tawarku.
“Oh iya, Nia. Boleh saja! kebetulan ya bisa bertemu. Makasih loh, Nak !”  ucap Ibu Dhea.
“Ya tak apa-apa kok Bu. Sekalian olahraga biar sehat. Hehe ...”
“Iya sih, Nak! nggak enak Ibu sudah ngrepotin kamu.”
“Tidak kok Bu.”
“Dik, Tante, saya pulang dulu ya! Masih banyak tugas yang harus ku selesaikan!”  kata kakak.
“Ya Kak hati-hati!”
“Ya, tak apa!”  kata Ibu Dhea.
“Bu saya boleh tanya tentang Dhea enggak, Bu?”
“Boleh saja, Nak! memang mau tanya apa?”
“Ini Bu, kok akhir-akhir ini Dhea berubah, ya, Bu sama aku? Dhea menghindar terus dari aku! Apa Dhea sedang punya masalah Bu?”
“Loh? Gitu ya Nak? Namun, hubungan keluarga Dhea baik-baik saja nih, Nak! Ibu pun tak merasa Dhea berubah. Ya, bila anak saya Dhea punya salah sama kamu dimaafkan ya!”  jelas Ibu Dhea.
            Aku pun hanya mengangguk. Sesampainya, di rumah Dhea. Aku tak melihat sosok Dhea. Mungkin ia sedang pergi, pikirku. Aku pun menaruh tas belanjaan Ibu Dhea dan segera berpamitan.
“Oh ya Bu! Karena sudah sore. Saya pamit pulang dulu ya Bu,  salam buat Dhea!”  kata ku.
“Iya Nak. Terimakasih banget, loh nak sudah mau di repotkan Ibu. Ya nanti saya sampaikan!”
“Ya saya permisi dulu ya Bu!”
“Ya Nak, Hati-hati!”  kata Ibu Dhea.
***
            Aku bergegas menuju kelas pagi ini karena, hari ini adalah jadwal piket ku. Namun, halaman kelas ku sepi. Pintunya juga tertutup. Tanpa ragu ku buka pintu itu.
“Selamat ulang tahun Nia!”  ucap Dhea dan diikuti seluruh teman-temanku.
Aku pun hampir lupa bahwa hari ini, hari ulang tahun ku. Aku pun mengerti sikap Dhea yang kemarin berubah sekarang sudah kembali. Senang rasanya! Dhea pun memelukku juga teman-teman ku. Aku tak kuasa membendung tangisku. Aku terharu dengan apa yang Dhea dan teman-temanku buat.
“Terimakasih Dhea! Terimakasih teman-teman! Kalianlah semangatku … “ ucap ku.
“Nia, aku minta maaf ya soal kemarin! Aku menghindar terus dengan mu!”
“Tak apa! Aku mengerti kok!”
“Untuk yang terindah! Dan untuk selamanya!”  ucapku dan Dhea.
Teman-temanku pun bersorak-sorai, “Yyyeeee ... !!!”
***






 terima kasih untuk my friend 9b,maaf sebelumya belum izin untuk mempublikasikan karya temen temen semua.semoga bermanfaat bagi semua